ForSa punya logo baru!! Ada komen?
0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.
Atenuator itu sebenarnya rangkaian pembagi tegangan yang menggunakan 2 resistor.Nilai Z1 dan Z2 dipilih sebesar mungkin untuk mendekati impedansi voltmeter ideal, namun tidak jauh lebih besar daripada impedansi op-amp yang digunakan.
Wah, keseringan dipanggil puh jadi ngerasa tua nih. biasa aja lah.Zenernya berfungsi untuk melindungi op-amp, jadi masangnya sebelum op-amp.Untuk mengukur tegangan dan arus AC memang ada dua pilihan, yaitu mengubahnya menjadi DC secara analog (hardware, menggunakan penyearah instrumentasi plus low pass filter) atau secara software (membaca nilai sesaatnya secara berulang-ulang dengan sampling rate yang cukup tinggi, kemudian melakukan perhitungan). Masing-masing cara memiliki kekurangan dan kelebihan sendiri-sendiri.Kalau pakai hardware secara analog, keuntungannya softwarenya menjadi sederhana, tinggal baca nilai ADC seolah-olah membaca nilai tegangan DC biasa. Namun masih memerlukan perkalian dengan faktor koreksi tertentu. Kerugiannya antara lain kurang fleksibel. Dengan cara ini, yang sebenarnya dibaca adalah rata-rata dari nilai absolute tegangan input. Untuk mendapatkan tegangan efektif/rms diperlukan faktor koreksi sesuai bentuk gelombangnya. Masalah ini pernah saya bahas di topik lain. Silakan dicari Kalau pakai software, keuntungannya hardwarenya menjadi sederhana. Untuk mengukur tegangan DC maupun AC digunakan rangkaian yang sama. Keuntungan lain, informasi yang akan ditampilkan bisa lebih lengkap, misalnya bisa menambahkan nilai frekuensi, tegangan maksimum/minimum, nilai rata-rata , nilai rata-rata mutlak, maupun nilai true rms. Kerugiannya, softwarenya menjadi lebih rumit. Dengan metode ini, sampling ratenya harus lebih tinggi daripada frekuensi tegangan/arus yang diukur, minimal 10 kalinya agar diperoleh nilai efektif yang cukup akurat, sesuai bentuk gelombang aslinya.IMO, karena memang direncanakan untuk memakai mikrokontroller, sebaiknya menggunakan metode software agar bisa mengoptimalkan pemakaian mikrokontroller tersebut. Ini akan membawa tantangan tersendiri di sisi pemrogramannya. Kalau pakai metode hardware, mikrokontrollernya cuma dimanfaaatkan untuk mengkonversi nilai biner yang dikeluarkan oleh ADC menjadi kode BCD untuk display (LCD atau 7 segment LED), sehingga terasa agak mubazir.
This product has now been discontinued, please see FT232BL for a drop-in replacement.FT232R version recommended for new designs
beberapa model rangkaian penguat instrumentasi sudah memiliki fungsi sebagai buffer karena impedansinya yang tinggi. Biasanya tegangan yang akan diukur diumpankan ke pin input positif dari op-amp, sehingga tidak menanggung beban arus dari feedback negatif yang menentukan faktor penguatannya.Berarti softwarenya ada dua macam, yang satu di mikrocontroller, satunya lagi di PC. Saran saya, pilih rangkaian yang sederhana, kemudian selesaikan dahulu systemnya sampai bisa baca nilai tegangan DC dan ditampilkan di LCD. Baru kemudian ditambahkan fasilitas untuk komunikasi ke PC, dan software untuk menampilkan hasilnya di PC. Kalau masih ada waktu, bisa dikembangkan software untuk mengolah signal AC dan feature/accessories tambahannya. Tujuannya agar anda bisa segera memiliki alat yang siap pakai dengan fungsi utamanya, meskipun belum lengkap fasilitasnya. Just in case kalau waktunya sudah terlalu mendesak dan tidak sempat menyelesaikan seluruh fungsi yang diinginkan.Saya cari referensi FT232BM di google, hasilnya: silakan dicek di Jadi karena Anda akan mendesign rangkaian baru, sebaiknya pakai FT232R.
Mikrocontroller generasi baru ada yang sudah menyediakan fungsi ADC secara built in, sehingga tidak diperlukan rangkaian tambahan. Mungkin rangkaiannya bisa lebih disederhanakan lagi jika menggunakan microcontroller yang menyediakan komunikasi USB secara built in juga. Biasanya ini dipakai untuk memprogram on-chip flash EPROM. Saya belum tahu apakah bisa juga digunakan untuk run-time communication.