Member baru? Bingung? Perlu bantuan? Silakan baca panduan singkat untuk ikut berdiskusi.
0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.
Salah satu hal yang tidak bisa dijelaskan secara ilmiah (deduksi logis dar hukum alam yang sudah teruji, dan bukti experimen) dari hipotesis NeoDarwin ialah :Awal kehidupan , khususnya terjadinya inteligen (DNA) dari elemen anorganik.
Jika algoritmanya diketahui maka proses itu dapat disimulasikan dengan komputer. Walaupun dengan superkomputer ternyata hanya berdasarkan "chance" saja tidak mungkin terbentuk urutan yang mengandung inteligensi. Huruf yang diacak bermilyar tahun, tidak akan menghasilkan ensiklopedia.
Awalnya saja dulu. Anda mau bilang bumi sudah ada lebih dulu dari matahari dan bintang-bintang? Dan sementara matahari belum ada, 'prototipe matahari' atau mau dibilang Allah yang jadi mataharinya? Dan itu terjadi selama sekian lama sampai matahari selesai dibikin?It's unlogical, captain
kehidupan dimulai karena diawali oleh kehidupan itu sendiri......
Sekarang saya mau tanya, apa hakikat benda itu disebut hidup?bagaimana kita membedakannya dengan benda mati?Sebenarnya untuk apa kita selalu memperdebatkan kapan tepatnya kehidupan itu muncul?kapan suatu entitas disebut hidup atau sebaliknya benda mati?kita kadang terlalu terobsesi dengan permainan kata-kata dengan melupakan fakta bahwa bahasa atau kata-kata didalamnya hanyalah alat untuk berkomunikasi.Entah kita menyebut benda itu hidup atau mati tidak akan mempengaruhi proses yang sedang dan akan terjadi pada benda itu, seperti jika saya mengatakan bahwa orang tercedas yang pernah ada adalah Darwin, sedangkan yang lain ngotot dan bilang bahwa orang tercerdas adalah Newton. Entah siapa yang memang paling cerdas, hasil karya mereka tidak akan terpengaruhi sedikitpun oleh predikat-predikat yang kita buat sendiri. Demikian halnya, entah bagaimana kita menyebut suatu entitas itu hidup atau mati, proses yang terjadi akan terus terjadi, sepeti molekul-molekul RNA yang dapat mereplikasi dirinya sendiri dan berevolusi sepanjang waktu, entah dia bisa digolongkan hidup atau tidak, prosesnya akan terus berjalan untuk menghasilkan mesin-mesin survival dengan mengikuti hukum alam yang ada tanpa terpengaruh kata-kata hidup atau mati.Di samping itu, bagaimana kita bisa memberikan predikat-predikat hidup atau mati jika perbedaan antara keduanya saja kita tidak tahu pasti. Bagi orang yang mengerti dan memahami biologi, tentu mengakui bahwa tidaklah mudah mendefinisikan hakikat benda hidup dan sampai detik ini perdebatan masih berlangsung. Dengan begitu, jika definisi hidup saja masih belum bisa dibentuk, bagaimana Anda dapat menggunakannya untuk mendasari asumsi anda?bukannya malah akan membentuk argumen siklik atau dalam logika disebut dengan kesesatan relevansi dalam berargumen jenis petitio principii.
Saya beri contoh kasus bagaimana seleksi alam bekerja:Misalkan dalam suatu pulau bernama 1 yang terletak tepat di atas bertemunya lempeng tektonik, hidup seekor hewan pemakan serangga bernama A, suatu saat karena gempa bumi, pulau terbelah menjadi dua dan makin lama, seiring berjalannya waktu geologis pulau yang terbelah menjadi pulau 1 dan 2 yang terpisah jauh sehingga antar kelompok hewan A di masing2 pulau tidak pisa saling bertemu atau menyeberang. Di pulau 1, jumlah serangga tetap banyak, maka hewan A di pulau 1 tetap bisa makan serangga, demikian juga keturunannya. Sedangkan di pulau 2, jumlah serangga sangat sedikit, sebab itu, masing2 keturunan hewan A di pulau 2 yang memiliki sifat yang paling adaptif, misal memiliki sifat dapat memakan apa saja selain serangga akan memiliki survival rate lebih tinggi dan akhirnya akan mewariskan sifat tersebut di generasi berikut. Hewan A di pulau 2 yang tidak memiliki sifat adaptif, atau dengan kata lain tetap makan serangga yang jumlahnya sedikit akan mati kelaparan dan tidak bisa memiliki keturunan (lha wong mati,yo ga iso manak), tidak akan mewariskan gen pembawa sifat makan serangga di generasi berikut. Variasi yang ada pada keturunan berikut pada hewan A di atas adalah sama baik di pulau 1 dan 2, tapi karena dipulau 1 kondisi alam tetap sama seperti sebelum pulau itu terbelah, maka hewan A di pulau 1 tetap memiliki sifat pemakan serangga, walaupun ada beberapa di antaranya yang suka makan makanan selain serangga, namun sifat baru ini tidak lah lebih unggul dibandingkan sifat makan serangga sebab jumlah serangga tetap banyak. Sebaliknya di pulau 2, sifat makan selain serangga akan lebih unggul dibandingkan sifat makan serangga sebab jumlah serangga makin sedikit. Seiring berjalannya waktu, kondisi alam yang dinamis akan diikuti dengan perbedaan survival rate antar variasi sampai pada titik dimana hewan A di pulau 1 tidak bisa saling kawin atau menghasilkan keturunan fertil jika dikawinkan dengan hewan A di pulau 2 sebab semakin jauhnya perbedaan sifat. Sampai titik ini, Hewan A telah berevolusi menjadi spesies lain di pulau 2. Dari situ dikatakan keturunan hewan A pemakan selain serangga di pulau 2 telah terseleksi. Dari contoh di atas, kondisi alam terpecahnya pulau, semakin jauhnya jarak pulau, perbedaan jenis sumber daya merupakan faktor penyeleksi. Di sini, kondisi alam ini tidak bisa diprediksi, tidak direncanakan dan tidak bertujuan. Siapa bisa memprediksi kapan dan dimana gempa terjadi?tidak ada. Apa tujuan bergeraknya lempeng tektonik?apa tujuan jumlah serangga lebih sedikit?tidak ada. Demikian juga hewan A juga tidak bisa memprediksi kemana tujuan evolusinya, setiap sepesies hewan A hanya dibekali kemampuan untuk menghasilkan keturunan yang bervariasi sifat dan bentuknya, yang mana yang paling cocok dengan kondisi alam yang dinamis, keturunan itulah yang bisa hidup dan beranak lebih banyak dibanding varian lain sehingga mewariskan sifat itu ke generasi berikut.