Forum Sains Indonesia



Perlihatkan Tulisan

Seksi ini mengijinkan Anda untuk melihat semua tulisan yang dibuat oleh anggota ini. Catatan bahwa Anda hanya bisa melihat tulisan yang dibuat dalam area di mana Anda memiliki akses terhadapnya.


Topik - Hendy wijaya, MD

Halaman: [1]
1
Biologi / DNA Packaging dan Chromatin-based Epigenetic Information
« pada: April 22, 2010, 11:17:33 AM »
Sel eukariot, terutama sel tubuh manusia, telah mengembangkan cara bagaimana membungkus rantai DNA sepanjang 2 meter dalam inti sel yang hanya berdiameter 2-4 µm selama sepanjang sejarah evolusi makhluk hidup. Ia bisa memampatkan panjang rantai DNA dalam kromosom sampai 10 ribu kali. Walaupun telah dimampatkan sampai sedimikian padatnya, sel ini masih memiliki kemampuan untuk mengekspresikan gen yang ada di dalamnya selama sel itu hidup. Bila di analogikan dalam skala yang biasa kita pakai sehari-hari, masalah pembungkusan ini sama seperti bagaimana membungkus daftar belanjaan sepanjang 20 km sedemikian rupa sehingga dapat dimasukkan ke dalam sebuah bola ping pong? Pertanyaan yang susah dijawab atau bahkan tidak mungkin dapat dilakukan. Tidak saja hanya dimasukkan tapi juga harus tetap intak dan tiap tulisan yang tertera di atas pita tersebut dapat dibaca setiap saat tanpa harus dikeluarkan dari dalam bola pingpong.
Sistem packaging yang rumit dan memiliki derajat keteraturan tinggi sangat diperlukan di sini. Namun, perlu diingat pula bahwa sistem packaging ini juga harus tetap menunjukkan fleksibilitasnya yang tinngi atau permisif terhadap semua bentuk modifikasi fungsi sehingga memungkinkan informasi yang terkandung di dalamnya untuk dapat diekspresikan. Sifatnya yang fleksibel tampak  pada karakter nukleosom yang fluid (akan dijelaskan di bawah).

2
Biologi / Eucaryotic RNAs
« pada: April 22, 2010, 10:54:05 AM »
RNA pada organisme eukariotik (Ribonucleic acid) ada banyak jenisnya dan tentu saja masing-masing jenis memiliki fungsi yang berbeda-beda dalam tiap tahapan sistem biologis organisme tersebut. Pada dasarnya, ada tiga kelas mayor RNA. Pertama, mRNA (messenger RNA), dan prekursornya, pre-mRNA atau hnRNA (heterogenous nuclear RNA), yaitu seutas RNA yang mengandung kodon atau mengkode protein tertentu dan merupakan transkrip dari DNA genomik melalui proses transkripsi. Sepuluh persen RNA dalam sel eukariot adalah RNA jenis ini.
Kedua, RNA yang tidak mengandung kodon atau membawa informasi genetis tapi memiliki peran penting secara langsung dalam tahapan-tahapan sintesis protein. Termasuk dalam jenis RNA ini adalah rRNA (ribosomal RNA), non-coding RNA yang merupakan bagian pembentuk ribosom sekaligus merupakan bagian aktif dalam ribosom sebagai ribozyme peptidyltransferase dan membentuk 75% total massa RNA dalam sel, tRNA (transfer RNA) yang berperan sebagai molekul adapter dalam proses translasi protein, dan snRNA (small nuclear RNA), yang berperan dalam pemrosesan hnRNA menjadi mRNA matur melalui proses splicing.

3
Biologi / Definisi Gen dari Masa ke Masa
« pada: April 22, 2010, 10:52:46 AM »
Penemuan yang mengungkap bahwa gen-gen eukariot pada umumnya memiliki sekuens penyela atau intron (intervening region) dan sekuens-sekuens pengkodenya dapat disusun lebih dari satu kemungkinan kombinasi telah mencuatkan permasalahan tentang bagaimanakah definisi gen sebenarnya. Definisi gen yang pertama kali menyentuh aspek molekuler muncul pada tahun 1940. Saat itu, definisi gen tersebut berasal dari studi-studi biokimiawi yang dilakukan pada Neurospora.
Sebelumnya, gen hanya didefinisikan sebagai unit-unit tunggal yang mengalami segregasi saat pembelahan sel dan membawa informasi tentang sifat-sifat yang diwariskan (pehnotypic trait) seperti warna mata pada Drosophila melanogaster, tekstur kulit kacang polong, dan lain-lain. Jadi, dari definisi tersebut bisa disebut bahwa gen adalah unit hereditas terkecil.
Hasil studi pada Neurospora membuktikan bahwa sebagian besar gen mengacu pada suatu regio pada genom yang menyandi enzim atau polipeptida tertentu. Hasil studi ini mendukung hipotesis satu gen satu polipeptida (one gene, one polypeptide). Penelitian-penelitian selanjutnya membuktikan bahwa hipotesis one gene, one polypeptide adalah benar dan sahih. Namun ketika lebih banyak studi dilakukan, pada tahun 1960, dapat diungkap bahwa gen ternyata adalah seutas DNA yang ditranskripsi membentuk RNA yang di dalamnya terkandung informasi atau kode yang menyandi rantai polipeptida tertentu (atau sebuah struktur RNA sepeti tRNA atau rRNA).
Definisi gen tidak berhenti pada titik itu, tapi ia terus mengalami perubahan dari waktu ke waktu mengikuti perkembangan hasil studi yang mutakhir. Pada tahun 1970, seiring dengan ditemukannya sekuens pengkode yang terpecah-pecah (exon) dan intron, definisi sebuah gen kembali mengalami revisi. Adanya sekuens yang terpecah-pecah memungkinkan sintesis berbagai macam protein yang berkaitan atas dasar proses alternative splicing RNA hasil transkripsi satu segmen DNA. Lantas, kalau demikian faktanya bagaimana gen itu didefinisikan?
Saat ini, definisi gen adalah suatu segmen pada DNA yang ditranskripsikan sebagai satu unit tunggal untuk mengkode satu atau lebih produk fungsional yang saling berkaitan (related functional products). Definisi gen ini juag mencakup segmen DNA yang mengkode protein varians dari hasil proses post-transkripsional selain alternative splicing, seperti misalnya translational frameshifting, translational recoding, RNA editing, regulated poly-A addition dan lain sebagainya. Pada beberapa fenomena yang sangat jarang, di mana satu unit transkripsi tunggal mengkode dua jenis protein eukariotik yang sama sekali berbeda, kedua protein tersebut dinyatakan berasal dari dua gen yang berbeda tapi saling tumpang tindih dalam genom.

Andino, R., et al. 2008. Control  of Gene Expressio. In: Alberts, B., Johnson, A., Lewis, J., Raff, M., Roberts, K., Walter, P. (Ed),Molecular Biology of The Cell , 5th Edition, (p. 480-481). New York: Garland Science.

4
Kesehatan / Molecular Stress dalam Stress Fisik dan Psikis
« pada: Januari 05, 2010, 05:16:12 PM »
Pada ummnya stress merupakan suatu kondisi tertekan, bisa tertekan secara kejiwaan maupun tertekan secara fisik, misal pada beberapa atlet olah raga yang mengalami pelatihan berat. Stress juga merupakan suatu kondisi yang meyertai kehidupan manusia, tidak ada manusia hidup yang bebas dari segala macam stress. Dalam kadar yang tertentu, stress itu baik untuk melatih tubuh kita secara fisik dan mental agar menjadi lebih kuat dan teruji. Namun, jika stress itu berlebihan dan berkepanjangan, tentu saja akan membawa dampak yang buruk bagi kesehatan kita. Hal ini sudah merupakan pengetahuan umum yang ada di masyarakat, tetapi tidak banyak orang yang mengetahuinya mengapa stress dapat mempengaruhi keadaan-keadaan di atas dan apa akibatnya pada tingkat selular.

Saat kita stress oleh karena berbagai sebab, misal bekerja keras sepanjang hari, bertengkar, di PHK ataupun berhadapan dengan singa, pusat emosi kita dalam otak, akan mengantarkan pesan-pesan saraf (impuls) ke hipothalamus, yaitu suatu bagian dari pusat emosi kita yang terletak dibagian dasar dan tengah otak besar. Kemudian, hipothalamus akan mengolah impuls saraf tersebut, memproduksi dan melepaskan suatu zat yang disebut CRH (Corticothropin Releasing Hormone) kepada bagian otak lain yang berada dibawahnya, hipofisis atau pituitari. CRH selanjutnya akan merangsan hipofisis untuk melepaskan ACTH (Adrenocorticotropin Hormone) ke dalam sirkulasi darah.

5
Kesehatan / Banyak Konsumsi Buah: Benarkah Menyehatkan?
« pada: Januari 05, 2010, 05:08:50 PM »

Sebagian besar orang beranggapan bahwa mengkonsumsi buah dalam jumlah besar sangat menguntungkan bagi kesehatan dengan asumsi bahwa buah mengandung nilai gizi yang tinggi dibandingkan dengan bahan makanan yang lainnya. Tentu saja hal tersebut benar jika nilai gizi yang dimaksud adalah kandungan vitamin yang tinggi dalam buah, serat, baik serat larut air (pektin dan gum) yang ada pada kacang-kacangan dan kulit apel, dan serat tidak larut air (selulosa dan hemiselulosa) dan beberapa zat lain yang memang penting bagi kesehatan tubuh kita dalam kadar tertentu dalam buah, misalkan trace element (tembaga, seng, magnesium, mangan, dsb).

Selain kandungan buah di atas, jangan lupa juga bahwa buah juga mengandung kadar karbohidrat yang tinggi dalam bentuk gula buah atau disebut juga sukrosa dalam jumlah besar. Gula buah atau sukrosa merupakan salah satu bentuk karbohidrat disakarida yang jika dikonsumsi, di dalam saluran cerna akan dipecah oleh enzim disakaridase menjadi glukosa dan fruktosa, dua jenis gula yang berbeda dari konfigurasi molekulnya. Glukosa sendiri akan diserap oleh tubuh dan menjadi sumber energi utama dalam tubuh manusia yang sering kita sebut sebagai sumber energi karbohidrat, terutama untuk sel neuron (sel otak) dan sel darah merah, karena kedua jenis sel ini hanya bisa memanfaatkan karbohidrat sebagai sumber energi. Saat kita makan (fed state), jumlah glukosa yang diserap tentu saja akan melebihi kadar gula yang dibutuhkan oleh tubuh untuk memenuhi kebutuhan metabolisme. Dengan demikian, “kelebihan” ini akan menghambat rantai metabolisme glukosa yang sensitif akan penumpukan energi melalui inhibisi sejumlah enzim pemecah glukosa. Proses tersebut akhirnya menghalangi pemecahan glukosa lebih lanjut untuk menghasilkan energi, dan sebaliknya, glukosa akan disimpan dalam liver dan otot dalam bentuk glikogen. Semua proses ini diregulasi oleh insulin. Hasilnya, gula darah tetap dipertahankan dalam batas-batas normal.

6
Biologi / Intron dalam Evolusi
« pada: Januari 02, 2010, 11:38:44 PM »
Fungsi dan awal mula intron pada genom eukariotik sampai saat ini masih diperdebatkan, dan muncul berbagai macam teori, namun secara garis besar teori-teori tersebut dapat dibagi menjadi dua, yaitu teori yang menyatakan bahwa intron muncul pada makhluk hidup bersel satu pertama kali, teori ini lebih dikenal sebagai early introns. Seiring berevolusinya makhluk hidup, ada makhluk hidup yang terus mempertahankan keberadaan intron, seperti pada eukariot, dan ada makhluk hidup yang kehilangan intronnya, seperti pada prokariot. Sedangkan teori yang satunya lagi menyatakan bahwa intron muncul belakangan seiring evolusi makhluk hidup (late introns).

Seiring perkembangannya, teori early intron lebih banyak dianut oleh banyak ahli genetika evolusi sekarang karena memiliki sejumlah argumentasi yang dapat menjelaskan arti penting intron dalam memfasilitasi proses evolusi makhluk hidup. Pada dasarnya, bentuk-bentuk gen pada makhluk hidup yang ada sekarang berkembang dari bentuk awalnya (ancestral genes) melalui sejumlah proses duplikasi dan rekombinasi, kedua proses ini disebut juga genetic rearrangment. Contohnya, gen yang mengkode subunit hemoglobin, yaitu α dan β, serta gen yang mengkode myoglobin, diperkirakan memiliki bentuk awal yang sama, karena ketiganya memiliki jumlah ekson dan intron yang sama, demikian juga dengan panjang ekson dan intronnya yang mirip. Ketiganya memiliki 3 ekson dan 2 intron, di mana intron pertama lebih pendek daripada intron yang kedua. Sebagai perbandingan, bentuk awal dari gen-gen tersebut (ancestral genes) diwakilkan oleh gen analognya yang terdapat pada ragi (yeast). Ancestral genes inipun memiliki jumlah ekson dan intron yang sama serta memiliki konfigurasi yang sama.
Ancestral genes ini diperkirakan mengalami duplikasi untuk membentuk myoglobin dan subunit hemoglobin. Kemudian dalam perkembangan lebih lanjut, gen subunit hemoglobin mengalami duplikasi kembali menjadi subunit α dan β. Ketiga gen hasil duplikasi ini selanjutnya berevolusi sendiri-sendiri, mengalami mutasi, dan sejumlah rekombinasi. Akibatnya, urutan basa nitrogennya menjadi tidak 100% sama, namun masih menunjukkan tingkat kemiripan yang tinggi melalui analisis terhadap beberapa conserved sequence, yaitu suatu urutan basa nitrogen yang dipertahankan karena memiliki peran yang penting sehubungan dengan fungsi protein yang dikodenya, stabilitas mRNA yang dihasilkannya,  ataupun regulasi transkripsinya.
Contoh yang lain mengenai duplikasi DNA adalah duplikasi salah satu atau beberapa ekson pada suatu gen untuk menjadi bagian dari ekson gen lain. Sehingga dengan demikian, sebenarnya banyak gen yang ada sekarang memiliki bentuk-bentuk ancestral yang jumlahnya lebih sedikit. Dan antara gen yang satu dengan gen yang lain masih memiliki hubungan, baik karena berasal dari satu ancestral genes maupun karena mereka berbagi satu atau lebih ekson yang sama, karena ekson tersebut mengalami duplikasi selama evolusi. Gen-gen yang demikian disebut masih dalam satu famili jika tingkat kemiripian urutan basa nitrogen pada keseluruhan ekson dalam gen yang satu dengan gen yang lainnya itu mencapai 85% atau lebih. Selain contoh gen hemoglobin, masih banyak gen lain yang jelas mengalami duplikasi dan segment shuffling, misalkan gen-gen adhesive glycoprotein seperti fibronectin dan tenascin; membran channel seperti voltage gated sodium channel, CFTR (Cystic Fibrosis Transmembran Regulator), potasium channel, dll; dan beberapa gen extracellular matrix seperti kolagen, dan elastin.

Genetic rearrangement tidak hanya terjadi pada tingkat DNA, tapi juga pada tingkat RNA melalui sejumlah proses alternative splicing, dimana masing-masing ekson dalam untas hnRNA dapat “dipilih” untuk digunakan atau tidak tergantung kondisi yang mempengaruhi diekspresikannya gen tersebut. Keseluruhan proses ini memerlukan suatu mekanisme yang berfungsi mempertahankan integritas suatu gen atau unit-unit penyusunnya, yaitu ekson, agar suatu produk yang dikodenya tetap memiliki fungsi yang utuh. Jika suatu gen tidak memiliki intron, maka proses “utak-atik” gen seiring dengan perkembangan evolusi makhluk hidup harus dilakukan dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi. Oleh karena urutan-urutan basa nitrogen dalam DNA tanpa intron, semuanya memiliki arti untuk mengkode suatu modul dalam protein dan memiliki fungsi tersendiri, apabila proses rearrangment dilakukan tanpa akurasi yang tinggi maka akan memotong informasi-informasi penting di dalamnya, akhirnya protein yang dihasilkan menjadi tidak berguna. Kendala ini dapat diatasi jika di sela-sela informasi atau kode genetik tersebut terdapat “ruang” yang dapat dipotong di banyak tempat tanpa merubah fungsi protein yang disandinya. Proses ini tidak memerlukan presisi yang tinggi dan memungkinkan proses genetic rearrangement berlangsung seiring dengan proses adaptasi makhluk hidup dalam berevolusi. Ruang antar ekson yang dimaksud di sini adalah intron.

Akan tetapi, walaupun teori early intron ini lebih banyak dianut, ada beberapa macam “blind spot” yang lebih cocok dijelaskan dengan teori late intron. Teori early intron yang memudahkan organisme berevolusi melalui proses segment shuffling hanya berlaku untuk organisme multiseluler yang memiliki tekanan seleksi alam dan tantangan kompetisi dalam lingkungan yang lebih rendah dibandingkan dengan mikroorganisme. Mikroorganisme cenderung berkembang biak cepat, berusaha bersaing atau berkompetisi dengan spesies lain dalam merebutkan sumber daya yang ada. Dalam kondisi seperti ini, tentu saja kemampuan berkembang biak yang cepat, genom yang lebih kecil, komponen regulator yang lebih sedikit jauh lebih menguntungkan dibandingkan genom yang lebih kompleks -ingatlah bahwa proses replikasi DNA saat mikroorganisme bereproduksi memerlukan energi, jadi, semakin pendek genom maka semakin cepat dan sedikit energi yang diperlukan.

7
Berikut penjelasan masalah peran population genetics dalam evolusi. Beda dengan thread2 lain yang banyak membahas studi kualiitatif teori evolusi lewat argumen2 yang selalu disanggah, kali ini saya berusaha menjelaskannya dari aspek teknis kuantitatifnya. Sebelumnya perlu diingat bahwa ini adalah hasil penelitian dan studi kuantitatif dan bukan argumen kualitatif dan saya rasa memiliki kekuatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan argumen kualitatif. Dan akhirnya, mohon maaf kalau penjelasannya panjang sehingga saya potong2. Selamat membaca..

8
Ketika Anda memeriksa genom dari berbagai maca spesies, Anda pasti mengira bahwa organisme yang sederhana memiliki genom yang yang lebih kecil daripada organisme yang lebih kompleks. Sebab, Anda mengasumsikan bahwa organisme yang lebih sederhana memerlukan sedikit gen daripada organisme yang lebih kompleks. Asumsi ini memang benar, tapi perkiraan bahwa organisme yang lebih sederhana memiliki genom yang lebih kecil tidaklah sesuai faktanya.

Ambilah contoh perbandingan antara manusia dan amoeba. Manusia sudah tentu memiliki lebih banyak gen daripada amoeba, sebab manusia adalah organisme multiselular yang jauh lebih kompleks daripada amoeba. Hal ini benar adanya, tapi apakah manusia juga memiliki genom yang lebih besar daripada amoeba?Tidak. Faktanya, manusia memiliki 3,3 milyar pasang basa dalam genomnya, sedangkan amoeba memiliki 200 milyar genom dalam genomnya, yaitu hampir 70 kali lebih banyak daripada manusia! Lantas mengapa genom organisme yang jauh lebih sederhana memiliki genom yang demikian besarnya?
Demikian juga contoh lain, yaitu bony fish dan japanese puffer fish, kedua jenis ikan ini merupakan spesies yang masih memiliki kekerabatan dekat.  Japanese puffer fish memiliki 0,5 milyar pasang basa dalam genomnya sedangkan bony fish memiliki 300 milyar pasang basa dalam genomnya, 600 kali lebih banyak daripada bony fish! Kenapa hal ini bisa terjadi? Apa yang gunanya kelebihan DNA dalam genom organisme-organisme tersebut?

Fenomena ini disebut sebagai C-Value Paradox, dengan C mengacu pada kuantitas DNA dalam genom organisme. Kelebihan DNA tersebut tidak mencerminkan komplektisitas komponen genetiknya, tapi hanya berupa DNA yang tidak memiliki fungsi ataupun mengkode suatu produk fungsional dalam organisme bersangkutan. Sebagian besar dari DNA tersebut merupakan suatu segmen repetitif yang terdiri dari transposons dan retrotransposons. Transposons atau disebut juga transposable elements merupakan segmen DNA yang bisa menginsersikan dirinya dimanapun dalam genom baik dengan cara mengkopi dirinya sendiri melalui replicative transposition atau mengkatalisis pemindahan segmen dirinya sendiri melalui mekanisme conservative transposition. Kedua mekanisme ini dilakukan oleh transposon menggunakan enzim transposase yang dikodenya dan tanpa melalui fase RNA. Sedangkan retrotransposon atau retrotransposable elements melakukan perpindahan atau insersi melalui fase RNA. Jadi transkrip dirinya selain mengkode reverse trankriptase, ia juga berfungsi sebagai template untuk membentuk cDNA untuk kemudian diinsersikan di tempat-tempat tertentu dalam genom.

Dalam tubuh manusia, terdapat dua jenis retrotransposon, yaitu SINEs (Short Interspersed Nuclear Elements) dan LINEs (Long Interspersed Nuclear Elements). LINEs memiliki panjang antara 1-6 Kbp sedangkan SINEs memiliki panjang 100 bp-1 kbp. LINEs, SINEs serta transposon lainnya menyusun 45% total genom kita! Dua puluh persen total genom merupakan LINEs dan 13% total genom adalah SINEs. Salah satu jenis LINEs yang disebut dngan segmen L1 terdapat dalam intron 79% gen manusia. Segmen-segmen DNA ini sering disebut juga sebagai junk DNA. Sebab ia tidak memiliki fungsi apa-apa selain “berkehendak” untuk mengkopi dirinya sebanyak mungkin agar tetap sintas.

Jadi, perbedaan besar genom tiap organisme tidak mencerminkan perbedaan komplektisitas genetiknya, namun lebih kepada perbedaan kemampuan tiap organisme untuk membuang atau menekan tranposisi dari berbagaimacam junk DNA di atas dan segmen DNA repetitif lainnya. Atau mungkin saja bahwa segmen DNA repetitif ini sebenarnya memiliki fungsi tertentu dalam genom yang belum bisa kita deteksi saat ini.

reference :
Hyde, D. 2009. DNA Structure and Chromosome Organization. In: Hyde, D. (Ed), Introduction to Genetics Principles, 1st Edition, (p. 166-181). New York: McGraw-Hill.
Pollard, T.D.; Earnshaw, W.C. & Lippincot-Schwartz, J. 2008. Chromosome Organization. In: Pollard, T.D. ; Earnshaw, W.C. & Lippincot-Schwartz,  J. (Eds), Cell Biology, 2nd Edition, (p. 193-208). Philadelphia: Saunders-Elsevier.
Young, I.D. 2005. Gene Structure and Function. In:  I.D. Young (Ed), Medical Genetics, 1st Edition, (p. 1-23). New York: Oxford University Press, Inc.

9
Biologi / DNA IS NOT A Blue Print of Life
« pada: Desember 21, 2009, 08:07:24 PM »
DNA, seperti yang telah banyak dikenal orang sebagai molekul pembawa sifat, sering disebut sebagai the blue print of life atau, dalam bahasa indonesia disebut sebagai cetak biru kehidupan walaupun sebenarnya istilah atau sebutan itu tidaklah cocok dengan fungsi DNA yang sesungguhnya. Sebelum melangkah lebih jauh sekiranya per;u dibahas terlbeih dahulu apa yang disebut dengan blue print. Blue print atau cetak biru adalah rancang bangun atau desain arsitektur suatu produk yang bisa berupa bangunan, pesawat, kapal laut, mobil dan lain sebagainya. Jadi, dari definisi terebut dapat ditarik beberapa poin penting, di antaranya, pertama, cetak biru adalah suatu gambaran dua dimensi. Kedua, dalam cetak biru terdapat gambaran langsung dari produk yang didesain. Dengan demikian seseorang bisa langsung mengerti bentuk jadi dan memperkirakan fungsi dari produk tersebut hanya dengan melihat cetak birunya. Ketiga, masing masing bagian dalam cetak biru merupakan suatu modul fungsional dari desain secara keseluruhan, seperti misalnya ruang-ruang dalam bangunan, mesin atau modul dari pesawat dan lain-lain.



Sekarang kita masuk ke dalam penjelasan singkat apa itu sebenarnya DNA. DNA singkatan dari Deoxyribonucleic Acid merupakan polimer molekul asam nukleat yang membentuk barusan penyandi empat digit (A, T, G dan C) dan berfungsi sebagai molekul pembawa pesan genetis guna membentuk suatu individu. Dalam definisi ini dapat dilihat jelas bahwa terdapat perbedaan konseptual yang sangat signifikan dari pengetian cetak biru secara umum.



Perbedaan-perbedaan tersebut di antaranya adalah, pertama, DNA merupakan kode satu dimensi, yaitu berupa barisan kode empat digit basa nitrogen adenosine (A), thymine (T), guanosine (G) dan cytosine (C) yang dibaca dengan arah tertentu seperti kita membaca tulisan dari kanan ke kiri. Kedua, segmen DNA fungsional tertentu yang disebut gen memang menghasilkan suatu produk, tapi kita tidak dapat memprediksikan fungsinya secara langsung hanya dengan melihat deretan kode empat digitnya. Ketiga, dari barisan kode itu saja tidak seorang pun dapat mengetahui ataupun bahkan hanya memprediksi morfologi atau bahkan perilaku makhluk hidup terkait seperti halnya anda tidak bisa memprediksi bentuk kue tart hanya dengan melihat resepnya. Sebenarnya daripada disebut sebagai cetak biru, DNA jauh lebih cocok disebut sebagai resep untuk membuat makhluk hidup.

10
Kesehatan / Tips for good sleep for everyone
« pada: Desember 11, 2009, 10:00:18 PM »
■ Keep regular sleep habits. Try to get to bed at the same time
and get up at the same time every day – even on weekends
and vacations.
■ Avoid caffeine and alcohol in the late afternoon and evening.
If consumed too close to bedtime, the caffeine in coffee, soft
drinks, chocolate, and some medications can keep you from
sleeping or sleeping soundly. Even though it can make you feel
sleepy, drinking alcohol around bedtime also can disturb sleep.
■ Time your exercise. Regular daytime exercise can improve
nighttime sleep. But avoid exercising within 3 hours of
bedtime, which actually can be stimulating, keeping you
awake.
■ Avoid daytime naps. Sleeping in the afternoon can interfere
with nighttime sleep. If you feel you can’t get by without a
nap, set an alarm for 1 hour. When it goes off, get up and start
moving.
■ Reserve your bed for sleeping. Watching the late news, reading
a suspense novel, or working on your laptop in bed can
stimulate you, making it hard to sleep.
■ Keep your bedroom dark, quiet, and cool.
■ Avoid liquids and spicy meals before bed. Heartburn and latenight
trips to the bathroom are not conducive to good sleep.
■ Wind down before bed. Avoid working right up to bedtime.
Do relaxing activities, such as listening to soft music or taking
a warm bath, that get you ready to sleep. (An added benefit of
the warm bath: It may soothe aching muscles.)

Remember to get in to your bedroom only when you want to sleep. And get out from your bedroom everytime you wake up more than 20 minutes. It will help your unrealized preception of bedroom as a place to sleep..and have a nice dream.. ;D

11
Perkenalan Anggota / Salam kenal semuanya
« pada: Oktober 06, 2009, 12:44:33 PM »
Saya dr. Hendy Wijaya, angkatan 2001, saat ini sedang menempuh S2 Anti-Aging Medicine di pasca sarjana Universitas Udayana. Saya sangat tertarik dengan Biologi Molekuler dan Genetika.
Ada lagi yang tertarik? saya berharap sih menemukan banyak orang yang satu spesies (tertarik genetika) dengan saya, soalnya di sini ga ada orang yang bisa diajak bertukar pikiran.. :D

12
Untuk teman-teman yang mengalami kesulitan dalam melakukan penelitian, baik yang menempuh s2 ataupun s3, mengalami kesulitan dalam mencari informasi, sumber kepustakaan, contact person antar ilmuwan, saya bisa memediasi dan memberikan sumber kepustakaan, gratis..cukup ganti biaya kirim, kalau memang perlu dikirmkan..

13
Biologi / Wadah bagi Peminat Ilmu Genetika dan Biologi Molekuler
« pada: September 12, 2009, 02:56:56 PM »
Mau tanya nih ke siapa aja, ada ga wadah, bisa organisasi, asosiasi atau apa saja, yang menghimpun orang2 yang berminat, meneliti, ataupun sebagai jalur networking dalam bidang ilmu genetika dan biologi molekuler di Indonesia? kalau ada, gemana cara mendaftarnya?siapa contact personnya?atau mau ga kalau kita bikin sendiri aja asosiasinya? Kebetulan saya sedang melakukan penelitian di bidang genetika.

Halaman: [1]
Copyright © 2006-2014 Forum Sains Indonesia