Forum Sains Indonesia




*

Artikel Sains

Aku Cinta ForSa

ForSa on FB  ForSa on Twitter

Pranala Luar

ShoutBox!

Last 10 Shouts:

yoga3105

Oktober 22, 2014, 11:23:42 PM
tolong buatin program bahasa c++ nya gan, yang bisa tak ksih pulsa

Kutip
X(pangkat)5-y(pangkat)4+a=d

 

Sandy_dkk

Oktober 21, 2014, 12:31:18 PM
coba periksa ke ahli syaraf kang farabi.
 

Farabi

Oktober 21, 2014, 11:29:44 AM
Tiap menjelang musim hujan sakit gigi, padahal giginya udah ga ada. Apa ini memang menimpa semua orang? Dan kenapa?
 

Sandy_dkk

Oktober 20, 2014, 05:16:25 AM
hujan turun untuk pertamakalinya dalam beberapa bulan ini, disambut bahagia oleh lusinan burung gereja yang berterbangan di halaman rumah. sungguh indah pagi ini.

senifacitra

Oktober 14, 2014, 08:24:03 PM
malam, mw tx proses fisika apa yang menyebabkan sehingga bumi memiliki sifat magnet.??

mohon bntuanx sgera
 

Sandy_dkk

Oktober 13, 2014, 08:08:28 PM
boleh deh...

sherenhfns

Oktober 13, 2014, 06:59:24 PM
ada yang on ga ? bisa bantuin soal matematika kelas 9? besok mau mid

sherenhfns

Oktober 13, 2014, 06:58:49 PM
Hallo

 

Monox D. I-Fly

Oktober 09, 2014, 09:34:41 PM
musim pemilu juga sudah habis, liat aja, pemilu tahun ini nggak ada yang bahas pemilu sama sekali... forsaintis dah bosen sama politik...
 

Farabi

Oktober 09, 2014, 01:25:15 PM
Capek debat adu khayal ala agama. Mendingan fokus ke hal hal exact.  ;)

Show 50 latest

Penulis Topik: ASK - pendidikan 1 tahun untuk mahasiswa elektro  (Dibaca 4268 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline godzilla

  • Mahasiswa
  • **
  • Tulisan: 10
  • IQ: 0
  • Gender: Pria
    • Lihat Profil
Re: ASK - pendidikan 1 tahun untuk mahasiswa elektro
« Jawab #15 pada: September 07, 2010, 05:58:10 AM »
Pendidikan 1 Tahun Setara D1 Elektro kira-kira bisa apa ya?
Ah, sulit membayangkan wahai sobat, barangkali nyolder saja kagak bisa.
Jangankan cuma 1 tahun kuliah, ternyata banyak dosen elektro yang bahkan tidak bisa memperbaiki TV nya sendiri yang rusak, bukan lantaran sibuk, tetapi faktanya memang tidak bisa.

Jangankan D1, Anak SMA pun bisa nyolder kalau ada yang ngajarin.. jangan lah di pandang sebelah mata tingkat pendidikan seseorang..semua sama, sama2 ingin belajar, sama2 ingin bisa, dan sama2 bisa..

Tiap tingkatan tu jelas beda fungsinya bung, gak bisa dipukul rata model gitu.. jangankan dosen lulusan S1, Profesor atau Guru Besarpun 1:1000 yang bs nyolder. tu karena emang bukan wilayah mereka untuk melakukan itu.. urusan mereka riset & ngajar.. beda ma teknisi TV. semua udah pada fungsinya masing2.. cuma 1 yang sama. mereka sama-sama trus belajar.

Offline heru.htl

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 991
  • IQ: 14
  • Gender: Pria
    • Lihat Profil
    • Free GNU/Linux Distributions
Re: ASK - pendidikan 1 tahun untuk mahasiswa elektro
« Jawab #16 pada: September 17, 2010, 10:33:03 AM »
^
^
^
Tidak memandang sebelah mata, ini sains, saya memandang obyektif sebagai Ilmuan.

Di luar negeri, contoh di USA & kebanyakan negara Eropa, Dosen ELEKTRO pasti bisa nyolder + teknisi, karena mereka belajar secara urut dan fundamental, mereka berprofesi serius, bukan ISENG atau TERPAKSA seperti disini, di Indonesia.

Di Indonesia, kebanyakan orang belajar karena "FORMALITAS BELAKA" yang ujungnya paling untuk nyari duit, bukan untuk jadi tenaga ahli, maka lihat saja faktanya: banyak yang ilmunya tanggung tetapi mintanya gaji tenaga ekspert.

Saya belajar teori + nyolder di usia 10 tahun (tahun 1986), otodidak, umur 12 tahun saya bisa servis TV + Pemancar Radio Komunikasi Amatir, umur 15 tahun saya mulai membiayai sekolah sendiri dari kerja sebagai teknisi. Umur 20 tahun, saya mulai punya murid kursus elektronika gratis (saya tidak mahu dibayar untuk ngajarin ilmu) -- jumlah murid/ex-murid hingga kini ratusan dan separuh dari mereka berprofesi teknisi saat ini (dan beberapa diantaranya telah menjadi tenaga spesialis & bekerja cukup responsibel sesuai doktrin ajaran saya).

Saya prihatin, karena "Elektro" di Indonesia semakin lama cuma dijadikan "ajang lompatan karier" dan "berakhir pada ketidak-jelasan keahlian", akhirnya banyak lahir "ahli elektro karbitan, notabene hanya bisa teori, prakteknya 0".

Posting saya ini semata-mata sebagai tempaan mental, sesuai FAKTA terjadi disekitar kita.
Kalau Bung pikir keahlian fundamental elektro macam nyolder dan pasang baut "bukan wilayah mereka" yang Mengaku Ahli, maka itu indikasi "JARKONI" (istialh jawa: BISA NGAJAR, ORA BISA NGELAKONI == bisa mengajar teori, tidak bisa praktek == pepesan kosong).
Elektro adalah sains + keahlian/skill + responsibilitas, bukan jabatan politis macam lingkungan kerja PNS.

« Edit Terakhir: September 17, 2010, 10:37:23 AM oleh heru.htl »

Offline zonsopgang

  • Asisten Dosen
  • ***
  • Tulisan: 93
  • IQ: 24
  • Gender: Pria
  • Dream Theater is my dream theater
    • Lihat Profil
Re: ASK - pendidikan 1 tahun untuk mahasiswa elektro
« Jawab #17 pada: Oktober 06, 2010, 12:11:09 AM »
^
^
^
Tidak memandang sebelah mata, ini sains, saya memandang obyektif sebagai Ilmuan.

Di luar negeri, contoh di USA & kebanyakan negara Eropa, Dosen ELEKTRO pasti bisa nyolder + teknisi, karena mereka belajar secara urut dan fundamental, mereka berprofesi serius, bukan ISENG atau TERPAKSA seperti disini, di Indonesia.

Di Indonesia, kebanyakan orang belajar karena "FORMALITAS BELAKA" yang ujungnya paling untuk nyari duit, bukan untuk jadi tenaga ahli, maka lihat saja faktanya: banyak yang ilmunya tanggung tetapi mintanya gaji tenaga ekspert.

Saya belajar teori + nyolder di usia 10 tahun (tahun 1986), otodidak, umur 12 tahun saya bisa servis TV + Pemancar Radio Komunikasi Amatir, umur 15 tahun saya mulai membiayai sekolah sendiri dari kerja sebagai teknisi. Umur 20 tahun, saya mulai punya murid kursus elektronika gratis (saya tidak mahu dibayar untuk ngajarin ilmu) -- jumlah murid/ex-murid hingga kini ratusan dan separuh dari mereka berprofesi teknisi saat ini (dan beberapa diantaranya telah menjadi tenaga spesialis & bekerja cukup responsibel sesuai doktrin ajaran saya).

Saya prihatin, karena "Elektro" di Indonesia semakin lama cuma dijadikan "ajang lompatan karier" dan "berakhir pada ketidak-jelasan keahlian", akhirnya banyak lahir "ahli elektro karbitan, notabene hanya bisa teori, prakteknya 0".

Posting saya ini semata-mata sebagai tempaan mental, sesuai FAKTA terjadi disekitar kita.
Kalau Bung pikir keahlian fundamental elektro macam nyolder dan pasang baut "bukan wilayah mereka" yang Mengaku Ahli, maka itu indikasi "JARKONI" (istialh jawa: BISA NGAJAR, ORA BISA NGELAKONI == bisa mengajar teori, tidak bisa praktek == pepesan kosong).
Elektro adalah sains + keahlian/skill + responsibilitas, bukan jabatan politis macam lingkungan kerja PNS.



Maaf nih baru sempat melanjutkan trit sendiri.

Dulu beberapa senior saya ada yang berminat membuat lembaga sertifikasi profesi, tapi gagal karena keburu mereka kerja di luar negri.
Mgkn mas Heru bersama rekan2 sejawat bisa membuat suatu lembaga sertifikasi profesi berkualitas. Saya memang tidak tau apa saja hal yang diperlukan. mudah2an akan diakui secara nasional.
Untuk orang2 yang serius belajar, sertifikat bukanlah hal yang penting. Tapi bagi seorang yang sedang ingin masuk ke dunia kerja profesional, sertifikat profesi sangatlah mendukung untuk melamar pekerjaan.
Playing a lion being led to a cage
I turn from surreal to seclusion
From love to disdain
From belief to delusion
From a thief to a beggar From a god to God save me

Offline InuuMauPinter

  • Mahasiswa
  • **
  • Tulisan: 43
  • IQ: 7
  • Banayak Hal Dalam Ide Gila Saya
    • Lihat Profil
Re: ASK - pendidikan 1 tahun untuk mahasiswa elektro
« Jawab #18 pada: Oktober 11, 2010, 09:01:38 AM »
ayo dong buat..saya mau ikut belajar..
Ayoo..Belajar...

Offline kuncungs

  • Dosen
  • ****
  • Tulisan: 100
  • IQ: 3
    • Lihat Profil
Re:ASK - pendidikan 1 tahun untuk mahasiswa elektro
« Jawab #19 pada: Januari 19, 2012, 12:20:36 PM »
^
^
^
Tidak memandang sebelah mata, ini sains, saya memandang obyektif sebagai Ilmuan.

Di luar negeri, contoh di USA & kebanyakan negara Eropa, Dosen ELEKTRO pasti bisa nyolder + teknisi, karena mereka belajar secara urut dan fundamental, mereka berprofesi serius, bukan ISENG atau TERPAKSA seperti disini, di Indonesia.

Di Indonesia, kebanyakan orang belajar karena "FORMALITAS BELAKA" yang ujungnya paling untuk nyari duit, bukan untuk jadi tenaga ahli, maka lihat saja faktanya: banyak yang ilmunya tanggung tetapi mintanya gaji tenaga ekspert.

Saya belajar teori + nyolder di usia 10 tahun (tahun 1986), otodidak, umur 12 tahun saya bisa servis TV + Pemancar Radio Komunikasi Amatir, umur 15 tahun saya mulai membiayai sekolah sendiri dari kerja sebagai teknisi. Umur 20 tahun, saya mulai punya murid kursus elektronika gratis (saya tidak mahu dibayar untuk ngajarin ilmu) -- jumlah murid/ex-murid hingga kini ratusan dan separuh dari mereka berprofesi teknisi saat ini (dan beberapa diantaranya telah menjadi tenaga spesialis & bekerja cukup responsibel sesuai doktrin ajaran saya).

Saya prihatin, karena "Elektro" di Indonesia semakin lama cuma dijadikan "ajang lompatan karier" dan "berakhir pada ketidak-jelasan keahlian", akhirnya banyak lahir "ahli elektro karbitan, notabene hanya bisa teori, prakteknya 0".

Posting saya ini semata-mata sebagai tempaan mental, sesuai FAKTA terjadi disekitar kita.
Kalau Bung pikir keahlian fundamental elektro macam nyolder dan pasang baut "bukan wilayah mereka" yang Mengaku Ahli, maka itu indikasi "JARKONI" (istialh jawa: BISA NGAJAR, ORA BISA NGELAKONI == bisa mengajar teori, tidak bisa praktek == pepesan kosong).
Elektro adalah sains + keahlian/skill + responsibilitas, bukan jabatan politis macam lingkungan kerja PNS.



Keren ik! Jadi presiden noh, ane vote.

 

Topik Terkait

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
85 Jawaban
36591 Dilihat
Tulisan terakhir April 26, 2010, 11:34:27 AM
oleh dynamic
0 Jawaban
2960 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 23, 2010, 08:50:22 PM
oleh Hand15
0 Jawaban
1528 Dilihat
Tulisan terakhir September 06, 2010, 03:43:16 AM
oleh skuler
1 Jawaban
1352 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 15, 2011, 04:09:37 AM
oleh skuler
7 Jawaban
2283 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 16, 2011, 04:35:55 PM
oleh lhabib

Copyright © 2006-2014 Forum Sains Indonesia