Forum Sains Indonesia




*
Selamat datang, Pengunjung. Silahkan masuk atau mendaftar. Apakah anda lupa aktivasi email?
Mei 25, 2012, 02:14:04 AM

Masuk dengan nama pengguna, kata sandi dan lama sesi

Artikel Sains

Aku Cinta ForSa

  ForSa on FB  ForSa on Twitter

Pranala Luar

ShoutBox!

Last 10 Shouts:

 

fajri

Kemarin jam 09:40:03 PM
numpang liat_liat dulu,, kexnya menarik bnget sama masalah mikon.. ! :D
 

haman11

Kemarin jam 08:11:34 AM
ada yg tauproses daur ulang urin pada cicak gk ? ;)
 

GhostInMachine

Mei 23, 2012, 03:52:17 PM
kk mau tanya cara upload Tulisan dong??
 

army.fice

Mei 23, 2012, 12:22:47 AM
sepi banget sih :(
 

lustforscience

Mei 22, 2012, 08:26:02 PM
amin
 

exile_rstd

Mei 22, 2012, 08:24:55 PM
offline....
good night all  ;)
 

exile_rstd

Mei 22, 2012, 08:23:08 PM
iyaaaa jumat saya mau ujian kenaikan kelas. doain ya om Farabi, semoga ujiannya lancar dan dpt nilai memuaskan  :D
 

Farabi

Mei 22, 2012, 08:20:37 PM
KMana aja non? Sibuk belajar?
 

exile_rstd

Mei 22, 2012, 07:44:23 PM
argh lama ga buka forsa, comment di beberapa thread jd membingungkan saya. apa karena udh lama ga asah ya...
 

N E R R O

Mei 20, 2012, 07:41:57 PM
udah lama gak mampi ke forsa, sdh banyak berubah

Show 50 latest

Penulis Topik: obat bukanlah jawaban  (Dibaca 1939 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

soedibjo

  • Pengunjung
obat bukanlah jawaban
« pada: April 26, 2010, 05:56:15 PM »
dr Tan Shot Yen :
"Obat BUKAN JAWABAN"

Ia mendidik pasiennya agar mengubah gaya hidup. Prinsipnya, pasien harus punya otonomi terhadap tubuh sendiri.

Cobalah berkunjung ke klinik dr. Tan Shot Yen di wilayah Bumi Serpong Damai pada pukul 11 di hari kerja. Anda akan melihat dr. Tan menghadapi beberapa pasien. Sekilas, Anda mungkin berpikir dokter sedang marah-marah. Padahal ia sedang menjelaskan tentang gaya hidup sehat pada pasien barunya. Pasalnya, memang begitu gaya dr. Tan, menjelaskan dengan suara keras. Bila kita simak ucapannya, semua yang dijelaskannya sangat penting dan membukakan mata.

"Kesalahan pasien dalam berobat hanyalah mencari tahu 'bagaimana'. Bagaimana caranya menurunkan tensi, menurunkan kadar gula, menguruskan badan, menghilangkan senewen atau sakit di jemari. Jika Anda Cuma tanya 'bagaimana', Anda akan jatuh menjadi sekadar konsumen. Pertanyaan terpenting adalah mengapa Anda sampai sakit?" urainya.

Wanita 45 tahun ini memang tak mau punya pasien yang yang mengharapkan pil atau tongkat ajaib untuk membereskan tubuhnya. "Saya mau pasien yang taking ownership of their own body. Itu badan anda. Buat apa dokter yang sok tahu menyuruh ini-itu ? Yang benar buat dokter belum tentu benar buat Anda." Wah, dokter yang satu ini tampaknya memang lain dari yang lain.

Mendorong Gaya Hidup Sehat

Perbedaan mencolok dr. Tan dibanding dokter lain pada umumnya adalah ia tidak mudah memberi obat. Rata-rata pasien yang keluar dari ruang prakteknya tidak menggenggam resep. Kalaupun ada resep, biasanya hanya vitamin dan omega-3, tergantung kondisi pasien.

"Sampai kapan seseorang mau tergantung pada obat-obatan ? Apakah setelah mengonsumsi obat dia benar-benar sembuh ? Jawabannya tidak. Karena begitu obat berhenti, dia sakit lagi. Berapa banyak dokter hanya bertanya 'sakit apa' lalu berkata 'ini obatnya' ? Dia tidak memberikan pendidikan atau menjelaskan asal usul penyakit. Pasien juga bego, padahal dia harusnya memahami perannya dalam menciptakan penyakitnya, " jelas dr. Tan.

Sebagai ganti resep, dr. Tan memberikan pencerahan tentang gaya hidup sehat yang harus dijalani setiap orang. "Saya yakin semua dokter tahu bahwa diabetes, stroke, dan kanker adalah penyakit gaya hidup. Tapi pertanyaannya, seberapa jauh seorang dokter mau fight untuk memperbaiki gaya hidup pasiennya ? Karena, penanganan pertama pasien seharusnya perubahan gaya hidup. Bila gagal, baru obat-obatan boleh dicoba."

Dr. Tan mencontohkan, pasien yang sakit lutut akan disuruh minum obat, dioperasi, atau diganti tempurung lututnya. Padahal, penyebabnya adalah bobot tubuhnya. Jika si Pasien mengubah pola makan dan gaya hidup, berat badannya susut dan keluhan lututnya akan hilang. "Ibaratnya, mobil Mercedes pasti turun mesin kalau diisi bensin bajaj. Coba ganti dengan bensin super, pasti larinya kencang."

Perubahan pola makan yang dianjurkan dr. Tan mungkin terdengar ekstrim. Ia mengimbau pasiennya untuk berhenti mengonsumsi gula, terigu, nasi, dan pati (singkong, kentang, ubi, jagung, talas). Pasalnya, di dalam tubuh, jenis makanan ini akan diproses 100% menjadi gula dalam waktu dua jam. Benar, manusia butuh gula untuk energi. Tapi kenaikan kadar gula darah akibat empat jenis makanan ini sangat cepat, mengakibatkan insulin melonjak untuk menekan kenaikannya. Bersama insulin, keluar pula hormon eicosanoid buruk. Akibatnya, pembuluh darah menyempit, darah kental, daya tahan buruk, tubuh 'memelihara' bakteri, jamur, kista, tumor, dan kanker, serta timbul nyeri.

Sebagai ganti nasi, ia meresepkan: satu ikat selada mentah atau dua cangkir brokoli setengah matang, 2 putih telur rebus, 2 tomat, 2 mentimun, setengah avokad, apel, atau pear. Dengan makanan ini, tak ada sisa gula yang tersimpan menjadi lemak. Kadar gula darah sebelum dan sesudah makan pun rata-rata sama. Dan, hormon eicosanoid buruk takkan keluar sehingga tak mengundang penyakit. 'Menu' ini perlu dilengkapi lauk-pauk yang diolah dengan berbagai cara, asal tidak ditumis atau digoreng.

"Kita makan sayur bukan hanya demi seratnya. Sayur mentah mengandung enzim dengan life force energy yang penting buat tubuh. Inilah pola makan asal yang sesuai fitrah manusia. Siapa bilang tidak makan nasi jadi lemas? Nenek moyang kita makan sayur dan buah tapi mereka kuat mendaki gunung dan berburu."

Sakit adalah Introspeksi

Hal lain yang menarik dari dr. Tan adalah gelar M. Hum. Gelar itu didapat setelah ia mengambil pascasarjana filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta , tahun lalu. Menurutnya, kuliah S2 filsafat membuatnya memahami manusia secara mendalam dan holistic. Ia juga jadi mengerti 'dosa ilmu kedokteran' tentang mekanisasi tubuh manusia.

"Akibat perkembangan ilmu kedokteran - terutama setelah ditemukannya alat pacu dan cangkok jantung, tubuh manusia yang tadinya holistic lalu dipecah-pecah. Kalau kepala sakit, yang diobati ya kepala saja. Kita terlepas dari tubuh, emosi dan kecerdasan spiritual. Tubuh manusia hanya jadi seperangkat mesin. Kalau ada yang salah, kita pergi ke bengkel. Dan, rumah sakitlah bengkel terbesarnya. Betul, badan manusia terlalu kompleks untuk dipegang satu ahli saja. Manusia boleh dipegang beberapa ahli, asal mereka sama-sama sadar bahwa manusia diciptakan Tuhan. Masalahnya, dokter punya arogansi profesi. Seorang dokter biasanya susah dibilangin dan selalu merasa benar," tuturnya lugas.

Dr. Tan juga menyayangkan bila manusia zaman sekarang mati-matian melawan dan menolak sakit. Padahal, sakit adalah jalan untuk lebih memahami bahwa manusia tak selamanya di posisi atas.

"Sakit adalah introspeksi. Ketika sakit, saya berhenti dan menoleh kebelakang. Apa yang 'jalan' dan 'nggak jalan' selama ini ? Nah, menjadi sembuh adalah keberhasilan introspeksi dan menemukan cara untuk lebih maju lagi. Tapi bagaimana pasien bisa introspeksi bila tak dibimbing menemukan kesembuhannya dan hanya dininabobokan oleh obat ? Dunia yang mati rasa dan tak mau mengalami sakit adalah dunia yang melarikan diri, mengingkari diri sendiri," lanjutnya.

Menurut dr. Tan, kita memasuki era kebablasan mengonsumsi obat. Akhirnya, obat dijadikan demand. Setelah demand melambung tinggi, masyarakat digenjot untuk mendapatkan penghasilan lebih yang tak perlu demi obat. Lihatlah berapa banyak orang yang harus berusaha mati-matian demi keperluan berobat salah satu anggota keluarga.


soedibjo

  • Pengunjung
Re: obat bukanlah jawaban
« Jawab #1 pada: April 26, 2010, 06:02:08 PM »
Selalu Ingin Jadi Dokter

Dr. Tan Shot Yen lahir di Beijing, 17 September 1964 dan dibesarkan di Jakarta. Ia kuliah di Fakultas Kedokteran Universistas Tarumanegara dan lulus Profesi Kedokteran Negara FKUI pada tahun 1991. Sebagai siswi yang selalu mendapat nilai cemerlang dalam ilmu eksakta, menjadi dokter merupakan impiannya sejak dulu. Baginya, di bidang kedokteran, cara pikirnya yang eksakta bisa menemukan 'kemanusiaannya' . Dalam diri pasien, ia menemukan benang merah antara fisik, emosi dan spiritual.

"Ketika baru menjadi dokter, saya juga ngaco. Sekadar memberi obat pada pasien. Lama-lama saya pikir saya cuma perpanjangan pabrik obat," kenangnya. Lalu ia pelan-pelan lebih menggunakan gaya hidup sehat. Perubahan ini dipicu oleh ayahnya, dr. Tan Tjiauw Liat, tokoh inspiratif yang membuatnya maju untuk melihat apa sebenarnya kebutuhan manusia.

Melihat begitu berapi-apinya dr. Tan saat memberikan pencerahan gaya hidup pada pasien, siapapun mungkin akan bertanya 'apa tidak capek?'. "Lebih capek mana dibandingkan dokter yang ditunggangi perusahaan obat dan makanan ? Saya mendapat energi bila melihat pasien sembuh. Mereka memegang kendali atas hidup mereka, tidak dibohongin dokter, dan tidak tergantung obat," jawabnya.

Dr. Tan mengakui, sepak terjangnya kerap dipandang sebelah mata oleh koleganya. "Ada yang bilang saya idealis, bahkan mission impossible. Tapi saya yakin, dalam hati kecil mereka mengatakan bahwa perubahan gaya hiduplah jawabannya. Masalahnya, mereka sendiri tidak menjalani gaya hidup itu. Ini membuat saya sebal. Kalau mereka merasa tidak bisa menjalani gaya hidup sehat, jangan mengecilkan pasien dengan menganggap pasien juga takkan bisa. Pasien yang sudah parah dikasih obat apapun pasti mau. Apalagi Cuma disuruh ganti nasi dengan sayur."

Keluarga terpengaruh

Pola makan asal yang meniadakan gula, trigu, nasi, pati dan susu yang dijalani dr. Tan juga dilakukan oleh suami - Henry Remanleh - dan anak tunggalnya, Cilla. Menurut dr. Tan, mereka tidak menjalaninya karena terpaksa, tapi karena merasakan manfaatnya. "Putri saya 17 tahun, kadang terpengaruh pola makan temannya. Dia lalu mengeluh susah konsentrasi atau pencernaannya terganggu. Setelah itu dia back on track. Dia sudah mengonsumsi raw food sejak SMP atas pilihan sendiri. Anak itu mencontoh orang tuanya. Jangan harap anak makan dengan baik kalau Anda sendiri amburadul."

Suaminya, Henry, adalah kinesiologis yang berkutat dengan masalah gerak dan pengaruhnya terhadap aspek kehidupan manusia. Henry juga instruktur brain gym. Ia berpraktek di tempat yang sama. Dr. Tan sangat menghargai pekerjaan suaminya karena memberdayakan masyarakat. "Brain gym terbukti bisa meningkatkan konsentrasi. Dengan pola makan sehat sejak kecil dan gerakan olahraga terstruktur, Anda tak perlu lagi minum obat," katanya tegas.

Selain sibuk berpraktik dan menjadi pembicara talkshow, dr. Tan menjadi contributor untuk taboid dan majalah kesehatan. Selain itu, ia mengisi waktunya dengan membaca dan membuka jalur continuing medical education melalui internet. Karena itu, info dan data jurnal ilmiahnya selalu up to date - disamping buku-buku terbaru pemberian ayahnya.

Ia menjalani pilates, terkadang berenang, dan sesekali bermain piano. Kini ia sedang mengumpulkan kisah-kisah kamar praktek untuk dijadikan tulisan imnspiratif agar para dokter memandang pasien lebih dari sekumpulan diagnosis.

Wah, sepertinya semangat dalam tubuh mungil ini seolah melonjak-lonjak dan tak pernah padam.

***
(Dari Majalah "PESONA" Maret 2010, hal 80-82)


------------ --------- --------- ------

Offline riandono

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 613
  • IQ: 40
  • Gender: Pria
    • Lihat Profil
Re: obat bukanlah jawaban
« Jawab #2 pada: April 27, 2010, 08:07:41 PM »
tapi kan kalo udah sakit, obat tetap merupakan jawaban, kenyataan itu ga bisa ditolak.

Offline Huriah M Putra

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 2526
  • IQ: 130
  • Gender: Pria
  • Aku siap aku siap...!!!
    • Lihat Profil
Re: obat bukanlah jawaban
« Jawab #3 pada: April 27, 2010, 10:58:55 PM »
Betul sekali..
Setuju juga dengan riandono.
Kalo pasien datang dengan demam karna infeksi, apa gak kita kasih obat?
Tentu saja kita kasih..
Tapi dikasih pendidikan juga benar,. Tapi semua kembali ke dokternya. Apa dia rela menghabiskan waktu sebanyak itu hanya untuk satu pasien? Mungkin agak kurang efektif..
Sekedar nasehat2 untuk mengubah gaya hidup sih oke oke aja.. Bagus tuh..

Ngomong2 soal makannya.. Banyak asupan karbohidrat tanpa aktivitas membuat semua gula2 itu disimpan dalam bentuk glikogen di hati dan lemak di jaringan adiposa.
Obesitas itulah yang bermasalah...
OOT OOT OOT..!!!

Offline syx

  • Global Moderator
  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 4439
  • IQ: 338
  • Gender: Pria
    • Lihat Profil
Re: obat bukanlah jawaban
« Jawab #4 pada: April 28, 2010, 06:56:56 AM »
intinya adalah tindakan preventif lebih diutamakan... dengan demikian diharapkan tidak sakit dan tidak perlu tindakan kuratif. tapi kalo uda sakit ya musti diobati untuk menghindari komplikasi lebih lanjut. misalnya demam ya dikasi analgesik-antipiretik, kalo dibiarin panas tinggi ya tau sendiri lah akibatnya...

Offline Astrawinata G

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 1406
  • IQ: 49
  • Gender: Pria
    • Lihat Profil
Re: obat bukanlah jawaban
« Jawab #5 pada: April 28, 2010, 10:25:10 PM »
yo'i...intinya jangan ambil 2 jalan ekstrim, tapi jalan tengahnya dan luwes dalam penerapannya ;D
Best Regards,


Astrawinata G

Offline syx

  • Global Moderator
  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 4439
  • IQ: 338
  • Gender: Pria
    • Lihat Profil
Re: obat bukanlah jawaban
« Jawab #6 pada: April 29, 2010, 06:55:06 AM »
Changing Old Habits Could Save Big on Drug Costs

By Julie Steenhuysen

CHICAGO (Reuters) Apr 20 - Making simple changes like getting people to take their medicines exactly as directed or to refill their prescriptions on time could save employers and their workers as much as $163 billion a year in healthcare costs, U.S. researchers said on Tuesday.

Pharmacy benefits manager Express Scripts Inc identified various behaviors that increase treatment costs, including brand loyalty, procrastinating on refills and occasional forgetfulness.

"This is the first time we've looked at the behavioral factors that are driving spending," chief scientist Bob Nease commented about Express Scripts' annual drug trends report.

The cost of these behaviors is a staggering $1 out of every $5 spent on prescription drugs, which account for 10% of the $2.3 trillion Americans spend on healthcare each year.

"When you slice it that way, you get this eye-popping figure of $163 billion," Nease said in a telephone interview.

The report outlines ways to make people aware of the common habits that can increase the cost of healthcare in the United States as the nation looks for ways to pay for its newly passed healthcare reform legislation.

U.S. prescription drug sales climbed 5.1% to $300.3 billion in 2009, outpacing the 1.8% growth rate seen in 2008, according to data collected by IMS Health.

Failing to take drugs as directed had the biggest impact, accounting for $106 billion spent yearly to treat people for complications from chronic diseases like diabetes or high blood pressure, he said. People who miss doses can find their condition worsens and requires more costly treatment.

The group has identified three common misbehaviors: the "refill procrastinator" who takes drugs faithfully until the pill bottle is empty, then delays getting a refill; the "sporadic forgetter" who stays on track during the week but gets thrown off on weekends; and the "active decliner" who doesn't think the drug is working.

Loyalty to brand-name drugs over lower-cost generics, often because the former was prescribed first, constitutes $51 billion in missed savings, he said.

Even something as simple as changing the way people fill their prescriptions such as shifting to home delivery from the local drug store could save $6 billion annually, according to the report.

Overall, total drug spending by the Express Scripts' clients who participated in its behavior-changing programs fell by 2.3% as they used lower-cost drugs to treat common conditions such as diabetes and high blood pressure.

Changing behaviors by charging a higher co-payment for branded drugs only goes so far, as money is not the sole motivator, Nease said.

"The behaviors we are talking about are not that difficult to change," and amount to changing habits, Nease said.

When Express Scripts asked customers last year to volunteer if they wanted their prescriptions refilled by home delivery instead of a trip to the store, home delivery usage doubled and saved clients $40 million, Nease said.

 

Copyright © 2006-2011 Forum Sains Indonesia