Member baru? Bingung? Perlu bantuan? Silakan baca panduan singkat untuk ikut berdiskusi.
0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.
Wah... banjir besar2an yahh. Kantor2 tutup, speedy dan telkom bermasalah, bank2 bnyk yg tutup, 20 orang meninggal!! parah...Yang di jakarta siapa aja nih? Yang saya tau alinc kena banjir, ngungsi sekarang ... ada yang rumahnya kena juga gak?Duh, masa tiap tahun yahh musibah yang sama
wawwwww om djoko orangnya yg punya pandangan luas, full experience..nice
Yah tahun ini kan kena SiklusLimaTahun. jadi tahun ini ya kita dapetnya cukup parah ..Sampah katanya udah ketimbun kira2 100m.. pertamanya ngga percaya. tp setelah liat gambar yang dipajang, kayaknya rakyat kita udah ngga perduli yg namanya sampah.
Orang bisa berpandangan luas juga dengan banyak-banyak aktif di forum ini, misalnya.Lainnya juga dengan perbanyak jam terbang surfing di Internet. Ada juga orang dengan caranya mencari sumber dari buku. Ehhh, tau nggak ada perpustakaan gratis terbesar di dunia Internet, disini:http://books.google.com/Ini punya google, buku-bukunya yang sudah habis loyaltinya, jadi bisa kita dapatkan disitu. Kabarnya Yahoo juga mau buat dengan koneksi ke Universitas-universitas didunia. Ini akan membuat kita semakin mudah mendapatkan sumber-sumber ilmu.
jadi ingat ibu kota malaysia yg lagi pindah ke sidoarjo ... kalo yg ini gimana solusinya nih?Btw, ttg swadaya ya memang lebih utk ke solusi 3 sih. Seberapa besar ya dampak pembuatan sumur2 resapan ke penurunan banjir? (maksudnya, perlu berapa sumur serapan spy pengurangan banjirnya significant --> nggak mencegah sepenuhnya mungkin, tapi kalo bisa mengurangi tingginya air biar nggak 4 meter khan udah lumayan). Kalau yg ini, bisa dikampanyekan di tv oleh LSM lingkungan hidup misalnya, atau dikoordinasikan per RT/kelurahan. Nggak harus nunggu SBY atau sutiyoso bicara toh. Malah kalo representative pemerintah yg bicara, kitanya ngomel2 krn mereka cuma bicara doang.
Tim SAR mungut 50rb per kepala utk bawa korban banjir pake perahu karet.... makin gila aja yahh, dah susah masih mo nyari untung...
Kutip dari: Admin pada Pebruari 04, 2007, 07:59:01 PMWah... banjir besar2an yahh. Kantor2 tutup, speedy dan telkom bermasalah, bank2 bnyk yg tutup, 20 orang meninggal!! parah...Yang di jakarta siapa aja nih? Yang saya tau alinc kena banjir, ngungsi sekarang ... ada yang rumahnya kena juga gak?Duh, masa tiap tahun yahh musibah yang sama lapor .. banjir sudah surut didaerah saya ..untuk yang diatas kalau dibilang ini siklus 5 tahunan, memang benar . tapi untuk yang separah ini bisa dibilang siklus 30 tahunan .laporan sementara setelah 4 hari kebanjiran
Maap maap, mudah-mudahan ini benar:http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/02/tgl/07/time/175801/idnews/739488/idkanal/10atau kalau salah lagi dapat dicari di index berita atau search dengan topik:Kolom Angin Goreng Sutiyoso1. Kolom Angin Goreng SutiyosoBanjir karena siklus lima tahunan? Ah, Gubernur Sutiyoso sedang jualan angin goreng. Kok warga Jakarta mau melahapnya begitu saja. "Yang terjadi kali ini adalah banjir siklus lima tahunan," (Sutiyoso, 4/2/2002007/02/07 17:58:01 WIB skor: 1000 DeJoko
Jakarta yang dibangun oleh Jan Pietersz. Coen di awal abad the 17 dengan satu konsepsi kota air (waterfront city), merupakan kota yang akrab dengan permasalahan banjir. Pada waktu didirikan di tahun 1619, Batavia dirancang dengan kanal-kanal seperti kota Amsterdam atau kota-kota lain di Belanda. Kanal tadi sudah sejak awal sering kering dan suatu ketika tergenang air yang lebih tinggi dari kotanya sehingga banjir tak terelakkan. Dari semenjak awal abad ke 20 Belanda membangun kanal untuk menanggulangi banjir tadi. Tetapi bagaikan garam yang ditebar kelautan, setiap tahun pula banjir bertambah besar dan selalu menjadi lebih sulit untuk ditangani. Tulisan ini mengungkap sisi sejarah kota tentang banjir secara runtut. ... Melihat kompleksnya permasalahan, tulisan ini akan mengurai banjir dalam sejarah kota, kehidupan sehari-hari, tantangannya ke depan dan prospek dari kota ini terhadap banjir.
In this kind of situation, the main public figure criticized by the public was of course Sutiyoso, the governor of Jakarta. He responded too late to the flood. People reproached him for ignoring the warning of Meteorology and Geophysics Board so that when the flood took place the city government did not know how to respond. As many as 29 NGOs and other organizations belonging to the community stated that Governor Sutiyoso had failed to lead the city. He made wrong decisions in solving the flood problems. Hence they asked the Assembly of Jakarta to decline Sitoyoso from his position as Governor. The main director of change in the capital had a difficult moment. To avoid further attacks Sutiyoso took the initiative to destroy his own villa at the Puncak, an area that has been settled rapidly in the last two decades by the rich, which is believed to be one of the causes of the flooding in Jakarta.
In North Jakarta flood risks are increasing by the effect of land subsidence, caused by uncontrolled and unlimited deep groundwater extraction. In some areas of north Jakarta rates of 6 cm per year have been measured. It is expected that land subsidence will continue in the near future and parts of North Jakarta will slowly sink below sea level.