Member baru? Bingung? Perlu bantuan? Silakan baca panduan singkat untuk ikut berdiskusi.
0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.
â€Dihitung sejak Dr. Sam Ratulangi, Indonesia kini memiliki sekitar 100 doktor matematika yang ada di berbagai perguruan tinggi se-Indonesia. Jumlah ini tidak kalah dengan Singapura.†ujar Guru Besar Matematika Analis Institut Teknologi Bandung Prof Hendra Gunawan dalam orasi ilmiahnya di Gedung Musyawarah Guru Besar ITB, Jumat (26/1). Hingga per Desember 2006 tercatat hanya 163 paper matematikawan Indonesia yang pernah dipublikasikan Mathematical Reviews. Dari jumlah itu, 112 di antaranya merupakan hasil karya matematikawan ITB. Singapura telah membukukan 4.741 paper. Bahkan, Malaysia sekalipun dengan koleksi 701 papernya!
Rasanya soal minimnya dukungan pemerintah sudah sangat sering kita keluhkan. Pertanyaan selanjutnya tentu, apa yg bisa kita lakukan dlm situasi spt ini? Ada banyak hal yg tdk / kurang mendapat dukungan pemerintah di Indonesia, tapi juga ada banyak contoh di mana community-based efforts bisa mencapai hal2 yg sebelumnya kita kira "mustahil". Contohnya pendidikan2 alternatif yg menggunakan metode2 yg berbeda dr sistem pendidikan formal yg biasa kita terima, yg ternyata bisa juga menghasilkan SDM dg kualitas yg dituntut (kritis, kreatif, percaya diri). Walaupun mungkin skala dampak yg dihasilkan tdk terasa nasional - oleh kita - (krn tertutup berita/masalah2 lain?). Aku link di bawah 3 berita lama dr kompas, maaf kalau seandainya sdh pernah baca ya. kompas.com/kompas-cetak/0505/23/naper/1766360.htm kompas.com/kompas-cetak/0509/15/humaniora/2051949.htmkompas.com/kompas-cetak/0509/14/humaniora/2049336.htmUntuk penelitian, memang soal dana, fasilitas, komunitas, dan literature sangat menentukan. Tapi bukan berarti sama sekali tidak ada yg bisa kita lakukan bersama khan. FS misalnya, bisa jadi salah satu bentuk pendidikan alternatif yg merangsang orang utk berani kritis dan berdiskusi (apalagi ini dunia maya nggak perlu dibebani perasaan takut, malu, dsb). Banyak contoh forum2 science dr luar negeri yg berhasil jadi alternatif tempat belajar dan berinteraksi antar pelajar SMA, mahasiswa sampe post-doc, dan mungkin juga orang awam yg tertarik dg topik2 yg dibahas. Utk masalah literature misalnya, bisa diadakan network dg pelajar2 Indonesia yg sedang studi di luar negeri. Mereka bisa membantu mencarikan artikel2 dr jurnal2 internasional, buku murah, dsb. (sekalian promosi, kalau ada yg butuh request artikel apa aja, silahkan japri, bisa aq bantu carikan ). Soal dana dan fasilitas memang masalah berat, dan bikin pilihan topik2 penelitian di Indonesia jadi terbatas. Tapi bukan berarti jalan tertutup sama sekali. Pernah ada prof yg cerita, ada satu penemuan penting di bidang chrono biology (biological clock) i.e. pertumbuhan tubuh bayi lbh pesat di malam hari drpd siang hari. Alat yg dipakai peneliti utk mengamati ini: cuma penggaris! Di bidang pengobatan, saat ini di Eropa dan US sedang trend pendekatan systems biology, melihat fisiologi tubuh kita (+ mekanisme penyakit) secara global dg cara berusaha mencari pola dr interaksi genome, proteome dan metabolome. Trend baru ini butuh kolaborasi at least antar kimia (kimia analsis), biologi, dan matematika (bioinformatics). Barangkali kita dr bidang kimia analisis di Indonesia susah berperan di sini, karena ya masalah dana dan fasilitas itu. Tapi dr bidang matematika - biostatistik, misalnya, aq rasa bisa. Problem mrk di negara maju saat ini adl kebanyakan data dan nggak tahu mau diapakan. Analisa data2 genome, proteome, dan metabolome saat ini setahuku pakai Principle Component Analysis, tapi bbrp org sdh mulai berpikir bhw mungkin perlu inovasi metode2 statistik baru yg lebih "fancy", utk mengolah data2 mereka itu.Di bidang2 lain tentu ada celah2 di mana kita yg di Indonesia juga bisa berperan. Orang Indonesia bukannya terkenal kreatif Sejalan dg teori evolusi, semakin sulit keadaan, semakin kreatif lah kita, ya toch Lagian, kelebihan orang2 yg beruntung mendapat pendidikan tinggi, mestinya ya di kemampuan problem solving-nya (bukan kemampuan menghafalnya ).Kita memang miskin dan tidak didukung pemerintah, tapi bukan berarti tidak berdaya khan