Forum Sains Indonesia




*
Selamat datang, Pengunjung. Silahkan masuk atau mendaftar. Apakah anda lupa aktivasi email?
Mei 26, 2012, 12:13:37 PM

Masuk dengan nama pengguna, kata sandi dan lama sesi

Artikel Sains

Aku Cinta ForSa

  ForSa on FB  ForSa on Twitter

Pranala Luar

ShoutBox!

Last 10 Shouts:

 

fajri

Mei 24, 2012, 09:40:03 PM
numpang liat_liat dulu,, kexnya menarik bnget sama masalah mikon.. ! :D
 

haman11

Mei 24, 2012, 08:11:34 AM
ada yg tauproses daur ulang urin pada cicak gk ? ;)
 

GhostInMachine

Mei 23, 2012, 03:52:17 PM
kk mau tanya cara upload Tulisan dong??
 

army.fice

Mei 23, 2012, 12:22:47 AM
sepi banget sih :(
 

lustforscience

Mei 22, 2012, 08:26:02 PM
amin
 

exile_rstd

Mei 22, 2012, 08:24:55 PM
offline....
good night all  ;)
 

exile_rstd

Mei 22, 2012, 08:23:08 PM
iyaaaa jumat saya mau ujian kenaikan kelas. doain ya om Farabi, semoga ujiannya lancar dan dpt nilai memuaskan  :D
 

Farabi

Mei 22, 2012, 08:20:37 PM
KMana aja non? Sibuk belajar?
 

exile_rstd

Mei 22, 2012, 07:44:23 PM
argh lama ga buka forsa, comment di beberapa thread jd membingungkan saya. apa karena udh lama ga asah ya...
 

N E R R O

Mei 20, 2012, 07:41:57 PM
udah lama gak mampi ke forsa, sdh banyak berubah

Show 50 latest

Penulis Topik: Meluruskan Persepsi Tentang Transgender  (Dibaca 958 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline maxham

  • Mahasiswa
  • **
  • Tulisan: 24
  • IQ: 12
    • Lihat Profil
Meluruskan Persepsi Tentang Transgender
« pada: Desember 12, 2011, 03:23:55 PM »
Moderator: Silakan pindahkan dan/atau masukkan topik ini ke entah Agama/Filosofi, Kedai Kopi, dan/atau Pseudo-science &/atau Science Fiction kalau memang tidak klop untuk forum Sosial-Politik

Transgender boleh jadi merupakan kelompok dari LGBT yang paling santer dibahas, karena begitu kompleks, berbeda dengan kaum Lesbian, Gay, maupun Biseksual yang cenderung lebih hitam putih. Sayangnya, banyak orang sering menyamakan transgenderisme dengan homoseksualitas, yang dimana kedua hal ini memang kadang atau seringkali terkait, namun bukan berarti keduanya adalah identik, mirip atau bahkan sama.

Dimulai dari idenitifkasi jenis kelamin. Ini adalah salah satu sumber distorsi terbesar dan paling mendasar tentang transgenderisme. Pendapat yang pro-transgenderisme cenderung beranggapan bahwa transgender berhak diperlakukan seperti kehendak mereka, yakni diakui sebagai entah wanita (bagi yang berasal dari pria), pria (bagi yang berasal dari wanita), dsb. Adapun kelompok kontra-transgenderisme, yang umumnya didominasi oleh kalangan tradisionalis dan religius, berpendapat bahwa Tuhan Yang Maha Esa hanya menciptakan 2 jenis kelamin: laki-laki dan perempuan. Saya pribadi, meskipun tidak anti-transgenderisme, dalam kasus identifikasi jenis kelamin, berpegang pada asumsi kalangan kontra, yakni jenis kelamin hanya ada 2: laki-laki dan perempuan. Dahulu memang orang membedakan hal tersebut hanya dari melihat bentuk alat kelamin, seperti penis-testis bagi pria dan klitoris-vagina bagi wanita. Namun, dengan teknologi yang semakin pesat, para transgender pun dapat melakukan operasi SRS (Sex Reassignment Surgery) -yang pada prinsipnya mengubah bentuk alat kelamin menjadi SEPERTI alat kelamin lawan jenis-, atau bahkan transplantasi organ kelamin -ini yang praktis masih mustahil karena beresiko berat seperti penolakan oleh sistem imunitas yang dapat berujung pada kematian-. Namun, itupun sekali lagi belum bisa membuat manusia dapat mengubah jenis kelaminnya. Bahkan, seiring dengan kemajuan dunia biologi seluler, molekuler, dan genetika, kita dapat semakin yakin membuktikan kalau jenis kelamin cuma ada 2: laki-laki (kalau memproduksi sel sperma, dan/atau berkromosom XY-kromosom Y berperan sebagai pemberi jenis kelamin laki-laki-) dan perempuan (kalau memproduksi sel telur/ovum dan/atau berkromosom XX). Dari sini, bisa kita tarik benang merahnya, kalau merujuk pada istilah transgender, itu condong lebih pada aspek sosiologis dan psikologis, dimana kedua hal ini memang karena bentuknya abstrak, lebih dapat bertransformasi secara bebas. Sehingga, dapat dibilang, fenomena transgender memang ada dan nyata terjadi, tetapi transeksual adalah suatu fenomena yang praktis mustahil karena bicara soal sex/jenis kelamin, hanya ada dua dan rigid.

Tentang kaitan antara transgender dan homoseksualitas, sekali lagi, ini memang seringkali terkait tapi BUKAN BERARTI transgenderisme=homoseksualitas yang sering muncul dalam benak banyak orang. Memang tidak sedikit kaum transgender yang dapat dikategorikan homoseks, dimana mereka sendiri beranggapan bahwa mereka sudah menjadi "lawan jenis" sehingga sepatutnya mereka mencari "lawan jenis", yang sesungguhnya masih sesama jenisnya! Namun, hal itu bukanlah pembenaran bagi anggapan bahwa transgenderisme adalah bagian dari homoseksualitas, sebab ada, bahkan dalam kasus tertentu, tidak sedikit pula kaum transgender yang tetap menyadari kodrat jenis kelaminnya, sehingga tetap tertarik dengan lawan jenisnya, walaupun memang dia berdandan seperti lawan jenisnya, dan jenis transgender seperti ini cenderung minoritas dibanding yang homoseks tadi. Meski demikian, distorsi yang sering terjadi adalah, banyak orang menilai kelompok kedua ini justru yang homoseks ketimbang yang pertama, meskipun diluar kelompok ini, juga ada transgender yang memang biseksual (suka pada sesama jenis dan lawan jenis sekaligus), yang menurut fakta, memang kelompok terakhir ini populasinya bersaing dengan yang homoseks. Dari sini, dapat kita simpulkan bahwa, distorsi yang terjadi adalah karena orang cenderung menilai dari dandanan/penampilan luar, dimana metode ini harus kita akui memang metode yang tertua dan tersimpel yang digunakan manusia untuk membedakan jenis kelamin, meskipun memang seiring denagn berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, akurasi metode ini memang menurun.

Berangkat dari kedua hal yang sudah diulas diatas, saya ingin mengatakan bahwa kaum transgender yang kedua tadi: yang masih tertarik dengan lawan jenis karena sadar akan kodrat mereka, meskipun berdandan/berpenampilan seperti lawan jenis, adalah korban terbesar dari stigmatisasi transgenderisme=homoseksualitas. Memang saya amin betul apa yang disuarakan oleh kaum tradisionalis, religius, dimana hal ini bahkan kemudian diakui oleh dunia medis, bahwa homoseksualitas itu berbahaya secara fisik, sosial, dan psikologis, bahkan spiritual, dimana risiko kanker, kerusakan jaringan, bahkan HIV/AIDS menjadi "ikon" dari bahaya yang siap menanti akibat dari homoseksualitas. Homoseksualitas memang adalah penyimpangan seksual yang sangat berbahaya (walaupun seksualitas normal/tradisional juga bukannya tanpa bahaya), namun transgenderisme model ini (yang masih tertarik pada lawan jenis (supaya lebih mudah, saya kemudian akan menyebutnya sebagai "transgenderisme pola II" saja)) setidaknya, bagi saya, masih menunjukkan bahwa transgenderisme pola II ini bukanlah homoseksualitas, meskipun dari luar bisa saja dibilang demikian (contoh kasus: ada 2 orang cantik ciuman, tapi yang satu sebetulnya laki2 karena msaih punya penis dan buah zakar/testis, satunya lagi emang cewek betulan, orang cap "lesbi")!

Mengenai transgenderisme pola II ini, saya akui memang dalam konteks sosio-religius adalah cukup terbelah. Yang anti pada transgenderisme pola II ini, terutama sering berpendapat bahwa transgenderisme, seperti halnya homoseksualitas, adalah najis didepan Tuhan, karena melanggar kodratNya; bahwa laki-laki dan perempuan diciptakan untuk saling melengkapi satu sama lain, dan karenanya, bersyukurlah atas apa yang telah diberikanNya apa adanya. Berangkat dari argumen kontra ini, saya juga ingin mengatakan jika argumen ini juga agak sedikit terdistorsi, khususnya mengenai konsep bahwa "laki-laki dan perempuan agar saling melengkapi" dan "mensyukuri pemberian Tuhan apa adanya".

Selaku umat beragama dan besar dalam didikan agama samawi, saya amin betul bahwa memang Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan agar saling melengkapi, dan memang kita mesti mensyukuri apa pemberian Tuhan apa adanya. Namun, apakah salah bagi kita untuk memperbaiki atau membuat apa yang miliki lebih baik lagi? Saya yakin tidak, malah itu yang lebih diharapkan Allah kepada ummatNya! Nah, mengenai saling melengkapi itu, saya selaku seorang laki-laki dan pengikut agama samawi, harus mengakui bahwa memang perempuan atau kaum Hawa SENGAJA diciptakan oleh Allah SWT sebagai makhluk yang penuh keindahan, setidaknya secara fisik yang dapat kita lihat dan rasakan. Memang kita harus saling melengkapi, dan saya yakin bahwa belajar dari kelebihan masing-masing kaum adalah SALAH SATU BENTUK PALING MULIA DARI SALING MELENGKAPI! Kaum Adam yang artinya kaum yang hampa, perlu belajar dari kaum Hawa yang artinya penuh, dan sebaliknya! Itu baru saling melengkapi! Berangkat dari sini, saya kemudian bisa bilang kalau transgenderisme pola II ini belum tentu salah, bisa jadi sah2 aja malah baik jika niatnya adalah belajar dari kelebihan masing2 kaum agar saling melengkapi! Apalagi, karena Allah menciptakan supaya saling melengkapi, masing-masing tentu diciptakan punya kelebihan dan kekurangan masing2, agar saling belajar, saling bantu, saling mlengkapi bukannya saling menjatuhkan. Perlu saya akui bahwa memang kaum hawa unggul secara keindahan fisik dan emosional, sementara kaum adam unggul secara kekuatan dan kecerdasan psikologis dan intelektual. Keduanya bukannya hanya perlu saling bantu, tapi juga saling belajar.

Bicara soal keindahan juga, misalnya, kenapa kata "cantik", "anggun" lebih banyak digunakan ketimbang "ganteng"? Mengapa penggambaran, nama2 soal keindahan lebih banyak diatributkan pada sosok wanita ketimbang pria? Lagi2, memang karena Allah menciptakan kewanitaan sebagai dasar keindahan! Sehingga, apa salah jika kita karena terpikat pada keindahan, hendak mempelajar bahkan memiliki aspek keindahan tersebut? Saya yakin tidaklah! Apalagi perlu kita ingat, bahwa betul memang Allah menciptakan manusia pertama dengan nama Adam, karena (menurut tafsir dalam bahasa Arab) "Adam" berati "kosong"/"hampa", dimana aspek ini adalah kondisi asal semua alam semesta yang diciptakan Allah SWT, namun karena Allah melihat bahwa tidak baik terus-menerus demikian, diciptakanNyalah Hawa, yang berarti "penuh". Namun, karena ke-Hawa-an, timbullah dosa (makanya kenapa ada istilah "hawa nafsu", bukannya "adam nafsu" kan?!). Dan karena tidak baik terus-menerus demikian (Hawa), ingatlah kepada ke-Adam-an. Sehingga, dari sini jelaslah bahwa Allah SWT sesungguhnya menginginkan kita umat manusia agar seimbang keduanya, supaya dapat lebih memuliakanNya. Nah supaya dapat seimbang, perlu bersyukur apa adanya dan belajar dari masing-masing lawan!

Dari ulasan ini, jelaslah bahwa transgenderisme pola II ini adalah fenomena yang sesungguhnya unik sekali, dan karenanya, adalah sayang bagi kita untuk menggeneralisasikannya kepada homoseksualitas" dan "tidak mensyukuri pemberian Tuhan apa adanya". Justru dengan ulasan ini, diharapkan saudara2 sekalian dapat memerangi citra negatif terhadap fenomena transgenderisme pola II ini, dan memandang fenomena ini sebagai fenomena yang sangat unik, yakni tentang bagaimana perjuangan antara kaum Adam dan Hawa saling melengkapi satu sama lain dalam mewujudkan dunia yang lebih baik, yakni dengan cara belajar dari satu sama lain!

Offline exile_rstd

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 954
  • IQ: 35
  • Gender: Wanita
  • pathetic, outdated & buku fk akhirnya ke beli juga
    • Lihat Profil
Re:Meluruskan Persepsi Tentang Transgender
« Jawab #1 pada: Desember 13, 2011, 10:09:41 AM »
pembahasan ini menurut saya berselang-seling, tapi kembali ke topik.
...Dari ulasan ini, jelaslah bahwa transgenderisme pola II ini adalah fenomena yang sesungguhnya unik sekali, dan karenanya, adalah sayang bagi kita untuk menggeneralisasikannya kepada homoseksualitas" dan "tidak mensyukuri pemberian Tuhan apa adanya". Justru dengan ulasan ini, diharapkan saudara2 sekalian dapat memerangi citra negatif terhadap fenomena transgenderisme pola II ini, dan memandang fenomena ini sebagai fenomena yang sangat unik, yakni tentang bagaimana perjuangan antara kaum Adam dan Hawa saling melengkapi satu sama lain dalam mewujudkan dunia yang lebih baik, yakni dengan cara belajar dari satu sama lain!
untuk point yang satu ini saya kontra, mengapa dalam mempelajari kekurangan kelebihan mesti dalam korteks seperti itu?
sebelumnya untuk fenomena transgender ini saya kontra juga seperti kebanyakan orang.
tapi menyinggung satu sisi juga, kenapa dinegara kita "sepertinya" sah-sah saja dgn fenomena/pelaku transgender?

pada dasarnya, transgender itu menurut saya adalah dimana seorang pria/wanita tdk menghendaki dalam hal menerima kondisinya, ini bisa dilatar belakangi oleh keadaan psikologi, hormon (eksterogen/testeron) dsb. bisa dimulai dari berdandan, bersikap dari lawan kodratnya. untuk penyelesaiannya pun tidak mudah apalagi jika domainnya adalah karena hormon. tapi dalam mempelajari kekurangan/kelebihan itu bisa dari berbagai cara seperti; kita memiliki anggota keluarga yang pasti terdiri perempuan laki-laki, kita bisa mempelajari dari situ atau belajar dari lingkup pergaulan dengan teman-teman. itu adalah beberapa contoh sederhana dalam mempelajari kelebihan kekurangan satu sama lain yang berlawanan kodratnya.
i adore your intelligence - pusing banyak saingan dimana-mana

 

Copyright © 2006-2011 Forum Sains Indonesia