Forum > Ilmu Ekonomi dan Manajemen

Sistem Sosial Ideal, menurut saya.

(1/3) > >>

Farabi:
Seharusnya, secara default dalam artian, tanpa sebuah persiapan, seorang bayi yang lahir di indonesia, dianggap dipersiapkan sebagai seorang buruh tani, yang akan bertugas untuk mengurus masalah pengadaan pertanian, termasuk, perkebunan, penggembalaan, peternakan, perkebunan dsb. Dalam hal ini, dikarenakan pada fitrahnya seorang manusia adalah seorang pengelola tanah. Tentunya dalam hal ini, secara default, kepemilikan tanah bagi orang asing, atau warga WNI, yang telah didefinisikan dalam UU maximum adalah 7 tahun. Dimana kemudian, setelah 7 tahun, tanah tersebut dikembalikan ke pemiliknya, dimana gedung diatasnya atau rumah diatasnya, harganya dianggap 0. Kalau tidak demikian, terus menerus bangsa ini akan terjebak dalam kemelaratan. Tentunya saya pun mahfum atau paham bahwa ada banyak warga keturunan, tapi seperti yang sudah saya katakan, berdasarkan definisi WNI di UU, warga keturunan yang sudah menetap 10 tahun, apalagi sudah bergenerasi, maka dianggap sebagai warga negara Indonesia. Sesuai dengan yang tercatat pada Torat.

Sistem pendidikan dasar seharusnya, biarpun memasukkan IPA dasar atau ilmu Hayati (Bio-logi) seharusnya lebih difokuskan kepada pertanian, sehingga seorang lulusan SMA, setelah lulus, minimal tahu bagaimana cara menggarap tanah di Lingkungannya sendiri, dan bukan dengan menambah nambah jumlah lulusan yang tidak tahu bagaimana cara mengelola tempat tinggalnya. Misalkan, seorang programmer, di daerah yang bahkan listrikpun tidak ada, apalagi komputer, ini hanya akan menambah jumlah penduduk yang kemampuannya sia sia.

Pada tingkat lanjut seperti Kuliah, maka setiap peserta didik diperbolehkan masuk ke tempat pendidikan sesuai dengan minatnya, atau minimal diberikan fasilitas semisal internet, atau perpustakaan untuk mencari informasi, karena saya lihat tidak ada gunanya pendidikan formal yang hanya bertujuan untuk mendapatkan ijasah. Lebih baik tenaga kerja informal dengan ketrampilan memadai, karena toh, pada akhirnya, pencari kerja pun memberikan test lagi jika hendak mencari pekerja. Tapi memang dengan adanya sistem ijasah, perusahaan tidak ribet menyaring tenaga kerja yang membludak.

Dari hal seperti ini, saya rasa kita tidak akan pernah kehabisan tenaga kerja dalam bidang pengadaan sumber pangan, ataupun tenaga kerja distribusi pangan. Bahkan diharapkan lembaga kuliah bisa menggunakan mahasiswanya untuk membuat penelitian, untuk mengingkatkan jumlah produksi pangan.

Farabi:
UMR yang disarankan, tidak dalam nominal rupiah, melainkan jumlah barang:
(Untuk 1 orang/1bulan)
30 Kg beras
30 Telur
15 kg Daging (Sapi/kambing)
Susu
Madu
akses internet
Optional:
Bahan bakar kendaraan
Akses Hiburan tambahan
Kopi
Jahe
dsb

Sehingga bisa dengan mudah kita kalikan dengan jumlah total penduduk sebagai target pengadaan sumber pangan.

Monox D. I-Fly:

--- Kutip dari: Farabi pada November 09, 2011, 02:01:55 PM ---Pada tingkat lanjut seperti Kuliah, maka setiap peserta didik diperbolehkan masuk ke tempat pendidikan sesuai dengan minatnya, atau minimal diberikan fasilitas semisal internet, atau perpustakaan untuk mencari informasi, karena saya lihat tidak ada gunanya pendidikan formal yang hanya bertujuan untuk mendapatkan ijasah. Lebih baik tenaga kerja informal dengan ketrampilan memadai, karena toh, pada akhirnya, pencari kerja pun memberikan test lagi jika hendak mencari pekerja. Tapi memang dengan adanya sistem ijasah, perusahaan tidak ribet menyaring tenaga kerja yang membludak.

--- Akhir Kutipan ---

Yup. Pada kenyataannya, banyak juga non-sarjana yg jauh lebih berkompeten daripada mereka yg lulus kuliah sarjana...


--- Kutip dari: Farabi pada November 09, 2011, 02:04:31 PM ---UMR yang disarankan, tidak dalam nominal rupiah, melainkan jumlah barang:
(Untuk 1 orang/1bulan)
30 Kg beras
30 Telur
15 kg Daging (Sapi/kambing)
Susu
Madu
akses internet
Optional:
Bahan bakar kendaraan
Akses Hiburan tambahan
Kopi
Jahe
dsb

Sehingga bisa dengan mudah kita kalikan dengan jumlah total penduduk sebagai target pengadaan sumber pangan.

--- Akhir Kutipan ---

Gimana buat bayar listrik, bayar air, & juga pulsa?

binekas:
UMR itu bukannya hanya mengatur mengenai upah minimunya kan? masalah uang itu digunakan buat apa itu tergantung individu masing-masing

mhyworld:

--- Kutip dari: binekas pada Desember 31, 2011, 05:22:44 PM ---UMR itu bukannya hanya mengatur mengenai upah minimunya kan? masalah uang itu digunakan buat apa itu tergantung individu masing-masing

--- Akhir Kutipan ---
Itulah keuntungan uang dibanding metode barter. Di antaranya fleksibilitas dan portabilitas.

Farabi:

--- Kutip dari: Monox D. I-Fly pada Desember 27, 2011, 05:53:47 PM ---Yup. Pada kenyataannya, banyak juga non-sarjana yg jauh lebih berkompeten daripada mereka yg lulus kuliah sarjana...

Gimana buat bayar listrik, bayar air, & juga pulsa?

--- Akhir Kutipan ---

Listrik, air dan pulsa bisa dimasukkan kedalam UMR.

mhyworld:

--- Kutip dari: Farabi pada November 09, 2011, 02:04:31 PM ---UMR yang disarankan, tidak dalam nominal rupiah, melainkan jumlah barang:
(Untuk 1 orang/1bulan)
30 Kg beras
30 Telur
15 kg Daging (Sapi/kambing)
Susu
Madu
akses internet
Optional:
Bahan bakar kendaraan
Akses Hiburan tambahan
Kopi
Jahe
dsb

Sehingga bisa dengan mudah kita kalikan dengan jumlah total penduduk sebagai target pengadaan sumber pangan.

--- Akhir Kutipan ---
Untuk yg vegetarian, daging dan telurnya bisa ditukar dengan produk lain?

Monox D. I-Fly:

--- Kutip dari: mhyworld pada Pebruari 09, 2012, 03:51:30 PM ---Untuk yg vegetarian, daging dan telurnya bisa ditukar dengan produk lain?

--- Akhir Kutipan ---

Susu mungkin juga perlu ditukar?  ::)

nʇǝʌ∀:
kenapa UMR mesti berupa barang-barang tertentu bukannya uang yang bisa bebas digunakan oleh penerimanya. Apa mereka tidak punya kesempatan untuk jadi pengusaha?

rafek:
Saya pikir dalam model ini, sistem ekonomi dapat berjalan, namun masalahnya adalah keterbatasan pilihan. Maksud saya, tiap orang diplot untuk menjadi seorang pekerja kasar, tanpa ada kesempatan untuk mengembangkan potensinya di bidang lain.

mhyworld:
Bagaimana kalau saya ingin menjadi pengusaha sekaligus petani hidroponik dan aeroponik? Semua kegiatan pemeliharaan tanaman dijalankan secara otomatis dengan robot, kondisi lingkungan tanaman termasuk pencahayaan dan pengairan, diatur dalam ruang terkontrol untuk memastikan keseragaman kualitas produk yang higienis, dengan jadwal panen yang teratur, tidak terpengaruh musim yang akhir-akhir ini sulit diprediksi. Untuk menghemat ongkos transport, lokasi greenhouse tsb dibuat di dekat kota. Untuk menghemat tempat, digunakan sistem bertingkat. Diperkirakan dalam satu periode, saya mampu menghasilkan bahan pangan dengan jumlah sama dengan yang dihasilkan oleh 100 petani tradisional.
IMO skema di atas lebih baik daripada menjadi buruh kasar.

Farabi:

--- Kutip dari: rafek pada Pebruari 10, 2012, 09:15:44 PM ---Saya pikir dalam model ini, sistem ekonomi dapat berjalan, namun masalahnya adalah keterbatasan pilihan. Maksud saya, tiap orang diplot untuk menjadi seorang pekerja kasar, tanpa ada kesempatan untuk mengembangkan potensinya di bidang lain.

--- Akhir Kutipan ---

Lah, makanya banyak pengangguran berarti bidang yang diharapkan sudah terpenuhi kan? Sedangkan dalam hal distribusi pangan, tenaga kerja itu butuh banyak supaya produksi makanan meningkat.


--- Kutip ---Untuk yg vegetarian, daging dan telurnya bisa ditukar dengan produk lain?

--- Akhir Kutipan ---

Bisa, karena skema diatas berdasaran rata rata komsumsi penduduk.


--- Kutip ---
kenapa UMR mesti berupa barang-barang tertentu bukannya uang yang bisa bebas digunakan oleh penerimanya. Apa mereka tidak punya kesempatan untuk jadi pengusaha?


--- Akhir Kutipan ---

Jika diuangkan, kadang nilainya dibawah skema diatas.

Farabi:

--- Kutip dari: mhyworld pada Pebruari 10, 2012, 11:13:20 PM ---Bagaimana kalau saya ingin menjadi pengusaha sekaligus petani hidroponik dan aeroponik? Semua kegiatan pemeliharaan tanaman dijalankan secara otomatis dengan robot, kondisi lingkungan tanaman termasuk pencahayaan dan pengairan, diatur dalam ruang terkontrol untuk memastikan keseragaman kualitas produk yang higienis, dengan jadwal panen yang teratur, tidak terpengaruh musim yang akhir-akhir ini sulit diprediksi. Untuk menghemat ongkos transport, lokasi greenhouse tsb dibuat di dekat kota. Untuk menghemat tempat, digunakan sistem bertingkat. Diperkirakan dalam satu periode, saya mampu menghasilkan bahan pangan dengan jumlah sama dengan yang dihasilkan oleh 100 petani tradisional.
IMO skema di atas lebih baik daripada menjadi buruh kasar.


--- Akhir Kutipan ---

Silahkan, karena yang diatas adalah defaulnya, dimana anda pahitnya, jika tidak berpendidikan. jika ternyata anda bisa lebih, misalkan memanaj orang, maka dapat lebih selain yang diatas, yang diatas itu jika anda ternyata harus menganggur.

mhyworld:

--- Kutip dari: Farabi pada Pebruari 13, 2012, 06:19:20 AM ---Silahkan, karena yang diatas adalah defaulnya, dimana anda pahitnya, jika tidak berpendidikan. jika ternyata anda bisa lebih, misalkan memanaj orang, maka dapat lebih selain yang diatas, yang diatas itu jika anda ternyata harus menganggur.

--- Akhir Kutipan ---
Memang benar. Kalau banyak pengangguran, resiko naiknya angka kriminalitas akan semakin tinggi. Tidak memiliki penghasilan bukan berarti tidak memerlukan pengeluaran. Mereka tetap harus memenuhi kebutuhan primer untuk mempertahankan hidup, terutama makan dan minum (dengan asumsi oksigen masih gratis seperti sekarang) :) . Itu adalah insting yang dibentuk oleh peoses evolusi. Sering kita jumpai dorongan insting tersebut lebih kuat daripada kesadaran moral untuk berbuat baik kepada sesama manusia.

Namun untuk menjadi petani dengan hasil yang cukup diperlukan lahan yang luas. Kalau dulu bisa diselesaikan dengan program transmigrasi. Sekarang di luar Jawa pun hutan-hutan sudah banyak yang gundul, sebagian dialihfungsikan menjadi perkebunan sawit. Mungkin kalau suatu saat ditemukan teknologi/metode untuk bercocok-tanam di atas laut akan banyak membantu mengatasi masalah kekurangan lahan tersebut, apalagi sebagian besar wilayah Indonesia terdiri atas laut. (menghayal mode on).

Perlu diingat bahwa kebutuhan primer bukan hanya makanan dan minuman, namun juga sandang dan papan. Oleh karena itu perlu disisakan sebagian orang untuk menekuni bidang infrastruktur seperti tukang bangunan, penjahit pakaian, dll. Tidak ketinggalan untuk bagian sanitasi dan kesehatan masyarakat, serta pendidikan.

Farabi:

--- Kutip ---Perlu diingat bahwa kebutuhan primer bukan hanya makanan dan minuman, namun juga sandang dan papan. Oleh karena itu perlu disisakan sebagian orang untuk menekuni bidang infrastruktur seperti tukang bangunan, penjahit pakaian, dll. Tidak ketinggalan untuk bagian sanitasi dan kesehatan masyarakat, serta pendidikan.

--- Akhir Kutipan ---

Itu sebabnya saya senang terhadap orang mata duitan, karena lebih mudah disuruh untuk bekerja ;D

Navigasi

[0] Indeks Pesan

[#] Halaman berikutnya

Ke versi lengkap