Forum Sains Indonesia

Portal Sains Indonesia

Berita: Forsa berencana untuk mengadakan Gathering Forsa. Bagi yang berminat, silakan urun rembuk dan daftarkan diri anda.
* *
Selamat datang, Pengunjung. Silahkan masuk atau mendaftar.
Lupa email aktivasi Anda?
Maret 19, 2010, 04:47:23


Masuk dengan nama pengguna, kata sandi dan lama sesi


Selamat datang, Pengunjung. Silahkan masuk atau mendaftar.
Lupa email aktivasi Anda?
Maret 19, 2010, 04:47:23

Masuk dengan nama pengguna, kata sandi dan lama sesi
Last 10 Shouts:
Hari ini at 03:52:56
Jam 4 pagi...
Masih hidup.. Hooaaammm..!!
Kemarin at 11:15:21
hahaha~

euy,, irisan kerucut.. plajaran MTK SMP kan itu..?
Kemarin at 11:10:09
ada yang paham g tentang irisan kerucut??? Bingung gw
Kemarin at 11:08:09
T.,T
Kejam...
Kemarin at 10:53:26
ga tanya... lidah melet nyengir
Kemarin at 10:40:56
Mau ujian juga..
Tugas juga numpuk..
OL gak boleh lepas..
T.,T
Kemarin at 10:32:05
wa jg lagi ujian kok...
Kemarin at 09:23:13
hah cape  '
mhon doanya sbntar lagi ujian
Kemarin at 08:28:14
haha~
zzzz~
Halaman: 1 ... 15 16 [17] 18 19 ... 23   Turun
Kirim topik ini | Cetak
Pembuat Topik: Bukti Eksistensi TUHAN  (Baca 10863 kali)
0 Anggota dan 1 Pengunjung melihat topik ini.
Hendy wijaya, MD
Profesor
*****

IQ: 18
Offline Offline

Gender: Pria
Tulisan: 519



Lihat Profil Email
« Jawab #240 pada: Januari 14, 2010, 09:53:46 »

Oke, untuk disebut sebagai penelitian ilmiah, ia harus memenuhi kaidah logis, empiris dan sistematis. Bung THL bisa saja berargumen bahwa transpersonal psychology itu logis, empiris (jika Anda memasukkan indra keenam sebagai salah satunya) dan sistematis. Tapi, dalam pelaksanaannya dalam penelitian kuantitatif yang menjadi ciri khas sains, terutama jika menggunakan biostatistik, parameter variabel apa yang bisa anda ukur dalam transpersonal psychology?apakah parameter itu obyektif?pengalman pribadi bisa disebut obyektif?Anda bisa saja berargumen bahwa penelitian kualitatif bisa diakui dalam metode ilmiah, tapi apakah itu memberikan hasil yang kuat?

Jangan berpatokan pada diterbitkan atau tidak diterbitkan dalam journal, banyak faktor di luar sains yang berperan pada masalah penerbitan journal sains itu sendiri, masalah benar tidaknya itu lain perkara. Buku Mein Kampf yang ditulis Hitler juga merupakan buku terlaris saat ia berkuasa, tapi bukan berarti argumen dalam buku2nya adalah benar.
« Edit Terakhir: Januari 14, 2010, 09:55:55 oleh Hendy wijaya, MD » Masuk

Against stupidity God himself struggles in vain
luth
Profesor
*****

IQ: 15
Offline Offline

Gender: Pria
Tulisan: 716



Lihat Profil Email
« Jawab #241 pada: Januari 14, 2010, 10:29:24 »

Oke, untuk disebut sebagai penelitian ilmiah, ia harus memenuhi kaidah logis, empiris dan sistematis. Bung THL bisa saja berargumen bahwa transpersonal psychology itu logis, empiris (jika Anda memasukkan indra keenam sebagai salah satunya) dan sistematis. Tapi, dalam pelaksanaannya dalam penelitian kuantitatif yang menjadi ciri khas sains, terutama jika menggunakan biostatistik, parameter variabel apa yang bisa anda ukur dalam transpersonal psychology?apakah parameter itu obyektif?pengalman pribadi bisa disebut obyektif?Anda bisa saja berargumen bahwa penelitian kualitatif bisa diakui dalam metode ilmiah, tapi apakah itu memberikan hasil yang kuat?

Jangan berpatokan pada diterbitkan atau tidak diterbitkan dalam journal, banyak faktor di luar sains yang berperan pada masalah penerbitan journal sains itu sendiri, masalah benar tidaknya itu lain perkara. Buku Mein Kampf yang ditulis Hitler juga merupakan buku terlaris saat ia berkuasa, tapi bukan berarti argumen dalam buku2nya adalah benar.
lah emang buku mein kampf diterbitkan dalam jurnal ilmiah?dan diliat oleh para ilmuan?haha
lagian yang anda bilang itu kan terlaris,laris disini kan oleh umum,bukan oleh ilmuan secara khusus...hehe

kykny analogi anda sudah beda konteks bung.
Masuk

sebodoh-bodohnya sifat adalah sombong
The Houw Liong
Profesor
*****

IQ: 7
Offline Offline

Gender: Pria
Tulisan: 855



Lihat Profil WWW
« Jawab #242 pada: Januari 15, 2010, 11:15:14 »

Amazon.com: The focus of Body Mind Spirit is on how some scientists are digging into spirituality. Do you think that science can really explore the ephemeral world of spirituality?

Tart: Yes. Essential science, which is an open-minded process of looking at what's there, thinking about it logically, always subjecting your theories and predictions to tests to see how well they work, and always trying to refine these processes, can refine our knowledge of the spiritual. I'm not saying it will explain it in any ultimate, absolute sense, but it can be extremely useful in discriminating the sense from the nonsense. Hopefully, the Body Mind Spirit book will help people begin to make some of those discriminations by telling them what we have pretty good facts on and what some of the indications of those facts are.

Amazon.com: Given the success of The X-Files, the proliferation of books on the subject, and the number of conventions and new research on the subject, paranormal studies seem to be surging in popularity. Do you think this interest could have a positive or negative impact on the scientific study of the subject?

Tart: It's having both. The negative impact is that people call themselves parapsychologists who have no relevant scientific training. When I get associated with those people, it decreases the value of the solid scientific work that I and other scientific parapsychologists have done.
Masuk

HouwLiong
Pi-One
Profesor
*****

IQ: 21
Offline Offline

Gender: Pria
Tulisan: 2963


Next Hikaru Genji


Lihat Profil WWW
« Jawab #243 pada: Januari 15, 2010, 12:00:06 »

We need proof. Science need proof. Give that, and science would accept that.
Masuk

Free Free Free - Blog of Freeware
http://gratis01.blogspot.com
The Houw Liong
Profesor
*****

IQ: 7
Offline Offline

Gender: Pria
Tulisan: 855



Lihat Profil WWW
« Jawab #244 pada: Januari 18, 2010, 06:32:40 »

We need proof. Science need proof. Give that, and science would accept that.

Buktinya baca :

http://www.math.tulane.edu/~tipler/summary.html
Masuk

HouwLiong
Pi-One
Profesor
*****

IQ: 21
Offline Offline

Gender: Pria
Tulisan: 2963


Next Hikaru Genji


Lihat Profil WWW
« Jawab #245 pada: Januari 18, 2010, 09:34:52 »

Promosi buku mah bukan bukti mata muter
Masuk

Free Free Free - Blog of Freeware
http://gratis01.blogspot.com
The Houw Liong
Profesor
*****

IQ: 7
Offline Offline

Gender: Pria
Tulisan: 855



Lihat Profil WWW
« Jawab #246 pada: Januari 19, 2010, 06:26:42 »

Promosi buku mah bukan bukti mata muter
Buku yang bermutu yang perlu dipahami oleh orang yang minta bukti. Tanpa memahaminya bagaimana bisa menyangkal bukti itu ?
Masuk

HouwLiong
Pi-One
Profesor
*****

IQ: 21
Offline Offline

Gender: Pria
Tulisan: 2963


Next Hikaru Genji


Lihat Profil WWW
« Jawab #247 pada: Januari 19, 2010, 08:52:19 »

Buku yang bermutu yang perlu dipahami oleh orang yang minta bukti. Tanpa memahaminya bagaimana bisa menyangkal bukti itu ?
Lucu nih. Anda bilang sodorin bukti, tapi yang anda sodorin adalah link soal promosi buku. Anda suruh aku beli bukunya, pesan dari amazon, atau bagaimana? Apa anda sudah beralih jadi dealer buku?
Masuk

Free Free Free - Blog of Freeware
http://gratis01.blogspot.com
The Houw Liong
Profesor
*****

IQ: 7
Offline Offline

Gender: Pria
Tulisan: 855



Lihat Profil WWW
« Jawab #248 pada: Januari 20, 2010, 06:17:27 »

Buku yang bermutu yang perlu dipahami oleh orang yang minta bukti. Tanpa memahaminya bagaimana bisa menyangkal bukti itu ?
Lucu nih. Anda bilang sodorin bukti, tapi yang anda sodorin adalah link soal promosi buku. Anda suruh aku beli bukunya, pesan dari amazon, atau bagaimana? Apa anda sudah beralih jadi dealer buku?
Orang tidak mau membaca bukunya yang berisi bukti tsb, kemudian hanya mengalihkan ke persoalan lain, tidak mungkin bisa memberi kontribusi yang membangun.
Masuk

HouwLiong
Pi-One
Profesor
*****

IQ: 21
Offline Offline

Gender: Pria
Tulisan: 2963


Next Hikaru Genji


Lihat Profil WWW
« Jawab #249 pada: Januari 20, 2010, 08:19:48 »

Orang tidak mau membaca bukunya yang berisi bukti tsb, kemudian hanya mengalihkan ke persoalan lain, tidak mungkin bisa memberi kontribusi yang membangun.
orang yang membaca satu buku, setuju dengan idenya, kemudian memaksakan bahwa orang lain harus setuju dengan pemikiran itu, apa itu disebut memberi kontribusi membangun? mata muter

tentu saja meski gak membaca bukunya, aku masih membaca artikelnya secara umum, termasuk penerimaan atau penolakan atas pemikiran itu. Dan jika aku lebih condong pada pihak yang kontra, kenapa anda sewot? Aku bahkan gak yakin anda akan seantusias ini, jika anda memiliki pandangan filosofis yang berbeda dengan si triplek...  mata muter
« Edit Terakhir: Januari 20, 2010, 08:22:07 oleh Pi-One » Masuk

Free Free Free - Blog of Freeware
http://gratis01.blogspot.com
The Houw Liong
Profesor
*****

IQ: 7
Offline Offline

Gender: Pria
Tulisan: 855



Lihat Profil WWW
« Jawab #250 pada: Januari 22, 2010, 08:19:27 »

Orang tidak mau membaca bukunya yang berisi bukti tsb, kemudian hanya mengalihkan ke persoalan lain, tidak mungkin bisa memberi kontribusi yang membangun.
orang yang membaca satu buku, setuju dengan idenya, kemudian memaksakan bahwa orang lain harus setuju dengan pemikiran itu, apa itu disebut memberi kontribusi membangun? mata muter

tentu saja meski gak membaca bukunya, aku masih membaca artikelnya secara umum, termasuk penerimaan atau penolakan atas pemikiran itu. Dan jika aku lebih condong pada pihak yang kontra, kenapa anda sewot? Aku bahkan gak yakin anda akan seantusias ini, jika anda memiliki pandangan filosofis yang berbeda dengan si triplek...  mata muter
Tipler sudah memberi kontribusi yang membangun dengan mengemukakan paradigma yang baru yang patut dipelajari oleh orang yang berpikiran terbuka dan mau belajar dari terobosan baru.
Masuk

HouwLiong
Pi-One
Profesor
*****

IQ: 21
Offline Offline

Gender: Pria
Tulisan: 2963


Next Hikaru Genji


Lihat Profil WWW
« Jawab #251 pada: Januari 22, 2010, 11:20:16 »

Tipler sudah memberi kontribusi yang membangun dengan mengemukakan paradigma yang baru yang patut dipelajari oleh orang yang berpikiran terbuka dan mau belajar dari terobosan baru.
Dan ilmuwan yang aku terima pemikirannya sudah memberi kontribusi dengan menunjukkan kelemahan pandangan Triplek.
Masuk

Free Free Free - Blog of Freeware
http://gratis01.blogspot.com
The Houw Liong
Profesor
*****

IQ: 7
Offline Offline

Gender: Pria
Tulisan: 855



Lihat Profil WWW
« Jawab #252 pada: Januari 25, 2010, 08:06:23 »

Tipler mempublikasikan karya ilmiah model alam semesta yang ada awal/Alpha dan akhir/Omega dengan informasi lengkap dalam jurnal ilmiah.

Filsafat agama menyatakannya sebagai keberadaan Pencipta alam semesta yang berpengetahuan sempurna yang sesuai dengan argumen filsafat  "The First Cause Argument".

The first cause argument (or “cosmological argument”) takes the existence of the universe to entail the existence of a being that created it. It does so based on the fact that the universe had a beginning. There must, the first cause argument says, be something that caused that beginning, a first cause of the universe.

The universe consists of a series of events stretched across time in a long causal chain. Each one of these events is the cause of the event that comes after it, and the effect of the event that comes before it. The world as it is came from the world as it was, which came from the world as it was before.

If we trace this series of events back in time, then what do we find? There seem, at first glance, to be two possibilities: either we eventually reach the first event in the series, the cause at the beginning of the universe that set everything going, or there is no first event in the series and the past stretches back into infinity.

The first cause argument tells us that the second of these is not possible, that the past cannot stretch back into infinity but rather must have a beginning. The argument then proceeds by suggesting that if the universe has a beginning then there must be something outside it that brought it into existence.

This being outside the universe, this Creator, the first cause argument tells us, is God.
 
Masuk

HouwLiong
Pi-One
Profesor
*****

IQ: 21
Offline Offline

Gender: Pria
Tulisan: 2963


Next Hikaru Genji


Lihat Profil WWW
« Jawab #253 pada: Januari 25, 2010, 01:27:15 »

Model yang belum terbukti secara ilmiah. Dan anda menerimanya mentah-mentah, karena sesuai dengan pandangan filosofis anda. Itu bukan sikap seorang ilmuwan...
Masuk

Free Free Free - Blog of Freeware
http://gratis01.blogspot.com
Hendy wijaya, MD
Profesor
*****

IQ: 18
Offline Offline

Gender: Pria
Tulisan: 519



Lihat Profil Email
« Jawab #254 pada: Januari 26, 2010, 12:01:59 »

@luth
Saya kan memberikan contoh bahwa buku terlaris bukan berarti isi buku itu benar terlepas dari konteks buku itu. Mohon jangan tertawakan pendapat orang lain. Anda sendiri juga bukan orang yang sempurna dalam berpendapat.
Masuk

Against stupidity God himself struggles in vain
Halaman: 1 ... 15 16 [17] 18 19 ... 23   Naik
Kirim topik ini | Cetak
Lompat ke:  

Topik Lainnya :
Subyek Dimulai oleh Jawaban Dilihat Tulisan terahkir
KERJA DOSEN DAN UMUR PENDEK « 1 2 ... 5 6 » peregrin 85 13826 Tulisan terahkir November 29, 2009, 11:19:08
oleh r.a.n
Bacaan Iseng!! « 1 2 ... 18 19 » Brilliant 284 15403 Tulisan terahkir Pebruari 26, 2010, 06:52:39
oleh raisuien
Mengapa Babi Haram? « 1 2 ... 10 11 » biobio 157 18620 Tulisan terahkir Mei 23, 2009, 07:57:04
oleh biobio
Worm-hole, Black-hole, White-hole « 1 2 ... 12 13 » pinokio 191 16114 Tulisan terahkir Januari 06, 2010, 03:38:31
oleh Haryanto
menggali potensi ekonomi kelatan luth 5 997 Tulisan terahkir Oktober 23, 2009, 07:19:00
oleh ghostdoors
Powered by SMF 1.1.9 | SMF © 2006-2008, Simple Machines LLC
RSS | Sitemap | Science Blog | Feed Artikel


© 2006-2008 ForumSains.com
Dilber MC Theme by HarzeM