Forum > Ilmu Ekonomi dan Manajemen

Does Money Buy You Happiness??

<< < (3/3)

kuncungs:
Gak usah beli rumah/mobil :D Rumahnya bikin sendiri dari kayu, mobilnya ganti ma kuda.

exile_rstd:
kayunya dari mana? dari pohon? kalau dilingkungannya cuma ada sedikit pohon gimana tuh?
terus dalam hal pengukuran dan ketepatan ga boleh sembarang apalagi asal-asalan. harus bayar tukang kayu kalau mau buat konstruksi rumah kayu walaupun sederhana. jadi harus keluar uang.

kalau transpotasi diganti dengan hewan bisa saja, tapi kebutuhan kudanya bagaimana? berarti anda harus sanggup memberikan makanan belum lagi kandang supaya ga jalan kemana-mana. keluarlah uang lagi.

kuncungs:
Gak masalah :D krn di dekat sini ada mall xD cari aja tenda kemah yg guede, trus merantau sampe ke atas gunung yg gak ada manusianya. Hidup di gunung nanem tanaman, mancing sendiri, masak sendiri. Kembali ke alam :) Muugkin bikin koloni sendiri. Di gunung kan banyak rumput, yah orang jaman dulu bisahidup di alam masa kita gak bisa sih. Dari bawah bawa alat2 buat belajar bertukang & berkebun disana. Krn susah nyari senjata api ya bawa golok kemana2.

mhyworld:

--- Kutip dari: kuncungs pada Januari 20, 2012, 09:44:09 AM ---Gak masalah :D krn di dekat sini ada mall xD cari aja tenda kemah yg guede, trus merantau sampe ke atas gunung yg gak ada manusianya. Hidup di gunung nanem tanaman, mancing sendiri, masak sendiri. Kembali ke alam :) Muugkin bikin koloni sendiri. Di gunung kan banyak rumput, yah orang jaman dulu bisahidup di alam masa kita gak bisa sih. Dari bawah bawa alat2 buat belajar bertukang & berkebun disana. Krn susah nyari senjata api ya bawa golok kemana2.

--- Akhir Kutipan ---
beli tendanya pake apa?
bagus juga sih, sekali-sekali merasakan hidup di alam, namun sebaiknya tidak untuk seterusnya. Hidup anda lebih baik digunakan untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat, jangan cuma mementingkan diri sendiri terus.

Bagaimana kalau di gunung anda sakit atau keracunan? apakah dokternya mau dibayar pakai rumput?

kuncungs:
^Bisa juga pake rumput, kalo dokternya ternak sapi/kuda/kambing. Ceritanya di koloni gw kan gak ada instrumen moneter. Jadi semua jasa/barang bertransaksi lewat tukar menukar alias barter :D Dunia utopia bagi gw ya kayak itu. 100% kembali ke alam seperti jaman dulu. Semua orang cari ilmu bukan buat dapetin "kertas bernomor", tapi supaya bisa berguna. Karena kalo dia berguna buat koloni, dia dapat fasilitas rumah, dll. Sedangkan yg bikin dia rumah dapat fasilitas pengobatan tanpa harus barter2 lagi. Justru kalo ada koloni seperti ini orang2 berilmu bukan buat kepentingan dirinya sendiri.. tapi mikir buat orang banyak.

Kalo sekarang ya gak mungkin lah.. wong "kertas bernomor" itu udah jadi Tuhannya mayoritas manusia.. Namanya aja ngayal. Moga2 nantinya terjadi seperti itu bener2 ^^

exile_rstd:

--- Kutip dari: kuncungs pada Januari 20, 2012, 03:09:18 PM ---Kalo sekarang ya gak mungkin lah.. wong "kertas bernomor" itu udah jadi Tuhannya mayoritas manusia.. Namanya aja ngayal. Moga2 nantinya terjadi seperti itu bener2 ^^

--- Akhir Kutipan ---
tidak semua orang berilmu (misalnya) dokter mementingkan uang, pernah ada cerita yang diungkit di acara Kick Andy seorang dokter yang bernama dr. Eka Julianta, ahli bedah syaraf yang melakukan operasi secara cuma-cuma (gratis) kepada seorang pasien yang miskin.

nʇǝʌ∀:

--- Kutip dari: kuncungs pada Januari 20, 2012, 03:09:18 PM ---^Bisa juga pake rumput, kalo dokternya ternak sapi/kuda/kambing. Ceritanya di koloni gw kan gak ada instrumen moneter. Jadi semua jasa/barang bertransaksi lewat tukar menukar alias barter :D Dunia utopia bagi gw ya kayak itu. 100% kembali ke alam seperti jaman dulu. Semua orang cari ilmu bukan buat dapetin "kertas bernomor", tapi supaya bisa berguna. Karena kalo dia berguna buat koloni, dia dapat fasilitas rumah, dll. Sedangkan yg bikin dia rumah dapat fasilitas pengobatan tanpa harus barter2 lagi. Justru kalo ada koloni seperti ini orang2 berilmu bukan buat kepentingan dirinya sendiri.. tapi mikir buat orang banyak.

Kalo sekarang ya gak mungkin lah.. wong "kertas bernomor" itu udah jadi Tuhannya mayoritas manusia.. Namanya aja ngayal. Moga2 nantinya terjadi seperti itu bener2 ^^

--- Akhir Kutipan ---

tapi tidak jauh-jauh dari materialisme. intinya tingkat kebutuhan manusia akan materi. kamu menukarkan harta milikmu dengan harta milik orang lain... itu kalau keduanya sepakat dengan bentuk harta-harta itu.

kalau barter, maka kegiatan ekonomi akan terkendala manakala seseorang tidak menyukai alat pembayaran yang kamu tawarkan begitu juga sebaliknya.

justru menurut saya lebih efektif kalo barter dan transaksi uang tetap diberlakukan. so kita bisa bertransaksi dengan orang yg setuju dengan alat pembayaran sesuai kesepakatan bersama,

persis di game-game online... ga selalu pake duit gitu. so ekonomi akan semakin cepat terpacu. begitujuga dng kreatifitas manusia.

Farabi:
Barter pun ujung ujungnya akan membutuhkan uang karena tidak adanya kesepakatan antara harga jual. Misalkan 2 bungkus rokok oleh 2 ekor sapi, orang orang pasti akan mencoba untuk membuat buat sebuah bentuk baru "uang" misalkan dengan menggunakan besi atau perak, malah emas. Jadi intinya, perak, emas dan logam mulia lainnya, pada akhirnya, akan kembali menjadi uang.

mhyworld:

--- Kutip dari: kuncungs pada Januari 20, 2012, 03:09:18 PM ---^Bisa juga pake rumput, kalo dokternya ternak sapi/kuda/kambing. Ceritanya di koloni gw kan gak ada instrumen moneter. Jadi semua jasa/barang bertransaksi lewat tukar menukar alias barter :D Dunia utopia bagi gw ya kayak itu. 100% kembali ke alam seperti jaman dulu. Semua orang cari ilmu bukan buat dapetin "kertas bernomor", tapi supaya bisa berguna. Karena kalo dia berguna buat koloni, dia dapat fasilitas rumah, dll. Sedangkan yg bikin dia rumah dapat fasilitas pengobatan tanpa harus barter2 lagi. Justru kalo ada koloni seperti ini orang2 berilmu bukan buat kepentingan dirinya sendiri.. tapi mikir buat orang banyak.

Kalo sekarang ya gak mungkin lah.. wong "kertas bernomor" itu udah jadi Tuhannya mayoritas manusia.. Namanya aja ngayal. Moga2 nantinya terjadi seperti itu bener2 ^^

--- Akhir Kutipan ---
Kalaupun anda bayar dokternya pakai rumput, tentunya banyaknya rumput yang anda bayarkan harus bisa dikuantisasikan, mungkin disesuaikan dengan jenis penyakit yang anda derita. Kalau harus operasi tentunya perlu jumlah rumput yang lebih banyak daripada pilek biasa, yang bisa sembuh dengan istirahat yang cukup. Kualitas rumput juga semakin menambah kompleksitas transaksi. Bagi peternak, rumput segar tentunya lebih bernilai daripada rumput yang sudah busuk atau jamuran. Dalam hal ini uang lebih unggul daripada rumput, atau bahan pangan yang lain, dilihat dari segi keawetan.

Fungsi uang dalam perekonomian hampir sama dengan standar pengukuran yang lain, seperti meter untuk panjang, kilogram untuk massa, detik untuk waktu. Tanpa adanya standarisasi, orang-orang sulit mencapai kata sepakat dalam transaksi. Misalnya, orang mau menukar sapi dengan buah kelapa. Berapa butir kelapa yang sepadan dengan nilai seekor sapi?
Kalau anda sering menjumpai kecurangan pedagang yang mengurangi timbangannya, tentunya penghapusan kilogram standar bukanlah solusi yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut, bukan?

Pada zaman sekarang, kertas bernomor bisa dibilang hanya untuk transaksi "receh". Transaksi skala besar biasanya sudah dilakukan secara elektronik, misalnya melalui transfer rekening bank. Jarang kita temui orang beli rumah atau mobil secara tunai menggunakan uang kertas. Sebagian besar industri juga membayar gaji karyawannya melalui transfer rekening. Dibanding uang kertas, uang elektronik memiliki keunggulan dalam hal keawetan, keamanan (terutama dari kejahatan fisik), serta kemudahan dan kecepatan transaksi. Pengiriman uang dengan jarak ribuan kilometer dapat dilakukan dalam hitungan detik.

Secara fisik, nilai rekening yang dimiliki oleh seseorang hanyalah berupa data digital yang tersimpan di data server bank. Namun hal ini tidak mengurangi nilainya sebagai alat pembayaran/transaksi yang sah. Apapun bentuknya, perhiasan, koin logam, kertas, atau data digital, uang berfungsi sebagai bukti bahwa kita bermanfaat bagi orang lain dalam hidup bermasyarakat, selama uang tersebut diperoleh dengan cara yang sah, bukan hasil kejahatan/tindakan kriminal.

Dalam enterpreneurship, kita diharuskan untuk jeli dalam memilih bidang usaha yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, di samping tentunya juga sesuai dengan kemampuan/bidang keahlian kita. Semakin banyak kebutuhan masyarakat yang bisa kita penuhi, semakin besar pula peluang kita untuk meraih keuntungan. Jadi yang memberikan "tanda jasa" bagi usaha kita adalah konsumen yang menikmati hasil usaha/jerih payah kita.

IMO, anda belum memperhatikan hal-hal di atas karena belum memiliki penghasilan/usaha sendiri. Saya harap idealisme seperti yang anda miliki sekarang tidak luntur setelah memiliki penghasilan sendiri.  :)

kuncungs:
^ Lho.. Ceritanya kan di dunia utopiaku gak ada instrumen moneter XD
Karena 'kertas bernomor' di utopiaku gak bernilai kecuali semata2 jadi 'kayu bakar' aja mungkin, atau tissue toilet?  :P Jadi kami di koloni tidak berprofesi demi mendapat imbalan, tapi berprofesi untuk semata-mata membantu orang lain.

Tentunya populasi di koloni kami batasi, tidak boleh ada orang luar masuk dan tinggal disana kecuali dia bisa berkontribusi.

Gambarannya seperti dunia para Smurf, Terranova, ato era Mesir kuno  8) Tukar menukarnya pake barter. Semua transaksi pake sistem barter. Gak harus pake 'kertas/logam bernomor' saja. Barter bisa barang, bisa jasa.

mhyworld:

--- Kutip dari: kuncungs pada Januari 25, 2012, 12:21:17 PM ---^ Lho.. Ceritanya kan di dunia utopiaku gak ada instrumen moneter XD
Karena 'kertas bernomor' di utopiaku gak bernilai kecuali semata2 jadi 'kayu bakar' aja mungkin, atau tissue toilet?  :P Jadi kami di koloni tidak berprofesi demi mendapat imbalan, tapi berprofesi untuk semata-mata membantu orang lain.

Tentunya populasi di koloni kami batasi, tidak boleh ada orang luar masuk dan tinggal disana kecuali dia bisa berkontribusi.

Gambarannya seperti dunia para Smurf, Terranova, ato era Mesir kuno  8) Tukar menukarnya pake barter. Semua transaksi pake sistem barter. Gak harus pake 'kertas/logam bernomor' saja. Barter bisa barang, bisa jasa.

--- Akhir Kutipan ---
Berarti barang dan jasa yang diproduksi oleh masyarakat di luar komunitasmu tidak boleh dipakai, karena untuk membelinya perlu uang?
Bagaimana kalau ada seorang petani, baru bisa panen bulan depan. Sementara sekarang anaknya sedang sakit dan butuh pengobatan segera. Sedangkan barang lain di rumahnya tidak ada yang cukup untuk ditukar dengan obatnya. Apakah boleh pinjam dulu? Apa jaminannya bahwa petani itu tidak lupa bayar utang, sesuai jumlah dan jatuh temponya?

ytridyrevsielixetuls:

--- Kutip dari: kuncungs pada Januari 25, 2012, 12:21:17 PM ---^ Lho.. Ceritanya kan di dunia utopiaku gak ada instrumen moneter XD
Karena 'kertas bernomor' di utopiaku gak bernilai kecuali semata2 jadi 'kayu bakar' aja mungkin, atau tissue toilet?  :P Jadi kami di koloni tidak berprofesi demi mendapat imbalan, tapi berprofesi untuk semata-mata membantu orang lain.

Tentunya populasi di koloni kami batasi, tidak boleh ada orang luar masuk dan tinggal disana kecuali dia bisa berkontribusi.

Gambarannya seperti dunia para Smurf, Terranova, ato era Mesir kuno  8) Tukar menukarnya pake barter. Semua transaksi pake sistem barter. Gak harus pake 'kertas/logam bernomor' saja. Barter bisa barang, bisa jasa.

--- Akhir Kutipan ---

tidak ada salahnya dengan gaya hidup itu. bagaimanapun juga, hidup tanpa uang itu benar-benar pernah dialami manusia. namun di dunia utopia anda, ekonomi dan teknologi tidak akan pesat seperti sekarang.

tapi BTW zaman Mesir kuno pun ternyata manusia sudah mengenal budaya materialistik bahkan tidak sedikit orang yang gila harta. dan harta itu tidak harus berbentuk uang.

Farabi:
Bagaimanapun, sistem keuangan adalah sistem terbaik untuk membuat manusia bekerja.

Monox D. I-Fly:

--- Kutip dari: kuncungs pada Januari 25, 2012, 12:21:17 PM ---^ Lho.. Ceritanya kan di dunia utopiaku gak ada instrumen moneter XD
Karena 'kertas bernomor' di utopiaku gak bernilai kecuali semata2 jadi 'kayu bakar' aja mungkin, atau tissue toilet?  :P Jadi kami di koloni tidak berprofesi demi mendapat imbalan, tapi berprofesi untuk semata-mata membantu orang lain.

Tentunya populasi di koloni kami batasi, tidak boleh ada orang luar masuk dan tinggal disana kecuali dia bisa berkontribusi.

Gambarannya seperti dunia para Smurf, Terranova, ato era Mesir kuno  8) Tukar menukarnya pake barter. Semua transaksi pake sistem barter. Gak harus pake 'kertas/logam bernomor' saja. Barter bisa barang, bisa jasa.

--- Akhir Kutipan ---

Saya penasaran, apa profesi Anda waktu menulis postingan ini? Dan sekarang setelah 4 tahun, apakah Anda masih berpikir demikian?

Navigasi

[0] Indeks Pesan

[*] Halaman sebelumnya

Ke versi lengkap