Berita: Member baru? Bingung? Perlu bantuan? Silakan baca panduan singkat untuk ikut berdiskusi.

Selamat datang, Pengunjung. Silahkan masuk atau mendaftar. Apakah anda lupa aktivasi email?


Masuk dengan nama pengguna, kata sandi dan lama sesi
Dalam ilmu-ilmu sosial dikenal dua pengertian mengenai ideologi, yaitu ideologi secara fungsional dan secara struktural. Ideologi secara fungsional diartikan sebagai seperangkat gagasan tentang kebaikan bersama; atau tentang masyarakat dan negara yang dianggap paling baik, sedangkan ideologi secara struktural diartikan sebagai sistem pembenaran, seperti gagasan dan formula politik atas setiap kebijakan dan tindakan yang diambil oleh penguasa. Menurut pendekatan struktural konflik, kelas yang memiliki sarana produksi materiil dengan sendirinya memiliki sarana produksi mental, seperti gagasan, budaya dan hukum. Gagasan kelas yang berkuasa di manapun dan kapanpun merupakan gagasan yang dominan. Gagasan, budaya, hukum dan sebagainya sadar atau tidak merupakan pembenaran atas kepentingan materiil pihak yang memiliki gagasan yang dominan. Sistem pembenaran ini disebut ideologi.

Dalam bahasa Indonesia, ideologi sering disebut sebagai “dasar negara” atau “falsafah negara”, di Malaysia disebut “rukun negara”. Karena memberikan pengesahan kepada pemerintah, ideologi membenarkan adanya status quo. Tetapi ideologi juga bisa digunakan oleh pihak lainnya (pihak pemberontak, pihak oposisi atau pihak reformasi) guna menyalahkan pemerintahan, menyerang kebijakan pemerintah sampai kepada mengubah status quo. Sekalipun pemerintah bisa menindas warga negaranya dengan menggunakan dalih ”hak ketuhanan raja” atau ”kehendak sejarah”, tetapi pihak lainnya bisa membenarkan tindakan kekerasan mereka dengan bersandar pada prinsip ”hak-hak dasar” atau ”kehendak yang kuasa”. Ideologi yang dianggap sarat dengan kepentingan kelas pekerja bukan tidak bisa digunakan untuk menentang kekuasaan negara borjuis, selain juga untuk mensahkan kekuasaan diktator terhadap kelas pekerja. Ideologi dalam arti fungsional dapat digambarkan secara singkat dengan contoh berikut. Di Amerika Serikat, menjamin keamanan nasional berarti peningkatan produksi persenjataan yang bermakna pula menguntungkan industri-industri senjata. Peningkatan pertumbuhan pertanian berarti peningkatan produksi pupuk dan bahan kimia yang lain, yang berarti menguntungkan industri-industri pupuk dan bahan kimia. Demi stabilitas nasional di negara-negara berkembang acap kali berarti mengurangi kebebasan politik warga negara. Ideologi dalam arti fungsional digolongkan secara tipologi dengan dua tipe, yakni ideologi yang doktriner dan ideologi yang pragmatis.

Suatu ideologi dapat digolongkan doktriner apabila ajaran-ajaran yang terkandung dalam ideologi itu dirumuskan secara sistematis dan terinci dengan jelas, diindoktrinasikan kepada warga masyarakat, dan pelaksanaannya diawasi secara ketat oleh aparat partai atau aparat pemerintah. Biasanya sistem nilai atau ideologi yang diperkenankan hidup dalam masyarakat seperti ini hanyalah ideologi yang doktriner tersebut. Akan tetapi, apabila ajaran-ajaran yang terkandung dalam ideologi tersebut tidak dirumuskan secara sistematis dan terinci, melainkan dirumuskan secara umum (prinsip-prinsipnya saja) maka ideologi tersebut digolongkan sebagai ideologi pragmatis. Dalam hal ini, ideologi itu tidak diindoktrinasikan, tetapi disosialisasikan secara fungsional melalui kehidupan keluarga, sistem pendidikan, sistem ekonomi, kehidupan agama dan sistem politik. Atas dasar itu, pelaksanaannya tidak diawasi oleh aparat partai atau pemerintah, melainkan dengan pengaturan kelembagaan. Maksudnya, siapa saja yang tidak menyesuaikan diri dengan nilai-nilai yang terkandung dalam ideologi tidak akan hidup secara wajar. Liberalisme merupakan salah satu contoh ideologi pragmatis. Biasanya tidak satu ideologi saja yang diperkenankan berkembang dalam masyarakat ini, tetapi ada satu yang dominan.

Liberalisme sebagai suatu ideologi pragmatis muncul pada abad pertengahan di kalangan masyarakat Eropa. Masyarakat Eropa pada saat itu secara garis besar terbagi atas dua, yakni kaum aristokrat dan para petani. Kaum aristokrat diperkenankan untuk memiliki tanah, golongan feodal ini pula yang menguasai proses politik dan ekonomi, sedangkan para petani berkedudukan sebagai penggarap tanah yang dimiliki oleh patronnya, yang harus membayar pajak dan menyumbangkan tenaga bagi sang patron. Bahkan di beberapa tempat di Eropa, para petani tidak diperkenankan pindah ke tempat lain yang dikehendaki tanpa persetujuan sang patron (bangsawan). Akibatnya, mereka tidak lebih sebagai milik pribadi sang patron. Sebaliknya, kesejahteraan para penggarap itu seharusnya ditanggung oleh sang patron. Industri dikelola dalam bentuk gilde-gilde yang mengatur secara ketat, bagaimana suatu barang diproduksi, berapa jumlah dan distribusinya. Kegiatan itu dimonopoli oleh kaum aristokrat. Maksudnya, pemilikan tanah oleh kaum bangsawan, hak-hak istimewa gereja, peranan politik raja dan kaum bangsawan, dan kekuasaan gilde-gilde dalam ekonomi merupakan bentuk-bentuk dominasi yang melembaga atas individu. Dalam konteks perkembangan masyarakat itu muncul industri dan perdagangan dalam skala besar, setelah ditemukan beberapa teknologi baru. Untuk mengelola industri dan perdagangan dalam skala besar-besaran ini jelas diperlukan buruh yang bebas dan dalam jumlah yang banyak, ruang gerak yang leluasa, mobilitas yang tinggi dan kebebasan berkreasi. Kebutuhan-kebutuhan baru itu terbentur pada aturan-aturan yang diberlakukan secara melembaga oleh golongan feodal. Yang membantu golongan ekonomi baru terlepas dari kesukaran itu ialah munculnya paham liberal.

Liberalisme tidak diciptakan oleh golongan pedagang dan industri, melainkan diciptakan oleh golongan intelektual yang digerakkan oleh keresahan ilmiah dan artistik umum pada zaman itu. Keresahan intelektual tersebut disambut oleh golongan pedagang dan industri, bahkan hal itu digunakan untuk membenarkan tuntutan politik yang membatasi kekuasaan bangsawan, gereja dan gilde-gilde. Mereka tidak bertujuan semata-mata untuk dapat menjalankan kegiatan ekonomi secara bebas, tetapi juga mencari keuntungan yang sebesar-besarnya. Masyarakat yang terbaik (rezim terbaik), menurut paham liberal adalah yang memungkinkan individu mengembangkan kemampuan-kemampuan individu sepenuhnya. Dalam masyarakat yang baik, semua individu harus dapat mengembangkan pikiran dan bakat-bakatnya. Hal ini mengharuskan para individu untuk bertanggung jawab pada segala tindakannya baik itu merupakan sesuatu untuknya atau seseorang. Seseorang yang bertindak atas tanggung jawab sendiri dapat mengembangkan kemampuan bertindak. Menurut asumsi liberalisme inilah, John Stuart Mill mengajukan argumen yang lebih mendukung pemerintahan berdasarkan demokrasi liberal. Dia mengemukakan tujuan utama politik ialah mendorong setiap anggota masyarakat untuk bertanggung jawab dan menjadi dewasa. Hal ini hanya dapat terjadi manakalah mereka ikut serta dalam pembuatan keputusan yang menyangkut hidup mereka. Oleh karena itu, walaupun seorang raja yang bijaksana dan baik hati, mungkin dapat membuat putusan yang lebih baik atas nama rakyat dari pada rakyat itu sendiri, bagaimana pun juga demokrasi jauh lebih baik karena dalam demokrasi rakyat membuat sendiri keputusan bagi diri mereka, terlepas dari baik buruknya keputusan tersebut. Jadi, ciri-ciri ideologi liberal sebagai berikut :

  • Pertama, demokrasi merupakan bentuk pemerintahan yang lebih baik.
  • Kedua, anggota masyarakat memiliki kebebasan intelektual penuh, termasuk kebebasan berbicara, kebebasan beragama dan kebebasan pers.
  • Ketiga, pemerintah hanya mengatur kehidupan masyarakat secara terbatas. Keputusan yang dibuat hanya sedikit untuk rakyat sehingga rakyat dapat belajar membuat keputusan untuk diri sendiri.
  • Keempat, kekuasaan dari seseorang terhadap orang lain merupakan hal yang buruk. Oleh karena itu, pemerintahan dijalankan sedemikian rupa sehingga penyalahgunaan kekuasaan dapat dicegah. Pendek kata, kekuasaan dicurigai sebagai hal yang cenderung disalahgunakan, dan karena itu, sejauh mungkin dibatasi.
  • Kelima, suatu masyarakat dikatakan berbahagia apabila setiap individu atau sebagian besar individu berbahagia. Walau masyarakat secara keseluruhan berbahagia, kebahagian sebagian besar individu belum tentu maksimal. Dengan demikian, kebaikan suatu masyarakat atau rezim diukur dari seberapa tinggi indivivu berhasil mengembangkan kemampuan-kemampuan dan bakat-bakatnya. Ideologi liberalisme ini dianut di Inggris dan koloni-koloninya termasuk Amerika Serikat.


Referensi :
  • Rudi, M. 2003. Pengantar Ilmu Politik
  • Surbakti, R. 1992. Memahami Ilmu Politik.

Artikel SosPol Lainnya

Tanggapan *

1) Re: Liberalisme sebagai Ideologi Pragmatis
oleh peregrin pada Oktober 31, 2007, 04:55:45 PM
wah tulisan yg menarik :) tumben FS ada artikel beginian ;) ... boleh nanya ya? sejarahnya demokrasi sendiri gimana? di paragraph terakhir itu kan demokrasi sepertinya dihubungkan dg liberalisme, jelasnya bagaimana itu?

ditunggu ya artikel selanjutnya ;)

2) Re: Liberalisme sebagai Ideologi Pragmatis
oleh N E R R O pada November 03, 2007, 08:23:11 PM
untuk lebih jelasnya tlg simak artikel sy selanjutnya mengenai demokrasi...kalo mengenai demokrasi dlm hubungannya dengan liberalisme masih banyak kesimpang siuran..ada yang mengatakan kedua-duanya merupakan ideologi..ada juga sumber yg menyiratkan bahwa liberalisme sebagai ideologi dan demokrasi sebagai bentuk atau sistem pengaturan kekuasaannya atau sistem pemerintahannya...kalo sy analogikan mungkin seperti ini : ideologi merupakan ruh (jiwa) sedangkan demokrasi merupakan raganya (lahiriah)...
setuju dengan yang sy jelaskan atau tidak...semuanya sy serahkan pada anda...
karena perbedaan lah yang membuat kita kritis.......

3) Re: Liberalisme sebagai Ideologi Pragmatis
oleh 0 pada November 25, 2007, 04:08:48 PM
Liberalisme juga adalah perosak kerana inti liberalisme adalah matlamat menghalalkan cara. Misalnya kita lihat contoh kecil dalam kehidupan. Mamat kepingin makan buah mempelam lantas mengambil tanpa izin tuan pokok mempelam jadi tentu akan menimbulkan perselingkuhan.

4) Re: Liberalisme sebagai Ideologi Pragmatis
oleh 0 pada November 26, 2007, 08:33:36 AM
saya tidak begitu paham dengan libralisme ini, tapi yang saya liat akibat ola pikir ini adalah..

5) Re: Liberalisme sebagai Ideologi Pragmatis
oleh peregrin pada November 29, 2007, 12:51:54 AM
Siapa bilang inti liberalisme adalah penghalalkan segala cara? Justru salah satu komponen penting dr liberalisme adalah "rule of law", di mana setiap orang berkedudukan sama di mata hukum, dan tidak ada seorang pun yg lebih tinggi / berkuasa dari hukum. "Rule of law" ini antara lain juga membuat satu system yg bisa mencegah terjadinya satu kekuasaan yang absolut dan semena-mena.

6) Re: Liberalisme sebagai Ideologi Pragmatis
oleh N E R R O pada Desember 05, 2007, 02:19:21 PM
Sederhananya inti liberalisme itu semacam bentuk kebebasan yang bertanggungjawab...

7) Re: Liberalisme sebagai Ideologi Pragmatis
oleh 0 pada Januari 22, 2008, 05:01:59 PM
saya kira, idoelogi liberalisme memiliki turunan ideologi , yaitu kapitalisme, yang diindoktrinasikan pada masyarakat. Kapitalisme ini yang lebih bersifat operasional. demokrasi-liberalisme-kapitalisme adalah satu paket. pada kenyataannya saat ini bukan rakyat (secara umum) yang membuat mengatur dirinya, namun sekumpulan individu yang berkuasa yang melakukan itu. Hal ini bisa dilihat pada negara-negara pengemban ideologi tersebut (AS, Inggris, dan sekutu2nya), para kapitalis praktis menguasai hajat hidup orang banyak. Pengelola negara merupakan kepanjangan tangan / bagian dari korporasi (kumpulan kapitalis), sehingga saat ini adanya korpotrasi. yang menjadikan rakyat banyak sebagai bagian dari kapital

kebebasan yang bertanggung jawab ala liberalisme tidak melihat kebaikan secara keseluruhan sebagai kebaikan. suara sebagian besar (yang belum tentu benar) menjadi hukum yang berlaku. batas-batas yang besar (maksimasi) dari kebebasan individu bisa jadi merugikan kebebasan secara umum , dalam skala luas. contohnya, kebebasan warga AS untuk mengexploitasi sumberdaya produksi menjadikan AS sebagai negara produsen polusi terbesar didunia. siapa yang merasakan dampaknya ? warga miskin di afrika yang terkena pemanasan global, tanpa sempat menikmati hasil2 kapitalisme AS. jangan kira kita tidak menerima dampaknya.

tanggungjawab yang ada dalam kebebasan, adalah tanggungjawab sebatas yang disukai, dimaui, bukan yang baik tuk semua.

membiarkan manusia yang serba terbatas begitusaja untuk membuat peraturan, akan memangsa manusia yang lemah.......

8) Liberalisme sebagai Ideologi Pragmatis
oleh 0 pada Maret 20, 2008, 03:29:29 PM
Liberalisme, sebagaimana ideologi yang lain, sebaiknya kita lihat sebagai tawaran filsafat politik. Sehingga liberalisme dapat ditinjau dan secara obyektif. Jika liberalisme, sebagaimana ideologi yang lain, dijadikan alat memanipulasi kesadaran, dia akan menemukan kesudahannya.

Menarik sekali membicarakan liberalisme, sebab selalu ada hasrat kebebasan pada diri tiap orang. Biasanya hasrat itu diredam oleh hal-hal yang supranatural dan adikodrati. Maka liberalisme dan humanisme biasanya berseberangan dengan tuhanisme dan surgaisme. Liberalisme menawarkan rasionalitas untuk mengupayakan kehidupan yang lebih baik di dunia ini. Sementara tuhanisme menawarkan kemahakuasaan tuhan untuk hidup yang kekal di surga.

Di sini yang agak susah. Apakah kita akan memperlakukan agama, sebagaimana ideologi lain, sebagai filsafat politik yang harus diuji secara kritis? Ataukah kita memberikan perkecualian, karena ketakutan kita akan masa depan setelah kematian, yang tidak pasti?

9) Re: Liberalisme sebagai Ideologi Pragmatis
oleh bupunsu pada Juni 18, 2008, 01:26:56 PM
Demokrasi itu (dalam arti sempit pemilu) sangat boros, tidak ekonomis, tidak cocok untuk negara yang krisis,m seperti indonesia yang banyak hutangnya. Bayangkan, anggaran pemilu saja lebih dari Rp 5 trilyun.
Liberalisme saat ini banyak salah kaprah, kebebasan yang dicari apakah kebebasan fisik (bisa jungkir balik semaunya sendiri, kencing di kasur, ngebut di jalan raya, kampanye dengan motor tanpa kenalpoft sehingga membuat kuping orang lain sakit, telanjang di tengah jalan dsb) , ataukah kebebasan psikologis (tidak terlalu tergantung pada pihak lain, mandiri, biar miskin materi tetapi tidak diperkuda, tenang, rumah tangga tidak ribut karena tertib dsb.). Ideologi liberalisme sudah tidak cocok di masyarakat, cococknya di tengah hutan, dimana tidak ada manusia lain. jadi liberalisme itu bagus untuk .. tarzan.

10) Re: Liberalisme sebagai Ideologi Pragmatis
oleh gemayel paulus aruan pada Juli 08, 2008, 09:59:02 AM
Kebebasan yang dianut rakyat Indonesia saat ini adalah dampak dari Pengekangan Rezim Otoriter. So, apapun yang terjadi saat ini menjadi WAJAR.

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan tanggapan.