Berita: Selamat datang di ForSa! Forum diskusi seputar sains, teknologi dan pendidikan Indonesia.

Selamat datang, Pengunjung. Silahkan masuk atau mendaftar. Apakah anda lupa aktivasi email?


Masuk dengan nama pengguna, kata sandi dan lama sesi

MEMAHAMI PERAYAAN EKARISTI DALAM GEREJA KATOLIK

Roti dan anggur dalam Gereja Katolik Roma dipandang sebagai simbol Liturgi dari benda alamiah, walaupun roti dan anggur sudah merupakan hasil olahan tangan manusia. Akan tetapi dengan demikian, penggunaan roti dan anggur buatan manusia justru mengungkapkan partisipasi manusia dalam pengolahan alam bagi hidup manusia itu sendiri.

roti dan anggur

Dalam kebudayaan Timur Tengah, roti dan anggur merupakan makanan dan minuman pokok masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan roti dan anggur dalam perayaan-perayaan adalah hal yang biasa. Oleh karena itu, penggunaan roti dan anggur dalam perayaan Liturgi bukanlah suatu hal yang baru karena hal ini sudah terjadi pada zaman Yesus. Selain itu, penggunaan roti dan anggur mempunyai kaitan yang sangat erat dengan penetapan Ekaristi oleh Tuhan sendiri. Oleh karena itu, roti dan anggur yang digunakan dalam perayaan Ekaristi adalah roti dan anggur yang masih murni dan tidak beragi.

I. Roti dan Anggur Ekaristi

1.1 Roti Ekaristi

Dalam Liturgi Ekaristi, Gereja Katolik Roma menggunakan roti tidak beragi dalam setiap perayaannya. Gereja Katolik Roma bertitik tolak pada pengalaman Kristus yang mengadakan sakramen Mahakudus (Perjamuan) dengan roti tidak beragi. Yesus Kristus mengadakan Ekaristi di tengah Perjamuan Paskah, dan dalam Taurat disebutkan suatu tuntutan agar setiap Perjamuan Paskah yang diadakan hanya menggunakan roti tidak beragi sebagai peringatan akan keluarnya bangsa Israel dari tanah perbudakan. Ketika bangsa Israel akan keluar dari tanah perbudakan, mereka tidak mempunyai banyak waktu/kesempatan untuk meragikan adonan dan membuat roti biasa untuk dijadikan bekal selama dalam perjalanan. Selain itu, roti tidak beragi mempunyai daya tahan yang lebih lama dibandingkan dengan roti yang beragi. Oleh karena itu roti tidak beragi sangat cocok untuk dijadikan bekal selama dalam perjalanan bangsa Israel di padang gurun.

Roti tanpa ragi memang bukan syarat mutlak. Dalam keadaan darurat, misalnya dalam situasi perang, orang boleh menggunakan roti biasa dalam merayakan Ekaristi. Pada dasarnya, roti yang digunakan dalam perayaan Ekaristi pada Gereja Katolik Roma mempunyai bentuk yang khas yaitu kecil, tipis, bundar dan sebenarnya tidak berbentuk roti sama sekali. Umat Katolik Roma menyebutnya dengan nama Hosti. Pemakaian roti macam ini didorong oleh alasan praktis saja, sebab jika banyak orang yang mengikuti perayaan Ekaristi dan menyambut komuni, maka penggunaan roti biasa sangat merepotkan. Oleh karena itu, hosti yang kita pakai lebih praktis.

Dalam Konstitusi Apostolik ”Missale Romawi” no. 282 dikatakan: ”sesuai dengan tradisi seluruh Gereja, Roti yang digunakan untuk merayakan Ekaristi harus dari gandum dan menurut kebiasaan Gereja Latin roti itu dibuat tanpa ragi”. Di sini kita melihat bahwa Konstitusi Apostolik sangat menekankan penggunaan roti tidak beragi dalam perayaan Ekaristi dan roti itu harus terbuat dari gandum. Pada no. 283 lebih jelas dikatakan tentang penggunaan roti Ekaristi: ”mengingat arti lambangnya, maka bahan untuk perayaan Ekaristi itu hendaknya sungguh-sungguh kelihatan sebagai makanan. Oleh karena itu hendaknya roti Ekaristi, walaupun berbentuk hosti, dibuat sedemikian rupa, sehingga sungguh-sungguh dapat dipecah-pecah oleh imam, dan bagian-bagian itu diberikan kepada sejumlah orang beriman. Namun, hal ini tidak berarti bahwa hosti-hosti kecil harus ditiadakan, sebab hosti-hosti kecil mungkin tetap berguna karena banyaknya jumlah orang yang menyambut komuni atau karena alasan pastoral lain. Di zaman para rasul, perayaan Ekaristi disebut Pemecahan Roti. Sebab upacara pemecahan roti itu melambangkan dengan jelas dan nyata, bahwa semua bersatu dalam satu roti. Kecuali itu dilambangkan cinta persaudaraan, sebab roti yang satu dan sama itu dipecah-pecah dan dibagikan di antara saudara-saudara”.

1.2 Anggur Ekaristi

Konstitusi Apostolik ”Missale Romawi” menekankan dengan sangat jelas mengenai penggunaan anggur di dalam perayaan Ekaristi. Dalam Konstitusi Missale Romawi no. 284 dikatakan: ”anggur untuk perayaan Ekaristi harus berasal dari buah pohon anggur (lih. Luk. 22:18). Anggur itu harus asli dan murni, yaitu tanpa campuran dengan bahan lain”. Hal ini menekankan penggunaan anggur yang murni tanpa campuran dengan bahan lain. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, mengapa dalam setiap perayaan Ekaristi, anggur harus dicampur dengan air? Sebenarnya hal ini merupakan hal yang biasa terjadi dan bukan suatu hal yang baru yang harus diperdebatkan. Di Palestina, Yunani, dan Roma, orang jarang meminum anggur murni, tetapi selalu tercampur dengan sedikit air. Dengan demikian rasanya akan sedikit lebih enak, pun juga lebih murah. Dapat dipastikan bahwa Yesus mengikuti kebiasaan umum yang berlaku pada masyarakat zaman itu. Akan tetapi, lama kelamaan orang mulai mencari suatu arti rohani bagi upacara itu, dan menghasilkan beberapa cara untuk mengartikannya.

Anggur di daerah Palestina merupakan minuman yang biasa seperti minuman teh di sini. Pernah muncul suatu persoalan yang memperdebatkan apakah anggur dan roti yang digunakan dalam perayaan Ekaristi boleh diganti dengan makanan lain. Akan tetapi, Geraja Katolik Roma tidak memperbolehkan atau menolak menggunakan makanan lain dalam perayaan Liturgi Ekaristi. Di sini Gereja Katolik Roma tetap berpegang teguh pada ajaran bahwa Ekaristi merupakan sebuah perayaan Misteri yang begitu besar dan luhur sehingga tidak memungkinkan setiap orang untuk bertindak semaunya atau seenaknya. Oleh karena itu, Gereja tetap menekankan penggunaan roti dan anggur sebagai bahan yang tepat dalam perayaan Ekaristi.

II. Roti dan Anggur Ekaristi sebagai Tubuh dan Darah Kristus

2.1 Titik Tolak : Perjamuan Paska Yesus bersama Murid-murid-Nya

Menurut Injil Yohanes, Yesus makan ”Perjamuan Malam Terakhir” dengan para murid pada malam persiapan Paskah (18:28b). Akan tetapi menurut Injil-injil Sinoptik, perjamuan itu diadakan ketika hari Paskah mulai atau pada permulaan ”hari pertama hari raya roti tidak beragi”. Hal ini memunculkan persoalan apakah Perjamuan Malam Terakhir yang dibuat oleh Yesus bersama murid-murid-Nya adalah perjamuan Paskah atau bukan?. Mungkin tradisi sinoptik memilih menceritakan Yesus makan ”Perjamuan Malam Terakhir” dengan para murid-Nya sebagai Perjamuan Paskah, untuk menyatakan bahwa Paskah yang lama sudah selesai. Di lain pihak, Yohanes mempunyai maksud lain dalam Injilnya mengenai Perjamuan Malam Yesus dengan murid-murid-Nya. Di sini, Yohanes mau menampilkan Yesus sebagai ”Anak Domba Allah” (1:36). Dengan demikian, Yohanes bermaksud untuk menceritakan wafat Yesus di salib pada hari persiapan Paskah ketika domba-domba disembelih untuk perjamuan petang hari ketika Paskah dimulai. Yohanes dengan demikian, mencoba menghubungkan antara wafat Yesus dengan Anak Domba Paskah.

Injil-injil Sinoptik dan juga Paulus dalam tulisan-tulisannya mencoba menghubungkan Liturgi perayaan Ekaristi dengan kata-kata dan tindakan-tindakan Yesus pada “Perjamuan Malam Terakhir”. Bahkan nama ‘Ekaristi’ berasal dari kata yang dipakai dalam tulisan Paulus dan Injil-injil sinoptik untuk menggambarkan salah satu tindakan Yesus yaitu “mengucap syukur”.

Apapun yang dilakukan Yesus pada “Perjamuan Malam Terakhir” baik itu kata-kata maupun tindakan-Nya, semuanya disimpan dalam tradisi yang berbeda-beda. Setiap tradisi menyimpannya dengan caranya sendiri sehingga membuat masing-masing tradisi berbeda satu sama lain. Akan tetapi dari kesemuanya itu, yang paling penting adalah arti dari kata-kata dan tindakan-tindakan Yesus pada Perjamuan Malam Terakhir bagi para pengikut-Nya dan terkhusus bagi generasi-generasi selanjutnya. Ada sumber yang mengatakan bahwa rumus yang terdapat dalam Injil Matius dan Markus kemungkinan besar berasal dari lingkungan Yerusalem, sedangkan rumus yang terdapat pada Paulus dan Lukas berasal dari lingkungan Antiokhia.

2.2 Kata-kata Yesus Sendiri atas roti dan anggur: ”Inilah Tubuh-Ku..., Inilah Darah-Ku...!!

Kalau kita mempelajari kata-kata yang diucapkan Yesus pada Perjamuan Malam Terakhir, maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan; pertama, peranan tradisi. Di bawah ini akan disajikan rumusan-rumusan yang berbeda mengenai kata-kata Yesus atas roti:

  • 1 Kor. 11:24 : ”Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu”
  • Mrk. 14:22 : ”Ambillah, inilah tubuh-Ku”
  • Mat. 26:26 : “Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku”
  • Luk. 22:19 : “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu”

Sementara dalam tradisi Yohanes, kata-kata Yesus atas roti terungkap dalam Yoh. 6:51 “Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia”.

Selain rumusan kata-kata Yesus atas roti, ada juga rumusan kata-kata Yesus atas cawan yang berisi anggur:

  • 1 Kor. 11:25 : “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimateraikan oleh darah-Ku”.
  • Mrk. 14:24 : “Inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang”
  • Mat. 26:27-28 : “Minumlah, kamu semua, dari cawan ini. sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa”.
  • Luk. 22:20 : “Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu”.

Kata-kata dan tindakan Yesus pada Perjamuan Malam Terakhir khususnya atas roti dan anggur menjadi jelas dimana Yesus mau mengatakan kepada para murid-Nya bahwa ia akan menyerahkan tubuh dan darah-Nya sendiri menjadi tebusan bagi umat manusia. Kata-kata Yesus atas roti “Inilah tubuh-Ku…” menjadikan roti itu benar-benar adalah tubuh Yesus sendiri. Demikian halnya dengan anggur “Inilah darah-Ku…” menjadikan anggur itu benar-benar adalah darah Yesus. St. Ambrosius sendiri melihat bahwa dalam perubahan roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Kristus itu berkat kata-kata Yesus. Ambrosius menyimpulkan bahwa sebelum Yesus berkata: “inilah Tubuh-Ku…, inilah Darah-Ku…” roti dan anggur bukan tubuh dan darah Kristus melainkan hanya makanan dan minuman biasa. Akan tetapi, ketika Yesus berkata: “inilah Tubuh-Ku…, inilah Darah-Ku” , roti dan anggur itu benar-benar menjadi Tubuh dan Darah Kristus.

2.3 Pertikaian tentang roti dan anggur Ekaristi sebagai Tubuh dan Darah Kristus

2.3.1 Berengarius

Salah satu tokoh bidaah Ekaristi yang sangat terkenal yang hidup pada abad XI yaitu Berengarius menolak ajaran Gereja yang mengatakan bahwa roti dan anggur Ekaristi adalah Tubuh dan Darah Kristus. Menurutnya roti dan anggur Ekaristi sesudah konsekrasi tetaplah memiliki hakekat roti dan anggur itu, dan bukan hakekat Tubuh dan Darah Kristus. Pada intinya, Berengarius menolak perubahan hakikat roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Kristus. Bagi Berengarius, santapan Ekaristi sesudah konsekrasi hanya melulu simbol dari tubuh dan darah Kristus tetapi tidak pernah real sebagai tubuh dan darah Kristus. Dalam santapan Ekaristi itu, penerimaan tubuh dan darah Kristus hanya terjadi secara spiritual, rohani, justeru karena orang menjadi warga Gereja.

Ajaran Berengarius menimbulkan keheboan dan mendapat tanggapan yang serius dari Gereja. Gereja mengutuk Berengarius dan mewajibkannya untuk mengakui iman Gereja akan Ekaristi Kudus, bahwa sesudah konsekrasi, roti dan anggur benar-benar berubah menjadi tubuh dan darah Kristus.
2.3.2 Kaum Reformator

Salah satu tokoh reformator yaitu Huldrich Zwingli, mengakui kehadiran Tuhan di tengah-tengah kehidupan manusia. Akan tetapi ia menolak sama sekali ajaran Gereja mengenai kehadiran Kristus yang nyata dalam roti dan anggur. Baginya hal ini sangat tidak mungkin. Bagi Zwingli, roti dalam perjamuan Ekaristi hanya melulu tanda yang mengingatkan dan membantu iman kita akan pembenaran yang kita terima. Berbeda dengan Zwingli, Martin Luther justeru mengakui bahwa Kristus benar-benar hadir dalam roti dan anggur secara real dan badani. Dan yang menjadi dasar mengapa Luther mengakui hal itu adalah sabda Yesus sendiri. (bdk. Yoh. 6).

2.4 Pandangan para Bapa Gereja tentang Roti dan Anggur Ekaristi sebagai Tubuh dan Darah Kristus.

2.4.1 St. Ignatius dari Anthiokhia

Dalam suratnya yang ditujukan kepada jemaat di Roma ia mengatakan, “… di dalamku membara keinginan bukan untuk benda-benda materi. Aku tidak menyukai makanan dunia… yang kuinginkan adalah roti dari Tuhan, yaitu tubuh Kristus… dan minuman yang kuinginkan adalah darahNya: sebuah makanan perjamuan abadi”. Menurut isinya, Santo Ignatius mengajarkan bahwa roti Ekaristi adalah Tubuh Tuhan sendiri.

2.4.2 St. Yustinus Martir

Yustinus pernah menulis: “karena kami tidak memandang roti dan anggur Ekaristi sebagai roti dan minuman biasa, melainkan seperti yang telah dibuat oleh Yesus Kristus penebus kami, ketika Dia Sang Logos Ilahi menjadi daging, yang menerima daging dan darah untuk keselamatan kita, demikianlah kami diajar bahwa makanan yang dikuduskan melalui doa pujian syukur kepada Sang Logos, yang dengan makanan ini daging dan darah kami diberi makan melalui perubahan, adalah daging dan darah Yesus yang menjadi daging”. Dengan demikian, Yustinus meyakini bahwa roti dan anggur Ekaristi adalah Tubuh dan Darah Yesus Kristus sendiri.

2.4.3 St. Irenius

Dalam karyanya yang terkenal, Against Hereies, ia menghapuskan pandangan yang menentang para rasul. Tentang Ekaristi dia menulis, : “Dia (Yesus) menyatakan bahwa piala itu,… adalah Darah-Nya yang darinya ia menyebabkan darah kita mengalir; dan roti itu…, Ia tentukan sebagai Tubuh-Nya sendiri, yang darinya ia menguatkan tubuh kita.” Irenius benar-benar mau membuktikan dan meyakinkan bahwa roti Ekaristi sungguh-sungguh Tubuh Kristus. Selain itu Irenius juga mengajarkan perubahan yang sungguh-sungguh dari roti biasa menjadi tubuh Kristus itu. Ia mengatakan: “ Bilamana piala yang dicampur dan roti yang disiapkan menerima Sabda Allah dan roti Ekaristi menjadi Tubuh Kristus… bagaimana mereka (pengikut Gnostikisme) dapat berkata bahwa tubuh tidak dapat menerima karunia Allah…” (Adv. Haer. V:2.3).

2.4.4 St. Cyril dari Yerusalem

Pada tahun 350, ia mengemukakan ajarannya tentang Ekaristi ketika ia menjabat sebagai uskup di Yerusalem. Ia mengatakan: “karena itu, jangan menganggap roti dan anggur hanya dari penampilan luarnya saja, sebab roti dan anggur itu, sesuai dengan yang dikatakan oleh Tuhan kita, adalah Tubuh dan Darah Kristus. Meskipun pancaindera kita mengatakan hal yang berbeda; biarlah imanmu meneguhkan engkau. Jangan menilai hal itu dari perasaan, tetapi dengan keyakinan iman, jangan ragu bahwa engkau telah dianggap layak untuk menerima Tubuh dan Darah Kristus”.

2.4.5 St. Agustinus

Santo Agustinus mengajarkan: “roti yang ada di altar yang dikonsekrasikan oleh Sabda Tuhan adalah Tubuh Kristus. Dan cawan itu, atau tepatnya isi dari cawan itu, yang dikonsekrasikan dengan Sabda Tuhan, adalah Darah Kristus… roti itu satu; kita walaupun banyak tetap satu tubuh. Maka dari itu engkau diajarkan untuk menghargai kesatuan. Bukankah roti dibuat tidak dari satu butir gandum, melainkan banyak butir? Namun demikian, sebelum menjadi roti, butir-butir ini saling terpisah, tetapi setelah kemudian menjadi satu dalam air setelah digiling… [dan menjadi roti]”

Melalui pengajaran Bapa-bapa Gereja ini, kita dapat mengetahui bahwa sejak abad pertama, Gereja percaya dan mengimani bahwa roti dan anggur Ekaristi setelah dikonsekrasikan oleh Sabda Tuhan menjadi Tubuh dan Darah Yesus. Karena itu, walaupun rupa luarnya berupa roti dan anggur, namun hakekatnya sudah berubah menjadi tubuh dan darah Kristus.

Penutup

Perkataan Yesus ”inilah Tubuh-Ku” dan ”inilah Darah-Ku” seringkali diartikan bahwa Yesus menunjuk pada kematiaan-Nya segera di atas kayu salib, tatkala tubuhNya akan diremukan dan darahNya akan ditumpahkan dalam kematian yang mengerikan. Kata-kata ini diucapkan Yesus ketika Ia sedang makan paskah dengan para murid-Nya yang kemudian menjadi titik tolak perayaan Ekaristi Gereja sekarang ini. Penggunaan roti dan anggur dalam perayaan Ekaristi sebagai Tubuh dan Darah Kristus merujuk pada kata-kata dan tindakan Yesus sendiri pada peristiwa Perjamuan Malam bersama dengan para murid. Pada malam itu Yesus mengambil roti, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada para murid sambil berkata ”Inilah Tubuh-Ku” dan juga mengambil piala yang berisi air anggur dan berkata: ”inilah piala Darah-Ku yang ditumpahkan bagi kamu”, dan satu lagi kata yang penting adalah ”kenangkanlah Aku dengan merayakan peristiwa penyelamatan ini”.

Melalui Ekaristi, kita mengenangkan kembali peristiwa Perjamuan Malam Yesus dengan para murid. Dan dengan roti dan anggur kita menghadirkan Yesus secara real dan konkret. Dengan demikian, roti dan anggur ekaristi merupakan tubuh dan darah Kristus sendiri. Penegasan ini bukan hanya dikatakan oleh Gereja melainkan juga telah dikatakan sebelumnya oleh Yesus sendiri pada Perjamuan Malam Terakhir.

Daftar Pustaka

  • Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid 1 [A-L], Jakarta; Yayasan Bina Komunikasi Bina Kasih/OMF, April 1994.
  • ------------------------------, Jilid 2 [M-Z], Jakarta; Yayasan Bina Komunikasi Bina Kasih/OMF, April 1994.
  • Fitzmyer, Joseph A. Katekismus Kristologis, Jogjakarta; Kanisius, 1994
  • Komisi Liturgi KWI, ”Kumpulan Dokumen Liturgi” Bina Liturgia, Jakarta; OBOR, 1987.
  • Lukasik, A. SCJ, Memahami Perayaan Ekaristi, Yogyakarta, Kanisius 1991
  • Martasudjita, E. Pr. Ekaristi, Yogyakarta; Kanisius, 2005

Artikel Umum Lainnya

Tanggapan *

1) Re: Memahami Perayaan Ekaristi dalam Gereja Katolik
oleh ErwinWp pada Januari 13, 2017, 10:49:36 PM
Sebelum menanggapinya, saya ingin bertanya apakah pantas kita membahas doktrin agama dalam forum ini?


 Kalau Yesus hadir dalam Roti dan Anggur, Roti adalah daging Yesus dan anggur adalah darah Yesus, apakah itu seperti kanibalisme.
 Atau kalau Roti dan Anggur dianggap sebagai simbol kehadiran Yesus. Lalu bagaimana dangan nubuat kedatangan Yesus yg ke-2? Karena Yesus telah hadir dalam perayaan ekaristi.


Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan tanggapan.