klo nufton gimana? pernah dengan nufton

Nama Nufton itu sendiri pemberian Budi. Bentuknya berupa pasta
lengket kecokelatan. Nufton ini tak sembarang material. Ia sanggup
meningkatkan arus listrik sampai dua kali lipat. Lapisan tipis Nufton
dapat menurunkan resistensi konduktor logam, seperti tembaga,emas,
atau perak. Temuan ini sudah diperiksa di Laboratorium Konversi
Energi Institut Teknologi Bandung (ITB), Desember lalu.Hasilnya,
memuaskan. Itulah sebabnya, Budi, 30 Desember lalu, mematenkan
temuannya tersebut ke Direktorat Jenderal Hak Cipta, Merek dan Paten.
Peningkatan arus listrik sampai dua kali lipat pada suhu kamar ini
membuat kaget beberapa peneliti ITB. Bahkan, sifat Nufton disebut-sebut
mendekati bahan superkonduktor. "Ini sedang dikejar-kejar dunia sains,"
kata Budhiyanto, master bidang material science lulusan Tokyo Institute of
Technology, yang mengamati riset Budi Purnomo.
Nufton calon superkonduktor? Terlalu dini untuk dinilai. Yang
jelas, hingga saat ini, material superkonduktor umumnya hanya bisa
berfungsi dalam temperatur ekstra dingin. Sejumlah material hanya bisa
menunjukkan sifat superkonduktornya setelah dibenamkan dalam
helium atau nitrogen cair. Tak mengherankan bila material ini disebut
high temperature superconductor (HTSC). "Mereka memerlukan
kondisi dengan temperatur minus 1000C," kata Budhiyanto.
Fenomena superkonduktivitas, yang belakangan ini menjadi salah satu
primadona dalam riset fisika, mula pertama ditelusuri tiga ahli fisika
Amerika Serikat: John Bardeen, Leon N. Cooper, dan John Robert
Schrieffer. Mereka mengemukakan teori bahwa logam dapat memiliki
hantaran super pada temperatur sangat dingin. Mereka menamakan
teorinya BCS, yang merupakan akronim dari huruf depan nama ketiga
orang itu.
Menurut teori BCS, bahan superkonduktor akan memiliki hambatan listrik
nol bila eletron-elektron bebas dalam material itu berpasangan.
Pasangan-pasangan elektron tersebut bisa melaju dalam struktur
bangunan molekul logam tanpa hambatan. Memang, teori ini menabrak
postulat Pauling, yang mengatakan bahwa dua muatan sejenis tak
mungkin bisa berpasangan, karena mereka akan saling menolak.BCS
menjawab bahwa pasangan itu bisa saja terbentuk, tapi pada suhu
yang sangat rendah, mendekati temperatur mutlak minus 2730C. Pada
temperatur ini, semua materi hampir diam, tidak bergerak.Berkat
teorinya itu, ketiga pakar tersebut menerima Hadiah Nobel pada 1972.
Baru sekitar 14 tahun kemudian, pada 1986, dua ahli fisika, J.Georg
Bednorz dari Jerman dan K. Alex Muller dari Swiss -keduanya bekerja
di laboratorium IBM- mengemukakan temuan gejala superkonduktor
pada temperatur lebih hangat. Berbeda dengan BCS, dua ahli fisika dari
daratan Eropa ini mencari sifat konduktivitas pada bahan keramik,
material yang pada suhu kamar tak dapat menghantarkan listrik.
Baru setelah itu, banyak peneliti, terutama yang bekerja di laboratorium
industri, mulai mencari jenis keramik lain untuk bahan superkonduktor.
Jenis inilah yang kemudian dikenal sebagai HTSC. Untuk perintisannya
menemukan superkonduktivitas pada bahan keramik, Bernorz dan
Muller juga memperoleh Hadiah Nobel pada 1987. Terobosan yang dilakukan
Budi memang keluar dari pakem Muller dan Bednorz. Ia kembali mengutak-atik
peningkatan daya hantar pada logam, bahan yang sangat umum dipakai di
berbagai perangkat elektronika. Keruan saja, peningkatan daya hantar pada
temperatur kamar yang dihasilkannya mengundang penasaran para ahli.
Kalaulah keandalan Nufton ini terbukti, dan bisa diakui, nama Budi
Purnomo tentu akan mendunia.
Budi Purnomo memang menafikan teori BSC. Ia berani mengemukakan
bahwa penurunan tahanan terjadi, karena elektron bebas pada
logam yang menghambat arus itu diikat proton pada Nufton. Jadi, bila
Nufton dilapiskan pada bahan metal, ia seolah berfungsi sebagai
lapisan tipis proton yang mampu menarik elektron-elektron bebas yang ada
dalam logam. Akibatnya, arus yang asalnya tertahan itu menjadi bebas
melaju.
"Kayak mobil dari daerah macet, lalu tiba-tiba kendaraan lain
ditarik ke pinggir. Maka, mobil tadi seperti melaju di jalan tol," kata
Budi.Teori, yang tentu belum diakui komunitas ilmiah, itu oleh Budi
dinamakan teori relativitas murni. Nufton, menurut Budi, memiliki sifat
menyimpang lain. Ia dapat bersifat isolator sekaligus konduktor. Nufton
yang tebal memiliki sifat seperti keramik, tak bisa menghantarkan listrik.
Namun, kalau dibuat sangat tipis, Nufton menjadi bersifat konduktor. Budi
mengambil nama Nufton dari kata nuftah, yang artinya cairan yang melekat.
Cairan tersebut hasil racikan Budi dari 19 komponen yang diringkaskan
menjadi tiga bagian terpisah.
Bagian pertama berupa cairan kental senyawa hidrokarbon, bagian
kedua serbuk inti, dan bagian ketiga katalis. Bila Nufton akan
dipakai, ketiga komponen tersebut dicampur sampai serba rata pada suhu
kamar tak perlu suhu ekstra dingin. Hasilnya berupa pasta kecokelatan,
yang harus segera dioleskan pada logam, dengan ketebalan 0,25-0,5
milimeter. Setelah itu, dalam satu jam, daya hantar bahan sudah meningkat.
Namun, untuk mendapat daya hantar yang optimal, sebaiknya dibiarkan selama
4 x 24 jam.
Alih-alih menuntut suhu ekstra dingin, menurut Budi, lapisan Nufton bahkan
bisa tahan sampai 2500C tanpa kehilangan sifat aslinya. Dengan begitu, zat
ini bisa dilapiskan pada berbagai ukuran kabel, pada tegangan berapa pun.
Karena itu, menurutnya, terapan Nufton bisa dilakukan sangat luas. "Semua
alat yang memakai listrik bisa memanfaatkan Nufton," katanya. Karena
kemampuan menurunkan tahanan listrik, Nufton pun punya efek menghemat
energi. Budi siap mendemonstrasikannya. Untuk sebuah kipas kecil,
biasanya dalam satu jam sudah harus diganti dua baterainya. Namun,
dengan Nufton, menurut Budi, baterai bisa tahan sampai tiga jam. Begitu
juga untuk lemari es 150 watt, menurutnya, bila menggunakan Nufton,
dayanya bisa hanya sekitar 75 watt. "Temuan saya ini bisa dipakai dan
dirasakan langsung oleh rakyat," katanya.
Yang lebih ekonomis, menurutnya, kalau dilakukan dalam skala pabrik.
Sebab, penggunaan Nufton akan mampu menghemat energi atau membuat barang
dengan ukuran lebih kecil. Trafo besar, misalnya, bisa diubah ukurannya
menjadi setengahnya, namun memiliki kemampuan yang sama. Atau untuk
pendingin ruangan, yang memiliki kemampuan satu tenaga kuda dengan daya
750 watt, bila menggunakan Nufton, bisa menjadi hanya 350 watt.
Nufton bukanlah temuan Budi Purnomo satu-satunya. Dengan dasar
teori relativitas murninya (TRM), Budi mengklaim telah menemukan 19 jenis
material baru dan ratusan turunannya. Namun, saat ini baru lem super untuk
logam bernama Metalloam dan Nufton yang sudah siap dipasarkan. Budi, anak
bekas Wedana Tambun, Bekasi Timur, Jawa Barat, yang tidak lulus kuliah
dari Jurusan Antropologi Universitas Indonesia, mempercayakan temuannya
pada Yayasan Widya Duta. Yayasan yang misinya menyosialisasikan TRM, dan
memegang paten semua hasil penelitiannya, ini didirikan pertengahan tahun
lalu. Yayasan ini diketuai Budi Dharmawan, 37 tahun, sarjana psikologi
lulusan Universitas Indonesia. Lalu bagian pemasaran teknologi
ditangani Budi Hartanto, master bisnis administrasi dari Monash
University, Australia, yang juga insinyur teknik mesin lulusan
Institut Teknologi Bandung angkatan 1981. Satu lagi yang memegang
bagian riset yayasan adalah master material science, Budhiyanto.
Secara kebetulan, semua tokoh yayasan ini punya nama depan "Budi".
Pada tiga Budi inilah, Budi Purnomo menyerahkan nasib teori dan
temuannya. Sejak tahun lalu, anak Betawi yang memahami berbagai
teori mutakhir fisika dan kimia ini telah terbang ke Tokyo untuk
berbicara dalam sebuah simposium. Ia bertemu dengan Sacahiko Kano,
Wakil Presiden NTT, perusahaan telekomunikasi terbesar di Jepang.
Ia juga terbang ke Kuala Lumpur, dan memamerkan Nufton ke pimpinan
Tenaga Nasional Berhard -PLN-nya Malaysia. "Mereka menawarkan
diri untuk mematenkan temuan Pak Budi ini," kata Budi Dharmawan.
Di Tanah Air, Budi juga sudah berkeliling ke beberapa kampus
dan perusahaan. Lelaki berpenampilan sederhana dan berkumis tebal
itu hanya ikut pada program yayasan. Namun, ia tetap bertekad agar
temuannya bermanfaat untuk masyarakat Indonesia. "Saya tak mau
pabrik Nufton dibangun di luar negeri. Kalau mereka tertarik, biar
tanam modal di sini," katanya. Ia tak terlalu peduli bahwa temuannya
belum mendapatkan pengakuan dari masyarakat ilmiah secara luas.