Forum Sains Indonesia




*

Artikel Sains

Aku Cinta ForSa

ForSa on FB  ForSa on Twitter

Pranala Luar

ShoutBox!

Last 10 Shouts:

robbani

November 17, 2014, 09:15:59 PM
ada yang tau coding penjumlahan bilangan oktal di java
 

milmi

November 17, 2014, 07:13:48 PM
Salam kenal juga

hani

November 16, 2014, 04:58:00 PM
salam kenal :)

oviuchiha

November 16, 2014, 01:46:23 PM
salam kenal ya kawan2,.,.,.
 :D ;) :) ;D
 

MuhammadRyan

November 16, 2014, 08:07:46 AM
walaikumsalam

evviapriliya

November 12, 2014, 08:16:55 PM
assalamualaikum
 :)

andiana

November 11, 2014, 04:27:01 AM
halo semua lam kenal yah, member baru neh ikutan gabung yah agen ibcbet  :)

bayumeindrawan

November 06, 2014, 09:37:17 PM
assalamualaykum
mau tanya
apakah ada yang tahu dimana jual Tween 60 dan Span 60 di daerah jabodetabek??
atau mungkin ada yang tahu web toko/CV/PT yang menjual barang tersebut? terimakasih

lucas

November 06, 2014, 07:29:40 PM
gimana ya cara buat posting kok gk bisa "maaf anda tidak diperkenankan untuk menyertakan pranala luar " pls

AgungPutraDwijaya

November 06, 2014, 05:44:02 PM
Hay, kenalkan saya Agung, saya juga ada akun brainly, bagi yang punya brainly add ya, nama sama dengan forum sains

Show 50 latest

Penulis Topik: Sistem Ekonomi Pancasila, masih Impian ?  (Dibaca 15434 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline mhyworld

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 1382
  • IQ: 43
  • Gender: Pria
  • .start with the end in mind.
    • Lihat Profil
Re:Sistem Ekonomi Pancasila, masih Impian ?
« Jawab #60 pada: Januari 04, 2012, 03:17:33 PM »
Dalam sosialisme, nyawa adalah milik negara... Orang pintar akan diberi fasilitas lebih oleh negara, kalau dia malas2an dan tidak produktif, tinggal di tendang ke camp...
Orang malas... yah, kalau dia malas dan tidak produktif, toh tinggal dimasukkan ke camp kerja paksa oleh negara... Kalau ngamuk, tinggal di dor... Toh, nyawa juga milik negara...
Semuanya diatur oleh negara...
Dalam sosialis, tidak ada yang diukur dengan uang... Kekayaan orang diukur dari di mana rumahnya, apa saja fasilitas yang didapatkan, dan seberapa besar dia "cinta negara"...

Keuntungannya, gak ada yang miskin2 amat... karena yang miskin udah pasti malas, dan yang malas udah pasti di tendang...
Kerugiannya... Tidak ada/sedikit kreatifitas...

Ini adalah sosialisme dalam pandangan saya, kalau ternyata bukan seperti ini, tolong dikoreksi.
Berikut saya kutip dari wiki

Kutip
A socialist economy is a system of production where goods and services are produced directly for use, in contrast to a capitalist economic system, where goods and services are produced to generate profit (and therefore indirectly for use).[4] Goods and services would be produced for their usefulness, or for their use-value, eliminating the need for market-induced needs to ensure a sufficient amount of demand for products to be sold at a profit. Production in a socialist economy is therefore "planned" or "coordinated", and does not suffer from the business cycle inherent to capitalism. In most socialist theories, economic planning only applies to the factors of production and not to the allocation of goods and services produced for consumption, which would be distributed through a market. Karl Marx stated that "lower-stage communism" would consist of compensation based on the amount of labor one contributes to the social product.
Tujuan dari sistem sosialis adalah untuk lebih memeratakan sumber daya agar dapat juga dinikmati oleh rakyat miskin. Kalau sistem sosialis yang anda gambarkan di atas, tampak bahwa nasib orang miskin, malas, dan bodoh justru akan lebih buruk jika dibandingkan dengan sistem kapitalis.

IMO, gambaran anda bisa disebut sistem komando. Di situ pemerintah memiliki absolute power. Karena power cenderung korup, absolute power corrupts absolutely.
once we have eternity, everything else can wait

Offline topazo

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 542
  • IQ: 21
  • Gender: Pria
  • Topazo Kenni von Ashraldia Nessia
    • Lihat Profil
    • (belum ada isinya)
Re:Sistem Ekonomi Pancasila, masih Impian ?
« Jawab #61 pada: Januari 04, 2012, 09:19:40 PM »
Rasanya penjelasan saya sama mbah wiki mirip deh... Mohon koreksi:

Kutip
A socialist economy is a system of production where goods and services are produced directly for use
Siapa yang mengkoordinasi agar barang langsung bisa digunakan? negara... Untuk siapa... Rakyat tentunya, jadi rakyat gak perlu mikir, yang penting kerja untuk negara (baca:untuk sosial)...
Kutip
Goods and services would be produced for their usefulness, or for their use-value, eliminating the need for market-induced needs to ensure a sufficient amount of demand for products to be sold at a profit
Yang mengatur lagi2 negara (apakah barang itu berguna atau tidak), trus profit... Profit untuk siapa... Gak ada yang boleh untung selain negara, jadi gak ada pasar di sini...
Kutip
Production in a socialist economy is therefore "planned" or "coordinated", and does not suffer from the business cycle inherent to capitalism
Siapa yang merencanakan dan mengkoordinasi?... Lagi2 negara...
Kutip
In most socialist theories, economic planning only applies to the factors of production and not to the allocation of goods and services produced for consumption, which would be distributed through a market.
Kenapa cuman peduli dengan produksi dan bukan alokasi konsumsi untuk pasar... Karena yang mengalokasikan dan mendistribusikan adalah negara, negara yang lebih tau mana yang butuh beras daripada gandum, mana yang butuh bata daripada kayu...

Kutip
Karl Marx stated that "lower-stage communism" would consist of compensation based on the amount of labor one contributes to the social product.
Bayarannya berdasarkan kerjaan yang berkontribusi bagi orang banyak (baca:negara)... Ini yang saya ceritakan, kalau bagi negara kita berguna, kita bakal "kaya"... tapi bukan kaya dengan duit, meliankan kaya fasilitas dan jabatan...
Berarti kalau orang itu tidak bekerja dan tidak berkontribusi bagi sesamanya (baca:negara), bisa masuk camp atau di dor itu orang, itulah kompensasinya...
(maaf kalau2 saya ada salah mengerti dengan bahasa inggrisnya mbah wiki, english is not my native language)

Sebetulnya, sosialisme itu bukan tentang negara dan negara... Tapi tentang sosial (rakyat), kelompok komunal (komunis)... Tapi, dalam negara sosialisme, negara adalah rakyat, dan rakyat betul2 bagian langsung dari negara...

Oh iya, hampir kelupaan...
Tujuan dari sistem sosialis adalah untuk lebih memeratakan sumber daya agar dapat juga dinikmati oleh rakyat miskin. Kalau sistem sosialis yang anda gambarkan di atas, tampak bahwa nasib orang miskin, malas, dan bodoh justru akan lebih buruk jika dibandingkan dengan sistem kapitalis.
Di negara sosialis mestinya gak ada orang miskin... Yang ada hanyalah orang malas (yah, nasibnya bakal tragis, atau kabur ke negara lain)... Orang bodoh juga gak apa2 berada di negara sosialis (kan tinggal kerja, lapangan pekerjaan tersedia oleh negara, dia cuman bisa nyangkul, ya jadi petani), justru orang pintar dan kreatif yang tersiksa di sini, karena negara yang menentukan apakah ide kita "berguna" atau "sampah"...

IMO, gambaran anda bisa disebut sistem komando. Di situ pemerintah memiliki absolute power. Karena power cenderung korup, absolute power corrupts absolutely.
nah, ini yang menyebabkan negara sosialis komunis pada hancur... Konsepnya gak jalan dengan sempurna (karena manusia diciptakan dengan 7 deadly sin, salah satunya greed, kerakusan), pejabat negara menyalahgunakan kekuasaan, jadilah kehancuran... Rakyat juga, kalaupun sudah hidup enak, tetap merasa tidak cukup, karena tetanggaan sekampung kekayaannya sama (gak bisa pamer2an deh), teruus ada kompor (provokator), lalu meledaklah revolusi... dan akhirnya, lagi2 kerakusan mengambil alih...

Ini semua hanyalah pendapat saya... BSJS...
« Edit Terakhir: Januari 04, 2012, 09:31:42 PM oleh topazo »
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Offline mhyworld

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 1382
  • IQ: 43
  • Gender: Pria
  • .start with the end in mind.
    • Lihat Profil
Re:Sistem Ekonomi Pancasila, masih Impian ?
« Jawab #62 pada: Januari 04, 2012, 10:54:51 PM »
Rasanya penjelasan saya sama mbah wiki mirip deh... Mohon koreksi:
Siapa yang mengkoordinasi agar barang langsung bisa digunakan? negara... Untuk siapa... Rakyat tentunya, jadi rakyat gak perlu mikir, yang penting kerja untuk negara (baca:untuk sosial)...Yang mengatur lagi2 negara (apakah barang itu berguna atau tidak), trus profit... Profit untuk siapa... Gak ada yang boleh untung selain negara, jadi gak ada pasar di sini...Siapa yang merencanakan dan mengkoordinasi?... Lagi2 negara...Kenapa cuman peduli dengan produksi dan bukan alokasi konsumsi untuk pasar... Karena yang mengalokasikan dan mendistribusikan adalah negara, negara yang lebih tau mana yang butuh beras daripada gandum, mana yang butuh bata daripada kayu...
Bayarannya berdasarkan kerjaan yang berkontribusi bagi orang banyak (baca:negara)... Ini yang saya ceritakan, kalau bagi negara kita berguna, kita bakal "kaya"... tapi bukan kaya dengan duit, meliankan kaya fasilitas dan jabatan...
Berarti kalau orang itu tidak bekerja dan tidak berkontribusi bagi sesamanya (baca:negara), bisa masuk camp atau di dor itu orang, itulah kompensasinya...
(maaf kalau2 saya ada salah mengerti dengan bahasa inggrisnya mbah wiki, english is not my native language)

Sebetulnya, sosialisme itu bukan tentang negara dan negara... Tapi tentang sosial (rakyat), kelompok komunal (komunis)... Tapi, dalam negara sosialisme, negara adalah rakyat, dan rakyat betul2 bagian langsung dari negara...

Oh iya, hampir kelupaan...Di negara sosialis mestinya gak ada orang miskin... Yang ada hanyalah orang malas (yah, nasibnya bakal tragis, atau kabur ke negara lain)... Orang bodoh juga gak apa2 berada di negara sosialis (kan tinggal kerja, lapangan pekerjaan tersedia oleh negara, dia cuman bisa nyangkul, ya jadi petani), justru orang pintar dan kreatif yang tersiksa di sini, karena negara yang menentukan apakah ide kita "berguna" atau "sampah"...
nah, ini yang menyebabkan negara sosialis komunis pada hancur... Konsepnya gak jalan dengan sempurna (karena manusia diciptakan dengan 7 deadly sin, salah satunya greed, kerakusan), pejabat negara menyalahgunakan kekuasaan, jadilah kehancuran... Rakyat juga, kalaupun sudah hidup enak, tetap merasa tidak cukup, karena tetanggaan sekampung kekayaannya sama (gak bisa pamer2an deh), teruus ada kompor (provokator), lalu meledaklah revolusi... dan akhirnya, lagi2 kerakusan mengambil alih...

Ini semua hanyalah pendapat saya... BSJS...
Kesan yang saya dapat setelah membaca uraian wiki, sistem sosialis itu tampaknya ingin memangkas proses transaksi. Tujuannya memang untuk mencapai efisiensi, namun ada efek samping lain, yaitu berkurangnya fleksibilitas, serta kesulitan dalam hal kuantisasi jasa/penghargaan terhadap kontribusi masing-masing orang. Jadinya seperti zaman dulu sebelum mengenal uang, orang-orang melakukan transaksi dengan barter.
Kutip
Kutip

    In most socialist theories, economic planning only applies to the factors of production and not to the allocation of goods and services produced for consumption, which would be distributed through a market.

Kenapa cuman peduli dengan produksi dan bukan alokasi konsumsi untuk pasar... Karena yang mengalokasikan dan mendistribusikan adalah negara, negara yang lebih tau mana yang butuh beras daripada gandum, mana yang butuh bata daripada kayu...

Yang saya tangkap dari kutipan di atas, pada mayoritas teori sosialis, perencanaan oleh negara hanya terbatas pada faktor produksi, sedangkan distribusi tetap menggunakan mekanisme pasar.

Kutip
Di negara sosialis mestinya gak ada orang miskin... Yang ada hanyalah orang malas (yah, nasibnya bakal tragis, atau kabur ke negara lain)... Orang bodoh juga gak apa2 berada di negara sosialis (kan tinggal kerja, lapangan pekerjaan tersedia oleh negara, dia cuman bisa nyangkul, ya jadi petani), justru orang pintar dan kreatif yang tersiksa di sini, karena negara yang menentukan apakah ide kita "berguna" atau "sampah"...
Ilmu petani bukan hanya mencangkul. Petani yang baik harus paham karakteristik tanaman, jenis-jenis pupuk, penanggulangan hama, pengairan, penentuan musim tanam, prospek komoditas agrobisnis di pasar, dsb. Inilah sebabnya didirikan institut maupun fakultas pertanian yang mencetak sarjana2 pertanian.
Karena penilaian kontribusi masyarakat dilakukan oleh oknum2 pegawai pemerintah, yang bukan konsumen langsung dari produk-produk barang dan jasa yang dihasilkan oleh masyarakat yang dinilai, maka unsur subyektivitas akan sangat kental. Ini rawan dengan praktik kolusi, korupsi, dan nepotisme, sehingga memungkinkan penggunaan sumber daya untuk menghasilkan produk-produk yang sebenarnya kurang dibutuhkan.

Offline topazo

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 542
  • IQ: 21
  • Gender: Pria
  • Topazo Kenni von Ashraldia Nessia
    • Lihat Profil
    • (belum ada isinya)
Re:Sistem Ekonomi Pancasila, masih Impian ?
« Jawab #63 pada: Januari 04, 2012, 11:32:19 PM »
Kesan yang saya dapat setelah membaca uraian wiki, sistem sosialis itu tampaknya ingin memangkas proses transaksi. Tujuannya memang untuk mencapai efisiensi, namun ada efek samping lain, yaitu berkurangnya fleksibilitas, serta kesulitan dalam hal kuantisasi jasa/penghargaan terhadap kontribusi masing-masing orang. Jadinya seperti zaman dulu sebelum mengenal uang, orang-orang melakukan transaksi dengan barter.
Sistem sosialis bukan hanya ke ekonomi ataupun ke transaksi saja, tapi sampai pikiran dasar bahwa "saya dan tetangga saya adalah negara"... Sistem sosialis yang paling (hampir) sempurna... Menurut saya ada di semut dan lebah... Bedanya, ganti kata "ratu" dengan "negara" atau "sesama"...

Yang saya tangkap dari kutipan di atas, pada mayoritas teori sosialis, perencanaan oleh negara hanya terbatas pada faktor produksi, sedangkan distribusi tetap menggunakan mekanisme pasar.
Berarti pasar distribusi masih jalan yah... Apa alasannya kira2 ya... Soalnya, menurut saya sistem kalo distribusinya dilepas, jadi nanggung... Mending dikontrol sampai rumah ke rumah, jadi didata setiap orang dapat beras berapa kilo, baju berapa helai, dll...

Ilmu petani bukan hanya mencangkul. Petani yang baik harus paham karakteristik tanaman, jenis-jenis pupuk, penanggulangan hama, pengairan, penentuan musim tanam, prospek komoditas agrobisnis di pasar, dsb. Inilah sebabnya didirikan institut maupun fakultas pertanian yang mencetak sarjana2 pertanian.
Karena penilaian kontribusi masyarakat dilakukan oleh oknum2 pegawai pemerintah, yang bukan konsumen langsung dari produk-produk barang dan jasa yang dihasilkan oleh masyarakat yang dinilai, maka unsur subyektivitas akan sangat kental. Ini rawan dengan praktik kolusi, korupsi, dan nepotisme, sehingga memungkinkan penggunaan sumber daya untuk menghasilkan produk-produk yang sebenarnya kurang dibutuhkan.
Yang butuh bisa ilmu pertanian kan mandor, ini disediakan untuk yang pintar, oleh negara...

Yups, unsur subjektifitas kental, muncul kerakusan, terjadi penyalahgunaan wewenang, lalu runtuhlah tembok berlin...
« Edit Terakhir: Januari 04, 2012, 11:37:36 PM oleh topazo »

Offline mhyworld

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 1382
  • IQ: 43
  • Gender: Pria
  • .start with the end in mind.
    • Lihat Profil
Re:Sistem Ekonomi Pancasila, masih Impian ?
« Jawab #64 pada: Januari 05, 2012, 05:01:02 PM »
IMO, dalam tataran praktik, sistem kapitalis lebih mudah diterapkan sesuai teori daripada sistem sosialis. Bagaimana dengan sistem ekonomi Pancasila?

Offline topazo

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 542
  • IQ: 21
  • Gender: Pria
  • Topazo Kenni von Ashraldia Nessia
    • Lihat Profil
    • (belum ada isinya)
Re:Sistem Ekonomi Pancasila, masih Impian ?
« Jawab #65 pada: Januari 05, 2012, 08:00:34 PM »
Kalau menurut saya, mudah atau susah itu relatif...
Contohnya...

Di sistem kapitalis, semua bisnis diatur oleh swasta, negara sangat sedikit campur tangan, bahkan The Fed di amrik sono, yang ekuivalen dengan Bank Indonesia, bukanlah milik negara, tapi milik swasta... hebat kan...

Di sistem sosialis, semua bisnis diatur negara, bahkan untuk membuat bisnis baru harus minta izin dulu apakah bisnis kita "berguna" bagi negara atau tidak, baru boleh jalan...

Di Indonesia, sesuai dengan UUD 1945 dan Pancasila, bisnis yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak (contoh BBM) dikuasai oleh negara... Seberapa sulit sih ini? rasanya gak susah2 amat deh menguasai minyak... Tapi kok seakan2 kita dijajah oleh perusahaan minyak luar negeri... Soalnya, premium, diesel, minyak tanah yang kita miliki, bukanlah "produk Pertamina", kenapa... karena kita menekankan impor daripada produksi... Jadinya, tetap aja, BBM yang merupakan hajat hidup orang banyak tidak dikuasai oleh negara (Pertamina), tapi dikuasai oleh perusahaan asing yang memproduksi minyak...

Terus, sebetulnya sektor transportasi juga menguasai hajat hidup orang banyak, tapi kok seakan2 kita dijajah oleh kebijakan2 aneh, contohnya... Nyambung dari yang tadi... Alih2 impor BBM, kenapa kok tidak ditekankan pembatasan penyebaran kendaraan pribadi (di negara kapitalis pembatasan susah, karena semua bebas untuk berusaha, tapi di Indonesia, hal ini sebetulnya mungkin)... Ini beli motor 300 ribu cukup untuk DP, gimana gak tambah rakus BBM tuh... Wong rakus BBM untuk industri gitu lo, ini kok untuk pamer motor n mobil baru...

Sekali lagi, sistem ekonomi Pancasila tidak mudah tapi tidak juga sulit... Tinggal sebetulnya niat gak sih kita untuk ngejalaninnya...

Offline The Houw Liong

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 1286
  • IQ: 16
  • Gender: Pria
    • Lihat Profil
    • Sains, Filsafat dan Teknologi
Re:Sistem Ekonomi Pancasila, masih Impian ?
« Jawab #66 pada: Januari 06, 2012, 07:19:32 AM »
Pelaksanaan sistem ekonomi Pancasila memerlukan pemimpin teladan yang cerdas (sehingga dapat mencerdaskan bangsanya), visioner (dapat melihat jauh ke depan apa yang diperlukan Indonesia, misalnya pengembangan energi alternatif untuk memenuhi kebutuhan Indonesia, ......),mempunyai integritas moral (tidak bisa disuap, "dibeli"), mempunyai prioritas tindakan jyang jelas untuk mengatasi masalah yang dihadapi Indonesia (penegakkan keadilan sosial dan hukum (law and order))  dan berpihak pada kaum miskin.
« Edit Terakhir: Januari 06, 2012, 07:24:33 AM oleh The Houw Liong »
HouwLiong

Offline mhyworld

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 1382
  • IQ: 43
  • Gender: Pria
  • .start with the end in mind.
    • Lihat Profil
Re:Sistem Ekonomi Pancasila, masih Impian ?
« Jawab #67 pada: Januari 06, 2012, 08:12:36 AM »
Kalau menurut saya, mudah atau susah itu relatif...
Contohnya...

Di sistem kapitalis, semua bisnis diatur oleh swasta, negara sangat sedikit campur tangan, bahkan The Fed di amrik sono, yang ekuivalen dengan Bank Indonesia, bukanlah milik negara, tapi milik swasta... hebat kan...


Memang relatif, tapi dari yang kita amati, lebih banyak negara kapitalis yang berhasil menerapkan teori dibandingkan negara sosialis.

Offline topazo

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 542
  • IQ: 21
  • Gender: Pria
  • Topazo Kenni von Ashraldia Nessia
    • Lihat Profil
    • (belum ada isinya)
Re:Sistem Ekonomi Pancasila, masih Impian ?
« Jawab #68 pada: Januari 06, 2012, 08:07:43 PM »
Memang relatif, tapi dari yang kita amati, lebih banyak negara kapitalis yang berhasil menerapkan teori dibandingkan negara sosialis.
Kalau dari logika saya, jelas kapitalis yang akan lebih sukses penerapannya dibanding sosialis... Karena kapitalis mengedepankan cara berpikir kreatif daripada "terpimpin"... Di mana2 yang kreatif akan lebih sukses daripada yang tidak...
Dan juga, sepertinya panggilan hati untuk "bebas" lebih kuat daripada panggilan untuk "peduli sesama"...

Pada sistem Pancasilais, saya pikir cara berpikir anggotanya haruslah lebih kreatif daripada kapitalis, karena Sistem Ekonomi Pancasila adalah perpaduan daripada kapitalis-sosialis, (tepatnya nasionalis-agamais-komunis) Sistem ini lebih dekat ke sosialis, tapi masih bersahabat dengan kapitalis... Bingung... Yah itulah, kalau mau sistem Pancasila, harus lebih kreatif biar tidak bingung hehehehe....
« Edit Terakhir: Januari 06, 2012, 08:10:19 PM oleh topazo »

Offline nʇǝʌ∀

  • Global Moderator
  • Dosen
  • *****
  • Tulisan: 356
  • IQ: 191
  • Gender: Pria
  • ɐɯɐs ɥɐlɐpɐ uɐʇɐlǝS uɐp ɐɹɐʇ∩
    • Lihat Profil
Re:Sistem Ekonomi Pancasila, masih Impian ?
« Jawab #69 pada: Januari 06, 2012, 08:25:21 PM »
kapitalisme dan sosialisme tidak da yg sempurna, kalo km py basic pengusaha maka kapitalisme itu yg menguntungkan tp kalo basic kamu buruh ya sosialisme itu yg menguntungkan.

kapitalisme jelas cm menguntungkan pemodal besar yg banyak ide, krn mereka diperbolehkan monopoli dan bebas memilih lahan bisnis/investasi apa aja (maksudnya lbh bebas aja tp ga mutlak).

kalo sosialisme bisa merugikan pengusaha krn perusahaannya bisa dinasionalisasi secara sepihak oleh pemerintah dan ada tekanan utk menyalurkan asetnya utk kepentingan rakyat miskin.

kalo kita contoh kasus pengusaha vs buruh dlm konflik UMR, kalo mereka berada di dlm kekuasaan kapitalis maka cenderung menuruti standar UMR dr pengusaha, tp kalo mereka berada di dlm kekuasaan sosialis maka cenderung menuruti standar UMR yg diajukan buruh.
                |'''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''|
       __/""|"|--------nʇǝʌ∀ inc.------|
 > (|__|_|!!|__________________|
      (o)!""""""(o)(o)!"""""""""""(o)(o)!

Offline nʇǝʌ∀

  • Global Moderator
  • Dosen
  • *****
  • Tulisan: 356
  • IQ: 191
  • Gender: Pria
  • ɐɯɐs ɥɐlɐpɐ uɐʇɐlǝS uɐp ɐɹɐʇ∩
    • Lihat Profil
Re:Sistem Ekonomi Pancasila, masih Impian ?
« Jawab #70 pada: Januari 06, 2012, 08:28:43 PM »
aduhhh, mau edit post gimana ya.... terpaksa dobel post deh!

lupa nambahin contoh, perusahaan Halliburton Group yg dulu markasnya di Amerika bebas mendirikan markas di negara lain (UAE) untuk menghindari pajak bumi. sementara beberapa pengusaha Amerika malah memilih buka pabrik2 di China krn biaya produksinya lbh murah. ini salah satu dampak kapitalisme.

CMIIW :) bwat contoh yg sosialisme nanti dulu ya...

Offline mhyworld

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 1382
  • IQ: 43
  • Gender: Pria
  • .start with the end in mind.
    • Lihat Profil
Re:Sistem Ekonomi Pancasila, masih Impian ?
« Jawab #71 pada: Januari 07, 2012, 04:21:30 AM »
aduhhh, mau edit post gimana ya.... terpaksa dobel post deh!

lupa nambahin contoh, perusahaan Halliburton Group yg dulu markasnya di Amerika bebas mendirikan markas di negara lain (UAE) untuk menghindari pajak bumi. sementara beberapa pengusaha Amerika malah memilih buka pabrik2 di China krn biaya produksinya lbh murah. ini salah satu dampak kapitalisme.

CMIIW :) bwat contoh yg sosialisme nanti dulu ya...
mungkin harus naikkan statusnya dulu jadi dosen, baru tombol editnya muncul? seingat saya waktunya juga terbatas. CMIIW.

sistem kapitalis memaksa pengusaha untuk mencari dan menemukan cara yang paling efektif dan efisien untuk mempertahankan dan mengembangkan usahanya. Jadinya mirip natural selection dalam evolutionary biology. Memang bukan cara yang paling efisien yang mungkin dicapai secara teoritis, namun secara umum akan menghasilkan tren peningkatan efisiensi secara terus menerus, di samping memerlukan usaha yang minimum dari sisi pemerintah.

Pemerintah hanya memastikan bahwa sistem pasar bebas berjalan optimal, di antaranya dengan mencegah praktik monopoli. Di samping itu juga perlu dilakukan pencegahan dan penindakan terhadap kejahatan ekonomi. Indikator awal dan sederhana tentang hal ini antara lain jika seseorang menerima pembayaran melebihi manfaat yang ia berikan kepada masyarakat secara umum.

 

Topik Terkait

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
23 Jawaban
3923 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 13, 2009, 09:17:21 PM
oleh heru.htl
52 Jawaban
37404 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 05, 2011, 06:47:31 PM
oleh Im
10 Jawaban
6239 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 31, 2010, 02:11:21 PM
oleh Huriah M Putra
1 Jawaban
811 Dilihat
Tulisan terakhir September 21, 2010, 07:29:21 PM
oleh cleo
Pancasila

Dimulai oleh MonDay « 1 2 » Sosial dan Politik

26 Jawaban
5527 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 16, 2012, 03:57:59 AM
oleh chemjr125

Copyright © 2006-2014 Forum Sains Indonesia