Forum Sains Indonesia




*
Selamat datang, Pengunjung. Silahkan masuk atau mendaftar. Apakah anda lupa aktivasi email?
Mei 25, 2012, 09:08:56 PM

Masuk dengan nama pengguna, kata sandi dan lama sesi

Artikel Sains

Aku Cinta ForSa

  ForSa on FB  ForSa on Twitter

Pranala Luar

ShoutBox!

Last 10 Shouts:

 

fajri

Kemarin jam 09:40:03 PM
numpang liat_liat dulu,, kexnya menarik bnget sama masalah mikon.. ! :D
 

haman11

Kemarin jam 08:11:34 AM
ada yg tauproses daur ulang urin pada cicak gk ? ;)
 

GhostInMachine

Mei 23, 2012, 03:52:17 PM
kk mau tanya cara upload Tulisan dong??
 

army.fice

Mei 23, 2012, 12:22:47 AM
sepi banget sih :(
 

lustforscience

Mei 22, 2012, 08:26:02 PM
amin
 

exile_rstd

Mei 22, 2012, 08:24:55 PM
offline....
good night all  ;)
 

exile_rstd

Mei 22, 2012, 08:23:08 PM
iyaaaa jumat saya mau ujian kenaikan kelas. doain ya om Farabi, semoga ujiannya lancar dan dpt nilai memuaskan  :D
 

Farabi

Mei 22, 2012, 08:20:37 PM
KMana aja non? Sibuk belajar?
 

exile_rstd

Mei 22, 2012, 07:44:23 PM
argh lama ga buka forsa, comment di beberapa thread jd membingungkan saya. apa karena udh lama ga asah ya...
 

N E R R O

Mei 20, 2012, 07:41:57 PM
udah lama gak mampi ke forsa, sdh banyak berubah

Show 50 latest

Penulis Topik: Mayoritas pendidikan di Asia  (Dibaca 6355 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Mr.Smiley

  • Mahasiswa
  • **
  • Tulisan: 43
  • IQ: 4
  • pelayan masyarakat
    • Lihat Profil
Mayoritas pendidikan di Asia
« pada: Pebruari 27, 2011, 01:58:34 PM »
Kepada senior-senior do ForSa, Perkenalkan, saya murid baru di sini.
Saya dapat e-mail yang sekiranya berguna untuk kita merenungi tentang pendidikan
Selamat membaca...

============================================================================================

Prof. Ng Aik Kwang dari University of Queensland, dalam bukunya "Why Asians Are Less Creative Than Westerners" (2001) yang dianggap kontroversial tapi ternyata menjadi "best seller". (www.idearesort.com/trainers) mengemukakan beberapa hal tentang bangsa-bangsa Asia yang telah membuka mata dan pikiran banyak orang:

1.   Bagi kebanyakan orang Asia, dalam budaya mereka, ukuran sukses dalam hidup adalah banyaknya materi yang dimiliki (rumah, mobil, uang dan harta lain). Passion (rasa cinta terhadap sesuatu) kurang dihargai. Akibatnya, bidang kreatifitas kalah populer oleh profesi dokter, lawyer, dan sejenisnya yang dianggap bisa lebih cepat menjadikan seorang untuk memiliki kekayaan banyak.

2.   Bagi orang Asia, banyaknya kekayaan yang dimiliki lebih dihargai daripada CARA memperoleh kekayaan tersebut. Tidak heran bila lebih banyak orang menyukai ceritera, novel, sinetron atau film yang bertema orang miskin jadi kaya mendadak karena beruntung menemukan harta karun, atau dijadikan istri oleh pangeran dan sejenis itu. Tidak heran pula bila perilaku koruptif pun ditolerir/ diterima sebagai sesuatu yang wajar.

3.   Bagi orang Asia, pendidikan identik dengan hafalan berbasis "kunci jawaban" bukan pada pengertian. Ujian Nasional, tes masuk PT dll semua berbasis hafalan. Sampai tingkat sarjana, mahasiswa diharuskan hafal rumus2 Imu pasti dan ilmu hitung lainnya bukan diarahkan untuk memahami kapan dan bagaimana menggunakan rumus rumus tersebut.

4.   Karena berbasis hafalan, murid2 di sekolah di Asia dijejali sebanyak mungkin pelajaran. Mereka dididik menjadi "Jack of all trades, but master of none" (tahu sedikit sedikit ttg banyak hal tapi tidak menguasai apapun).

5.   Karena berbasis hafalan, banyak pelajar Asia bisa jadi juara dalam Olympiade Fisika, dan Matematika. Tapi hampir tidak pernah ada orang Asia yang menang Nobel atau hadiah internasional lainnya yang berbasis inovasi dan kreativitas.

6.   Orang Asia takut salah (KIASI) dan takut kalah (KIASU). Akibatnya sifat eksploratif sebagai upaya memenuhi rasa penasaran dan keberanian untuk mengambil resiko kurang dihargai.

7.   Bagi kebanyakan bangsa Asia, bertanya artinya bodoh, makanya rasa penasaran tidak mendapat tempat dalam proses pendidikan di sekolah

8.   Karena takut salah dan takut dianggap bodoh, di sekolah atau dalam seminar atau workshop, peserta jarang mau bertanya tetapi setelah sesi berakhir peserta mengerumuni guru / narasumber untuk minta penjelasan tambahan.


Dalam bukunya Prof.Ng Aik Kwang menawarkan beberapa solusi sbb:

1.   Hargai proses. Hargailah orang karena pengabdiannya bukan karena kekayaannya

2.   Hentikan pendidikan berbasis kunci jawaban. Biarkan murid memahami bidang yang paling disukainya

3.   Jangan jejali murid dgn banyak hafalan, apalagi matematika. Untuk apa diciptakan kalkulator kalau jawaban untuk X x Y harus dihapalkan? Biarkan murid memilih sedikit mata pelajaran tapi benar2 dikuasainya.

4.   Biarkan anak memilih profesi berdasarkan PASSION (rasa cinta) nya pada bidang itu, bukan memaksanya mengambil jurusan atau profesi tertentu yang lebih cepat menghasilkan uang

5.   Dasar kreativitas adalah rasa penasaran berani ambil resiko. AYO BERTANYA!

6.   Guru adalah fasilitator, bukan dewa yang harus tahu segalanya. Mari akui dengan bangga kalo KITA TIDAK TAU!

7.   Passion manusia adalah anugerah Tuhan..sebagai orang tua kita bertanggung-jawab untuk mengarahkan anak kita untuk menemukan passionnya dan mensupportnya.

Mudah2an dengan begitu, kita bisa memiliki anak-anak dan cucu yang kreatif, inovatif tapi juga memiliki integritas dan idealisme tinggi tanpa korupsi

============================================================================================

Mohon share pendapatnya

:)
saya spammer lho

Offline semut-ireng

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 2809
  • IQ: 9
    • Lihat Profil
Re: Mayoritas pendidikan di Asia
« Jawab #1 pada: Maret 01, 2011, 08:23:47 AM »
Mr. Smiley.   Topik yang anda angkat dengan menghadirkan pendapat  Prof. Ng Aik Kwang dari University of Queensland,   sangat menarik.   Sebenarnya banyak para pakar dunia pendidikan di Indonesia,  menyuarakan hal yang sama sejak akhir dekade abad-20.   Namun apa yang diteriakkan beliau2,  karena mungkin hanya berbentuk artikel2 atau kolom di media cetak,  nyaris tidak terdengar.

Memang begitulah,  dunia pendidikan khususnya di Indonesia sudah sejak lama diobrak-abrik oleh faham Cartesian.   Maunya akal diperas habis-habisan.   Padahal mbah-mbah kita zaman dulu memeras atau diperas hatinya habis-habisan ..............

Zaman sekarang yang dinamakan Pendidikan sudah menjadi Teknologi  :  Teknologi Pendidikan ( TP ).   Dan negara-negara maju,  institusi2 resminya mencermati dengan seksama tiap perkembangan TP,  dan setiap waktu selalu menyempurnakan TP-nya masing.

Kita-kita ini,  bangsa Indonesia,  bisanya mungkin cuma meniru-niru saja.  Banyak yang dikirim ke LN untuk belajar TP,  dan lalu disuruh mengembangkannya di dalam negeri  (  Yang dikirim itu kalau gak salah ingat termasuk saya,  hehehe.... ).

Silakan kalau ada yang mau mengenal TP bisa mulai dari link di bawah ini :

http://education.tmcnet.com/

Persoalannya,  saya kurang suka dengan faham Cartesian.   Saya lebih suka memakai faham mbah-mbah kita zaman dulu  :  "  Aku merasakan,  maka aku ada  ".   Singkatnya,  dunia pendidikan di Indonesia mestinya harus dikembalikan ke konsep bangsa sendiri yang menurut saya lebih baik  :  Keseimbangan antara Cipta - Rasa -  dan Karsa.

Silakan dicermati,  konsep keseimbangan antara Cipta-Rasa- Karsa itu mungkin tidak jauh beda dengan apa yang dikemukakan oleh  Prof. Ng Aik Kwang.

Offline semut-ireng

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 2809
  • IQ: 9
    • Lihat Profil
Re: Mayoritas pendidikan di Asia
« Jawab #2 pada: Maret 02, 2011, 02:07:51 PM »
Pak Menteri yang sekarang dari jurusan Teknologi.  Cocok,  tepat,  pas bangeet dengan konsep TP.   

Tapi ya itu,  waduuh, duh, kasihan ponakan2 saya dan kedua ortunya.  Ponakan-ponakan yang masih klas 1 SD itu hampir tiap hari mendapat PR yang sak abreg !

Ada yang kedua ortunya menjadi pusing tujuh keliling.   Jangankan kok anaknya bisa mengerjakan sendiri,  kedua ortunya yang pendidikannya terbilang tinggipun tak mampu mengerjakannya  ........lha wong buku2 yang digunakan mungkin ada yang salah cetak..................................... :D

Offline Mr.Smiley

  • Mahasiswa
  • **
  • Tulisan: 43
  • IQ: 4
  • pelayan masyarakat
    • Lihat Profil
Re: Mayoritas pendidikan di Asia
« Jawab #3 pada: Maret 23, 2011, 06:30:42 AM »
Saya yakin pasti masih ada orang yang sekolah/belajar menuruti keinginan hatinya dan bukan money oriented.
Kalau ilmuwan-ilmuwan lokal yang dikirim buat sekolah di luar negri memang banyak, mereka juga mengembangkan ilmunya di Indonesia misalnya bikin riset bareng mahasiswa dsb.

Pak Mendiknas dari jurusan teknik elektro. Saya pernah ikut kuliah tamu beliau (bukan di ruangan karena saya datangnya telat, cuma ikut dengerin dari luar aja...hehehehe.... ;D), beliau bilang di tahun 2045 sistem pendidikan di Indonesia akan jauh lebih maju dan sudah dikonsep dari dulu. Saat ini kita sedang mengikuti prosesnya.
Saya suka sama kebijakan beliau tentang beasiswa bidik misi. Anak-anak yang kurang mampu secara ekonomi tapi cerdas diberikan beasiswa untuk masuk institut teknologi. Mungkin ini ada hubungannya dengan TP yang disebut sama mas semut-ireng.

Kalau masalah banyak pr, share aja di ForSa...

 :)

Offline topazo

  • Dosen
  • ****
  • Tulisan: 466
  • IQ: 21
  • Gender: Pria
  • Topazo Kenni von Ashraldia Nessia
    • Lihat Profil
    • (belum ada isinya)
Re: Mayoritas pendidikan di Asia
« Jawab #4 pada: Maret 23, 2011, 08:03:01 AM »
beliau bilang di tahun 2045 sistem pendidikan di Indonesia akan jauh lebih maju dan sudah dikonsep dari dulu. Saat ini kita sedang mengikuti prosesnya.

Apakah tahun 2045 mentrinya masih sama? apakah sistem pendidikannya masih sama... Di Indonesia, semakin sering menteri berganti, semakin kacau program dan sistemnya... Liat kasus monorail vs transjakarta, dan banyak kasus2 lain yang menggantung karena berubah2 pemimpin...
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Offline semut-ireng

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 2809
  • IQ: 9
    • Lihat Profil
Re: Mayoritas pendidikan di Asia
« Jawab #5 pada: Maret 23, 2011, 10:06:21 AM »
Siapapun yang bicara jelas harus bilang di tahun 2045 pendidikan lebih maju.   Namanya dunia pendidikan jelas makin lama makin maju,  masa ada pendidikan makin lama makin mundur,  gak ada kan ?   Apa maju- mundurnya pendidikan tergantung Menterinya,  kayaknya gak juga ................................................

Offline topazo

  • Dosen
  • ****
  • Tulisan: 466
  • IQ: 21
  • Gender: Pria
  • Topazo Kenni von Ashraldia Nessia
    • Lihat Profil
    • (belum ada isinya)
Re: Mayoritas pendidikan di Asia
« Jawab #6 pada: Maret 23, 2011, 10:47:57 AM »
Yah jelas lebih maju, dari zaman sekarang... Tapi apakah lebih maju atau paling tidak setara dengan negara lain... Itu yang dihitung...

Offline semut-ireng

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 2809
  • IQ: 9
    • Lihat Profil
Re: Mayoritas pendidikan di Asia
« Jawab #7 pada: Maret 23, 2011, 11:12:44 PM »
Yah jelas lebih maju, dari zaman sekarang... Tapi apakah lebih maju atau paling tidak setara dengan negara lain... Itu yang dihitung...

Lebih maju atau paling tidak setara dengan negara lain ...............?

Kayaknya perlu ditentukan dulu ' ukuran '-nya,  apakah dilihat dari sisi ekonomi negara,  politik / demokrasi,  budaya,  atau misalnya dari sisi penguasaan teknologi, dsbnya..........?

Jika ditilik dari sisi politik / ideologi negara,   kita punya Pancasila.   Mungkin banyak yang tidak menyadari bahwa sesungguhnya Ideologi Negara Bangsa Indonesia -  Pancasila -  itu sebetulnya adalah suatu sintesa dari dua idealisme besar yang ada di dunia :  Filosofi Barat dan Filosofi Timur.   Kalau boleh saya katakan,  Pancasila itu adalah Karya Agung Bangsa Indonesia,  dan merupakan Mu'jizat bagi Bangsa Indonesia.

Sayang sekali zaman sekarang ini Pancasila seolah-olah dilupakan,  ' nyaris tidak terdengar ' semangat penerapannya dalam kehidupan sehari-hari,  baik di level pemimpin dan lebih-lebih lagi di level akar rumput ..................tertutup oleh gegap-gempitanya eforia demokrasi yang sudah ' bebas ' dan ' tidak terpimpin ' lagi .............................. ::)

Bangsa yang sudah lupa kepada sejarah bangsanya sendiri,  entah sampai kapan, pendidikan-pun memakai TP yang belum disekolahkan Pancasila ........... :)


Offline topazo

  • Dosen
  • ****
  • Tulisan: 466
  • IQ: 21
  • Gender: Pria
  • Topazo Kenni von Ashraldia Nessia
    • Lihat Profil
    • (belum ada isinya)
Re: Mayoritas pendidikan di Asia
« Jawab #8 pada: Maret 23, 2011, 11:34:32 PM »
Konteks yang saya bicarakan tentunya adalah tentang pendidikan secara keseluruhan, apakah pendidikan politik, budaya, dan ataupun teknologi... Apakah kita bisa menyamai negara lain dalam hal pendidikannya...
Memang, kita punya Pancasila dan juga UUD 1945... Tapi sampai saat ini saya belum melihat pengejawantahan dan praktek nyata dari kesaktian Indonesia ini sendiri... Semuanya baru hanya sekadar teori... (Saya kadang sedih kalau ingat Founding Father nya Indonesia, mungkin mereka lagi nangis di alam kubur.)

Pancasila: Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia... Buktinya? Pendidikan cuman untuk orang berduit...
UUD 1945: Pasal 31 ayat (1) Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran... Buktinya? lagi2 cuman yang punya duit yang bisa belajar...

Makanya saya nyinggung menteri dan kebijakan2nya, soalnya secara langsung menteri adalah pemimpin yang menjalankan Pancasila dan UUD 1945...

Tapi jujur, dari dulu sampai sekarang saya selalu menekankan ke diri sendiri bahwa jangan bergantung pada pemerintah, jadilah seorang rakyat yang tangguh dan gantikannlah peran pemerintah semampunya.

Offline semut-ireng

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 2809
  • IQ: 9
    • Lihat Profil
Re: Mayoritas pendidikan di Asia
« Jawab #9 pada: Maret 24, 2011, 08:23:35 AM »
Hmm,  ya ya.   Pendidikan cuman untuk orang berduit  ?   Yang salah siapa  ?   Tentu,  bukan pemerintah dan Menterinya dong.   Rakyat atau konsumennya salah juga.    Lha itu kalo ada demo tuntut turunnya SPP,  sampai nyegel pintu-pintu segala,  yang lain pada ngomong  :   mau pinter mau gratisan juga ..........heh, heh, heh,  repot.

Ini zaman bisnis bung,  bisnis sekolahan itu laris manis,  ada banyak peluang di dalamnya ......................

Offline topazo

  • Dosen
  • ****
  • Tulisan: 466
  • IQ: 21
  • Gender: Pria
  • Topazo Kenni von Ashraldia Nessia
    • Lihat Profil
    • (belum ada isinya)
Re: Mayoritas pendidikan di Asia
« Jawab #10 pada: Maret 24, 2011, 10:20:39 AM »
Berarti menurut Boss semut-ireng, yang salah rakyat dan konsumen... Betul juga sebenernya... Tapi yang menyelenggarakan pendidikan kan swasta dan pemerintah, swasta dan pemerintah ini terikat oleh UU dan UUD... Yang membuat UU, ya pemerintah...

UUD 1945: pasal 31 ayat (2) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pengajaran nasional, yang diatur dengan undang-undang.

Jadi kalo sistemnya salah dan ganti2 terus tiap menteri, terus siapa yang salah?

Offline semut-ireng

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 2809
  • IQ: 9
    • Lihat Profil
Re: Mayoritas pendidikan di Asia
« Jawab #11 pada: Maret 30, 2011, 12:59:59 PM »
Saya sampaikan kutipan artikel di bawah ini :

Kutip
Dehumanisasi merupakan satu masalah mendasar dalam sistem pendidikan nasional. Pendidikan saat ini tidak lagi menghormati dan menghargai martabat manusia dan segala hak asasinya. Akibatnya, melalui proses pendidikan peserta didik tidak tumbuh dalam kemanusiaan sebagai subyek. Mereka justru menjadi korban dalam sebuah sistem yang memaksa mereka mengikuti aturan dalam sistem itu.
Alih-alih pembentukan dan pembudayaan yang mereka peroleh. Yang mereka dapat justru stres karena aturan dan pemaksaan yang dibuat oleh orang dewasa terhadapnya tidak mengedepankan psikologi perkembangan peserta didik. Bagaimana mungkin untuk menanamkan mental dan sikap kerja keras, peserta didik dipaksa stres dan bekerja keras memikirkan persiapan ujian nasional (UN) sepanjang tahun.

Tak aneh ketika buahnya adalah kekerasan dalam pendidikan yang kian merebak. Peserta didik lebih mendengarkan nasihat televisi, film kartun ketimbang nasihat para gurunya. Bunuh diri, kekerasan guru dan peserta didik, antar peserta didik menjadi ulasan media yang terus-menerus terjadi. Bahkan yang teraktual, di Salatiga Jawa Tengah siswa kelas IV SD membunuh temannya dalam perkelahian (Sinar Harapan, 19/2).
Pembelajaran tak lagi menarik. Suasana kelas yang dulu menjadi ajang mengembangkan kreativitas dan eksplorasi diri, kini menjadi senyap karena yang ada adalah drilling soal-soal persiapan UN, latihan soal persis lembaga bimbingan belajar yang memang dari sononya lahir untuk menjadi ajang memecahkan soal. Seolah-olah dengan adanya UN, sekolah diajak melupakan tanggung jawab utamanya sebagai ajang pembentukan manusia. Pendidikan memang telah direduksi menjadi sangat pragmatis yang penting tujuan tercapai sementara prosesnya cenderung diabaikan.

Karya-karya spektakuler seperti menjadi juara berbagai ajang perlombaan internasional bukan milik semua peserta didik. Ada semacam kasta dalam pendidikan yang secara berjenjang membagi peserta didik dalam beragam strata. Hampir tidak mungkin dalam sistem pendidikan nasional belakalangan ini, sekolah miskin dengan peserta didik dari kalangan menengah ke bawah mampu mengakses perkembangan modernisasi dan globalisasi.
Sistem pendidikan telah memaksa mereka yang marginal dan tidak mampu bersaing untuk minggir. Mereka pada akhirnya menjadi peserta didik pasif dan kelak hanya menjadi penonton dari perubahan-perubahan yang terjadi di sekeliling hidup mereka. Mereka akhirnya akan sampai pada anggapan bahwa perubahan bukan untuk mereka. Perubahan dan juga kesejahteraan hidup hanya untuk mereka yang kaya dan berkuasa saja.

Apa iya pendidikan nasional kita seperti yang digambarkan di atas itu ??

Offline hery_hunterz

  • Dosen
  • ****
  • Tulisan: 102
  • IQ: 12
  • Gender: Pria
    • Lihat Profil
Re: Mayoritas pendidikan di Asia
« Jawab #12 pada: Maret 30, 2011, 08:53:00 PM »
,ungkin itu adalah suara pihak kontra dengan sistem pendidikan di Indonesia

supaya lebih maju lagi...!!!

bagaimanapun juga cara mengubah nasib jalannya hanya pendidikan aja.... :)
Ora Et Labora

Offline Mr.Smiley

  • Mahasiswa
  • **
  • Tulisan: 43
  • IQ: 4
  • pelayan masyarakat
    • Lihat Profil
Re: Mayoritas pendidikan di Asia
« Jawab #13 pada: Mei 05, 2011, 06:38:34 AM »
Konteks yang saya bicarakan tentunya adalah tentang pendidikan secara keseluruhan, apakah pendidikan politik, budaya, dan ataupun teknologi... Apakah kita bisa menyamai negara lain dalam hal pendidikannya...
Memang, kita punya Pancasila dan juga UUD 1945... Tapi sampai saat ini saya belum melihat pengejawantahan dan praktek nyata dari kesaktian Indonesia ini sendiri... Semuanya baru hanya sekadar teori... (Saya kadang sedih kalau ingat Founding Father nya Indonesia, mungkin mereka lagi nangis di alam kubur.)

Pancasila: Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia... Buktinya? Pendidikan cuman untuk orang berduit...
UUD 1945: Pasal 31 ayat (1) Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran... Buktinya? lagi2 cuman yang punya duit yang bisa belajar...


Makanya saya nyinggung menteri dan kebijakan2nya, soalnya secara langsung menteri adalah pemimpin yang menjalankan Pancasila dan UUD 1945...

Tapi jujur, dari dulu sampai sekarang saya selalu menekankan ke diri sendiri bahwa jangan bergantung pada pemerintah, jadilah seorang rakyat yang tangguh dan gantikannlah peran pemerintah semampunya.

Yang di-bold
ini dia yang banyak terjadi. kayak zaman belanda aja. Biar nanti kalau saya punya perusahaan yang penghasilannya berlebih, orang-orang yang kesulitan secara finansial akan saya bantu.

Offline semut-ireng

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 2809
  • IQ: 9
    • Lihat Profil
Re: Mayoritas pendidikan di Asia
« Jawab #14 pada: Mei 06, 2011, 03:41:02 PM »
Biar nanti kalau saya punya perusahaan yang penghasilannya berlebih, orang-orang yang kesulitan secara finansial akan saya bantu.

Amin.

Tapi ingat loh,  penyakit orang kaya itu suka lupa.

Kalo sudah duduk lupa berdiri,  kalo sudah kaya lupa aslinya dari mana.............

Jangan2 entar ikutan bilang,  mau pinter mau gratisan ..........

Kalo pasang iklan di forsa sih boleh gratisan .............
« Edit Terakhir: Mei 06, 2011, 03:51:58 PM oleh semut-ireng »

 

Copyright © 2006-2011 Forum Sains Indonesia