Forum Sains Indonesia

Portal Sains Indonesia

Berita:
* *
Selamat datang, Pengunjung. Silahkan masuk atau mendaftar.
Lupa email aktivasi Anda?
Desember 05, 2008, 03:18:10


Masuk dengan nama pengguna, kata sandi dan lama sesi


Selamat datang, Pengunjung. Silahkan masuk atau mendaftar.
Lupa email aktivasi Anda?
Desember 05, 2008, 03:18:10

Masuk dengan nama pengguna, kata sandi dan lama sesi
Last 10 Shouts:
Hari ini at 03:10:28
Wadogh... ada yg ngasih nomor HP..! ketawa
Hari ini at 03:03:38
woi,siapa yang online?
Hari ini at 02:49:25
hai kenalan dunkz hub gw di 081382165044 ok.....
Kemarin at 04:48:52
koko
Kemarin at 02:58:01
kn8_satria jorok nulisnya tuh... mata muter
Kemarin at 10:57:08
tes-tes
Kemarin at 09:13:06
huyyyyy program C + +


dijalaninnya pke pa sih ?


tolong T______T
Kemarin at 08:35:20
BUzZZZ
Desember 03, 2008, 09:03:00
halo om sis, pa kabar nih nyengir
halo k8, salam kenal juga. Ada hub sodara apa sama kbh nih hehe
Desember 03, 2008, 06:15:42
salam kenal
Halaman: [1]   Turun
Kirim topik ini | Cetak
Pembuat Topik: Perbedaan perlakuan terhadap Soekarno vs Soeharto  (Baca 3139 kali)
0 Anggota dan 1 Pengunjung melihat topik ini.
indoroids
Pengunjung
« pada: Januari 17, 2008, 08:33:35 »

Oleh: Anwari Doel Arnowo

Sabtu, 12 Januari 2008.
Pagi-pagi tanggal 21 Juni 1970 saya sudah berada di sebuah lubang yang disiapkan untuk kuburan manusia. Sederhana sekali dan sesederhana semua makam di sekelilingnya. Sudah ada sekitar seratusan manusia hidup berada di situ dan semua hanya berada di situ, tanpa mengetahui apa saja tugas mereka sebenarnya. Yang jelas semuanya bermuka murung dan ada yang matanya penuh airmata akan tetapi bersinar dengan garang, kelihatan roman muka yang marah. Ya, sayapun marah hanya saja saya bisa menahan diri agar tidak terlalu kentara terlihat oleh umum.

Kita semua di kota Malang mendengar tentang almarhum yang diberitakan telah meninggal dunia sejak pagi hari dan sudah menyiapkan diri untuk menunggu keputusan pemakamannya di mana. Sesuai amanat almarhum, seperti sudah menjadi pengetahuan masyarakat umum yang secara luas, keinginannya amat jelas agar dimakamkan di sebuah tempat di pinggir kali di bawah sebuah pohon yang rindang di Jawa Barat {asumsi semua orang adalah di rumah Bung Karno di Batu Tulis di kota Bogor }.

Tetapi lain wasiat dan amanah, lain pula Pemerintah mengambil keputusan agar dimakamkan di kota Blitar, menyebutkan sebagai tempat kelahirannya. Saya menilai hal ini adalah sebuah keputusan yang amat ceroboh. Bung Karno, yang kita bicarakan ini, terlahir di Surabaya di daerah Pasar Besar [bukan di Kota Blitar] dengan nama Koesno dan ikut orang tuanya yang jabatan ayahnya, Raden Soekemi Sosrodihardjo, adalah seorang guru yang mengajar di sebuah Sekolah di Mojokerto dan kemudian dipindah ke Blitar. Di sinilah ayah Bung Karno, meninggal dunia dan dimakamkan juga di sisinya, istrinya (yang orang Bali ) bernama Ida Ayu Nyoman Rai.

Makam kedua orang tuanya ini akhirnya ditempatkan bersama-sama dengan para pahlawan yang gugur membangun dan mempertahankan Indonesia . Taman Makam Pahlawan ini bernama SENTUL dan menjadi tujuan di mana pemakaman Bung Karno akan dilaksanakan.

Maka setelah matahari sudah tinggal sepenggalan sebelum terbenam, rombongan jenazah akhirnya sampai di tempat tujuan. Yang hadir didorong-dorong oleh barisan tentara angkatan darat yang berbaris dengan memaksa kumpulan manusia agar upacara dapat dilaksanakan dengan layak. Tampak Komandan Upacara jenderal Panggabean memulai upacara dan kebetulan saya berdiri berdesak-desakan disamping Bapak Kapolri Hoegeng Iman Santosa, yang sedang sibuk berbicara dengan suara ditahan agar rendah frekuensinya tidak mengganggu suara aba-aba yang sudah diteriak-teriakkan. Saya berbisik kepada beliau, ujung paling belakang rombongan ini berada di mana? Beliau menjawab singkat di kota Wlingi. Huh?? Sebelas kilometer panjangnya iring-iringan rombongan ini sejak dari lapangan terbang Abdulrachman Saleh di Singosari, di sebelah Utara kota Malang . Pak Hoegeng yang sederhana itu kelihatan murung dan sigap melakukan tugasnya. Dia berbisik kepada saya: "There goes a very great man!!" – Maka pergilah seorang yang hebat luar biasa!! Saya amat terharu mendengarnya, apalagi melihat ambulans (mobil jenazah) yang mengangkut Bung Karno kita, Bung Karno-ku, terlalu amat sederhana bagi seorang besar seperti beliau, Putra Sang Fajar (julukan ini digunakan karena Bung karno lahir pada waktu fajar sedang menyingsing) . Saya lihat amat banyak manusia mengalir seperti aliran sungai dari pecahan rombongan pengiring. Sempat saya tanyakan, ada yang mengaku dari Madiun, dari Banyuwangi bahkan dari Bali . Saya menuju ke arah berlawanan dengan tujuan ke rumah Bung Karno, di mana kakak kandung beliau, Ibu Wardojo tinggal. Hari sudah gelap dan perut terasa lapar karena kita tidak berhasil mendapatkan makanan atau minuman, sebab kalaupun ada warung atau penjual makanan, pasti sudah kehabisan minuman / makanan apapun yang bisa ditelan.

Saya ingat bahwa orang Muhammadiyah tidak memberi hidangan, minum sekalipun, kepada kaum pelayat. Bung Karno adalah orang Muhammadiyah. Kota Blitar tidak siap menampung orang sekian banyak. Setelah dilakukan pemakaman jenazah Bung Karno, beberapa waktu di kemudian hari semua makam Pahlawan di Taman Pahlawan Sentul ini dipindahkan ke Mendukgerit, yang telah saya kenal sebelumnya sebagai Bendogerit.
Pemindahan ini dilaksanakan dengan alasan di lokasi pemakaman sudah penuh, tetapi pada kenyataannya kemudian ada proyek pembangunan makam Bung Karno yang memakan area cukup lebar. Sejarah mencatat bahwa sejak tahun 1971 sampai dengan 1979 makam Bung Karno tidak boleh dikunjungi oleh umum, dan dijaga oleh tentara. Kalau mau mengunjungi makam harus minta ijin terlebih dahulu ke Komando Distrik Militer (KODIM). Apa urusannya KODIM dengan ijin mengunjungi makam? Saya bersama ibu saya dan beberapa saudara datang secara mendadak pergi ke Blitar dengan tujuan utama ziarah ke Makam Bung Karno. Tanpa ragu kita ikuti aturan dan akhirnya sampai ke pimpinannya yang paling tinggi. Saya ikut sampai di meja pemberi ijin dan sudah ditentukan oleh kita bersama, bahwa salah satu saudara saya saja yang berbicara. Saya sendiri meragukan emosi saya, bisakah saya bertindak tenang terhadap isolasi kepada sebuah makam oleh Pemerintah atau rezim? Nah, ternyata meskipun tidak
terlalu ramah, mereka melayani dengan muka stoned face- muka yang seperti dilipat. Mungkin dengan menunjukkan muka seperti itu merasa bertambah rasa gagahnya terhadap rakyat biasa macam kami. Akhirnya semua OKAY dan kami mendapat sepucuk surat . Apa yang terjadi?

Sesampainya di makam kami turun dari kendaraan kami dan saya bawa surat ijin dari "malaikat KODIM" itu, menunjukkan kepada tentara yang menjaga makam. Waktu kumpeni (sebutan umum kalau sedang jengkel terhadap tentara) ini membaca suratnya, saya terdorong untukmenoleh ke arah belakang. Terkejut saya. Selain rombongan sendiri, Ibu saya dan saudara-saudara, telah mengikuti kami sebanyak lebih dari tiga puluh orang, bergerombol. Mereka, orang-orang yang tidak kami kenal sama sekali, melekat secara rapat dengan rombongan kami. Saya lupa persis bagaimana, akan tetapi saya ingat kami memasuki pagar luar dan kami bisa mendekat sampai ke dinding kaca tembus pandang dan hanya memandang makamnya dari jarak, yang mungkin hanya sekitar tiga meter.
Para pengikut dadakan yang berada di belakang rombongan kami dengan muka berseri-seri, merasa beruntung dapat ikut masuk ke dalam lingkungan pagar luar itu. Ada yang bersila, memejamkan mata dan mengatupkan kedua tangannya, posisi menyembah. Saya tidak memperhatikannya, tetapi jelas dia bukan berdoa cara Islam. Mereka khusyuk sekali dan waktu kami kembali menuju ke kendaraan kami, beberapa diantara mereka menjabat tangan dan malah ada yang menciumnya, membuat saya merasa risih (segan, malu dan salah tingkah bercampur-aduk) . Salah seorang dari mereka ini mengatakan bahwa dia sudah dua hari bermalam di sekitar situ di udara terbuka menunggu sebuah kesempatan seperti yang telah terjadi tadi. Tanpa kata-kata, saya merasakan getar hati rakyat, rakyat Marhaen kata Bung Karno! Mereka menganggap Bung Karno bukan sekedar Proklamator, tetapi seorang Pemimpin mereka dan seorang Bapak mereka. Apapun yang disebarluaskan dan berlawanan arti dengan kepercayaan mereka
itu semuanya dianggap persetan. Dalam hubungan Bung Karno dengan Rakyat, tidak ada unsur uang berbicara.

Saya ketik ini pukul: 10:36:04 malam, datang telepon seorang teman menanyakan saya sedang apa. Saya katakan saya sedang berada di depan komputer. Dia bilang di TV sedang disiarkan detik-detik terakhir. Saya balas bertanya apa maksudnya? Sebelum dia sempat menjawab, pikiran saya segera sadar bahwa yang dimaksud tentunya mengenai "pahlawan" jenderal berbintang lima : Suharto. Ditayangkan kesibukan di Rumah Sakit Pertamina di Jalan Kyai Maja di Kebayoran Baru. Mulai penayangan kesibukan petugas keamanan, petugas dari media dengan alat-alat perekamnya berupa kamera photo maupun kamera video. Pakai jas putih berderet-deret dari kiri ke kanan dan dari belakang ke depan, para dokter. Diantara para dokter itu saya kenali satu orang tetapi hati saya tetap geli karena saya kok seperti berada di dalam ruangan tokoya san-barber-tukang cukur rambut.

Lepas dari beberapa pernyataan para dokter yang dihiasi dengan penggambaran mengenai kondisi sang jenderal berbintang lima buah masing-masing di kiri dan di kanan, secara detil memberikan gambaran organ ini dan itu, alat-alat serta status kondisi medisnya.
Obat apa yang kiranya yang diaplikasikan dan konon ada cerita yang menyebutkan adanya pembelian alat scan baru untuk kegiatan upaya memanjangkan umur. Kata rumor sih harganya satu juta USDollar. Wallahualam. Empat puluh dokter Tim Medis, untuk kesembuhan satu orang jenderal ditambah pembelian alat baru yang sekian, berapakah kiranya jumlah biaya seluruh upaya seperti ini yang ditanggung oleh uang rakyat … ?

Alangkah beda sekali.
Beda sekali dengan Bung Karno.
Seperti bumi dengan langit!!
Kami sudah mendengar bahwa Bung Karno sakit sejak lama.
Berita bagaimana keadaannya tidak dapat diakses oleh orang kebanyakan. Bung Karno kita yang ditahan di Wisma Yasso (Yasso adalah nama saudara laki-laki Dewi Soekarno) di Jl. Gatot Subroto, dikhabarkan amat menderita. Anak-anaknya tidak dapat bebas mengunjunginya dan kemudian sekali saya mengetahui dari kisah-kisah mereka, banyak resep dokter Mahar Mardjono hanya ditumpuk di sebuah sudut di tempat penahanan Bung Karno. Resep-resep untuk mengambil obat di aitu tidak pernah ditukarkan dengan obat, itu berarti tidak pernah diaplikasikan kepada sang pasien, Bung Karno yang kita cintai.

Pada tahun 1988an saya berkenalan dengan seorang pensiunan Polisi Militer. Karena sesuatu keperluan saya pergi ke rumah pak Djajadi, seorang pelaksana pekerjaan di lingkungan PT Ancol. Rumahnya di daerah Bungur, dekat daerah Senen / Kemayoran, di mana sang pensiunan CPM itu tinggal. Dia menunjukkan kepada saya sebuah pena yang diterimanya karena diberi oleh Bung Karno waktu menjaga Bung Karno yang sedang ditahan di Wisma Yasso. Dia diberitau bahwa pena itu adalah yang dipakai sebagai pena yang menandatangani Surat Perintah Sebelas Maret.

Dia bercerita demikian sambil matanya berkaca-kaca karena rasa haru dan dia memberitaukan bahwa Bung Karno itu manusia yang baik hati. Ini dia katakan karena beliau mau memberikan sebuah kenangan benda bersejarah seperti itu kepadanya, sebagai kenang-kenangan, karena tidak mempunyai apapun lagi yang bisa di berikan kepadanya.

Tidak lupa dia menceritakan sesuatu yang tidak saya duga-duga sebelumnya. Dalam pergaulannya selama berbulan-bulan menjaga beliau itu, Bung Karno mengatakan kepadanya bahwa Surat Perintah Sebelas Maret itu telah dipakai dan disalahgunakan oleh penerimanya dengan menumpangkan kepentingannya sendiri. Dia akhiri dengan: "Saya selaku seorang anggota militer hanya bisa menjalankan tugas yang dibebankan kepada saya, meskipun tindakan saya selama bertugas itu banyak bertentangan dengan hati nurani saya sendiri.

Kalau mengenai kondisi seperti ini Presiden yang sedang berkuasa tidak mengetahui, maka itu adalah sesuatu yang tidak mungkin. Saya kira pendukungnya, terutama yang sekarang, saat ini, sedang membelanya mati-matian, tentu tau ungkapan terkenal:
Tidak ada seorang prajurit yang salah.
Yang salah adalah Komandan mereka!!
Banyak nian orang Indonesia yang mengetahui hal-hal seperti ini tidak berani, tidak sempat dan terhalang untuk menceritakannya kepada orang lain, sehingga sejarah tidak dapat hadir dengan utuh kepada rakyat Indonesia .
Sejarah banyak diberi kosmetik dan diputar dan dibalik sekehendak penguasa.
Itulah sebabnya selalu saya ulangi bahwa ejaan dalam bahasa Inggris untuk kata sejarah adalah HISTORY dengan satu huruf s, bukan dua buah: HISSTORY yang bisa dipisahkan menjadi HIS STORY (Cerita Dia).
« Edit Terakhir: Januari 23, 2008, 01:32:53 oleh peregrin » Masuk
Andos
Mahasiswa
**

IQ: 0
Offline Offline

Tulisan: 29



Lihat Profil WWW
« Jawab #1 pada: Maret 19, 2008, 11:51:01 »

Mantap bro ketawa
Masuk

eka
Siswa Baru
*

IQ: 0
Offline Offline

Tulisan: 9


Lihat Profil Email
« Jawab #2 pada: April 25, 2008, 06:22:27 »

terharu, bingung, sedih, hampir gak percaya. salut dan kagum buat sang proklamator. siapa yang saat ini mampu seperti beliau?
Masuk
pAtcheezE
Siswa Baru
*

IQ: 0
Offline Offline

Gender: Wanita
Tulisan: 3


SCIENTIST WANNABE.

pattymeaowlovers@hotmail.com dud.patdud@yahoo.com
Lihat Profil Email
« Jawab #3 pada: Mei 30, 2008, 08:34:38 »

gw gak setuju ma post di atas.
karna menurut gw.
bung karno ma pak harto jaman dulu ma skarang beda cui . .

gmana klo dilyad dari sisi lain.?
soekarno aja nikah ntah udh brp x.
emg lah dya proklamator pahlawan dll.

tp emgnya pak harto nggak.?
yg bikin indonesia dulu maju kan pak harto.
klo gk ada pak harto indonesia mw jd apa.?

kasus petrus sama matius beda lagi.
tandanya pak harto itu BERANI mengambil resiko.
sekitar 100-200 nyawa hilang kalo bwt kesejahteraan Indonesia yg jumlah pendduknya sekian juta org.
yg penting 100-200 org yg meninggal itu kan bukan tanpa salah ttapi krna mereka menentang kebijakan-kebijakan yg tujuannya memajukan indonesia.
untuk maju kita butuh sedikit pengorbanan.

lyad sekarang indonesia semakin gak terurus aja.
coba dilihat-lihat lagy.
saat pak harto meninggal sana-sini kontroversi mencekam dya.
apa mereka gak inget siapa yg dulu membangun negaranya.?
di sisi lain banyak org2 kecil membela pak harto karna mereka yg paling merasakan bantuan2 semasa pak harto jaya.

jd menurut gw segala perlakuan terhadap pak harto itu sesuai kok dengan jasa2nya.
mungkin zaman dulu tekhnologi blum secanggih sekarang makanya bung karno gak bs dpt perawatan medis yg canggih dsb.

HIDUP PAK HARTO. no off.
Masuk

MASIH BANYAK MISTERI DI DUNIA. HAHAHA.
violin
Dosen
****

IQ: 29
Offline Offline

Gender: Wanita
Tulisan: 143



Lihat Profil
« Jawab #4 pada: Mei 30, 2008, 09:36:20 »

Waduhh....
Bingung ni huh

Tapi emang sich ada beberapa saksi mata yang bilang kalo penandatanganan Supersemar itu di bawah paksaan. 
Kalo kita lihat dari sejarah dulu kan Pak Harto jadi presiden pertama kali bukan dari hasil pemilu tapi berdasarkan Supersemar itu. Terus sampai sekarang juga surat aslinya tidak diketahui dimana rimbanya kan?

So huh

Tapi harus aku akui kalo Pak Harto emang nggak ada tandingannya. Tiga puluh dua tahun memerintah,tanpa saingan politik yang berarti.


Masuk
izumi
Asisten Dosen
***

IQ: 6
Offline Offline

Gender: Wanita
Tulisan: 66



Lihat Profil
« Jawab #5 pada: Juli 08, 2008, 01:10:49 »

gw gak setuju ma post di atas.
karna menurut gw.
bung karno ma pak harto jaman dulu ma skarang beda cui . .

gmana klo dilyad dari sisi lain.?
soekarno aja nikah ntah udh brp x.
emg lah dya proklamator pahlawan dll.

tp emgnya pak harto nggak.?
yg bikin indonesia dulu maju kan pak harto.
klo gk ada pak harto indonesia mw jd apa.?

kasus petrus sama matius beda lagi.
tandanya pak harto itu BERANI mengambil resiko.
sekitar 100-200 nyawa hilang kalo bwt kesejahteraan Indonesia yg jumlah pendduknya sekian juta org.
yg penting 100-200 org yg meninggal itu kan bukan tanpa salah ttapi krna mereka menentang kebijakan-kebijakan yg tujuannya memajukan indonesia.
untuk maju kita butuh sedikit pengorbanan.

lyad sekarang indonesia semakin gak terurus aja.
coba dilihat-lihat lagy.
saat pak harto meninggal sana-sini kontroversi mencekam dya.
apa mereka gak inget siapa yg dulu membangun negaranya.?
di sisi lain banyak org2 kecil membela pak harto karna mereka yg paling merasakan bantuan2 semasa pak harto jaya.

jd menurut gw segala perlakuan terhadap pak harto itu sesuai kok dengan jasa2nya.
mungkin zaman dulu tekhnologi blum secanggih sekarang makanya bung karno gak bs dpt perawatan medis yg canggih dsb.

HIDUP PAK HARTO. no off.




setuju.....................
mank zamannya udah beda..............
kalo dibalikpun, soekarno yang ada dijaman kita pasti juga bakal dirawat kyk pak harto...................!!!
ga mungkin di beda2in lah...........namanya pahlawan bangsa!!!!
truz,,, kyknya waktu jaman pak harto lebih enak deh..........
ga ada berita2 kekerasan, jadinya pertumbuhan ank2 dulu lebih bagus,,,
gak kyk sekarang dinodai bermacam2,,,
di sana sini pembunuhan,, kan ga baik buat ank2...
heheheh so intinya semua presiden kita baik,,,n ga ada pembedaan apapun ko'!
Masuk
Vermilion Bird
Siswa Baru
*

IQ: 0
Offline Offline

Tulisan: 6



Lihat Profil
« Jawab #6 pada: Juli 16, 2008, 04:57:08 »

Mungkin Suharto memperlakukan Sukarno seperti itu karena Suharto curiga kalau Sukarno itu sebenarnya dalang G30S. Dalam suasana kacau biasanya orang memang jadi gampang curiga.
Masuk
syx
Global Moderator
Profesor
*****

IQ: 69
Offline Offline

Gender: Pria
Tulisan: 769



Lihat Profil Email
« Jawab #7 pada: Juli 16, 2008, 05:03:57 »

kenapa G30S cuma menyisakan satu jenderal besar aja saat itu? kenapa suharto ga ikut keciduk? padahal posisinya lumayan tinggi...
Masuk
maulana altof
Asisten Dosen
***

IQ: 5
Offline Offline

Gender: Pria
Tulisan: 60



Lihat Profil Email
« Jawab #8 pada: Juli 18, 2008, 02:42:48 »

pak guru aku berkata:
 
malam itu sebenarnya rencana pembunuhan para jenderal telah bocor.
 
 lalu dilaporkan kepada suharto yang saat itu menjadi jendral.
 
 dan sebenarnya  jika mau suharto bisa menggagalkan rencana pembunuhan para jenderal.
 
 suharto pun seakan akan bungkam.
 
 tak bisa apa apa.

 G30SPKI pun terjadi......

 beberapa waktu kemudian suharto menjadi pembasmi PKI

 ada yang bilang suharto hanya ingin disanjung2 sbg pahlawan,

 ada yang bilang suharto dalang PKI
 
 dll........
 
 pak guruku berkata:
 menurut saksi mata.........(q lupa).........  skarang masih hidup masih bisa ditanyai

 sukarno di paksa tandatangan supersemar.........

 betapa wajah itu muerahhhh

 dan tangan itu bergetar getar pas mau tanda tangan

  suakking marahe kali
Masuk

-perjuangan itu sampai di gerbang surga-
lem
Dosen
****

IQ: 7
Offline Offline

Tulisan: 134



Lihat Profil Email
« Jawab #9 pada: September 02, 2008, 02:47:23 »

begitulah resiko jadi politikus.. harus siap lahir dan batin....
Masuk

Dengan lem kita rekatkan persatuan dan kesatuan.....
Halaman: [1]   Naik
Kirim topik ini | Cetak
Lompat ke:  

Topik Lainnya :
Subyek Dimulai oleh Jawaban Dilihat Tulisan terahkir
“MUJIZAT KEMBALI TERJADI DAN PUNCAK PEMURNIAN DUNIA SUDAH SEMAKIN DEKAT” « 1 2 » pemurniandunia 21 1919 Tulisan terahkir November 28, 2008, 02:58:37
oleh Karno Giyantono
Trenbolone indoroids 0 790 Tulisan terahkir Januari 18, 2008, 12:03:05
oleh indoroids
Alasan untuk tidak merokok « 1 2 3 » uzik-sama 35 3298 Tulisan terahkir September 29, 2008, 02:23:17
oleh akatsuki
Jhon Titor Penjelajah Waktu superstring39 4 380 Tulisan terahkir Kemarin at 11:37:28
oleh kn8_satria
Frans Magnis-Suseno peregrin 2 2883 Tulisan terahkir September 18, 2008, 07:22:33
oleh lovianettesherry_gonz
Powered by SMF 1.1.6 | SMF © 2006-2008, Simple Machines LLC
RSS | Sitemap | Science Directory | Science Blog


© 2006-2008 ForumSains.com
Dilber MC Theme by HarzeM