Selamat datang di ForSa! Forum diskusi seputar sains, teknologi dan pendidikan Indonesia.
0 Anggota dan 2 Pengunjung sedang melihat topik ini.
Kutip dari: nandaz pada Pebruari 22, 2010, 08:14:45 PM....BTW, cara orang menyeleksi untuk masuk Harvard itu seperti apa sih? apa ada semacam tes tahunan untuk anak2 yang siap lulus High schoolnya? atau memang ditujukan Harvard sebagai pelanjut gelar diatas S1?sklh aja di instutusi yg kurikulumnya A-level di inggris.. katanya org2 harvard prioritasin lulusan A-level inggris.. ya tapi silakan bayar harga mahal buat ke inggrisnya..sebenernya sih asal dari sklh bgs, uni2 top US mau terima kok.. misalny di singapur, anak2 raffles JC itu tiap thn ada yg ke harvard, mit, dll..
....BTW, cara orang menyeleksi untuk masuk Harvard itu seperti apa sih? apa ada semacam tes tahunan untuk anak2 yang siap lulus High schoolnya? atau memang ditujukan Harvard sebagai pelanjut gelar diatas S1?
Sekadar mengkonfirmasi bung IaZr, berita pencontekan itu benar. Bukan hanya mendengar, saya menyaksikan sendiri tumpukan hasil tesis yang dipajang di perpustakaan pasca universitas tempat saya kuliah jelas2 hanyalah penelitian mengada2, dibuat asal2an dan hanya sedikit memodifikasi komposisinya. Dan anehnya, penelitian seperti itu di acc oleh pembimbing dan penguji sampai jadi tesis. Dan anda tentu tidak jarang mendengar ada pernyataan dosen2nya sendiri yang mengatakan :" Udah, bikin tesis/skripsinya contek penelitian orang, modif dikit variabel atau metodenya, yang penting lulus, dapat gelar"
Jadi ingat TPI...dulu TPI dirancang untuk televisi pendidikan indonesia...kepanjangan TPI aja Televisi "Pendidikan" Indonesia...tapi yang saya lihat minim dengan pendidikan...
Saya mah sudah tidak percaya sama peringkat-peringkat yang dibuat barat. Semua dipengaruhi Kepentingan bisnis dan politik. Bahkan Nobel sekali pun.Indonesia tidak kalah kok pendidikannya dengan negara mana pun.
ITB mana ?
Kalo dihubung2in dengan acara TV... Seorang penulis di era Adam Smith pernah menyatakan jika manusia suatu negara dibiasakan untuk mengerjakan hal2 yg simpel, maka ekonomi di sana akan stagnan. Mungkin ini bisa diartikan jika tidak dibiasakan berpikir kreatif, maka otak kita tidak akan terlatih untuk menghadapi tantangan - cenderung pasrah dgn keadaan.Lihat acara2 TV kita: ada tidak yg menantang kreativitas atau daya tangkap?? Lihat juga arah perkembangan musik indonesia... Inilah wajah daya pikir mayoritas masyarakat kita Masih untung kita punya Trans dan MetroTV yg sudi mendobrak keyakinan umum ttg acara TV yg laris..Kutip dari: Mat Dillom pada November 28, 2009, 10:54:09 AMSaya mah sudah tidak percaya sama peringkat-peringkat yang dibuat barat. Semua dipengaruhi Kepentingan bisnis dan politik. Bahkan Nobel sekali pun.Indonesia tidak kalah kok pendidikannya dengan negara mana pun.Hmm.. meskipun kalimat mat dillom berbau optimisme, entah knp saya tdk bisa ikut berbangga hati..Saya mengambil kuliah master di UGM dan saya punya cukup byk teman yg beruntung memiliki kesempatan utk mengambil double degree ke universitas luar - ke malaysia, singapura, jepang hingga eropa dan amerika.. dan semua teman saya setuju - secara kualitas pendidikan di Indonesia is nowhere better (tentunya dgn negara2 maju)..Kalau ukurannya per item, misal kecerdasan pengajar, mungkin bisa mengimbangi bahkan melebihi - ga perlu dipertanyakanlah, perwakilan negara kita sering memenangi olimpiade pendidikan di berbagai bidang - tapi kalau secara kualitas pendidikan? Di universitas sekelas UGM saja.. Fasilitas internet kembang kempis, kelengkapan literatur - termasuk akses ke jurnal2 internasional - kembang kempis, dana penelitian - yg penting untuk peningkatan pemahaman dan pengembangan keilmuan - lebih kembang kempis lagi... Lebih tragisnya lagi UGM mengklaim dirinya: world class RESEARCH university