Forum Sains Indonesia




*
Selamat datang, Pengunjung. Silahkan masuk atau mendaftar. Apakah anda lupa aktivasi email?
Pebruari 10, 2012, 01:15:17 PM

Masuk dengan nama pengguna, kata sandi dan lama sesi

Artikel Sains

Aku Cinta ForSa

  ForSa on FB  ForSa on Twitter

Pranala Luar

ShoutBox!

Last 10 Shouts:

 

semut-ireng

Hari Ini jam 07:37:05 AM
 :)
 

exile_rstd

Kemarin jam 06:04:39 PM
sampai di Tangerang jam 05.30 pagi. seneng udh plg tapi jadi kangen sm Yogya ;D
 

MonDay

Kemarin jam 01:56:29 PM
boleh promosi ga dsn ya?
 

lam_lavoisier09

Kemarin jam 12:03:50 PM
salam kenal semua,,, ikut nimbrung yoo.. :)
 ;)
 

semut-ireng

Kemarin jam 08:30:33 AM
 :)
 

Farabi

Pebruari 08, 2012, 08:04:23 PM
Semut: Kirain dah mahasiswa. Bagus kan, jadi terpacu buat belajar. ;D Heu...
 

semut-ireng

Pebruari 07, 2012, 06:24:47 PM
lagian guru gw kenceng banget,  yang ga ngerjakan PR ditulis di papan pengumuman ..... ;D
 

dzikripratama

Pebruari 07, 2012, 04:18:13 PM
aduh pusing banyak PR :)
 

yo anes

Pebruari 07, 2012, 10:52:07 AM
hello slm knl all
kalau ingin mendapatkan beasiswa untuk tahun ini bagaiman caranya? :)
 

semut-ireng

Pebruari 07, 2012, 06:12:11 AM
PR yang lama belum dikerjakan,  dikasih PR baru lagi,  pusing deh  :D

Show 50 latest

Penulis Topik: Immortality Within Nature  (Dibaca 4437 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Dr. Obscure

  • Pengunjung
Immortality Within Nature
« pada: Desember 16, 2006, 09:24:22 PM »
Sebuah ide pembahasan yang sangat menarik .. Seperti yang telah kita ketahui bahwa kehidupan abadi adalah suatu hal yang tidak mgkn terjadi dalam kehidupan alamiah setiap mahkluk hidup. Akan tetapi apabila kalian memperhatikan daerah sekitar kalian, beberapa mahkluk hidup ternyata menunjukan tanda tanda kehidupan abadi itu sendiri. Tidak percaya?! Mari kita bahas ..

Kita ambil salah satu contoh protozoa ber-sel satu yang bernama Tetrahymena. Apabila diperhatikan, selama hidup nya protozoa ini akan terus membelah dirinya secara constant tanpa menunjukan adanya proses penuaan sama sekali. Kenyataan bahwa Tetrahymena mati adalah hanya dan bila hanya daerah tempat hidupnya mengalami kekurangan nutrisi yang menjadi bahan makanannya. Bagaimana dengan mati karena tua?! Sejauh ini mereka bahkan tidak pernah menunjukan proses penuaan.

1 contoh tidak akan menjadi sebuah kesimpulan. Bagaimana dengan contoh yang lain?!

Beberapa organisme laut dapat dinyatakan mendekati IMMORTAL. Bagaimana tidak? Coba anda perhatikan Sturgeon (Fresh Water Hydra), dan juga anemon laut. Mereka tidak menunjukan adanya perubahan berarti seperti hal nya proses penuaan tadi, hanya kekurangan makanan dan dimakan oleh perdator di environment sekitarlah yang membuat mereka tidak dapat bertahan.

Beberapa bacterial spores juga bahkan ditemukan telah berumur mencapai 250 juta tahun. Saya tahu mengenai pernyataan dan fakta bahwa bakteria seperti ini bukanlah tergolong mahkluk hidup dan bahwa mereka tidak dapat ber-reproduksi. Akan tetapi coba anda pikirkan kembali, hidup selama 250 juta tahun dengan segala sifat vegetative (Sifat seperti tumbuhan) yang mereka bawa terus hingga kurun waktu selama itu, mgkn saja disaat mereka dapat menemukan sebuah tempat yang cocok untuk mereka bereproduksi, mereka akan dapat menunjukan sifat lain dan tanda kehidupan mereka.

Menarik bukan?!
Mgkn itu jugalah guna dari Rantai Makanan itu sendiri, untuk menjaga keseimbangan, karena mgkn memang ada beberapa sifat atau bentuk immortality yang ada pada beberapa hewan atau mahkluk hidup khusus. Tapi bagaimana apabila sebuah mahkluk hidup yang memiliki kemampuan itu berkembang biak di daerah tanpa predator dan stabil?! Akankah dunia penuh dengan species itu????

Bagaimana menurut teman teman sekalian??!

advisor

  • Pengunjung
Re: Immortality Within Nature
« Jawab #1 pada: Desember 17, 2006, 12:33:10 AM »
Wew.... ini bener2 topik yang menarik... Jadi inget Highlander   :D

Kita ambil salah satu contoh protozoa ber-sel satu yang bernama Tetrahymena. Apabila diperhatikan, selama hidup nya protozoa ini akan terus membelah dirinya secara constant tanpa menunjukan adanya proses penuaan sama sekali. Kenyataan bahwa Tetrahymena mati adalah hanya dan bila hanya daerah tempat hidupnya mengalami kekurangan nutrisi yang menjadi bahan makanannya. Bagaimana dengan mati karena tua?! Sejauh ini mereka bahkan tidak pernah menunjukan proses penuaan.

Proses penuaan itu sendiri penyebabnya apa yahhh? Kenapa makhluk hidup, cells menjadi tua dan mati? Apa mungkin ini ada hubungannya dengan stem cells? Dengan adanya stem cells yang mengganti sel-sel yang rusak, harusnya makhluk hidup dapat tetap hidup.

Beberapa bacterial spores juga bahkan ditemukan telah berumur mencapai 250 juta tahun. Saya tahu mengenai pernyataan dan fakta bahwa bakteria seperti ini bukanlah tergolong mahkluk hidup dan bahwa mereka tidak dapat ber-reproduksi. Akan tetapi coba anda pikirkan kembali, hidup selama 250 juta tahun dengan segala sifat vegetative (Sifat seperti tumbuhan) yang mereka bawa terus hingga kurun waktu selama itu, mgkn saja disaat mereka dapat menemukan sebuah tempat yang cocok untuk mereka bereproduksi, mereka akan dapat menunjukan sifat lain dan tanda kehidupan mereka.

Sekali lagi WEW!!! Saya baru tau soal usia bacterial spores ini.... Dr. Obscure luas banget pengetahuannya nehh, kagum :)

Tapi kalau mereka tidak bereproduksi, darimana muncul bacterial spores yang lainnya?

Menarik bukan?!
Mgkn itu jugalah guna dari Rantai Makanan itu sendiri, untuk menjaga keseimbangan, karena mgkn memang ada beberapa sifat atau bentuk immortality yang ada pada beberapa hewan atau mahkluk hidup khusus. Tapi bagaimana apabila sebuah mahkluk hidup yang memiliki kemampuan itu berkembang biak di daerah tanpa predator dan stabil?! Akankah dunia penuh dengan species itu????

Bagaimana menurut teman teman sekalian??!

Saya masih belum tahu jawaban dari mortality itu sendiri kenapa...


Dr. Obscure

  • Pengunjung
Re: Immortality Within Nature
« Jawab #2 pada: Desember 17, 2006, 09:00:21 AM »
Kutip
Proses penuaan itu sendiri penyebabnya apa yahhh? Kenapa makhluk hidup, cells menjadi tua dan mati? Apa mungkin ini ada hubungannya dengan stem cells? Dengan adanya stem cells yang mengganti sel-sel yang rusak, harusnya makhluk hidup dapat tetap hidup.
Proses penuaan cell terjadi karena adanya damage pada DNA (Penuaan adalah salah satu contoh hasil DNA damage), dan itu menimbulkan beberapa hal yang diantaranya adalah, cell menjadi besar dalam ukuran individu nya, berhenti melakukan pembelahan (Yang dimana pembelahan cell adalah hal terpenting), dan yang terakhir, melakukan pengiriman signal protein kepada tubuh untuk mengatakan kalau mereka sekarat. Research membuktikan CGK733 (Senyawa kimia), mampu membantu tubuh untuk melakukan block terhadap protein signal yang dikirimkan cell, sehingga membuat tubuh berpikir cell cell tersebut masih mampu untuk bertahan hidup dan tidak terlalu tua untuk melakukan aktifitas, hal ini secara lgsg tidak lgsg membuat proses penuaan menjadi sedikit melambat.

Namun pada beberapa contoh yang saya sebutkan diatas, tidak ada sama sekali penampakan adanya DNA Damage ataupun Aging process itu sendiri. Apakah mgkn memang pada kehidupan ini ada yang namanya immortality? Mgkn kah manusia membuat sebuah Anti-Aging Serum yang sempurna? Atau perlukah manusia menggantikan hal yang membuat mereka hidup, yaitu otak, dengan alat buatan seperti yang dikatakan Mr. Marvin Minsky dalam wawancaranya?

Well, humans right now, is not the end of evolution. We need to be the architects of our own future. If we don't our culture could dissapear.

Kutip
Sekali lagi WEW!!! Saya baru tau soal usia bacterial spores ini.... Dr. Obscure luas banget pengetahuannya nehh, kagum

Tapi kalau mereka tidak bereproduksi, darimana muncul bacterial spores yang lainnya?

Itulah kenapa ada kata Beberapa dalam kutipan yang anda buat daripada kata kata saya, hal ini tidak terjadi pada SEMUA spores, namun pada beberapa jenis spores yang memang ditemukan seperti yang saya coba jelaskan.

Kutip
Saya masih belum tahu jawaban dari mortality itu sendiri kenapa...
Thats why i tried to bring topic ini kesini. Biar bisa di diskusikan. This is Indonesian Science Community after all, right? Hehe. Kalau semua bahasan cuman dibilang "I do not know" with no act of trying to understand, then there will be no point of this board. Mari kita coba sama sama cari tahu. ^^

Offline reborn

  • Founder
  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 2218
  • IQ: 317
  • Gender: Pria
  • ForSa
    • Lihat Profil
    • Blog ForSa
Re: Immortality Within Nature
« Jawab #3 pada: Desember 17, 2006, 12:28:40 PM »
Great post Dr. Obscure!

Tambahan soal penuaan :

Di dalam mitochondria terdapat mtDNA (DNA mitochondria) yang merupakan DNA utas ganda. mtDNA ini diturunkan menurut maternal line. Proses penuaan sebenernya adalah salah satu penyakit mitochondrial dan juga penyakit degeneratif lainnya.

Penyakit2 ini diduga muncul akibat oxidative phosphorylation (OXPHOS).  yang menuju pada beberapa masalah klinis seperti ischemic pada jantung, diabetes, Parkinson's disease, Alzheimer's, dan juga proses penuaan.

advisor

  • Pengunjung
Re: Immortality Within Nature
« Jawab #4 pada: Desember 20, 2006, 05:03:15 AM »
Great post Dr. Obscure!

Tambahan soal penuaan :

Di dalam mitochondria terdapat mtDNA (DNA mitochondria) yang merupakan DNA utas ganda. mtDNA ini diturunkan menurut maternal line. Proses penuaan sebenernya adalah salah satu penyakit mitochondrial dan juga penyakit degeneratif lainnya.

Penyakit2 ini diduga muncul akibat oxidative phosphorylation (OXPHOS).  yang menuju pada beberapa masalah klinis seperti ischemic pada jantung, diabetes, Parkinson's disease, Alzheimer's, dan juga proses penuaan.

Tepatnya gimana mtDNA (DNA mitochondria) dapat menyebabkan penuaan? Efek oxidative phosphorylation (OXPHOS) itu sendiri apa?

Offline Hendy wijaya, MD

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 691
  • IQ: 24
  • Gender: Pria
    • Lihat Profil
Re: Immortality Within Nature
« Jawab #5 pada: September 16, 2009, 01:27:32 PM »
Immortality even within our body
Immortality atau keabadian secara biologis (biologically immortal) bukan hanya dimiliki oleh makhluk hidup bersel satu beserta sporanya. Immortality itu sendiri ada dalam setiap diri makhluk hidup di bumi ini. Ia hadir dalam bentuk molekul hidup yaitu partikel asam nukleat, tidak terkecuali dalam diri kita sebagai manusia.
Satu jenis sel dari tubuh kita sebenarnya juga memiliki sifat immortal, yaitu sel gamet. Ia membentuk rantai tidak terputus sejak manusia pertama ada di bumi hingga manusia yang ada. Dan, pada dasarnya diri kita, tubuh kita, hanya merupakan “kendaraan” bagi sel-sel gamet kita, khususnya bagi materi genetis yang terkandung di dalamnya. Dalam posisi ini, sel gamet tak lain berperilaku seperti makhluk hidup bersel satu yang juga memiliki ciri sifat abadi. Hanya bedanya, pada umumnya makhluk hidup uniseluler berkembang biak secara aseksual, sedangkan sel gamet kita berkembang biak secara seksual yang melibatkan segregasi kromosom pada meiosis dan penggabungan kembali pada saat fertilisasi untuk membentuk sel yang diploid.
Pernyataan ini sesuai dengan proses penuaan stokastik secara evolusioner. Proses tersebut lebih menitikberatkan pada optimasi individu yang bereproduksi secara seksual untuk menyiapkan dirinya sebaik mungkin supaya dapat bereproduksi sebanyak-banyaknya dan mempertahankan kesintasannya dalam sebuah ekosistem yang berarti juga kesintasan materi ganetis yang dikandungnya. Tubuh kita beserta organ-organ di dalamnya “hanya” berfungsi sebagai transportasi, alat perbaikan, pembangkit energi untuk memicu proses perbaikan itu, termasuk dianataranya perbaikan DNA, protein, membran sel, organel dan lain-lainnya. Sistem perbaikan yang mencegah kerusakan dalam organ dan sistem organ kita, yang dimulai di tingkat seluler,  hanya dioptimasi pada saat-saat sebelum dan masa reproduksi, supaya materi genetis sebagai “kargo” utama dalam badan kita bisa tetap dalam keadaan yang bagus untuk membentuk makhluk hidup baru. Setelah masa reproduksi selesai, berakhir jugalah sistem optimasi perbaikan, atau dengan kata lain, sistem optimasi perbaikan hanya berfungsi untuk menunda terjadinya kerusakan sampai setelah masa reproduksi lewat, setelah itu terjadi penumpukan kerusakan yang merupakan karakteristik proses penuaan (mutation accumulation theory). Sebab, secara evolusioner, mempertahankan sistem perbaikan pada kondisi optimal saat individu tua setelah masa reproduksi lewat memerlukan “biaya” yang tinggi dan tidak memberikan keuntungan apapun demi kesintasan materi genetis individu tersebut. Atau bahkan, gen-gen yang memberikan keuntungan demi kesintasan organisme dalam ekosistem pada saat muda, malah merugikan individu tersebut di saat tua (antagonistic pleitropy). Oleh karena itu, bisa saja disebut bereproduksi secara seksual merupakan trade off atas keabadian manusia pada umumnya, dan makhluk hidup lain yang bereproduksi dengan cara yang sama pada umumnya.
Tentu saja konklusi ini didasarkan atas asumsi-asumsi dasar, hasil penelitian dan perhitungan matematis yang tidak bisa dijabarkan panjang lebar di sini. Dan, konklusi ini bukanlah kesimpulan final tapi masih merupakan sebuah hipotesis untuk diuji kebenrannya lebih lanjut. Dan gabungan proses stokastik ini dengan berbagai penejalsan proses penuaan poligenik, multiple mechanism, species specivity, plasticity dan intraspecific variations menjadi formulasi evolutionary biology of aging.
Lantas kenapa makhluk hidup harus berkembang biak secara seksual jika hal ini malah di”barter” dengan keabadian umur manusia?
Tantum valet auctoritas, quantum valet argumentatio

Offline peregrin

  • Global Moderator
  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 539
  • IQ: 99
  • Gender: Wanita
  • 'truth' is a lonely thing (J.Gaarder)
    • Lihat Profil
Re: Immortality Within Nature
« Jawab #6 pada: Juli 27, 2010, 10:40:19 PM »
Lantas kenapa makhluk hidup harus berkembang biak secara seksual jika hal ini malah di”barter” dengan keabadian umur manusia?

ya, kenapa sih?  ;D

yg bisa saya bayangkan, tanpa reproduksi, tidak akan ada kesempatan utk proses seleksi alam, adaptasi dan evolusi. Sehingga sekali satu makhluk "abadi" berhadapan dg kondisi yg tidak menguntungkan (nutrisi berkurang, ada pemangsa, dsb), dia akan langsung punah begitu saja.

« Edit Terakhir: Juli 27, 2010, 10:46:42 PM oleh peregrin »
Free software [knowledge] is a matter of liberty, not price. To understand the concept, you should think of 'free' as in 'free speech', not as in 'free beer'. (fsf)

Offline Hendy wijaya, MD

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 691
  • IQ: 24
  • Gender: Pria
    • Lihat Profil
Re: Immortality Within Nature
« Jawab #7 pada: Juli 31, 2010, 11:28:10 AM »
betul..
Itu salah satunya dan dari situlah lahir konsep red queen hypothesis..yang lainnya, dengan adanya proses reproduksi, maka beban genetis berupa mutasi spontan yang merugikan bisa dihindari, sebab masing-masing dari utas rantai DNA dalam organisme diploid bisa berfungsi sebagai template cadangan jika pasangannya rusak. Ingat sebagian besar kelainan genetik bersifat resesif

 

Copyright © 2006-2011 Forum Sains Indonesia