ForSa punya logo baru!! Ada komen?
0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.
Terkadang, orangtua tidak efisien dalam menerapkan sistem penyimpanan obat. Mereka memasukkan segala jenis obat ke dalam 1 wadah/tempat saja, dan memungkinkan mereka bingung dalam memilih obat yang diperlukan (berpotensi tertukar/salah konsumsi), lupa sudah berapa kali anak mereka konsumsi obatnya dalam sehari, dan sendok-sendok (penakar) untuk obat cair tercampur aduk, jadi mungkin saja sendok yg pernah dipake untuk obat A malah dipake untuk obat B.So gua rasa mesti diberi minimal 2 wadah/tempat khusus obat per anggota keluarga, yang pertama untuk obat luar dan yang kedua untuk obat dalam. so baik ayah, ibu, dan anak punya wadah/tempat obat sendiri masing-masing 2. Dan wadah/tempat itu mesti yang bisa ditutup dan tahan banting.Ini untuk meminimalisir kebingungan dalam menemukan obat yang diperlukan maupun merapikannya. Potensi obat tertukar juga bisa diminimalisir dengan cara ini.
Obat apa saja yang tercatat sering dikonsumsi anak secara tidak sengaja? pada 2010, tercatat obat penghilang rasa sakit, bisa obat resep atau pun obat bebas. golongan obat ini tercatat menimbulkan 30% keracunan fatal pada balita. di urutan berikutnya adalah obat alergi dan sedatif, seperti obat tidur atau antidepresan, yang menyebabkan 17% keracunan fatal pada balita.
berikut tips keamanan untuk mencegah masalah anak akibat obat dari program pendidikan CDC's "Up and Away and Out of Sight":1. simpan obat di tempat yang aman dan terlindung dari pandangan dan jangkauan anak (termasuk jika dosis obat berikutnya akan diberikan pada beberapa waktu ke depan). 2. jangan menyebut obat sebagai permen.3. meminta tamu dan pengasuh untuk menyimpan jaket, dompet, atau tas yang menyimpan obat di dalamnya jauh dari pandangan anak saat datang ke rumah.4. tutup rapat penutup botol child-resistant setiap kali selesai digunakan dan simpan di tempat yang tidak terjangkau anak.5. jangan gunakan sendok makan untuk menakar obat karena sendok makan tidak akurat. gunakan penakar yang disediakan dalam wadah obat.6. orang dewasa hendaknya menghindari penggunaan obat di depan anak karena anak bisa meniru perilaku tersebut.http://www.medscape.com/viewarticle/760614?src=mp&spon=38
sering lah kita liat orang tua berusaha membujuk anaknya minum obat dengan mengatakan bahwa itu permen. emang rasa manis dan enak diperlukan untuk bisa memudahkan orang tua memberikan obat pada anak. di lingkungan perumahan saya pernah melihat anak yang menyemburkan obat yang disuapkan oleh orang tuanya ato menangis keras-keras menolak pemberian obat. ini tentu akan menyulitkan pemberian obat pada anak. maka dari itu sirup pediatrik dibuat manis dan sedapat mungkin rasa pahit ditutupi.efek samping dari obat yang enak ini tentu saja anak bisa merasa ingin terus mencicipinya. di sini perlu antisipasi yang dilakukan ortu dengan menempatkan obat di luar jangkauan anak. dari produsen, produk bisa dilengkapi dengan tutup child-resistant.
Hahaha.Iya.. Selain masalah memisah2 obat dengan plastik dan tempatnya, ada yang penting lagi yang harus diperhatikan.Dan ini merupakan masalah bangsa ini. (Bangsa lain ga tau deh ya)Sering kali masyarakat kalau uda ke dokter dengan keluhannya masing2, lalu diberi resep dari dokter dan dibeli obatnya, kalau misal terjadi keluhan yang mirip dengan sebelumnya, pasien bakalan beli obat yang kemaren dimakannya lagi. Tanpa harus ke dokter.Mikirnya toh sama kok gejalanya, ngapain ke dokter lagi, habisin uang.Padahal belom tentu itu sakitnya sama. Keluhan bisa sama, tapi penyebabkan beda2.Ini nih yang perlu di-didik ke diri masyarakat kita.Yang paling sering kasusnya kalau demam. Pasien datang keluhan demam. Dokternya ngasih antibiotik. Eh, sembuh si pasien. Disimpen deh bungkus obatnya. Ntar kalo demam, makan antibiotik lagi, sembuh kok kemaren. Pasien kalo demam, makan antibiotik. Uda reda, ga makan lagi. Demam makan lagi, uda turun ga makan lagi. Inilah yang bikin bakteri pada resisten sama antibiotik nih.Sendiri rusak badan sendiri namanya. Ckck.Ingat, obat = racun. Tapi obat dalam dosis tepat = menyembuhkan. (^ kayak curhat jadinya. =)) )Nah, balik lagi ke kasus anak kecil. Anak kecil, balita itu blood brain barriernya masi belom terbentuk sempurna. Jadi bila kita beri obat2an yang kerja obatnya di sistem saraf pusat, obat akan dengan mudah masuk. Misal 100% yang diberi, yang masuk bisa aja 85 -90%. Padahal yang dibutuhkan cuma 65-70% doank obatnya untuk bekerja di SSP. Nah, kesalahan sering kejadian di salah kasi dosis. Makanya kalau misalnya ada anak sakit, alangkah baiknya dibawa ke dokter anak. Dokter anak kan spesialis sama penyakit anak2 dan dosis obat yang sehari2 dia berikan ke pasien pun ga jauh beda. Kalau ke dokter umum, dia ada pasien dewasa, remaja, bayi, yang ditakutin latah dokternya nulis dosis. Dosis untuk balita malah ditulis sesuai dewasa.Bisa aja itu kejadian. Dokter juga manusia lo.Sekian aja dari saya.
iya kalo di apotek pas ada apotekernya... kan jarang banget tuh. malah bisa jadi cuma sebulan sekali ada apotekernya, pas gajian. kalo gajiannya ditransfer bisa-bisa sebulan sekali aja ke apotek udah bagus.
apotek adalah ruang kerja apoteker... sayangnya di indonesia sepertinya ga berlaku. hanya daerah tertentu yang apotekernya selalu standby, misalnya di daerah pariwisata seperti bali. maklum, turis luar ga bakal mau beli obat kalo ga ada apoteker yang jaga.udah ah, masa ngerasani profesi sendiri gini.
Dimulai oleh reborn Kesehatan
Dimulai oleh riandono Kesehatan
Dimulai oleh raisuien Kesehatan
Dimulai oleh syx Kesehatan