Bukannya transpersonal psychology lebih menyorot aspek psikologi manusia sendiri, membuat mereka jadi lebih baik, ketimbang membuktikan eksistensi Tuhan?
Quoted from what The Houw Liong cited :
"Lajoie and Shapiro (1992) offer this definition:
Transpersonal psychology is concerned with the study of humanity's highest potential, and with the recognition, understanding, and realization of unitive, spiritual, and transcendent states of consciousness."
Rasanya hal semacam itu gak bisa dianggap sebagai bukti dalam sains. kecuali anda ngotot memajukan 'paradigma baru' anda yang konyol itu

Penangkapan akan eksistensi Tuhan "mengena" pada individual-individual. Manakala seseorang mendapat pencerahan akan eksistensi Tuhan, maka dia tidak bisa membuktikan eksistensi-Nya itu pada person lain, hanya bisa menyampaikan.
Bagaimana seseorang mendapat pencerahan akan eksistensi Tuhan? Tentu saja tergantung pada orang itu sendiri, seperti :
- apakah akan mencari Tuhan atau akan menolak keberadaan-Nya.
- sikap pribadi berupa kejujuran, kerendah-hatian, mencintai sesama.
Untuk mendapat seperti itu tidak perlu ke universitas untuk mengkaji bukti scientific. Seseorang dari daerah pedalaman yang berusaha untuk mempelajari (jw:"ngonce-i") diri sendiri dan hubungannya dengan lingkungan (dapat dikatakan dia melakukan "Transpersonal psychology") dengan keluguannya dan keterbatasannya bisa mendapatkan pencerahan Eksistensi Tuhan.
Kalau suatu teorema membutuhkan bukti sehingga diterima semua orang, maka keberadaan Tuhan merupakan hasil pengakuan (yang jujur) dari pengalaman spiritual per person.
Saudara "pr@m" menulis :
bagaimana dengan orang yg tidak mengalaminya??
Saya tidak tahu ini mengena pada pr@m sendiri atau mengasumsikan seseorang.
Yang saya heran, bagaimana seseorang tidak mengalami pengalaman spiritual, sementara kita semua bersentuhan dengan manusia lain dan lingkungan. Pengalaman spiritual bukan berarti sesuatu yang kelihatan ajaib pada awalnya, tapi bisa berupa hal-hal yang semula sering diabaikan.
Pengalaman 'mencintai' dan 'dicintai' itupun merupakan pengalaman spiritual,
Pengalaman 'melihat kelahiran manusia baru' itupun merupakan pengalaman spiritual,
dll
Tidak semua itu pengalaman spiritual membawa seseorang pada pengakuan akan eksistensi Tuhan, tergantung pada 'keadaan hati' masing-masing.
Keadaan hati seseorang tergantung pada orang itu sendiri juga. Kalau sikapnya mencintai sesama, jujur, tidak angkuh, berbuat baik sesama maka akan membentuk keadaan hati yang terbuka terhadap pengalaman2 spiritual. Sebaliknya kalau sikapnya mengandung ketidakjujuran, keangkuhan, mengolok-olok, membenci sesama maka akan membentuk keadaan hati yang keras dan tertutup terhadap pengalaman2 spiritual.
Tidak mungkin seseorang menghadirkan bukti eksistensi Tuhan pada orang lain, karena sifatnya pribadi hubungan antara person itu terhadap Tuhan, tergantung sikap pribadi orang itu sendiri.
Penolakan terhadap eksistensi Tuhan oleh orang-orang boleh jadi menyakitkan hati orang-orang yang mengimani-Nya, tapi hubungan Tuhan dengan masing-masing individu sebenarnya tidak bisa dicampuri individu lain. Bagaimanapun seseorang tidak bisa melihat warna yang sebenarnya dari hati seseorang.