Forum Sains Indonesia

Portal Sains Indonesia

Berita:
* *
Selamat datang, Pengunjung. Silahkan masuk atau mendaftar.
Lupa email aktivasi Anda?
Januari 08, 2009, 03:25:51


Masuk dengan nama pengguna, kata sandi dan lama sesi


Selamat datang, Pengunjung. Silahkan masuk atau mendaftar.
Lupa email aktivasi Anda?
Januari 08, 2009, 03:25:51

Masuk dengan nama pengguna, kata sandi dan lama sesi
Last 10 Shouts:
Hari ini at 12:26:12
ampun.. kapan gw lulus..!!!
Kemarin at 01:39:47
[tex]e6x=lim_{n\to\infty}

Kemarin at 10:13:59
Lewat ah nyengir
Kemarin at 08:46:27
wah, bnyak anggota baru ya.... buat topik di "Perkenalan" aja...
Kemarin at 01:05:59
aslmkm...
wew, ni dya misteri bilangan 0....
lucu jja yach.
Mksh yo...
waslmkm.
Januari 06, 2009, 06:30:25
hai maat knl ya aq baru masuk jadi member nih.senang ya bisa gabung
Januari 06, 2009, 06:25:05
emg om syx br tau kl biobio msh sma?he3
Januari 06, 2009, 06:25:04
emg om syx br tau kl biobio msh sma?he3
Januari 06, 2009, 04:59:39
Hai all.. Dah lama gak mampir ke sini nih. Banyak PR euy...
Januari 06, 2009, 04:44:05
ad yg bisa bantu buat bahas ttg koloid ga?
Halaman: [1]   Turun
Kirim topik ini | Cetak
Pembuat Topik: cerpen : bersinarlah matahariku  (Baca 304 kali)
0 Anggota dan 1 Pengunjung melihat topik ini.
dongker
Asisten Dosen
***

IQ: 23
Offline Offline

Gender: Pria
Tulisan: 53


this is 4 u


Lihat Profil
« pada: Oktober 21, 2008, 03:00:22 »

�Sini, Pak! Sini..,� kuminta suamiku duduk mendekat agar kami tidak ketetesan air hujan. Petang ini, kami sedang berada di terminal kampung Rambutan. Sebuah terminal yang sudah tidak asing lagi di pendengaran kita. Terminal yang bisa dibilang begitu �� kumuh!! Tapi dibalik semua itu harus diakui bahwa ratusan keluarga menggantungkan hidupnya di sana.

Kunikmati sesendok demi sesendok lontong kari dihadapanku. Kulihat suamiku pun demikian, sangat menikmati tahu campur kesukaannya. Tiba-tiba mataku tertumbuk pada pemandangan unik didepanku. Si Ibu penjual tahu campur sedang tidur mengeloni anaknya, bocah laki-laki berumur lebih kurang 3 tahunan. Seringkali tetesan air hujan jatuh tepat di dahinya. Si ibu yang begitu cepat tertidur pulas, tak tahu kalau air hujan nakal itu telah mengganggu buah hatinya.

Aku langsung teringat pada Karim, putra kami. Dalam keadaan seperti itu si Ibu masih tetap dapat mendampingi putranya, sementara aku? �Sekarang dia sedang apa ya, Pak?� tanyaku mengejutkan suamiku. �Siapa? Karim?� tebak suamiku yakin. �Kenapa, Ibu ingat dia? Sabar, ya Bu. Dia pasti juga ingat Ibu,� hiburnya, membuatku tak bisa menahan air mata. �Pak, Ibu kangen dia,� ujarku lirih. Untuk pertama kalinya kutinggal anakku sendiri di Bandung, hanya ditemani pengasuhnya. Kami harus datang ke kota metropolitan ini, demi karirku. Dan suamiku rela cuti, hanya untuk mengantarku. �Tidak baik Ibu pergi sendiri, walaupun untuk urusan kerja. Biarlah besok Bapak antar. Bapak masih punya jatah cuti, kok!� kata-kata suamiku tadi malam masih terngiang-ngiang di telingaku. Allah�terangilah selalu hati hamba-Mu ini agar bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Agar keegosian hati tidak menjebak hamba.

Kembali kulihat ibu dan anak yang sekarang masih tertidur pulas. Hujan sudah mulai reda. Kami berniat segera pulang. Jam telah menunjukkan pukul tujuh malam. �Sudah, Pak,�kataku pada Bapak yang menunggu kaki lima ini, mungkin suami si Ibu. �Maaakk! Udah tuh!� teriakannya mengagetkan si Ibu. Cepat-cepat Si Ibu bangun dan mengatakan harga dua piring dan dua gelas yang telah kami habiskan. Si kecil pun ikut terbangun. Sambil duduk dia balik memainkan air hujan yang menggenang di dekatnya. Dasar anak-anak. Sepertinya mereka tidak peduli dan bahkan tidak pernah menuntut kehidupan yang lebih baik dari yang sedang mereka jalani. Apapun yang terjadi pada mereka� bagaimana pun kondisi mereka� mereka akan selalu menikmatinya. Setelah kubayar jumlah yang disebutkan, kami pun beranjak pergi.

Setengah berlari, kami menuju tempat bus antar propinsi dan berebut dengan penumpang lainnya. Bus Patas AC ini tak enghilangkan penat yang kami rasakan. Belum lagi rasa bersalah yang memenuhi dadaku. Sengaja atau tidak aku telah memaksa suamiku meninggalkan tumpukan tugas kantornya. Juga telah menelantarkan anakku�membiarkannya semalam bersama orang lain. Tanpa suara lantunan ayat suci dan dendangan sholawatku yang biasa mengantar tidurnya. �Maafkan Ibu, Pak,� ucapku sambil bersandar di pundak suamiku disambut dengan elusan tangannya di punggung tanganku. Selanjutnya, kubaca Al Fatihah dan kukirim khusus buat buah hatiku�sekedar mengurangi rasa bersalah ini.

Kami tiba di rumah pukul satu tepat. Karim sudah pulas�sendirian. Wajah tanpa dosanya membuat air mataku kembali deras mengalir. Maafkan Ibu, Sayang. Kucium dahi bocahku. Besok, Insya Allah tepat sebelas bulan usianya. Dan sampai hari ini aku masih tetap sibuk, bukan mengurusnya tapi mengurus pekerjaanku, mengejar karirku. Allahu robbi.

�Selamat, Mbak Fati. Saya dengar presentasi Mbak kemarin sukses!� sambut Ine, teman seruanganku membuatku terkejut. �Maaf, Ne. Saya terlambat. Si Adek (panggilanku untuk Karim) tidurnya pulas. Baru bangun jam tujuh tadi, jadi Saya menunggunya. Maklum, kemarin kan tidak ketemu seharian. Saya kangen, eui!� kataku sambil tersenyum. �Pak Bos sepertinya paham kok, Mbak. Barusan, rekanan kita yang di Jakarta telpon pada beliau dan mengatakan bahwa presentasi Mbak membuat mereka tertarik. Hasilnya, order dalam jumlah besar dan dalam waktu dekat!!� kata Ine berapi-api. �Pesan Direktur, begitu sampai Mbak diharap segera menghadap. Sepertinya Beliau ingin menyampaikan selamat secara langsung pada Mbak,� lanjutnya.

Sekarang, sudah tiga bulan sejak peristiwa itu. Aku masih berkutat dengan pekerjaanku yang dinilai cukup sukses oleh tim manajemen. Kemarin, Direktur memanggilku. Aku dipromosikan untuk sebuah jabatan baru. Imbalan yang ditawarkan cukup memikat. Bahkan kalau boleh jujur, jauh lebih tinggi dari gaji suamiku. Sebuah tawaran yang sempat membuatku bimbang. Dan aku minta waktu dua hari untuk memikirkannya. �Terima saja, Fati. Dengan gaji sebesar itu, impian kalian akan segera terwujud. Rumah.. bahkan mobil mewah!! Putramu akan menjadi anak orang kaya. Segala yang dimintanya dapat kalian penuhi dengan segera. Kalian bisa pergi berlibur, bahkan ke luar negeri!! Dan yang pasti, kamu juga dapat membantu suamimu meringankan bebannya. Ayo, Fati. Kesempatan tidak datang dua kali. Ambil kesempatan ini atau kalian tetap akan seperti sekarang?� �Jangan Nurul. Uang belum tentu menjamin kebahagiaan. Bisa jadi kamu akan semakin sering menelantarkan keluargamu. Membiarkan mereka tanpa kehadiranmu. Dan putramu hanya akan terpenuhi kebutuhan materinya saja. Sementara, kasih sayang seorang Ibu yang dia butuhkan sulit kamu penuhi. Kamu mungkin hanya bisa membelikan tanpa pernah mengetahui kapan dia memakainya. Yang paling menyedihkan adalah jika kemudian dia menjadi lebih dekat dengan pengasuhnya daripada dengan ibunya.� Batinku mulai berperang. Ya Allah, Bantu hamba memutuskan yang terbaik. Berilah hamba petunjuk dan hidayah-Mu, Robbi.

Tak terasa hari ini adalah deadline dimana aku harus memberikan jawaban pada Direkturku. Pagi ini seperti biasa kami berangkat berdua. Karim melambaikan tangannya saat kami tinggal tadi. Oh, matahariku. Bersinarlah terus Sayang�Ibu ingin selalu melihat sinarmu dalam setiap helaan nafas Ibu.

�Karim, sini Nak. Ibu bacakan ceritanya. Karim mau cerita yang mana?� �Ni�.,�katanya sambil menunjuk salah satu cerita dari buku serial Anak Muslim: kisah sebuah tong sampah. Mulailah aku bercerita lengkap dengan mimik wajah yang sangat disukainya. Bahkan kadang dia menirukan caraku bercerita saat menceritakan kembali kisah tersebut ke teman bermainnya. Allah..Subhannallah. Senyumku mengembang, senyum yang tak pernah kurasakan ketika aku masih sibuk dengan pekerjaanku enam bulan yang lalu.

Memang, aku memutuskan untuk berhenti bekerja. Sebuah keputusan yang disesalkan banyak pihak terutama di tempat aku bekerja. Namun sekaligus sangat menggembirakan keluargaku. �Alhamdulillah, Bapak bangga pada Ibu. Saat di puncak karir, Ibu rela melepaskannya demi keluarga. Bapak memang tidak salah memilih pendamping hidup dan Ibu dari anak-anak kita. Alhamdulillah,� kata-kata suamiku masih cukup melekat dibenakku saat aku ungkapkan keputusanku, pada malam sebelum aku menghadap direkturku. �Iya Pak. Ibu iri pada Ibu pedagang kaki lima di terminal kampung rambutan waktu itu, yang bisa terus bersama putranya. Sementara Ibu hanya bisa memberikan materi untuk Karim. Padahal kita berdua sangat paham bahwa waktu bersama orang tua adalah saat yang penting bagi perkembangan anak kita,� sahutku waktu itu. Alhamdulillah, sekarang aku di rumah. Menunggu suamiku pulang dari kerjanya sambil menjaga butik kecil yang kurintis enam bulan lalu. Sementara Karim terlelap setelah mendengar ceritaku. Subhannallah..Alhamdulillah, Ya Allah. Kau tunjukkan pada hamba jalan ini, gumamku sambil berjalan menuju tempat tidur bocah kecilku.
Masuk
violin
Dosen
****

IQ: 34
Offline Offline

Gender: Wanita
Tulisan: 175



Lihat Profil
« Jawab #1 pada: Oktober 29, 2008, 11:04:48 »

Itu cerpennya hasil karya dongker sendiri yapzzz??

Bagus lho,..
Masuk
Halaman: [1]   Naik
Kirim topik ini | Cetak
Lompat ke:  

Topik Lainnya :
Subyek Dimulai oleh Jawaban Dilihat Tulisan terahkir
Konferensi Penulis Cilik Indonesia 2008 peregrin 1 702 Tulisan terahkir Juli 08, 2008, 01:16:56
oleh izumi
Nonton film bareng tuna netra - Goethe Inst. 12-13 Juni 2007 peregrin 4 1397 Tulisan terahkir Mei 02, 2008, 05:34:30
oleh peregrin
Sheeple : sheep + people reborn 6 1271 Tulisan terahkir Juli 17, 2008, 06:03:07
oleh peregrin
romeo dan juliet « 1 2 3 4 » peregrin 51 5686 Tulisan terahkir Agustus 24, 2008, 10:27:18
oleh L
The Last Question By Isaac Asimov reborn 4 6367 Tulisan terahkir Desember 19, 2008, 09:49:51
oleh kuncungs
Powered by SMF 1.1.6 | SMF © 2006-2008, Simple Machines LLC
RSS | Sitemap | Science Directory | Science Blog


© 2006-2008 ForumSains.com
Dilber MC Theme by HarzeM