1
Fisika / Re: Penjelasan fisika mengenai peristiwa isra' mikraj ?
« pada: Juli 10, 2010, 01:28:22 AM »
Ada beberapa hal yang mesti diselidiki lebih mendalam, sebagai berikut:
1. Betulkah kisah isra mikraj yang kita peroleh itu berdasarkan Al Qur-an (QS17:1)?. Maka penafsiran /para mufassirlah yang bertanggung jawab. Masarakat awwam bukanlah ilmuwan.
2. Bila ijtihad akan dipertahankan, siapkah kita menerima penafsiran opsi baru, sebagai pembanding penafsiran lama, yang telah berumur 1077 tahun (bila tafsir tertua Jamiu'ul Bayan-nya At Thabari tahun 330H merupakan rujukan para mufasir)?
3. Bila dalam teologi, kita berfaham Jabariah, Predestination, fatalism atau pasrah dengan taqdir, siapkah kita membuka pola pikir terhadap teologi qadariah serta tidak otomatis benci kepada muktazilah, khawariz, wahabi dst. dst. padahal kita nyaris kurang mengenalnya. Dengan demikian vonis aliran sesat, inkarussunah, murtad atau kafir tidak mudah meluncur.
4. Bila muncul pemikiran baru,bahwa bagaimanapun akal selalu berdiri di depan setiap pribadi. Sehingga tidak lagi mengatakan wilayah iman tidak bisa disentuh oleh akal. Hadits yang hanya diriwayatkan oleh An Nasaai, Tirmidzi dan ABu Dawud saja (tidak ada pada shahih Bukhari dan Muslim) bahwa "ketika seseorang berbicara atau menafsirkan Al Qur-an dengan akalnya (birra-yi) itu ditolak, atau akan di tempatkan di api-neraka" segera diinventarisir saja, karena kini empat madzhab plus madzhab Ja'far Sadik telah bersama-sama mengupas dan meletakkan akal sebagai hal penting dalam agama. Hal ini dibuktikan dengan sebuah hadits: Khatibinnaasa ala qdri uqulihim/ajaklah manusia berbicara dengan kemampuan akalnya.
5. Masih banyak hal-hal yang harus dikaji ulang. Terutama kritis terhadap hadits yang tidak seirama dengan Al Qur-an. Perkembangan zaman tidak akan mampu dibendung dengan cara apapun.
1. Betulkah kisah isra mikraj yang kita peroleh itu berdasarkan Al Qur-an (QS17:1)?. Maka penafsiran /para mufassirlah yang bertanggung jawab. Masarakat awwam bukanlah ilmuwan.
2. Bila ijtihad akan dipertahankan, siapkah kita menerima penafsiran opsi baru, sebagai pembanding penafsiran lama, yang telah berumur 1077 tahun (bila tafsir tertua Jamiu'ul Bayan-nya At Thabari tahun 330H merupakan rujukan para mufasir)?
3. Bila dalam teologi, kita berfaham Jabariah, Predestination, fatalism atau pasrah dengan taqdir, siapkah kita membuka pola pikir terhadap teologi qadariah serta tidak otomatis benci kepada muktazilah, khawariz, wahabi dst. dst. padahal kita nyaris kurang mengenalnya. Dengan demikian vonis aliran sesat, inkarussunah, murtad atau kafir tidak mudah meluncur.
4. Bila muncul pemikiran baru,bahwa bagaimanapun akal selalu berdiri di depan setiap pribadi. Sehingga tidak lagi mengatakan wilayah iman tidak bisa disentuh oleh akal. Hadits yang hanya diriwayatkan oleh An Nasaai, Tirmidzi dan ABu Dawud saja (tidak ada pada shahih Bukhari dan Muslim) bahwa "ketika seseorang berbicara atau menafsirkan Al Qur-an dengan akalnya (birra-yi) itu ditolak, atau akan di tempatkan di api-neraka" segera diinventarisir saja, karena kini empat madzhab plus madzhab Ja'far Sadik telah bersama-sama mengupas dan meletakkan akal sebagai hal penting dalam agama. Hal ini dibuktikan dengan sebuah hadits: Khatibinnaasa ala qdri uqulihim/ajaklah manusia berbicara dengan kemampuan akalnya.
5. Masih banyak hal-hal yang harus dikaji ulang. Terutama kritis terhadap hadits yang tidak seirama dengan Al Qur-an. Perkembangan zaman tidak akan mampu dibendung dengan cara apapun.


Selamat datang, Pengunjung. Silahkan
Mei 22, 2013, 07:08:12 PM


