Solarcell pada awalnya digunakan pada mesin kalkulator, satelit dan pesawat-pesawat luar angkasa.
Prinsip kerjanya sebenarnya cukup sederhana, yaitu memanfaatkan keajaiban sebuah bahan. Salah satunya, dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah
SILIKON. Sebuah bahan yang bukan konduktor, dan bukan pula isolator. Bukan "laki-laki" dan bukan pula "perempuan". Banci dong? Ya begitulah, suatu waktu bisa jadi konduktor, dan lain waktu bisa jadi isolator...! Tapi "banci" di dunia elektronika justru malah membawa manfaat yang jauh lebih baik. Tidak seperti banci di dunia manusia... hehehe....

Sebuah solarcell sebenarnya memanfaatkan keajaiban atom silikon tersebut, dimana ketika dua tipe bahan yang berbeda (
tipe-P dan
tipe-N) direkatkan, maka pada bagian pertemuan kedua bahan tersebut akan terbentuk sebuah lapisan kosong, yang dinamakan
depletion layer, sebuah lapisan yang membuat atom-atom tidak dapat mengalir dari bahan yang satu ke bahan yang lain karena jarak yang harus ditempuh atom tidak memungkinkan sebuah atom untuk meloncat melewati lapisan
depletion layer ini.

Namun, ketika ada sebuah energi dari luar yang cukup besar, maka hal ini dapat merangsang bahan tersebut untuk memberikan energi lebih kepada atom untuk melakukan loncatan melewati lapisan
depletion layer ini. Ketika bahan tipe-P dan bahan tipe-N dapat dilewati atom-atom, maka terbentuklah aliran
elektron dan aliran
hole yang sejatinya kita fahami sebagai gejala
kelistrikan. Nah, energi dari luar itu, salah satunya didapat dari cahaya matahari.

Arus dan tegangan yang dihasilkan oleh solarcell ini tidak begitu besar (umumnya masih dalam satuan mili), tapi bukan berarti tidak mungkin untuk menjadikannya sebagai energi alternatif. Simple saja, gabungkan beberapa puluh atau ratus ribu
solarcell untuk membentuk ladang
photovoltaic, maka se-kampung bisa memanfaatkan listrik yang diperoleh dari cahaya matahari.
Hal ini bukanlah hal yang baru, toh di negara-negara maju seperti Jepang, Jerman, Amerika, Australia, Spanyol, dan negara-negara eropa lainnya telah memanfaatkan teknologi ini. Ups.. lupa denkā¦! di sebagian wilayah Indonesia pun sudah ada yang memanfaatkannya loh. Teman saya bahkan menjadi leader untuk proyek tersebut di daerah terpencil yang belum terjamah listrik.

Kalau kita melihat dari negara-negara yang telah memulai proyek ini. Di Moura Photovoltaic Power Station dibangun ladang solar panel terbesar di dunia dengan target asupan energi sebesar 62 Mwp. Di Serpa Solar Power, Eropa, 150 hektar tanah dibuat area untuk memasang 52.000 panel photovoltaic yang bisa menghasilkan 11 MegaWatt. Di Saxon, Jerman, dapat menghasilkan 40 MegaWatt di area Waldpolenz Solar Park dengan 550.000 unit photovoltaic. Di Spanyol bahkan dibangun ladang photovoltaic di tiga wilayah sekaligus yang rata-rata, 22 MegaWatt. Dan di Australia dengan biaya USD 420 juta dibangun ladang photovoltaic yang bisa mencapai 154MegaWatt di lokasi yang dinamakan Victorian Power Station. Ladang ini bisa memenuhi kebutuhan listrik untuk 45.000 rumah.
Kelebihan dari penggunakan ladang photovoltaic ini diantaranya adalah : bebas polusi, emiso karbon sampai nol persen. Dan jika dibandingkan dengan sumber energi nuklir, maka teknologi photovoltaic masih jauh lebih murah.
Namun, jika dilihat
kelemahannya, maka tentu kita akan berpikir biaya awal yang tentunya sangat mahal (walaupun untuk beberapa tahun kemudian hal ini tentunya memberikan penghematan yang luar biasa). Kelemahan yang lainnya adalah tidak tersedianya energi matahari saat malam, dan sedikit pasokan saat cuaca mendung. Hal ini mengharuskan membuat pula sistem penyimpan daya. Terakhir adalah dibutuhkan
inverter untuk mengkonversi tegangan dari DC ke AC.
Sumber :
http://en.wikipedia.org/wiki/Photovoltaichttp://techno.okezone.com/index.php/ReadStory/2008/05/22/56/111380/56/ladang-panel-surya-mulai-berkembang-secara-globalhttp://science.howstuffworks.com/solar-cell.htm