Forum Sains Indonesia

Portal Sains Indonesia

Berita:
* *
Selamat datang, Pengunjung. Silahkan masuk atau mendaftar.
Lupa email aktivasi Anda?
Januari 08, 2009, 07:27:12


Masuk dengan nama pengguna, kata sandi dan lama sesi


Selamat datang, Pengunjung. Silahkan masuk atau mendaftar.
Lupa email aktivasi Anda?
Januari 08, 2009, 07:27:12

Masuk dengan nama pengguna, kata sandi dan lama sesi
Last 10 Shouts:
Hari ini at 12:26:12
ampun.. kapan gw lulus..!!!
Kemarin at 01:39:47
[tex]e6x=lim_{n\to\infty}

Kemarin at 10:13:59
Lewat ah nyengir
Kemarin at 08:46:27
wah, bnyak anggota baru ya.... buat topik di "Perkenalan" aja...
Kemarin at 01:05:59
aslmkm...
wew, ni dya misteri bilangan 0....
lucu jja yach.
Mksh yo...
waslmkm.
Januari 06, 2009, 06:30:25
hai maat knl ya aq baru masuk jadi member nih.senang ya bisa gabung
Januari 06, 2009, 06:25:05
emg om syx br tau kl biobio msh sma?he3
Januari 06, 2009, 06:25:04
emg om syx br tau kl biobio msh sma?he3
Januari 06, 2009, 04:59:39
Hai all.. Dah lama gak mampir ke sini nih. Banyak PR euy...
Januari 06, 2009, 04:44:05
ad yg bisa bantu buat bahas ttg koloid ga?
Halaman: [1]   Turun
Kirim topik ini | Cetak
Pembuat Topik: MALL  (Baca 1906 kali)
0 Anggota dan 1 Pengunjung melihat topik ini.
peregrin
Global Moderator
Profesor
*****

IQ: 53
Offline Offline

Gender: Wanita
Tulisan: 576


'truth' is a lonely thing (J.Gaarder)


Lihat Profil Email
« pada: Mei 18, 2007, 10:55:42 »

dari catatan pinggir GM: http://caping.wordpress.com/2007/05/07/mall/


MALL

JIKA tuan berdiri di salah satu sudut Senayan City, tuan akan tahu bagaimana malam berubah sebagaimana juga dunia berubah. Di ruangan yang luas dan disejukkan pengatur udara, cahaya listrik tak pernah putus. Iklan dalam gambar senantiasa bergerak, bunyi musik menyusup lewat ratusan iPod ke bagian diri yang paling privat, dan lorong-lorong longgar itu memajang bermeter-meter etalase dengan busana dan boga.

Sepuluh–bukan, lima–tahun yang lalu, malam tidak seperti ini. Juga dunia, juga kenikmatan dan kegawatannya.

Hari itu saya duduk minum kopi di salah satu kafe di salah satu mall di Jakarta, dan tiba-tiba saya merasa bodoh: saya tak tahu berapa mega-kilowatt listrik dikerahkan untuk membangun kenikmatan yang tersaji buat saya hari itu. Saya merasa bodoh, ketika saya ingat, pada suatu hari di Tokyo, di tepi jalan yang meriah di Ginza, teman saya, seorang arsitek Jepang, menunjukkan kepada saya mesin jajanan yang menawarkan Coca-Cola dan kripik kentang. “Tahukah Tuan,” tanyanya, “jumlah tenaga listrik yang dipakai oleh mesin jenis ini di seluruh Jepang?”

Saya menggeleng, dan ia menjawab, “Jumlahnya lebih besar ketimbang jumlah tenaga listrik yang tersedia buat seluruh Bangladesh.”

Ia berbicara tentang ketimpangan, tentu. Ia ingin saya membayangkan rumah-rumah sakit yang harus menyelamatkan nyawa manusia di sebuah negeri miskin yang ternyata tak punya daya sebanyak 10 buah mesin jajanan di negeri kaya–mesin yang menawarkan sesuatu yang sebetulnya tak perlu bagi hidup manusia.

Saya merasa bodoh, mungkin juga merasa salah. Seandainya bisa saya hitung berapa kilowatt energi yang ditelan oleh sebuah mall di Jakarta, di mana saya duduk minum kopi dengan tenang, mungkin saya akan tahu seberapa timpang jumlah itu dibandingkan dengan seluruh tenaga listrik buat sebuah kabupaten nun di pedalaman Flores.

Tapi tak hanya itu sebenarnya. Kini banyak orang tahu, ketimpangan seperti itu hanya satu fakta yang gawat dan menyakitkan. Ada fakta lain: kelak ada sesuatu yang justru tak timpang, sesuatu yang sama: sakit dan kematian.

Konsumsi energi berbeda jauh antara di kalangan yang kaya dan kalangan miskin, tapi bumi yang dikuras adalah bumi yang satu, dan ozon yang rusak karena polusi ada di atas bumi yang satu, dengan akibat yang juga mengenai tubuh siapa saja–termasuk mereka yang tak pernah minum kopi dalam mall, di sudut miskin di Flores atau Bangladesh, orang-orang yang justru tak ikut mengotori cuaca dan mengubah iklim dunia.

Dengan kata lain, tak ada pemerataan kenikmatan dan keserakahan, tapi ada pemerataan dalam hal penyakit kanker kulit yang akan menyerang dan air laut yang menelan pulau ketika bumi memanas dan kutub mencair. Orang India, yang rata-rata hanya mengkonsumsi energi 0,5 kW, akan mengalami bencana yang sama dengan orang Amerika, yang rata-rata menghabisi 11,4 kW.

“Saya tak lagi berpikir tentang keadilan dunia,” kata teman Jepang itu pula, “terlalu sulit, terlalu sulit.”

Beberapa tahun kemudian ia meninggalkan negerinya. Saya dengar ia hidup di sebuah dusun di negeri di Amerika Latin, membuat sebuah usaha kecil dengan mengajak penduduk menghasilkan sabun yang bukan jenis detergen, mencoba menanam sayuran organik sehingga tak banyak bahan kimia yang ditelan dan dimuntahkan–tapi kata-katanya masih terngiang-ngiang, “terlalu sulit, terlalu sulit.”

Mungkin memang terlalu sulit untuk menyelamatkan dunia. Saya baca hitungan itu: dalam catatan tahun 2002, emisi karbon dioksida dari seluruh Amerika Serikat mencapai 24% lebih dari seluruh emisi di dunia, sedangkan dari Vanuatu hanya 0,1%, tapi naiknya permukaan laut di masa depan akibat cairnya es di kutub utara mungkin akan menenggelamkan negeri di Lautan Teduh itu–dan tak menenggelamkan Amerika.

Ingin benar saya tak memikirkan ketidakadilan dunia, tapi manusia juga menghadapi ketidakadilan antargenerasi. Mereka yang kini berumur di atas 50 tahun pasti telah lama menikmati segala hal yang dibuat lancar oleh bensin, batu bara, dan tenaga nuklir. Tapi mungkin sekali mereka tak akan mengalami kesengsaraan masa depan yang akan dialami mereka yang kini berumur 5 tahun. Dalam 25 tahun mendatang, kata seorang pakar, emisi C02 yang akan datang dari Cina bakal dua kali lipat emisi dari seluruh wilayah Amerika, Kanada, Eropa, Jepang, Australia, Selandia Baru. Apa yang akan terjadi dengan bumi bagi anakcucu kita?

“Terlalu sulit, terlalu sulit,” kata teman Jepang itu.

Ekonomi tumbuh karena dunia didorong keinginan hidup yang lebih layak. “Lebih layak” adalah sesuatu yang kini dikenyam dan sekaligus diperlihatkan mereka yang kaya. Kini satu miliar orang Cina dan satu miliar orang India memandang mobil, televisi, lemari es, mungkin juga baju Polo Ralph Lauren dan parium Givenchy sebagai indikator kelayakan, tapi kelak, benda-benda seperti itu mungkin berubah artinya. Jika 30% dari orang Cina dan India berangsur-angsur mencapai tingkat itu seperempat abad lagi, ada ratusan juta manusia yang selama perjalanan seperempat abad nanti akan memuntahkan segala hal yang membuat langit kotor dan bumi retak. Seperempat abad lagi, suhu bumi akan begitu panas, jalan akan begitu sesak, dan mungkin mobil, lemari es, baju bermerek, dan perjalanan tamasya hanya akan jadi benda yang sia-sia.

Mungkin orang harus hidup seperti di surga. Konon, di surga segala sesuatu yang kita hasratkan akan langsung terpenuhi. Itu berarti, tak akan ada lagi hasrat. Atau hasrat jadi sesuatu yang tak relevan; ia tak membuat hidup mengejar sesuatu yang akhirnya sia-sia.

Tapi akankah saya mau, seperti teman Jepang itu, pergi ke sebuah dusun di mana tak ada mall, tak ada bujukan untuk membeli, dan hidup hampir seperti seorang rahib? Di mall itu, saya melihat ke sekitar. Terlalu sulit, terlalu sulit, pikir saya.

~Majalah Tempo Edisi Edisi. 10/XXXIIIIIII/07 - 13 Mei 2007~
Masuk

In the future the world shall not be classified into developed, developing and underdeveloped countries.
But we shall put them into smart, smarter and smartest countries. - (Sir John Rose)


The price good men pay for indifference to public affairs is to be ruled by evil men - (Plato)
reborn
Founder
Profesor
*****

IQ: 153
Offline Offline

Gender: Pria
Tulisan: 2440


ForSa


Lihat Profil WWW
« Jawab #1 pada: Mei 20, 2007, 12:55:50 »

Refleksi yang bener-bener dalam maknanya. Gw sempet bengong pas baca tulisan ini. Banyak yang bisa jadi bahan renungan dari sini nih. Misalnya gw keinget obrolan sama salah satu orang yang gw kagumin. Dia bilang manusia itu angkuh. Merasa harus memelihara bumi dan lingkungan tempat dia tinggal. Merasa dibutuhkan alam agar alam tetap dapat hidup dan lestari.

Tapi coba pikir lagi, katanya, siapa yang menderita kalo bumi tidak lagi seperti ini? Waktu bumi jadi semakin panas, manusia sengsara... bumi tetap menjadi bumi. Waktu penyakit semakin tidak dapat dikontrol, manusia menderita dan mati.... bumi tetap bumi. Waktu populasi semakin padat, manusia kesulitan utk dapetin tempat tinggal dan makanan... bumi ya tetep bumi. Sebenernya siapa yang menjaga siapa? Bumi tak pernah menderita, manusia aja yang terlalu angkuh, gak mau ngakuin bahwa yang mereka lakukan semata-mata untuk bertahan hidup.

Bukan bumi yang perlu diselamatkan tetapi manusia. Terlalu sulit, terlalu sulit memang.
Masuk

Harap Dibaca Sebelum Posting
Forum Sains Indonesia
Berbagi Literatur
Si Hoc Legere Scis Nimium Eruditionis Habes!
Melnick
Profesor
*****

IQ: 36
Offline Offline

Gender: Wanita
Tulisan: 781


Melnick

mizusawa_melissa
Lihat Profil WWW
« Jawab #2 pada: Oktober 21, 2007, 06:57:35 »

hmm.. ya.. ya..  mata muter
kalo bisa duitnya buat pendidikan & kesehatan dulu deh. lidah melet
Masuk

"Bagaimanakah bekerja dengan rasa cinta itu? Bagaikan menenun kain dengan benang yang ditarik dari jantungmu, seolah-olah kekasihmu yang akan memakainya kelak." (Kahlil Gibran)
insan sains
Staff
Dosen
*****

IQ: 37
Offline Offline

Gender: Pria
Tulisan: 363


Life is Beatiful

insan_sains
Lihat Profil WWW
« Jawab #3 pada: Oktober 22, 2007, 12:27:49 »

ck..ck...ck...!

Pagi-pagi baca post ini, bikin saya terpana. Sekaligus miris juga bacanya. But...! inilah dunia kita saat ini. Dan kita tahu, kita tidak bisa mengubah dunia menjadi surga. Karena keduanya adalah 2 tempat yang berbeda (bentuk dan sifatnya).

"Kelayakan", "kenikmatan", dan "kemudahan hidup" yang selama ini kita buru, tentulah akan menimbulkan sebuah reaksi. Masih ingatkan bahwa seluruh semesta ini (baik fisik maupun psikis) tersusun dari energi. Dan energi adalah sesuatu yang tidak diciptakan dan tidak bisa dimusnahkan. Tapi dia bisa berubah dari level energi yang satu ke level energi yang lain. Dan jumlahnya selalu konstan (Hukum Kekekalan Energi). Jadi ketika ada sebuah aksi, pastilah akan timbul sebuah reaksi, yang besarnya sama dengan energi aksi yang diberikan.

Ketika sebagian manusia mencoba menyerap energi (dalam hal ini, kelayakan, kenikmatan, dan kemudahan hidup), tentulah akan ada energi yang hilang di alam ini.  Dan energi yang hilang itulah yang kemudian dirasakan oleh sebagian manusia yang lainnya.

Yang bisa kita lakukan hanyalah, berusaha menjadikan kehidupan kita SEOLAH-OLAH seperti surga, tanpa merusak "surga"nya manusia yang lain. Walaupun demikian "terlalu sulit, terlalu sulit memang"

Hm.... TQ to Perigrin (Very Green  nyengir) yang sudah memforward catatan pinggir ini. Special Thanks to GM (Goenawan Moehamad). Ni.. sedikit profile tentang GM :



Goenawan Soesatyo Mohamad (Karangasem Batang, Jawa Tengah, 29 Juli 1941) adalah seorang pujangga Indonesia yang terkemuka. Ia juga salah seorang pendiri Majalah Tempo.

Goenawan Mohamad adalah seorang intelektual yang punya wawasan yang begitu luas, mulai dari pemain sepakbola, politik, ekonomi, seni dan budaya, dunia perfilman dan musik, dan lain-lain. Pandangannya sangat liberal dan terbuka. Seperti kata Romo Magniz-Suseno, salah seorang koleganya, lawan utama Goenawan Mohamad adalah pemikiran monodimensional.

Source : http://id.wikipedia.org/wiki/Goenawan_Mohamad

Pendidikan:
- SR Negeri Parakan Batang, (1953)
- SMP Negeri II Pekalongan, (1956)
- SMA Negeri Pekalongan, (1959)
- Fakultas Psikologi UI Jakarta, (tidak selesai)

Karya Tulis:
- Parikesit, (kumpulan puisi, 1973)
- Potret Seorang Penyair Muda sebagai si Malin Kundang (esei), (Pustaka Jaya, 1974)
- Interlude, (puisi, 1976)
- Sex, Sastra, Kita (esei), (Sinar Kasih 1980)
- Catatan Pinggir, (Grafitipers, 1982)

Penghargaan:
- Internasional dalam Kebebasan Pers (International Press Freedom Award) oleh Komite Pelindung Jurnalis (Committee to Protect Journalists), (1998)
- Internasional Editor (International Editor of the Year Award) dari World Press Review, Amerika Serikat, (Mei 1999)
- Louis Lyons dari Harvard University Amerika Serikat, (1997)
- Penghargaan Professor Teeuw dari Leiden University Belanda, (1992)

Organisasi dan Karir:
- Redaktur Harian KAMI, (1969-1970)
- Redaktur Majalah Horison, (1969-1974)
- Pemimpin Redaksi Majalah Ekspres, (1970-1971)
- Pemimpin Redaksi Majalah Swasembada (1985)
- Pemimpin Redaksi Majalah TEMPO, (1971-sekarang)

Source : http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/g/goenawan-mohamad/index.shtml
Masuk

Menuju Indonesia sebagai THE COUNTRY MASTER OF TECHNOLOGY, 2030
Halaman: [1]   Naik
Kirim topik ini | Cetak
Lompat ke:  

Topik Lainnya :
Subyek Dimulai oleh Jawaban Dilihat Tulisan terahkir
Tempat-tempat angker di Jakarta « 1 2 » indoroids 22 5600 Tulisan terahkir Desember 31, 2008, 04:36:22
oleh dongker
Kesalahan orang jatuh cinta « 1 2 3 4 » eky 53 3319 Tulisan terahkir September 17, 2008, 01:20:20
oleh dongker
Kecepatan cahaya gak konstan? reborn 5 1234 Tulisan terahkir November 28, 2008, 01:00:03
oleh Karno Giyantono
INFO Jadwal Pemadaman PLN Di Jakarta 11-15 Juli 2008 reborn 0 711 Tulisan terahkir Juli 11, 2008, 08:25:56
oleh reborn
RUU pornografi « 1 2 » peregrin 19 1058 Tulisan terahkir Januari 02, 2009, 09:06:01
oleh The Houw Liong
Powered by SMF 1.1.6 | SMF © 2006-2008, Simple Machines LLC
RSS | Sitemap | Science Directory | Science Blog


© 2006-2008 ForumSains.com
Dilber MC Theme by HarzeM