Forum Sains Indonesia




*
Selamat datang, Pengunjung. Silahkan masuk atau mendaftar. Apakah anda lupa aktivasi email?
Mei 25, 2012, 02:46:58 AM

Masuk dengan nama pengguna, kata sandi dan lama sesi

Artikel Sains

Aku Cinta ForSa

  ForSa on FB  ForSa on Twitter

Pranala Luar

ShoutBox!

Last 10 Shouts:

 

fajri

Kemarin jam 09:40:03 PM
numpang liat_liat dulu,, kexnya menarik bnget sama masalah mikon.. ! :D
 

haman11

Kemarin jam 08:11:34 AM
ada yg tauproses daur ulang urin pada cicak gk ? ;)
 

GhostInMachine

Mei 23, 2012, 03:52:17 PM
kk mau tanya cara upload Tulisan dong??
 

army.fice

Mei 23, 2012, 12:22:47 AM
sepi banget sih :(
 

lustforscience

Mei 22, 2012, 08:26:02 PM
amin
 

exile_rstd

Mei 22, 2012, 08:24:55 PM
offline....
good night all  ;)
 

exile_rstd

Mei 22, 2012, 08:23:08 PM
iyaaaa jumat saya mau ujian kenaikan kelas. doain ya om Farabi, semoga ujiannya lancar dan dpt nilai memuaskan  :D
 

Farabi

Mei 22, 2012, 08:20:37 PM
KMana aja non? Sibuk belajar?
 

exile_rstd

Mei 22, 2012, 07:44:23 PM
argh lama ga buka forsa, comment di beberapa thread jd membingungkan saya. apa karena udh lama ga asah ya...
 

N E R R O

Mei 20, 2012, 07:41:57 PM
udah lama gak mampi ke forsa, sdh banyak berubah

Show 50 latest

Penulis Topik: Salah Kaprah Tuberkulosis Anak  (Dibaca 7016 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline raisuien

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 6329
  • IQ: 333
  • Gender: Pria
    • Lihat Profil
Salah Kaprah Tuberkulosis Anak
« pada: Maret 24, 2010, 10:49:54 PM »
Setiap tanggal 24 Maret kita memperingati sebagai Hari Tuberkulosis Sedunia sebab pada 24 Maret 1882, Dr Robert Koch berhasil mengenali bakteri Mycobacterium tuberculosis sebagai kuman penyebab penyakit tuberkulosis.

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit yang sudah sangat tua, bahkan sangat mungkin lebih tua daripada sejarah manusia itu sendiri.

Gambaran adanya TB telah ada sejak lama, misalnya dalam salah satu tokoh cerita The Hunchback of Notre Dame yang terkenal karya sastrawan besar Victor Hugo. Di dalam piramida Mesir kuno juga ditemukan gambar relief manusia bongkok yang kemungkinan besar menderita TB tulang belakang atau gibbus pada spondilitis TB. Tidak hanya itu, juga ditemukannya kuman TB pada sebagian mumi Mesir dan sebagian fosil dinosaurus.

Sepanjang dasawarsa terakhir pada abad ke-20, jumlah kasus baru TB meningkat di seluruh dunia, di mana 95 persen kasus terjadi di negara berkembang. Di Indonesia, TB masih merupakan masalah besar, bahkan Indonesia menduduki peringkat ke-3 sebagai penyumbang kasus TB terbanyak di dunia.

Pada anak, TB secara umum dikenal dengan istilah ”flek paru-paru”. TB pada anak juga mempunyai permasalahan khusus yang berbeda dengan orang dewasa, baik dalam aspek diagnosis, pengobatan, pencegahan, maupun TB pada kasus khusus, misalnya pada anak dengan infeksi HIV.

Dalam praktik klinis harian untuk TB pada anak, sering kali terjadi kesulitan dan keraguan dalam aspek diagnosis, pengobatan, dan penghentian pengobatan. Sebagai akibatnya, dalam banyak kasus dikatakan anak ”flek paru-paru” yang sebenarnya dapat dikatakan terjerumus dalam pitfalls (lubang perangkap). Ini berarti terjadi ”kekeliruan” dalam proses diagnosis dan/atau terapi, yang oleh karena seringnya hal tersebut terjadi, justru seolah dianggap benar (salah kaprah).

Salah kaprah

Salah kaprah biasanya dimulai dengan bias interpretasi terhadap gejala klinis anak yang dikeluhkan oleh orangtua. Batuk merupakan gejala utama infeksi TB pada paru-paru, yaitu batuk yang berlangsung lama (kronis), berdahak yang kadang bercampur dengan darah karena ada pembuluh darah di paru yang pecah. Gambaran tersebut nyata hanya pada pasien TB paru dewasa, sedangkan pada pasien anak infeksi TB jarang menyebabkan batuk. Batuk lama dan berulang pada anak justru lebih sering disebabkan asma, bukan TB.

Badan berkeringat pada malam hari juga merupakan gejala klinis yang sering mengkhawatirkan orangtua. Keringat malam sebenarnya merupakan gejala klinis yang penting pada pasien TB dewasa. Produksi keringat pada malam hari pada saat tidur nyenyak biasanya disebabkan oleh peningkatan metabolisme basal tubuh (basal metabolic rate). Pada infeksi TB dewasa terjadi peningkatan tersebut sehingga keluhan keringat malam pasti sering dijumpai.

Sebaliknya, peningkatan metabolisme basal pada anak lebih sering disebabkan karena dikeluarkannya dan berfungsinya hormon pertumbuhan (growth hormone) pada malam hari. Hormon ini sudah tidak dikeluarkan dalam jumlah bermakna pada orang dewasa sehingga hanya ditemukan pada anak yang mengalami pertumbuhan, terutama pada malam hari (sircadian cycle). Itulah yang menyebabkan anak sering berkeringat saat tidur malam, bahkan pada saat tidur di ruang ber-AC yang orangtuanya justru sudah kedinginan dan berselimut tebal.

Nafsu makan

Nafsu makan anak yang tidak baik merupakan keluhan yang sangat sering disampaikan oleh orangtua yang takut akan ”flek paru-paru” (phobia flek). Keluhan ini disebabkan oleh berbagai hal, baik bersifat medis, psikologis, sosial, maupun salah kaprah. Hampir semua penyakit pada anak akan menurunkan nafsu makan, tidak hanya dan bukan satu-satunya akibat TB.

Variasi, rasa, dan tampilan menu makanan secara psikologis juga akan memengaruhi selera makan anak. Begitu juga suasana rumah, hubungan antaranggota keluarga, dan masalah sosial lain, bahkan termasuk persepsi orangtua yang keliru tentang nafsu makan anak, sangat berpengaruh dalam tinggi rendahnya nafsu makan mereka.

Penyakit saluran cerna, baik sariawan, sakit gigi, gangguan pencernaan, maupun, bahkan, cacingan, perlu juga dipikirkan sebagai salah satu penyebab terganggunya nafsu makan anak, sebelum pelacakan TB dimulai.

Demam ringan lama yang biasanya bersifat demam ringan atau subfebris (Jw: semlenget), dapat disebabkan oleh adanya infeksi di organ apa pun, tidak hanya ”flek paru-paru” dan stadium awal penyakit kanker (keganasan). Memang, TB harus dipikirkan sebagai penyebab utama, tetapi penyakit lain yang cukup sering terjadi pada anak seperti tifus, amandel (tonsilitis), congek (otitis media), sinusitis, ataupun infeksi saluran kencing juga harus dipikirkan dan kalau perlu diperiksa terlebih dahulu.

Benjolan di leher, yang merupakan pembesaran kelenjar limfa dan sering disamakan dengan tanda ”flek paru-paru”, seharusnya perlu dibedakan antara ”teraba” dan ”membesar”. Kelenjar itu dikatakan membesar bila diameternya di atas 1 sentimeter, sedangkan kalau di bawah 1 sentimeter harus dianggap teraba, yang biasanya disebabkan oleh batuk pilek berulang atau alergi, dan sering kali disertai pembesaran amandel. Benjolan di leher yang mengarah ke TB sebenarnya cukup khas sebab akan teraba besar, bergerombol, tidak nyeri saat ditekan, dan saling melekat.

Pemeriksaan penunjang medis yang sering dilakukan untuk mendiagnosis TB pada anak meliputi pemeriksaan foto rontgen dada, uji tuberkulin atau Mantoux, laju endap darah, limfositosis, dan serologi.

Meskipun pemeriksaan tersebut dapat dilakukan di hampir semua fasilitas kesehatan, sebenarnya nilai atau bobot diagnostik untuk TB tidaklah tinggi. Bahkan, pada pasien TB anak semuanya hampir tidak khas karena dapat dipengaruhi oleh banyak aspek nonmedis dan dapat menyebabkan salah interpretasi.

Oleh sebab itu, pada kasus yang meragukan, semakin banyak pemeriksaan yang dilakukan dan menunjukkan hasil positif, tentunya akan semakin mengecilkan kemungkinan terjadinya kesalahan diagnosis. Demikian juga sebaliknya.

Pasien TB dewasa lebih mudah didiagnosis sebab ada sebuah pemeriksaan penunjang medik yang obyektif dan dapat dijadikan baku emas (gold standard) diagnosis TB. Pemeriksaan tersebut adalah menemukan bakteri TB pada pemeriksaan dahak (BTA positif pada sputum).

Pengeluaran dahak sebagai bahan yang akan diperiksa di laboratorium bukan hal mudah yang dapat dilakukan anak, apalagi anak kecil. Tanpa bukti adanya bakteri TB dalam pemeriksaan mikroskopis, diagnosis TB akan semakin terbuka kemungkinan untuk diragukan.

Dengan memahami ”salah kaprah” (pitfalls) tentang TB pada anak, seperti diuraikan di atas, dokter, dan orangtua atau keluarga pasien dapat saling mengingatkan sehingga tidak terjerumus dalam overdiagnosis dan overtreatment TB yang tidak perlu.

FX WIKAN INDRARTO Dokter Spesialis Anak di RS Bethesda Yogyakarta

http://kesehatan.kompas.com/read/2010/03/24/07480695/Salah.Kaprah.Tuberkulosis.Anak

Offline Astrawinata G

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 1406
  • IQ: 49
  • Gender: Pria
    • Lihat Profil
Re: Salah Kaprah Tuberkulosis Anak
« Jawab #1 pada: Maret 24, 2010, 11:37:24 PM »
kenapa penderita TB BMRnya naik ya? sampe berkeringat gitu.....
Best Regards,


Astrawinata G

Offline raisuien

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 6329
  • IQ: 333
  • Gender: Pria
    • Lihat Profil
Re: Salah Kaprah Tuberkulosis Anak
« Jawab #2 pada: Maret 25, 2010, 08:43:35 AM »
pa mungkin disebabkan demam ???

Offline Astrawinata G

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 1406
  • IQ: 49
  • Gender: Pria
    • Lihat Profil
Re: Salah Kaprah Tuberkulosis Anak
« Jawab #3 pada: Maret 25, 2010, 10:34:29 PM »
wah, kalo karena demamnya, bukannya malah mengigil? :(

Offline raisuien

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 6329
  • IQ: 333
  • Gender: Pria
    • Lihat Profil
Re: Salah Kaprah Tuberkulosis Anak
« Jawab #4 pada: Maret 25, 2010, 10:38:37 PM »
bukannya proses peradangan dan demam dapat menyebabkan peningkatan metabolisme sebesar 120% untuk tiap peningkatan suhu 10°C.  y ???

Offline PocongSains

  • Dosen
  • ****
  • Tulisan: 110
  • IQ: 11
  • Gender: Wanita
  • rajin atau malas, bukan pintar atau bodoh
    • Lihat Profil
Re: Salah Kaprah Tuberkulosis Anak
« Jawab #5 pada: Maret 25, 2010, 10:44:02 PM »
Indonesia menduduki peringkat ke-3 sebagai penyumbang kasus TB terbanyak di dunia??
menyedihkan,,,
membuktikan bahwa kebersihan di indonesia relative mendekati 0

Offline raisuien

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 6329
  • IQ: 333
  • Gender: Pria
    • Lihat Profil
Re: Salah Kaprah Tuberkulosis Anak
« Jawab #6 pada: Maret 25, 2010, 10:48:15 PM »
24 Maret 2010 adalah hari tuberkulose sedunia. TBC adalah penyakit ketiga yang mematikan setelah HIV/Aids dan malaria.

Saat ini di Indonesia menurut angka resmi ada 600 ribu orang yang menderita TBC. Walaupun penyakit ini sebenarnya bisa disembuhkan, tapi jumlah penderita tidak berkurang. Radio nederland menanyakan kepada dr. Agnes Edhyana ahli TBC di Jakarta, mengapa TBC kelihatannya sulit diberantas di Indonesia.

Pengobatan yang berlangsung selama enam bulan itu kebanyakan membuat para penderita menjadi jenuh dan tidak patuh terhadap program pengobatan.

dr. Agnes mengungkapkan: "Kalo orang bilang obat itu mahal, WHO sudah memberikan obat-obatan itu secara gratis di puskesmas-puskesmas itu sudah free lah ya. Tapi karena memang harus setiap hari mengkonsumsi obat tersebut jadi ya ada rasa kebosanan, terus dia juga merasa, setelah dua bulan itu kan sudah merasa ada perbaikan." 

Penyakit TBC itu sendiri tergolong penyakit tua, setua peradapan manusia. Hal itu bisa kita lihat pada relief di candi-candi, atau relief kuno dari jaman Mesir serta cerita-cerita kuno dari Cina. Dalam relief itu biasanya yang tergambar TBC tulang. 

Tantangan Utama
Tantangan paling utama adalah mencari secara aktif orang-orang yang terkena TBC, alasannya adalah "Biasanya orang-orang itu tidak tahu kalau mereka kena TB" tutur dr.Agnes.

Sekarang ini ada jenis TBC baru yang disebut multi drug resistent atau MDR. Beberapa negara yang sudah terjangkit adalah Rusia dan negara-negara timur.

"Extreme Drud resistent, jadi kumannya kan sudah tertatar beberapa antibiotik itu, jadi kalau sudah terpapar terus dia resisten, ya makin lama orang makin tidak patuh, akhirnya menghasilkan satu koloni populasi yang MDR dan anntinya akan XDR gitu. Dan itu yang ditakutkan oleh WHO".

Demikian Agnes Edhyana. Sementara Bachti Alisjahbana, menambahkan program TBC di Indonesia cukup berhasil, tapi karena para pasien masih tinggal di lingkungan yang tidak mendukung, maka penyakit ini sulit diberantas.

"TBC banyak pada orang yang lingkungannya kurang matahari, padat, terus gizinya kurang."

Banyak penularan di antara orang-orang yang bahkan tidak tahu kalau mereka mengidap TB. Yang paling ideal untuk memerangi hal ini adalah melakukan pencarian pasien TBC dari rumah ke rumah. Tapi kendalanya terletak pada kekurangan dana, SDM dan ketrampilan. Indonesia merupakan negara ketiga yang mempunyai populasi TBC terbesar di dunia setelah Cina dan India.

Menurut Alisjahbana, dengan masalah kemiskinan dan makin meningkatnya jumlah pengidap HIV/Aids, maka jelas perjalanan di masa depan untuk memberantas penyakit TBC masih lah panjang.

Offline Astrawinata G

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 1406
  • IQ: 49
  • Gender: Pria
    • Lihat Profil
Re: Salah Kaprah Tuberkulosis Anak
« Jawab #7 pada: Maret 27, 2010, 10:57:53 PM »
bukannya proses peradangan dan demam dapat menyebabkan peningkatan metabolisme sebesar 120% untuk tiap peningkatan suhu 10°C.  y ???

10 derajat C? mungkin perlu dikoreksi Mas...suhu tubuh manusia diatas 42 derajat C akan mendenaturasi protein dan enzim secara ireversibel dan dengan segera akan meninggal sebelum naiknya BMR :(

Offline Huriah M Putra

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 2526
  • IQ: 130
  • Gender: Pria
  • Aku siap aku siap...!!!
    • Lihat Profil
Re: Salah Kaprah Tuberkulosis Anak
« Jawab #8 pada: Maret 27, 2010, 11:43:36 PM »
Eh.. Iya ya..
Baru sadar.. yang 10 derajat tuh..
OOT OOT OOT..!!!

Offline raisuien

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 6329
  • IQ: 333
  • Gender: Pria
    • Lihat Profil
Re: Salah Kaprah Tuberkulosis Anak
« Jawab #9 pada: Maret 28, 2010, 12:23:24 AM »
bukannya metabolisme meningkat 12 % untuk peningkatan tiap 1 derajat C y ???

Offline Huriah M Putra

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 2526
  • IQ: 130
  • Gender: Pria
  • Aku siap aku siap...!!!
    • Lihat Profil
Re: Salah Kaprah Tuberkulosis Anak
« Jawab #10 pada: Maret 28, 2010, 10:39:12 AM »
Ya ya... Dan meningkat 1200% untuk peningkatan tiap 100 derajat C..
Kali kali, bagi bagi..

Offline Astrawinata G

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 1406
  • IQ: 49
  • Gender: Pria
    • Lihat Profil
Re: Salah Kaprah Tuberkulosis Anak
« Jawab #11 pada: Maret 29, 2010, 12:42:59 AM »
boleh tahu Mas angkanya diambil darimana? ;D

Offline r.a.n

  • Dosen
  • ****
  • Tulisan: 312
  • IQ: 20
  • Gender: Pria
  • Tebak saya yang mana..????
    • Lihat Profil
Re: Salah Kaprah Tuberkulosis Anak
« Jawab #12 pada: Maret 29, 2010, 11:48:49 PM »
Iyah..angkanya nggak salah..kok..kita ngitung cairan juga..kalo naik 1OC kita naikkan kebutuhannya ditambah 12% dari kebutuhan..cairan....dasar..Unutk kalori katnaya sama kayak gitung cairan...jadi..mungkin benar bisa ditambah..12%

"stem..cell apa BTKV..aduh bingung..???"

Offline Astrawinata G

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 1406
  • IQ: 49
  • Gender: Pria
    • Lihat Profil
Re: Salah Kaprah Tuberkulosis Anak
« Jawab #13 pada: Maret 30, 2010, 10:43:19 PM »
trus, kenapa ya orang kena TB BMR-nya naik? apa benar memang naik?

Offline Huriah M Putra

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 2526
  • IQ: 130
  • Gender: Pria
  • Aku siap aku siap...!!!
    • Lihat Profil
Re: Salah Kaprah Tuberkulosis Anak
« Jawab #14 pada: Maret 31, 2010, 10:29:02 AM »
Atau emank kalo infeksi BMR nya naik?
Gak hanya TB aja..?

 

Copyright © 2006-2011 Forum Sains Indonesia