ForSa punya logo baru!! Ada komen?
0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.
Ya kalau bukan emas, mungkin kayu, atau makanan, yang jelas, pasar akan mengkoreksi dengan terjadi inflasi.
Kalau masalah moneter, yang penting adalah menghilangkan uang fiat... Jadi uang adalah representasi dari sebuah komoditas tukar dasar, dan bukan sebagai komoditas itu sendiri...
Saat ini emas sudah terbukti sebagai salah satu komoditas yang paling sesuai untuk dijadikan acuan, karena sifatnya yang awet, liquid, divisible, fungible, serta jumlah yang terbatas dan relatif stabil. kebanyakan komoditi lain tidak memiliki sifat2 tersebut.IMO, inflasi terjadi karena perbandingan antara jumlah produk(supply barang dan jasa) dengan konsumsi(demand) atau dengan jumlah uang yang beredar secara total lebih rendah daripada sebelumnya. Dengan kata lain, penambahan supply barang/jasa mengurangi inflasi (bahkan bisa deflasi), sedangkan penambahan demand maupun jumlah uang yang beredar menaikkan inflasi.
IMO, uang memiliki fungsi yang mirip dengan surat saham perusahaan. Uang rupiah yang anda miliki adalah saham anda dalam organisasi bernama NKRI. Nilainya bisa naik ataupun turun sesuai kondisi pasar. Jika BI mencetak rupiah lebih banyak, artinya nilai saham anda diencerkan (diluted). Jadi ingat film The Social Network yang menceritakan pengenceran saham Facebook milik salah satu pendirinya.Nilai rupiah ditentukan oleh jumlah produksi barang dan jasa dibandingkan dengan jumlah konsumsi barang dan jasa rakyat Indonesia secara keseluruhan. Nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing ditentukan oleh jumlah ekspor dan impor dengan negara lain. Jadi kalau ingin nilai tukar rupiah naik, harus menambah ekspor atau mengurangi impor. CMIIW.
Sekarang harga minyak sedang dipermasalahkan akan dinaikan, orang orang KOMPAS ingin minyak dinaikkan karena memberatkan APBN. Betul, selain kalau harganya tetap murah akan membuat bahan bakar cepat habis, juga memberatkann subsidi, tapi tentunya para pemakai motor harus tetap disubsidi karena mereka pada umumnya sangat membutuhkan motor karena lebih murah. 10 rb pakai motor itu bisa keliling kota, sedangkan pakai angkutan umum paling hanya 20 KM paling jauh.
Dilema tetap muncul manakala krisis ekonomi terjadi ky zaman dulu (2008) Kalau mencetak uang sebanyak-banyaknya untuk Bail Out maka itu sama aja melemahkan nilai mata uang itu karena makin banyak uang dicetak dan diedarkan maka semakin berkurang nilainya karena kelangkaannya menurun.Kalau menaikkan suku bunga untuk mengurangi peredaran uang (dengan asumsi bahwa masyarakat akan lebih banyak menabung) maka para penghutang akan makin kesulitan membayar hutangnya dan bank akan terancam Likuidasi. Di sisi lain, bank akan makin terbebani dalam memberikan keuntungan pada nasabah (bunga deposito dan tabungan), dan perusahaan terancam bangkrut.Mungkin ada yang ingat kejadian 4 tahun lalu saat ekonomi Amerika kolaps gara-gara Subrime Mortgage (krisis kredit perumahan)? Dunia internasional ikut kena yah. Maklum, negara ini memang konsumen dan sasaran produsen terbesar dunia. kalo mereka bokek ya barang2 kita juga terancam makin tidak laku hehehe
Analisa yang bagus sekali. Harusnya untk membayar hutang solusinya bukan mencetak uang, tapi meningkatkan produksi, sehingga nilai tukar tidak turun, karena kalau nilai tukar turun beban hutang jadi lebih besar.
CMIIW, kalau kredit sektor perumahan di Amerika itu sepertinya si Debitur (perusahaan KPR) dan pihak ketiga (Bank dan investor) nggak mau tahu dari mana si kreditor dapat uang untuk bayar hutang. Jadi keuntungan yang mereka dambakan tidak berfokus pada produktifitas pada kreditor melainkan pada bunga ketika balik modal.... tapi ternyata nggak balik modal ya. Lagian aneh juga sih, para kreditor Subprime Mortgage itu adalah orang-orang dengan income pas-pasan dan rating kredit buruk seperti penunggak kartu kredit dan kredit kendaraan bermotor. Apa pula yang bikin perusahaan KPR mau mengucurkan pinjaman modal untuk mereka tanpa pikir apakah mereka ini produktif apa nggak ? Tekanan tokoh politikkah untuk cari simpati warga miskin di AS? Apapun itu kalau dari sudut pandang bunga sih untung gede tapi yg mesti dilihat itu si kreditor ini produktif apa nggak ? atau setidaknya dilihat dulu adakah punya prospek bagus dalam menghasilkan uang apa tidak ?
A creditor is a party (e.g. person, organization, company, or government) that has a claim to the services of a second party. It is a person or institution to whom money is owed. [1] The first party, in general, has provided some property or service to the second party under the assumption (usually enforced by contract) that the second party will return an equivalent property or service. The second party is frequently called a debtor or borrower. The first party is the creditor, which is the lender of property, service or money.
Intinya pokoknya, biarpun nganggur, tapi tetep dapat makan, karena yang mengurus pertanian adalah robot. Dimana warga asing semua wajib sewa, kecuali sudah 10 tahun tinggal diindonesia, atau sudah berketurunan diindonesia. Masalah pekerjaan, terserah semua orang. Jadi kita bisa membuat indonesia seperti disurga, beli robot sekarang sudah bisa loh, Nah harusnya, kita beli saja robot tersebut unutk mengurus pertanian dari pajak, dimana hasil taninya dibagi rata kepada seluruh rakyat indonesia, kaya atau miskin, kerja atau nganggur.
Dimulai oleh Alicha Sosial dan Politik
Dimulai oleh monokorobo Pseudo-science dan Science-Fiction
Dimulai oleh Ginji Sosial dan Politik
Dimulai oleh anonim « 1 2 3 » Kesehatan
Dimulai oleh Monox D. I-Fly Sosial dan Politik