Forum Sains Indonesia




*
Selamat datang, Pengunjung. Silahkan masuk atau mendaftar. Apakah anda lupa aktivasi email?
Juni 20, 2013, 01:49:16 PM

Masuk dengan nama pengguna, kata sandi dan lama sesi

Artikel Sains

Aku Cinta ForSa

  ForSa on FB  ForSa on Twitter

Pranala Luar

ShoutBox!

Last 10 Shouts:

 

yahya

Juni 11, 2013, 04:11:16 PM
 :)
 

hifa0210

Juni 11, 2013, 01:46:19 AM
 :)
 

FajarSukma7

Juni 05, 2013, 08:18:21 PM
aslmualaikm
 

Robian1924

Mei 30, 2013, 10:14:09 PM
Assalamalaikum, salam sains gan.
 

iindrawrdn

Mei 27, 2013, 04:03:51 PM
newbie gan :)
 

Fariz Abdullah

Mei 27, 2013, 01:45:25 PM
@Aceng-Shop : Anda telah mengotori Forum ini..Motivasi Anda apa?
 

Aceng-Shop

Mei 27, 2013, 06:22:09 AM
salam kenal admin
 

skuler

Mei 27, 2013, 03:25:05 AM
dear admin, tolong user ini di banned:  http://www.forumsains.com/profile/Aceng-Shop/ dan topik buatannya ditaruh di tempat sampah. terima kasih
 

skuler

Mei 26, 2013, 01:51:24 AM
dear admin, tolong user ini di banned: http://www.forumsains.com/profile/tokoherbal/ dan topik buatannya ditaruh di tempat sampah. terima kasih

Show 50 latest

Penulis Topik: uang  (Dibaca 2087 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline 12

  • Dosen
  • ****
  • Tulisan: 228
  • IQ: 10
    • Lihat Profil
uang
« pada: Pebruari 27, 2012, 09:18:24 PM »
bayangkan jika dibumi ini hanya ada 1 pulau dan hanya ada 2 orang penghuni yaitu A dan B, A adalah petani dan B adalah nelayan.
secara alami di pulau itu transaksi antara A dan B dilakukan dengn barter dimana

1 kg beras = 1 ikan ukuran standar

----nah, kira2 dalam situasi seperti apa sehingga keduanya kemudian memutuskan untuk menggunakan uang sebagai alat pembayaran, dan bagaimana kira2 prosedurnya?
#12

Offline 12

  • Dosen
  • ****
  • Tulisan: 228
  • IQ: 10
    • Lihat Profil
Re:uang
« Jawab #1 pada: Pebruari 27, 2012, 10:19:00 PM »
bagaimana juga kaitannya uang dengnan transaksi internasional.

misalnya indonesia impor minyak. kemudian harga minyak internasional naik. mengapa hal itu kemudian diikuti dengan naiknya harga minyak dalam negeri?

importir membayar minyak impor dengan US$, US$ berasal dari devisa. sedangkan kenaikan harga eceran minyak dalam negeri tidak meningkaatkan devisa. melainkan meningkatkan penerimaan importir dalam bentuk Rp

Offline mhyworld

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 1324
  • IQ: 37
  • Gender: Pria
  • .start with the end in mind.
    • Lihat Profil
Re:uang
« Jawab #2 pada: Pebruari 28, 2012, 12:03:18 PM »
bayangkan jika dibumi ini hanya ada 1 pulau dan hanya ada 2 orang penghuni yaitu A dan B, A adalah petani dan B adalah nelayan.
secara alami di pulau itu transaksi antara A dan B dilakukan dengn barter dimana

1 kg beras = 1 ikan ukuran standar

----nah, kira2 dalam situasi seperti apa sehingga keduanya kemudian memutuskan untuk menggunakan uang sebagai alat pembayaran, dan bagaimana kira2 prosedurnya?
Misalnya suatu saat si petani gagal panen karena hama atau banjir, sehingga saat itu tidak punya beras. Ia tetap harus makan kalau masih ingin hidup. Ia ingin barter dengan ikan pada nelayan, namun berasnya akan dibayar pada musim panen berikutnya. Untuk menjamin/memastikan bahwa petani memenuhi janji tersebut, si petani menyerahkan barang yang dianggap berharga (tidak mudah diperoleh di alam, awet) kepada nelayan, dan akan dikembalikan setelah beras yang dijanjikan dibayarkan. Barang tersebut misalnya perhiasan berupa batu atau logam. Alternatifnya, si nelayan meminta bukti hutang misalnya berupa surat hutang yang akan ditagihkan kepada petani pada musim panen berikutnya.
Bukti pembayaran berupa perhiasan ataupun surat hutang tsb bisa dianggap sebagai bentuk primitif dari uang.
once we have eternity, everything else can wait

Offline ytridyrevsielixetuls

  • Dosen
  • ****
  • Tulisan: 287
  • IQ: 143
  • Gender: Pria
  • ▄▄█▀▀█▄▄█▀▀█▄▄█▀▀█▄▄
    • Lihat Profil
Re:uang
« Jawab #3 pada: Pebruari 28, 2012, 12:42:46 PM »
A dan B akan menjadi sahabat karena sepertinya sifat dasar manusia akan membuat mereka jadi sosial ketimbang individual manakala terjebak pada situasi yang TS gambarkan.

A akan belajar cara melaut dari B.

B akan belajar cara bertani dari A.

Mereka bisa membagi waktu untuk bertani dan melaut sendiri-sendiri maupun bersama.
Kemudian keduanya tidak terlalu mempersoalkan transaksi apa-apa karena mereka sudah seperti keluarga. So mereka makan hasil tani dan hasil laut bersama-sama.

Ketika mereka telah mencapai titik jenuh dalam mengkonsumsi hasil tani dan hasil laut, mereka akan mencoba beralih-profesi jadi pemburu dan peternak, mereka akan makan daging, minum susu, dan mungkin juga akan mencoba menanam berbagai jenis pohon untuk mengambil buahnya.

So kemungkinan besar tidak akan ada uang karena mereka menganggap satu sama lain adalah keluarga.
     -/"|           -/"|           -/"|
<(O)}D     <(O)}D     <(O)}D
     -\_|          -\_|           -\_|

Offline 12

  • Dosen
  • ****
  • Tulisan: 228
  • IQ: 10
    • Lihat Profil
Re:uang
« Jawab #4 pada: Pebruari 28, 2012, 04:43:25 PM »
@mhyworld trims buat masukannya, bener juga, sampai sekarangpun surat utang masih berperan sebagai uang. tapi hal itu mungkin terjadi dalam masyarakat riil yaitu masyarakat yg lebih kompleks dimana jumlah orangnya banyak, barang dan jasa juga jumlahnya banyak

tapi dalam dunia yg sangat sederhana seperti kasus ini uang mungkin tidak akan ada seperti yg dikatakan @ytridyrevsielixetuls

nah terus bagaimanan dengan kasus kenaikan harga minyak internasional,
ya memang kalau harga US$/barrel naik maka konsumen/kita harus membayar Rp lebih banyak untuk mendapatkan US$ yg lebih banyak. tapi karena supply US$ konstan maka kenaikan permintaan US$ akan menaikan kurs US$ (menurunkan Rp). efeknya harga minyak perliter akan tambah naik lagi (ini sekenarionya kalau pasar bebas)
tapi kita tau harga minyak dipatok pemerintah bagaimana membuat patokan harga?
« Edit Terakhir: Pebruari 28, 2012, 05:03:18 PM oleh 12 »

Offline nʇǝʌ∀

  • Dosen
  • ****
  • Tulisan: 271
  • IQ: 173
  • Gender: Pria
  • ɐɯɐs ɥɐlɐpɐ uɐʇɐlǝS uɐp ɐɹɐʇ∩
    • Lihat Profil
Re:uang
« Jawab #5 pada: Pebruari 28, 2012, 10:28:57 PM »
Tampaknya pertanyaan pertama memang tidak hanya cukup dijawab dengan ilmu ekonomi saja tapi juga ilmu psikologi :)

Mengenai pertanyaan kedua,....

Dengan mengikuti 'trend' perubahan harga minyak dunia maka pemerintah mematok harga BBM dalam negeri supaya penggunaan APBN lebih efisien (atau dengan kata lain, supaya negara bisa punya APBN lebih banyak), misalnya dengan menaikkan harga BBM. Yang ini saya nggak bisa bilang setuju atau tidak setuju karena saya tidak terlalu paham politik tapi AFAIK pemerintah menaikkan harga BBM karena memprediksi bahwa harga minyak dunia akan naik so jadi sepertinya memang ditujukan untuk membeli US$ dan membeli minyak dari luar negeri sebelum harganya naik. Sebab ketika harga minyak dunia naik maka US$ yang diperlukan juga lebih banyak dan itu artinya lebih banyak menguras APBN.

Tapi di sisi lain, menaikkan harga BBM sama saja dengan menaikkan biaya produksi, distribusi, dan konsumsi dalam negeri. Itu artinya inflasi terjadi. Buruh dan pegawai akan minta naik gaji karena harga-harga kebutuhan pokok juga ikut naik. Pada nantinya merambat ke harga-harga kebutuhan sekunder dan tersier karena dalam produksi dan distribusi mereka terdapat peran BBM di situ.
CMIIW.


PS : tapi kok aneh ya, masak negara eksportir minyak malah beli minyak ? baru tahu saya kalo minyak di Indonesia sudah sedikit...


« Edit Terakhir: Pebruari 28, 2012, 10:34:40 PM oleh nʇǝʌ∀ »
                |'''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''|
       __/""|"|--------nʇǝʌ∀ inc.------|
 > (|__|_|!!|__________________|
      (o)!""""""(o)(o)!"""""""""""(o)(o)!

Offline 12

  • Dosen
  • ****
  • Tulisan: 228
  • IQ: 10
    • Lihat Profil
Re:uang
« Jawab #6 pada: Pebruari 29, 2012, 03:14:20 PM »
saya setuju bahwa kenikan harga BBM akan memicu inflasi.
kenaikan harga BBM dalam negeri memang sulit dihindari karena harga minyak dunia saat ini memang sudah naik. karena jika tidak ada kenaikan harga bbm dalam negeri maka APBN akan timpang (terlalu banyak pengeluaran buat subsidi BBM).

pertanyaan saya bukankah kenaikan harga bbm di pasar internasional ini akan mempengaruhi kurs (menyebabkan kurs Rp anjlok)?

misalnya sekarang kurs 1 US$ = rp 10,000

jika supply US$ konstan (ekspor konstan, tidak ada tambahan utang LN), maka kenaikan BBM akan menyebabkan Rp depresiasi misalnya menjadi

 1 US$ = rp 12,000???


kalo seperti itu kan harga BBM dalam negeri otomatis akan naik lagi.

kecuali rakyat mengurangi konsumsi BBM dan mulai menggunakan energi alternatif

ngomong2 dalam APBN, penerimaan dan pemasukan itu semuanya dalam Rp atau ada US$ nya juga?

kalo yg saya tau miisalnya pemasukan dalam Rp dan US$ digabung jadi satu, bener ga?
« Edit Terakhir: Pebruari 29, 2012, 03:23:36 PM oleh 12 »

Offline topazo

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 538
  • IQ: 21
  • Gender: Pria
  • Topazo Kenni von Ashraldia Nessia
    • Lihat Profil
    • (belum ada isinya)
Re:uang
« Jawab #7 pada: November 25, 2012, 11:35:44 PM »
Menggali Thread yang sudah agak lama... Hanya karena saya ingin berbagi sebuah blog bagus yang mayoritasnya tentang uang dan sistem per uangan ataupun ekonomi dunia...

http://pohonbodhi.blogspot.com/

Blog ini sudah lama ada, namun entah kenapa baru nyangkut di radar saya sekarang...
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Offline Farabi

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 2725
  • IQ: 168
  • Gender: Pria
  • Self-Proclaim Judge. All hail safirot.
    • Lihat Profil
Re:uang
« Jawab #8 pada: Maret 11, 2013, 04:14:04 PM »
Ngomong ngomong soal uang, saya teringat dengan rencana pemotongan nilai rupiah, tapi katanya bukan sanering atau pemotongan nilai rupiah.

Menurut saya, seandainya para ahli ekonomi indonesia atau perencana pemotongan nilai rupiah tidak begitu pandai, yang terjadi inflasi pada nilai rupiah baru sehingga harga harga akhirnya menjadi sama seperti rupiah lama karena setiap mentok tidak punya uang dicetaklah uang baru. Jadi sebetulnya bukan masalah nilai uang harus dipotong atau tidak, tapi pemahaman tentang eknomi dan inflasi itu sendiri yang penting.
Informasi yang aku anggap menarik
http://farabinewsnow.blogspot.com/

Saya Indonesia ASLI.

Offline topazo

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 538
  • IQ: 21
  • Gender: Pria
  • Topazo Kenni von Ashraldia Nessia
    • Lihat Profil
    • (belum ada isinya)
Re:uang
« Jawab #9 pada: Maret 11, 2013, 05:56:04 PM »
Ngomong ngomong soal uang, saya teringat dengan rencana pemotongan nilai rupiah, tapi katanya bukan sanering atau pemotongan nilai rupiah.

Menurut saya, seandainya para ahli ekonomi indonesia atau perencana pemotongan nilai rupiah tidak begitu pandai, yang terjadi inflasi pada nilai rupiah baru sehingga harga harga akhirnya menjadi sama seperti rupiah lama karena setiap mentok tidak punya uang dicetaklah uang baru. Jadi sebetulnya bukan masalah nilai uang harus dipotong atau tidak, tapi pemahaman tentang eknomi dan inflasi itu sendiri yang penting.

Intinya ketegasan dalam kontrol harga, dan pemahaman bahwa redenominasi bukanlah sanering...
Harga 10 rupiah sama aja dengan harga nasi goreng spesial, kalau si Mang Nasgor nakal dan menaikkan harga, ini yang harus ditindak... Toh, secara independent banyak yang sudah melakukan redenominasi, coba liat yang jualan pulsa di jalan2... Gak ada masalah tuh kayaknya...

Offline Farabi

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 2725
  • IQ: 168
  • Gender: Pria
  • Self-Proclaim Judge. All hail safirot.
    • Lihat Profil
Re:uang
« Jawab #10 pada: Maret 12, 2013, 07:51:08 AM »
Intinya ketegasan dalam kontrol harga, dan pemahaman bahwa redenominasi bukanlah sanering...
Harga 10 rupiah sama aja dengan harga nasi goreng spesial, kalau si Mang Nasgor nakal dan menaikkan harga, ini yang harus ditindak... Toh, secara independent banyak yang sudah melakukan redenominasi, coba liat yang jualan pulsa di jalan2... Gak ada masalah tuh kayaknya...



Ya, pedagang HP di kota saya juga sudah menerapkan rencana nilai rupiah baru dengan pemotongan 3 digit angka nol.

Offline Farabi

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 2725
  • IQ: 168
  • Gender: Pria
  • Self-Proclaim Judge. All hail safirot.
    • Lihat Profil
Re:uang
« Jawab #11 pada: Maret 13, 2013, 04:19:20 PM »
Kalau memang yakin tidak akan berdampak apa apa tidak seperti waktu jaman bung karno dulu sih silahkan, tapi saya sangsi kalau tidak ada dampak buruknya.

Offline topazo

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 538
  • IQ: 21
  • Gender: Pria
  • Topazo Kenni von Ashraldia Nessia
    • Lihat Profil
    • (belum ada isinya)
Re:uang
« Jawab #12 pada: Maret 13, 2013, 04:58:51 PM »
Sayangnya, mau gak mau redenominasi akan berdampak... Salah satunya adalah secara psikologis... Masih banyak rakyat Indonesia yang pernah mencicipi sanering Bung Karno, dan mereka meskipun dijelaskan berkali2, tetap takut kejadian tahun 60an dulu terjadi lagi...
Ketakutan ini akan menyebabkan menurunnya kepercayaan terhadap rupiah dan masyarakat mulai membeli barang untuk investasi (emas, atau bahkan nimbun beras..). Penimbunan mengakibatkan kelangkaan barang, dan kelangkaan menyebabkan naiknya harga barang... Inflasi pun terjadi...

Kalau semua Rakyat Indonesia adalah generasi muda yang tidak pernah mencicipi sanering, maka saya rasa redenominasi oke2 saja...

Offline Farabi

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 2725
  • IQ: 168
  • Gender: Pria
  • Self-Proclaim Judge. All hail safirot.
    • Lihat Profil
Re:uang
« Jawab #13 pada: Maret 15, 2013, 09:16:55 AM »
Menurut saya sih daripada redenominasi lebih baik fokus ke export, karena ekspor bisa menguatkan nilai rupiah kalau memang ingin nilai rupiah jadi sedikit lebih berharga. Masalahnya nilai rupiah merosot dikarenakan waktu tahun 1997 rupiah dijadikan berharga sesuai dengan mekanisme pasar, tapi tidak dengan perencanaan matang, akhirnya inflasi pun terjadi.

Kita lihat jepang, dulunya 1 yen itu 4 rupiah, tapi sekarang mnjadi 80 rupiah karena mereka mampu untuk mengekspor barang elektronik, bahkan yuan pun sekarang menguat karena ekspor mereka bagus. Atau mau contoh ekstrim adalah jerman, hanya karena mobil volks wagen jerman yang dulunya inflasinya gila gilaan akhirnya mata uangnya menguat karena ekspor.

Offline topazo

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 538
  • IQ: 21
  • Gender: Pria
  • Topazo Kenni von Ashraldia Nessia
    • Lihat Profil
    • (belum ada isinya)
Re:uang
« Jawab #14 pada: Maret 17, 2013, 07:42:32 AM »
Hehehe, katanya sih alasan redenominasi bukanlah untuk menguatkan nilai rupiah... Tapi hanya sekadar menyederhanakan hitungan agar buku kas tidak penuh dengan angka nol...

Tapi ya begitu, banyak yang tidak percaya alasan ini...

 

Topik Terkait

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
1 Jawaban
4181 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 05, 2008, 03:31:47 PM
oleh syx
8 Jawaban
2445 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 04, 2009, 12:57:03 PM
oleh YONJK
Uang di Forsa

Dimulai oleh biobio « 1 2 » Kotak Saran

29 Jawaban
5251 Dilihat
Tulisan terakhir September 15, 2009, 11:19:26 PM
oleh Sky
7 Jawaban
1597 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 07, 2009, 08:34:23 PM
oleh Nabih
7 Jawaban
2272 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 21, 2011, 01:31:57 PM
oleh Monox D. I-Fly

Copyright © 2006-2011 Forum Sains Indonesia