Selamat datang di ForSa! Forum diskusi seputar sains, teknologi dan pendidikan Indonesia.
0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.
Silahkan baca dari banyak sumber, terutama hasil penelitian yang DIBUNGKAM karena kepentingan industri dan ekonomi. Ada 2 text book yang bisa dicari (bukan di Indonesia) yang bisa menjelaskan mengenai fenomena anti susu. Health War, tulisan Phillip Day dan Optimal Nutrition dari Thomas Levy PhD dengan subjudul : Milk: The Good food Made Toxic.Rasionalisasinya:1. CARA sapi dibesarkan pada era ini tidak sama dengan jaman Nabi. Jadi susu tinggallah legenda dan mitos. Masalah terbesar terletak pada SAPI yang tadinya herbivora memamah biak diganti menjadi kanibal oleh Tuhan barunya :manusia. Dengan mengkonsumsi MBM (meat bone meal - pakan sapi kaya protein dari rumah pemotongan hewan - almarhum engkong2nya yang jerohan & sisa tubuhnya dijadikan makanan sapi generasi berikut supaya lebih cepet tumbuh dan besar, menghasilkan keuntungan lebih BANYAK bagi PRODUSEN) - dan ini cikal bakal terbentuknya prion, protein asing pencetus MAD COW.2. Dengan keserakahan yang sama sapi ditambah lagi siksaannya dengan percepatan tumbuh melalui BGH, Bovine Growth Hormone. Ngga usah komentar lagi, anda sudah tahu akibatnya dengan semua produk sapi yang dikonsumsi orang.3. SUSU betul sebagai makanan cair pertama yang dikenal manusia. TAPI BUKAN SUSU SAPI. melainkan ASI. Casein, protein susu sapi TIDAK SAMA dengan protein ASI. Casein sapi 400x lebih tinggi - BUKAN BERARTI BAIK, (biasa, orang pan kaga mau rugi, dikira yang lebih tinggi pasti lebih baik) tapi justru TIDAK COCOK dengan pencernaan anak manusia. Karena itu bayi yang diberi susu sapi pencernaannya sering terganggu bahkan kotorannya menjadi keras. Dengan tumbuhnya gigi pada usia 6 bulan, ini menjadi pertanda PERUBAHAN MAKANAN dari cair menjadi SOLID. Makhluk hidup mamalia yang masih mengkonsumsi susu begitu sudah jalan dan masa penyapihan cuma ORANG. Mengapa? Milk is the most political food (Philip Day). bukan cuma itu. Dorongan minum susu lebih cenderung sebagai commercially motivated factor (ini juga kutipan beliau, bukan saya). Terbukti dengan kampanye anti susu formula bagi bayi ternyata tidak menyurutkan genderang perang produsen susu sapi. Mereka melancarkan kampanye minum susu pada.... IBU HAMIL. Ini jelas menggelikan. Hanya orang bodoh yang bisa berpikir bhw seakan2 dengan minum susu 'bisa ngeluarin susu juga'. Sama seperti (maaf) saya makan duren maka kotoran saya keluarnya duren lagi....4. TIDAK BENAR bahwa susu mencegah keropos tulang. Negara yang penduduknya paling banyak minum susu justru terbukti mempunyai nilai keropos tulang PALING TINGGI. Keropos tulang tidak semata2 karena DEFISIENSI CALCIUM, itu pun BUKAN kalsium susu) melainkan banyak faktor: dari mineral lain (seperti magnesium) sampai bahan organik makanan bahkan Pro Vitamin D3 DARI MATAHARI. Jadi keropos tulang lebih banyak dihubungan dengan MINIMNYA cahaya matahari pagi yang dikonsumsi oleh seseorang. Ini juga masalah commercially motivated factor dimana orang asia selalu menjadi yang terjajah. Bangsa BERWARNA mempunyai lindungan terhadap paparan negatif ultra violet karena kita PUNYA KELIR. Melanosit bertanggung jawab untuk mengeluarkan bahan yang mencegah kanker kulit. Tapi apa yang terjadi? konsep CANTIK diubah oleh (maaf) penduduk yang BERKULIT PUTIH, bahwa KULIT PUTIH -lah = cantik. Ini pembodohan gila2an. Akibatnya keropos tulang dan kanker kulit malah terjadi dengan pemutihan kulit manusia berwarna.5. Ini yang lebih parah: "kegilaan" konsumen dengan hal2 berbau "mengandung kalsium tinggi" justru menimbulkan masalah yang jauh lebih besar. Lets say, misalkan kita masukkan kalsium sejumlah 100, tapi bila tubuh hanya mampu menyerap 5 untuk konsumsi tulang dll, maka 95-nya KEMANA? Jelas tidak mungkin terbuang begitu saja. Kalsium tidak larut dalam air. Maka kalsium ini akan mengendap di seluruh dinding pembuluh darah arteri, yang paling mengerikan adalah kalsifikasi atau aterosklerosis (pengkakuan) dinding pembuluh darah jantung koroner. Jadi, HIPERTENSI terjadi lebih muda begitu pula penyakit jantung koroner. Bayangkan bila sejak balita hingga usia lanjut manusia 'dicekokin' susu yang ngga jelas fungsinya itu (Protein dan kalsium di luar usia bayi banyak pada ikan, telur, ayam, sayuran berwarna hijau gelap, kacang2an, so WHY NOT THESE???).6. Pasteurisasi? Ini juga masalah besar. Dengan beberapa teknik pasteurisasi, maka manusia justru MERUSAK nilai gizi (destructing the nutritional value) dari susu. Bisa disimak dengan jauh lebih komprehensif pada bukunya Thomas Levy, peneliti terbesar abad ini untuk masalah makanan dan vitamin C setelah Linus Pauling.7. Now get BACK being ASIANS. True Asians get their valuable nutrition not from technology and food industries. Ayo makan tempe, oncom, ikan laut, sayur daun singkong, pepes teri, jamur portabella yang aduhai kayak daging itu, bisa di grill sampai dibuat isi omelette.... . Slllllurrrrrrpppppp ...!
THOMAS LEVY, M.D., J.D. received his Medical Degree from Tulane Medical School, New Orleans, Louisiana in 1976. He later became board-certified in both Internal Medicine and Cardi-ology. For 3 years following his training he served as an Assistant Professor of Medicine at Tulane Medical School. In 1988, Dr. Levy received his Law Degree from the University of Denver in Colorado.Dr. Levy practiced Cardiology for 15 years before beginning his exploration of the many facets of medicine beyond its traditional framework. He worked closely with Hal Huggins, D.D.S. for 6 years with a large number of patients who had toxic dental materials and dental infections removed from their mouths, observing many clinical responses that appeared to defy the teachings of mainstream medicine.He is the author of 4 books: Uninformed Consent: The Hidden Dangers in Dental Care, co-authored with Dr. Huggins; Optimal Nutrition for Optimal Health; The Roots of Disease: Connecting Dentistry and Medicine, co-authored with Robert Kulacz, D.D.S.; and Vitamin C, Infectious Diseases and Toxins: Curing the Incurable.All of his writings reflect Dr. Levy’s own ongoing medical education. Dr. Levy continues to research and write, in the hopes of helping to assure that the very best available treatments can always be offered to those in need of them.He presently serves as the Medical Director of the Colorado Integrative Medical Center in Denver, Colorado. Dr. Levy has the following contact information by phone 303-750-2121 and 866-750-2121, by fax 303-750-4992, by website www.peakenergy.com and e-mail televymd@yahoo.com.He will speak on Dental Toxicity, Cancer & Heart Disease.
Despite hundreds of published studies, the true power of vitamin C as an infection fighter is vastly under-appreciated. Dr Thomas Levy, a doctor from Colorado, has painstakingly reviewed all of the research in his book Vitamin C, Infectious Diseases, and Toxins: Curing the Incurable. Here, he tells me of the true proven power of vitamin C.
Lets say, misalkan kita masukkan kalsium sejumlah 100, tapi bila tubuh hanya mampu menyerap 5 untuk konsumsi tulang dll, maka 95-nya KEMANA? Jelas tidak mungkin terbuang begitu saja. Kalsium tidak larut dalam air. Maka kalsium ini akan mengendap di seluruh dinding pembuluh darah arteri, yang paling mengerikan adalah kalsifikasi atau aterosklerosis (pengkakuan) dinding pembuluh darah jantung koroner. Jadi, HIPERTENSI terjadi lebih muda begitu pula penyakit jantung koroner.