Forum Sains Indonesia




*
Selamat datang, Pengunjung. Silahkan masuk atau mendaftar. Apakah anda lupa aktivasi email?
Mei 25, 2012, 09:24:20 PM

Masuk dengan nama pengguna, kata sandi dan lama sesi

Artikel Sains

Aku Cinta ForSa

  ForSa on FB  ForSa on Twitter

Pranala Luar

ShoutBox!

Last 10 Shouts:

 

fajri

Kemarin jam 09:40:03 PM
numpang liat_liat dulu,, kexnya menarik bnget sama masalah mikon.. ! :D
 

haman11

Kemarin jam 08:11:34 AM
ada yg tauproses daur ulang urin pada cicak gk ? ;)
 

GhostInMachine

Mei 23, 2012, 03:52:17 PM
kk mau tanya cara upload Tulisan dong??
 

army.fice

Mei 23, 2012, 12:22:47 AM
sepi banget sih :(
 

lustforscience

Mei 22, 2012, 08:26:02 PM
amin
 

exile_rstd

Mei 22, 2012, 08:24:55 PM
offline....
good night all  ;)
 

exile_rstd

Mei 22, 2012, 08:23:08 PM
iyaaaa jumat saya mau ujian kenaikan kelas. doain ya om Farabi, semoga ujiannya lancar dan dpt nilai memuaskan  :D
 

Farabi

Mei 22, 2012, 08:20:37 PM
KMana aja non? Sibuk belajar?
 

exile_rstd

Mei 22, 2012, 07:44:23 PM
argh lama ga buka forsa, comment di beberapa thread jd membingungkan saya. apa karena udh lama ga asah ya...
 

N E R R O

Mei 20, 2012, 07:41:57 PM
udah lama gak mampi ke forsa, sdh banyak berubah

Show 50 latest

Penulis Topik: Penelitian di Indonesia tidak produktif  (Dibaca 9254 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline reborn

  • Founder
  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 2218
  • IQ: 316
  • Gender: Pria
  • ForSa
    • Lihat Profil
    • Blog ForSa
Penelitian di Indonesia tidak produktif
« pada: Januari 27, 2007, 11:07:18 AM »
Dari Kompas :

Kutip
”Dihitung sejak Dr. Sam Ratulangi, Indonesia kini memiliki sekitar 100 doktor matematika yang ada di berbagai perguruan tinggi se-Indonesia. Jumlah ini tidak kalah dengan Singapura.” ujar Guru Besar Matematika Analis Institut Teknologi Bandung Prof Hendra Gunawan dalam orasi ilmiahnya di Gedung Musyawarah Guru Besar ITB, Jumat (26/1).
 
Hingga per Desember 2006 tercatat hanya 163 paper matematikawan Indonesia yang pernah dipublikasikan Mathematical Reviews. Dari jumlah itu, 112 di antaranya merupakan hasil karya matematikawan ITB. Singapura telah membukukan 4.741 paper. Bahkan, Malaysia sekalipun dengan koleksi 701 papernya!


Rasanya bukan hanya bidang matematika yang tidak produktif. Di tulisan itu dikatakan salah satu faktornya karena pemerintah belum menjadikan ilmu matematika sebagai prioritas dalam berbagai program penelitian.

Berikut fakta-faktanya :

1. Majalah Nature (21 Juli 2005) melaporkan pesatnya pertumbuhan publikasi ilmiah yang ditunjukkan oleh negara di Asia Pasific pada tahun 2004 yang mencapai 25% dari total paper ilmiah yang terbit di seluruh dunia. Jumlah ini jauh meningkat dari tahun 1990 yang hanya sebesar 16%. Namun ironisnya, Lembaga ilmiah Thomson Scientific (Philadelphia, Amerika) melaporkan bahwa jumlah paper ilmiah yang berhasil di publikasikan selama tahun 2004 oleh peneliti di Indonesia (yang berafiliasi dengan lembaga penelitian atau universitas di Indonesia) berjumlah 522 paper ilmiah. Jumlah ini hanya sekitar 1/3 dari paper ilmiah yang hasilkan oleh negara tetangga Malayisa yang berjumlah 1438.

Di antara negara ASEAN Indonesia menduduki peringkat keempat di bawah Singapore dengan 5781 paper, Thailand 2397 paper dan Malaysia. Sementara jika dibandingkan negara-negara maju di Asia jumlah paper Indonesia jelas sangat tertinggal di mana Jepang memiliki 83484 paper, Cina 57740 paper, Korea 24477 paper, dan India 23336 paper. Jumlah dari Indonesia juga hampir sama dengan paper ilmiah dari Vietnam yang memiliki 453 paper selama tahun 2004 tersebut.

Sumber : http://www.beritaiptek.com/zberita-beritaiptek-2005-11-17-Artikel-Ilmiah-Indonesia:-Refleksi-Penelitian-di-Indonesia.shtml


2. Anggaran iptek tahun 2004 hanya 0.05 persen dari PDB (Rakornas Ristek 2004). Angka ini relatif sangat kecil dibandingkan misalnya dengan negara jiran Malaysia, yang menganggarkan 0.5 persen dari PDB untuk mendorong pertumbuhan iptek di negeri tersebut. Dari dana 0.05 persen PDB ini masih dibagi-bagi untuk pengadaan alat dan bahan, sehingga anggaran untuk pengadaan literatur ilmiah akan jauh lebih kecil lagi. Padahal informasi ilmiah yang antara lain berupa jurnal, proseding seminar, merupakan kebutuhan pokok bagi seorang peneliti di perguruan tinggi maupun industri.

Sumber : http://www.cluster.lipi.go.id/cgi-bin/lipi_pc_main.cgi?menu=hu&ln=0050930180646


3. Dari berbagai data perbandingan antar negara dalam hal anggaran pendidikan yang diterbitkan oleh UNESCO dan Bank Dunia dalam “The World Bank (2004): Education in Indonesia: Managing the Transition to Decentralization (Indonesia Education Sector Review), Volume 2, hal. 2-4”, Indonesia adalah negara yang terendah dalam hal pembiayaan pendidikan. Pada tahun 1992, menurut UNESCO, pada saat Pemerintah India menanggung pembiayaan pendidikan 89% dari keperluan, Indonesia hanya menyediakan 62,8% dari keperluan dana bagi penyelenggaraan pendidikan nasionalnya. Sementara itu, dibandingkan dengan negara lain, termasuk negara yang lebih terbelakang seperti Srilanka, persentase anggaran yang disediakan oleh Pemerintah Indonesia masih merupakan yang terendah.

Hasil studi penelitian yang dilakukan oleh Vincent Greanery dalam “Literacy Standards in Indonesia” dapat disimpulkan bahwa kemampuan pendidikan membaca anak-anak Indonesia adalah paling rendah dibandingkan dengan anak-anak Asia Tenggara pada umumnya.

Menurut putusan Mahkamah Konstitusi No. 012/PUU-III/2005 bertanggal 5 Oktober 2005 dan No. 026/PUU-III/2005 bertanggal 22 Maret 2006, negara wajib memprioritaskan anggaran pendidikan dalam APBN dan APBD haruslah sekurang-kurangnya 20% (duapuluh persen) dari APBN serta dari APBD. Namun begitu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati telah mengatakan bahwa Pemerintah hanya akan menaikkan anggaran pendidikan maksimal menjadi 10 persen dari APBN untuk alokasi anggaran pendidikan pada tahun 2007. Hal itupun ditegaskan kembali oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pidatonya dihadapan anggota DPR dan DPD bahwa pada tahun 2007 nanti sektor pendidikan hanya akan mendapatkan alokasi sebesar 10,3 persen dari total belanja pemerintah pusat.

Sumber : http://jurnalhukum.blogspot.com/2006/10/political-will-pendidikan-indonesia.html

Selain akibat kurangnya alokasi dana pemerintah untuk pendidikan dan penelitian, minimnya produktivitas matematikawan Indonesia, penelitian di Indonesia dan pendidikan tentunya, karena kurangnya mutu pendidik dan sistem pendidikan yang pada akhirnya melahirkan SDM yang tidak kritis, tidak kreatif, dan tidak percaya diri.
« Edit Terakhir: Januari 27, 2007, 11:12:20 AM oleh Admin »

Offline peregrin

  • Global Moderator
  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 539
  • IQ: 100
  • Gender: Wanita
  • 'truth' is a lonely thing (J.Gaarder)
    • Lihat Profil
Re: Penelitian di Indonesia tidak produktif
« Jawab #1 pada: Januari 30, 2007, 12:48:00 AM »
Rasanya soal minimnya dukungan pemerintah sudah sangat sering kita keluhkan. Pertanyaan selanjutnya tentu, apa yg bisa kita lakukan dlm situasi spt ini? Ada banyak hal yg tdk / kurang mendapat dukungan pemerintah di Indonesia, tapi juga ada banyak contoh di mana community-based efforts bisa mencapai hal2 yg sebelumnya kita kira "mustahil". Contohnya pendidikan2 alternatif yg menggunakan metode2 yg berbeda dr sistem pendidikan formal yg biasa kita terima, yg ternyata bisa juga menghasilkan SDM dg kualitas yg dituntut (kritis, kreatif, percaya diri). Walaupun mungkin skala dampak yg dihasilkan tdk terasa nasional - oleh kita - (krn tertutup berita/masalah2 lain?). Aku link di bawah 3 berita lama dr kompas, maaf kalau seandainya sdh pernah baca ya.

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0505/23/naper/1766360.htm

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0509/15/humaniora/2051949.htm

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0509/14/humaniora/2049336.htm


Untuk penelitian, memang soal dana, fasilitas, komunitas, dan literature sangat menentukan. Tapi bukan berarti sama sekali tidak ada yg bisa kita lakukan bersama khan. FS misalnya, bisa jadi salah satu bentuk pendidikan alternatif yg merangsang orang utk berani kritis dan berdiskusi (apalagi ini dunia maya  :) nggak perlu dibebani perasaan takut, malu, dsb). Banyak contoh forum2 science dr luar negeri yg berhasil jadi alternatif tempat belajar dan berinteraksi antar pelajar SMA, mahasiswa sampe post-doc, dan mungkin juga orang awam yg tertarik dg topik2 yg dibahas. Utk masalah literature misalnya, bisa diadakan network dg pelajar2 Indonesia yg sedang studi di luar negeri. Mereka bisa membantu mencarikan artikel2 dr jurnal2 internasional, buku murah, dsb. (sekalian promosi, kalau ada yg butuh request artikel apa aja, silahkan japri, bisa aq bantu carikan  ;)).

Soal dana dan fasilitas memang masalah berat, dan bikin pilihan topik2 penelitian di Indonesia jadi terbatas. Tapi bukan berarti jalan tertutup sama sekali. Pernah ada prof yg cerita, ada satu penemuan penting di bidang chrono biology (biological clock) i.e. pertumbuhan tubuh bayi lbh pesat di malam hari drpd siang hari. Alat yg dipakai peneliti utk mengamati ini: cuma penggaris! Di bidang pengobatan, saat ini di Eropa dan US sedang trend pendekatan systems biology, melihat fisiologi tubuh kita (+ mekanisme penyakit) secara global dg cara berusaha mencari pola dr interaksi genome, proteome dan metabolome. Trend baru ini butuh kolaborasi at least antar kimia (kimia analsis), biologi, dan matematika (bioinformatics). Barangkali kita dr bidang kimia analisis di Indonesia susah berperan di sini, karena ya masalah dana dan fasilitas itu. Tapi dr bidang matematika - biostatistik, misalnya, aq rasa bisa. Problem mrk di negara maju saat ini adl kebanyakan data dan nggak tahu mau diapakan. Analisa data2 genome, proteome, dan metabolome saat ini setahuku pakai Principle Component Analysis, tapi bbrp org sdh mulai berpikir bhw mungkin perlu inovasi metode2 statistik baru yg lebih "fancy", utk mengolah data2 mereka itu.

Di bidang2 lain tentu ada celah2 di mana kita yg di Indonesia juga bisa berperan. Orang Indonesia bukannya terkenal kreatif  ;) Sejalan dg teori evolusi, semakin sulit keadaan, semakin kreatif lah kita, ya toch  ;) Lagian, kelebihan orang2 yg beruntung mendapat pendidikan tinggi, mestinya ya di kemampuan problem solving-nya (bukan kemampuan menghafalnya  :)).

Kita memang miskin dan tidak didukung pemerintah, tapi bukan berarti tidak berdaya khan  ;)

Free software [knowledge] is a matter of liberty, not price. To understand the concept, you should think of 'free' as in 'free speech', not as in 'free beer'. (fsf)

Offline reborn

  • Founder
  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 2218
  • IQ: 316
  • Gender: Pria
  • ForSa
    • Lihat Profil
    • Blog ForSa
Re: Penelitian di Indonesia tidak produktif
« Jawab #2 pada: Januari 30, 2007, 03:36:01 AM »
Rasanya soal minimnya dukungan pemerintah sudah sangat sering kita keluhkan. Pertanyaan selanjutnya tentu, apa yg bisa kita lakukan dlm situasi spt ini? Ada banyak hal yg tdk / kurang mendapat dukungan pemerintah di Indonesia, tapi juga ada banyak contoh di mana community-based efforts bisa mencapai hal2 yg sebelumnya kita kira "mustahil". Contohnya pendidikan2 alternatif yg menggunakan metode2 yg berbeda dr sistem pendidikan formal yg biasa kita terima, yg ternyata bisa juga menghasilkan SDM dg kualitas yg dituntut (kritis, kreatif, percaya diri). Walaupun mungkin skala dampak yg dihasilkan tdk terasa nasional - oleh kita - (krn tertutup berita/masalah2 lain?). Aku link di bawah 3 berita lama dr kompas, maaf kalau seandainya sdh pernah baca ya.

kompas.com/kompas-cetak/0505/23/naper/1766360.htm

kompas.com/kompas-cetak/0509/15/humaniora/2051949.htm

kompas.com/kompas-cetak/0509/14/humaniora/2049336.htm


Untuk penelitian, memang soal dana, fasilitas, komunitas, dan literature sangat menentukan. Tapi bukan berarti sama sekali tidak ada yg bisa kita lakukan bersama khan. FS misalnya, bisa jadi salah satu bentuk pendidikan alternatif yg merangsang orang utk berani kritis dan berdiskusi (apalagi ini dunia maya  :) nggak perlu dibebani perasaan takut, malu, dsb). Banyak contoh forum2 science dr luar negeri yg berhasil jadi alternatif tempat belajar dan berinteraksi antar pelajar SMA, mahasiswa sampe post-doc, dan mungkin juga orang awam yg tertarik dg topik2 yg dibahas. Utk masalah literature misalnya, bisa diadakan network dg pelajar2 Indonesia yg sedang studi di luar negeri. Mereka bisa membantu mencarikan artikel2 dr jurnal2 internasional, buku murah, dsb. (sekalian promosi, kalau ada yg butuh request artikel apa aja, silahkan japri, bisa aq bantu carikan  ;)).

Soal dana dan fasilitas memang masalah berat, dan bikin pilihan topik2 penelitian di Indonesia jadi terbatas. Tapi bukan berarti jalan tertutup sama sekali. Pernah ada prof yg cerita, ada satu penemuan penting di bidang chrono biology (biological clock) i.e. pertumbuhan tubuh bayi lbh pesat di malam hari drpd siang hari. Alat yg dipakai peneliti utk mengamati ini: cuma penggaris! Di bidang pengobatan, saat ini di Eropa dan US sedang trend pendekatan systems biology, melihat fisiologi tubuh kita (+ mekanisme penyakit) secara global dg cara berusaha mencari pola dr interaksi genome, proteome dan metabolome. Trend baru ini butuh kolaborasi at least antar kimia (kimia analsis), biologi, dan matematika (bioinformatics). Barangkali kita dr bidang kimia analisis di Indonesia susah berperan di sini, karena ya masalah dana dan fasilitas itu. Tapi dr bidang matematika - biostatistik, misalnya, aq rasa bisa. Problem mrk di negara maju saat ini adl kebanyakan data dan nggak tahu mau diapakan. Analisa data2 genome, proteome, dan metabolome saat ini setahuku pakai Principle Component Analysis, tapi bbrp org sdh mulai berpikir bhw mungkin perlu inovasi metode2 statistik baru yg lebih "fancy", utk mengolah data2 mereka itu.

Di bidang2 lain tentu ada celah2 di mana kita yg di Indonesia juga bisa berperan. Orang Indonesia bukannya terkenal kreatif  ;) Sejalan dg teori evolusi, semakin sulit keadaan, semakin kreatif lah kita, ya toch  ;) Lagian, kelebihan orang2 yg beruntung mendapat pendidikan tinggi, mestinya ya di kemampuan problem solving-nya (bukan kemampuan menghafalnya  :)).

Kita memang miskin dan tidak didukung pemerintah, tapi bukan berarti tidak berdaya khan  ;)



aha! Makin yakin nih peregrin backgroundnya medis... asik asik... bagi2 jurnal2nya dong  ;D Tapi kalo bisa ya jgn bahasa sana, ora mudeng ntar :-[

Yup! setuju banget sama network semacam itu. Pengennya sih bisa dishare di sini apa2 aja yang ada di luar sana. Gak semua punya kesempatan ke luar, gak semua bisa akses info2/penelitian2 yang ada, dan gak semua ngerti bermacam2 bhs. Bagus sekali kalo bisa dishare berbagai info dari berbagai bidang dan bahasa dan kalo bisa bahasa Indo biar semua bisa baca  ;)

Soal sekolah alternatif, saya bbrp kali kepikiran utk ambil bagian, cuman sayangnya sampe skrg masih wacana terus  :P . Ada yang tau alamat2 LSM atau yayasan yang bergerak di bidang pendidikan ga yahh??

Masalah penelitian, saya pikir ini juga bukan masalah Indonesia aja, tapi masalah global. Bedanya hanya Indo benar2 minim, tapi sebagian negara2 lain di post pertama punya kesempatan melakukan penelitian di beberapa bidang tertentu. Bidang2 tertentu ini mungkin yang lagi trend, punya efek instant, yang pasti ada kepentingan orang yang mendanai lahh... sementara ada bidang2 lain yang tetap minim dana walau pun di negara maju sekalipun.

Ah, jadi ke mana2 obrolannya......
« Edit Terakhir: Januari 30, 2007, 03:58:45 AM oleh Admin »

Offline peregrin

  • Global Moderator
  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 539
  • IQ: 100
  • Gender: Wanita
  • 'truth' is a lonely thing (J.Gaarder)
    • Lihat Profil
Re: Penelitian di Indonesia tidak produktif
« Jawab #3 pada: Pebruari 01, 2007, 03:00:20 AM »
hehe ... background-nya udah rada belok2 ini, jd kadang bingung sendiri  ;D

btw, kalian tuh kebanyakan pada saling kenal yah, sampe saling merayakan ultah gitu  :) ... kebanyakan alumni/anak2 gang mana to?  ;D ... trus gimana ceritanya kok sampe bisa bikin FS?

soal sekolah alternatif, yg sering dengar sih Sanggar Akar, ada websitenya kok.
Trus teman pernah cerita, dia ada sanggar di Yogya utk anak2 SD. Kalau nggak salah, di situ anak2 dibebaskan belajar sesuai dg minatnya. Trus kalau misalnya pelajaran biologi, ya mereka langsung dibawa ke alam gitu. Coba tanya mas DeJoko, barangkali dia bisa memberikan info lebih detil ttg ini.

Offline reborn

  • Founder
  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 2218
  • IQ: 316
  • Gender: Pria
  • ForSa
    • Lihat Profil
    • Blog ForSa
Re: Penelitian di Indonesia tidak produktif
« Jawab #4 pada: Pebruari 01, 2007, 03:10:20 AM »
wah, sama dong soal belok2nya haha.... beloknya ke mana neh? (tetep ngejar terus :P)

Oh, yang sama alinc? Kenalnya juga di dunia maya kok. Terus ngalor ngidul, terus cerita FS, ehh ternyata si alinc jagoan kimia n sukarela mo gabung ;D. Sama kek peregrin aja skrg, lama2 juga kenal kan :)

Ceritanya bikin FS? Iseng doang awalnya, bikin diary online ;D

Tuh kan bener, peregrin juga kenal sama deJoko darimana hayo???

Offline reborn

  • Founder
  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 2218
  • IQ: 316
  • Gender: Pria
  • ForSa
    • Lihat Profil
    • Blog ForSa
Re: Penelitian di Indonesia tidak produktif
« Jawab #5 pada: Pebruari 01, 2007, 04:00:32 AM »
Waduh diinterogasi balik... jawab gak yahh :-\ btw grubyukan bahasa jerman bukan  ;D

Awalnya sendiri, iseng doang, dah bilang kan tadi mo bikin diary online :P ngambil kedokteran (upss) and fisika dulu... interested in all of human knowledge basically  ???, gak gitu suka institusi, tapi pengen tau banyak, nah lho silahkan binun hahaha...

Terus bikin forum, terus gerasak gerusuk sana sini cari bantuan. Ada yang dari dunia real, banyakan dari dunia maya nemu di jalan  :P untungnya ketemu banyak orang2 yang baik hari  :-*and here we are  ;)

Wew... boleh dong neh bantuin si alinc di chem  8)

btw, ini post ntar boleh didelete ga yahh  ::)

Offline peregrin

  • Global Moderator
  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 539
  • IQ: 100
  • Gender: Wanita
  • 'truth' is a lonely thing (J.Gaarder)
    • Lihat Profil
Re: Penelitian di Indonesia tidak produktif
« Jawab #6 pada: Pebruari 01, 2007, 04:20:25 AM »
kedokteran ama fisika?? wuah bukannya itu dua dunia yg berbeda  :-[ .. hebat.. hebat..

hehe ... ya bukan kimia murni ini (ya gini kalo belok2, ditagih sana-sini ngeles terus  ;D) hehe ...

tp kalo ada yg bisa pasti ntar aku bantu kok  ;D biasanya memang yg aku lihat2 thread kimia dan health (plus coffee lounge, introduction, de el el yg kayanya banyak gosip hehe..)

knp di-delete, info rahasia itu ya?  ;D ... ya boleh aja, terserah admin deh, tp post-ku ntar aq delete jg ya hihi ... whatever your reason is, sama lah pokoknya  ;D

btw, skr di indo subuh to? online terus?

Offline reborn

  • Founder
  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 2218
  • IQ: 316
  • Gender: Pria
  • ForSa
    • Lihat Profil
    • Blog ForSa
Re: Penelitian di Indonesia tidak produktif
« Jawab #7 pada: Pebruari 01, 2007, 04:40:46 AM »
ho oh, sama kasusnya keknya, suka belok2 hahaha... banyak maunya kemampuan minim :P ga terlalu jauh lah, kan ada nuclear medicine atau medical physics tapi emang pengen aja sih sebenarnya haha...

yup, dah subuh. gak terus2an lah, tidur juga. peregrin di swiss yahh? Lagi research apa skrg?

Offline reborn

  • Founder
  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 2218
  • IQ: 316
  • Gender: Pria
  • ForSa
    • Lihat Profil
    • Blog ForSa
Re: Penelitian di Indonesia tidak produktif
« Jawab #8 pada: Pebruari 01, 2007, 05:26:31 AM »
doh... kritis amat, typo juga dikritik...
tidur dulu yahh (mo lari dari pertanyaan lanjutan sebenernya)

hahaha.........

Offline peregrin

  • Global Moderator
  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 539
  • IQ: 100
  • Gender: Wanita
  • 'truth' is a lonely thing (J.Gaarder)
    • Lihat Profil
Re: Penelitian di Indonesia tidak produktif
« Jawab #9 pada: Pebruari 01, 2007, 05:40:50 AM »
lho kok? hehe....

bukaan... maksudku psycic itu lho, yg macam pake ouija board gitu hehehe ...

ya udah deh, sama2 mesti tidur jg nih  ;D

Offline The Houw Liong

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 1242
  • IQ: 15
  • Gender: Pria
    • Lihat Profil
    • Sains, Filsafat dan Teknologi
Re: Penelitian di Indonesia tidak produktif
« Jawab #10 pada: Januari 19, 2009, 06:13:05 PM »
Unsur yang penting untuk memajukan penelitian ialah penghargaan dan dana penelitian.

Contoh :
Dana penelitian universitas unggul dunia, sekitar 200 kali dana penelitian ITB.
Umumnya negara maju menyediakan lebih dari 10% anggarannya untuk penelitian, sedangkan Indonesia kurang dari 4% ?

Gaji peneliti di Malaysia ialah sekitar 5 X gaji peneliti Indonesia.
Gaji peneliti di Singapura sekitar 20 X gaji peneliti Indonesia.



« Edit Terakhir: Januari 25, 2011, 04:54:33 PM oleh reborn »
HouwLiong

Offline The Houw Liong

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 1242
  • IQ: 15
  • Gender: Pria
    • Lihat Profil
    • Sains, Filsafat dan Teknologi
Re: Penelitian di Indonesia tidak produktif
« Jawab #11 pada: Pebruari 11, 2009, 01:25:21 PM »
Your gateway to worldwide Universities and Colleges

4 International Colleges & Universities is an international higher education
search engine and directory reviewing world-wide accredited Universities and
Colleges.
4icu.org includes 8750 Colleges and Universities ranked by web popularity in
200 countries.
Ranking berdasarkan popularitas saja.
Namun, bagaimanapun juga kita harus menyampaikan  ucapan "Selamat kepada
ITB"
« Edit Terakhir: Januari 25, 2011, 04:54:53 PM oleh reborn »

Offline utusan langit

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 1495
  • IQ: 104
  • Gender: Pria
  • no plan means no future
    • Lihat Profil
    • utusan langit
Re: Penelitian di Indonesia tidak produktif
« Jawab #12 pada: Pebruari 13, 2009, 07:06:32 PM »
seharusnya pengalokasian dana pendidikan dari APBN harus diperbaiki

Offline Nabih

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 934
  • IQ: 141
  • Gender: Pria
  • Bosen avatar kosong mulu
    • Lihat Profil
    • Pecinta Olimpiade Matematika Mahasiswa
Re: Penelitian di Indonesia tidak produktif
« Jawab #13 pada: Mei 24, 2009, 09:22:55 PM »
Maksudnya syarat PKM lolos diperberat???
Website Matematika Terapan => http://nabihbawazir.com

 

Copyright © 2006-2011 Forum Sains Indonesia