Gunakan MimeTex/LaTex untuk menulis simbol dan persamaan matematika.

Welcome to Forum Sains Indonesia. Please login or sign up.

Agustus 18, 2022, 04:39:50 AM

Login with username, password and session length

Topik Baru

Artikel Sains

Anggota
  • Total Anggota: 26,765
  • Latest: KlausKep
Stats
  • Total Tulisan: 139,633
  • Total Topik: 10,390
  • Online today: 43
  • Online ever: 441
  • (Desember 17, 2011, 09:48:51 AM)
Pengguna Online
Users: 0
Guests: 17
Total: 17

Aku Cinta ForSa

ForSa on FB ForSa on Twitter

Apakah para Nabi sebelum Nabi Muhammad beragama Islam ?

Dimulai oleh sayang, Juli 22, 2012, 09:43:30 PM

« sebelumnya - berikutnya »

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

mhyworld

Kutip dari: mhyworld pada September 10, 2012, 09:18:58 PM
Saya tertarik membahas yang ini. Apakah kata menyaksikan di atas memiliki arti yang sama dengan kata menyaksikan yang biasa dipakai dalam kehidupan sehari-hari di Indonesia?Dalam hal ini menyaksikan selalu dikaitkan dengan aktivitas sensorik, terutama dengan penglihatan mata.
Adakah kata lain yang artinya lebih mewakili terjemahan dari kata asalnya?
IMO, kata menyaksikan dipilih untuk memberikan kesan bahwa apa yang diklaim adalah benar, sebagaimana dalam pengadilan yang menggunakan kesaksian sebagai alat bukti untuk mencari kebenaran atas suatu hal/peristiwa. Namun dalam hal ini menimbulkan kontradiksi, karena orang yang bersaksi tidak benar-benar menyaksikan apa yang diklaimnya. Mereka tidak pernah menyaksikan sendiri bahwa dunia diciptakan oleh Allah, ataupun tuhan yang lain seperti Zeus, Ra, Odin, Brahma, Pangu, Moinee, etc. Mereka juga tidak pernah menyaksikan sendiri bahwa Allah mengutus Muhammad. Bahkan seperti apa wajah Muhammad pun mereka tidak tahu.
Tentunya kita tidak bisa membenarkan seseorang yang mengaku menyaksikan suatu hal/peristiwa yang sebenarnya tidak ia saksikan sendiri. Misalnya ada seseorang yang meninggal di suatu desa. Kebetulan orang itu sedang berselisih dengan orang lain. Kemudian anggota keluarga dari orang yang meninggal menuduh lawannya yang membunuh, dengan klaim bahwa mereka menyaksikan lawannya membunuhnya, meskipun sebenarnya mereka tidak menyaksikan sendiri kejadian itu. Jika dibiarkan, tentunya hal seperti ini akan menimbulkan kekacauan dalam masyarakat.
Dengan demikian syahadat yang merupakan dasar umat Islam dapat dipandang sebagai "an abduction of terminology at the least, or a blatant lie at the most".
CMIIW.
once we have eternity, everything else can wait

Fariz Abdullah

Kenapa tidak dipakai kata "mengakui" atau "mengimani" saja? Mungkin untuk meningkatkan level ke"tahu"an nya..Bersaksi jelas lebih dekat ke kata "tahu" daripada "mengakui" atau "mengimani"..Tapi tetap tidak mencapai level "tahu" karena "tahu" butuh bukti..

Pertanyaan besarnya kenapa Tuhan tidak memilih kata "tahu" daripada "bersaksi" pada syahadat?

[move]DOUBT EVERYTHING AND FIND YOUR OWN LIGHT[/move]

muhmus88

Kutip dari: mhyworld pada September 22, 2012, 09:56:31 AM
IMO, kata menyaksikan dipilih untuk memberikan kesan bahwa apa yang diklaim adalah benar, sebagaimana dalam pengadilan yang menggunakan kesaksian sebagai alat bukti untuk mencari kebenaran atas suatu hal/peristiwa. Namun dalam hal ini menimbulkan kontradiksi, karena orang yang bersaksi tidak benar-benar menyaksikan apa yang diklaimnya. Mereka tidak pernah menyaksikan sendiri bahwa dunia diciptakan oleh Allah. Mereka juga tidak pernah menyaksikan sendiri bahwa Allah mengutus Muhammad. Bahkan seperti apa wajah Muhammad pun mereka tidak tahu.

:D karena anda benar2 tidak mengetahuinya.
:D :D :D
ini sungguh benar2 "menyaksikan".
kata itulah yang paling tepat. bukan sekedar mengimani.
Tapi "menyaksikan" :D :D :D

Menyaksikan ketunggalanNya adalah nyata.
"melihat"Nya itu nyata.
semua hanya bisa "dilihat", "disaksikan", "didengar", dan "dirasakan" dengan Batin.

Pengetahuan otak hanya sepanjang tongkat.
Pengetahuan Tuhan lebih luas dari samudra.
mencariNya jangan menggunakan pengetahuanmu.
Tapi dengan pengetahuanNya, yang tahu Dia hanya Dia.

pahami.

Maaf jika ada salah2 kata :D :D :D
salam,
Surga Itu bukan tentang tempat yang indah, Melaikan Tentang Rasa yang sempurna.

mhyworld

Kutip dari: muhmus88 pada September 24, 2012, 06:57:59 AM
:D karena anda benar2 tidak mengetahuinya.
:D :D :D
ini sungguh benar2 "menyaksikan".
kata itulah yang paling tepat. bukan sekedar mengimani.
Tapi "menyaksikan" :D :D :D

Menyaksikan ketunggalanNya adalah nyata.
"melihat"Nya itu nyata.
semua hanya bisa "dilihat", "disaksikan", "didengar", dan "dirasakan" dengan Batin.

Pengetahuan otak hanya sepanjang tongkat.
Pengetahuan Tuhan lebih luas dari samudra.
mencariNya jangan menggunakan pengetahuanmu.
Tapi dengan pengetahuanNya, yang tahu Dia hanya Dia.

pahami.

Maaf jika ada salah2 kata :D :D :D
salam,
Banyak sekali kata-kata di atas yang diapit oleh tanda kutip. Saya asumsikan bahwa kata-kata tersebut tidak benar-benar mewakili apa yang anda maksud. Mungkin anda bisa memberikan penjelasan yang lebih mendalam supaya orang yang membacanya tidak salah paham?
Apakah dengan "menyaksikan" itu anda menjadi tahu/paham? Apakah anda sudah mampu mencariNya dengan menggunakan pengetahuanNya? Apakah hal itu membuat anda lebih unggul dibanding orang lain yang belum mampu?
IMO, yang anda "saksikan" itu hanyalah apa yang anda ingin percayai.
once we have eternity, everything else can wait

muhmus88

Kutip dari: mhyworld pada September 24, 2012, 01:39:42 PM
Banyak sekali kata-kata di atas yang diapit oleh tanda kutip. Saya asumsikan bahwa kata-kata tersebut tidak benar-benar mewakili apa yang anda maksud. Mungkin anda bisa memberikan penjelasan yang lebih mendalam supaya orang yang membacanya tidak salah paham?
Apakah dengan "menyaksikan" itu anda menjadi tahu/paham? Apakah anda sudah mampu mencariNya dengan menggunakan pengetahuanNya? Apakah hal itu membuat anda lebih unggul dibanding orang lain yang belum mampu?
IMO, yang anda "saksikan" itu hanyalah apa yang anda ingin percayai.
Tidak ada kata yang lebih unggul, hanya pendapat saudara men"jugde" tentang rasa semua salah kaprah.
Anda sama sekali belum merasakan apapun, sudah berkomentar banyak tentang rasa.
maaf jika salah2 kata..
salam. :D :D :D
Surga Itu bukan tentang tempat yang indah, Melaikan Tentang Rasa yang sempurna.

mhyworld

Kutip dari: muhmus88 pada September 24, 2012, 01:52:17 PM
Tidak ada kata yang lebih unggul, hanya pendapat saudara men"jugde" tentang rasa semua salah kaprah.
Anda sama sekali belum merasakan apapun, sudah berkomentar banyak tentang rasa.
maaf jika salah2 kata..
salam. :D :D :D
Karena anda menyalahkan pendapat saya tentang rasa, seharusnya anda bisa memberitahukan pendapat yang benar, paling tidak menurut anda sendiri.
Sebaiknya anda belajar membedakan antara komentar dan pertanyaan. Justru karena belum merasakan apapun, saya bertanya kepada anda yang mengklaim sudah merasakannya. Perhatikan bahwa banyak kalimat saya di atas diakhiri dengan tanda tanya. Kalau memang anda ingin pesan/pemikiran anda tersampaikan kepada orang lain, jawab saja pertanyaan-pertanyaan di atas.
Anda mendefinisikan ulang kata-kata sehingga tidak sama lagi dengan arti keta tersebut menurut kamus. Meskipun anda menandainya dengan tanda kutip, anda belum menjelaskan maksud yang sebenarnya dari kata-kata tersebut dalam kalimat anda. Untuk dapat melakukan komunikasi dan bertukar pikiran dengan orang lain, tentunya diperlukan bahasa yang sama sesuai standar yang telah disepakati terlebih dahulu, bukan mengartikannya sendiri-sendiri karena tidak akan menghasilkan sesuatu yang produktif.
Kalau kesaksian itu tidak memberikan keunggulan ataupun keuntungan apapun dibandingkan orang yang tidak memberikan kesaksian, mengapa harus repot-repot membohongi diri sendiri dan orang lain?
once we have eternity, everything else can wait

muhmus88

Surga Itu bukan tentang tempat yang indah, Melaikan Tentang Rasa yang sempurna.

kusmardiyanto

#22
wah susdah lama aku nggak poting...

masalah syahadat ya ... kata ini selalu diterjemahkan dengan kata persaksian, padahal itu cuma salah satu makna saja dari kata syahadat...dalam bahasa Arab  kata syahadat adalah mashdar dari kata syahida-yasyhadu-syahadatan mwemiliki dua makna yaitu bersumpah (atau mweyatakan sumpah atau dalam bahasa Inggrisnya kira-kira semakna dengan to declare) (dengan/atas sesuatu) dan menjadi saksi (di pengadilan) (lihat kamus Arab Indonwesia karya Prof. mahmusd yunus)...maka makna mana yang tepat,  harus melihat konteks kalimatnya....dalam konteks kalimat syahadat maka makna yang tepat semestinya adalah bersumpah atau menyatakan sumpah atau to declare...kalaupun dimaknai dengan persaksian maka harus dipahami hanya sebatas ia menenapkan diri sesuai dengan persaksian yang dia katakan itu  yakni menyadi saksi bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak diibadahi) selain Alloh swt dan  dan Muhammad saw sebagai utusan Alloh swt dan tanpa keharusan untuk melihat, menyaksikan, dll akan Alloh dan Muhammasd saw

sayang


agunkramadhani

secara umum islam dapat diartikan dengan makna "berserah diri", yaitu berserah/menghambakan diri hanya kepada Satu Tuhan (tauhid/monotheistic), lebih tepatnya yaitu berserah diri kepada Allah (atau Yahweh menurut Yahudi). Jadi, agama2 yang dianut para nabi sebelum nabi Muhammad secara umum bisa disebut sebagai agama Islam, tidak peduli syahadatnya menyebut nama nabi siapa, tidak peduli bagaimana cara sembahyangnya, dan tidak peduli dengan zakat, puasa, dan hajinya.

secara khusus, yaitu Islam sebagai lembaga keagamaan yang lengkap dengan rukun islam dan rukun iman nya, bisa dianggap baru muncul setelah diperkenalkan oleh nabi Muhammad. sebelum kedatangan nabi Muhammad dianggap tidak memiliki agama tapi tetap dianggap sebagai Islam (dalam pengertian yang umum yaitu berserah diri kepada Satu Tuhan atau bertauhid). sedangkan agama yahudi bisa dianggap sebagai agama tradisi, meskipun memiliki dasar2 hukum dari wahyu, tapi agama yahudi tidak pernah memperoleh nama resmi (yahudi adalah nama ras), apalagi secara langsung "diresmikan" oleh Tuhannya, itu tidak pernah. begitu juga agama nasrani/kristen, agama ini justru muncul setelah kematian nabinya, jadi, jangankan untuk meresmikan, namanya saja bukan nabinya yang memberi.

sebenarnya, kita bisa menganggap Islam sebagai agama berproses (agama yang mengalami proses/evolusi). yaitu agama yang berproses dari agama yang tidak sempurna menjadi agama yang sempurna, dari agama yang tidak memiliki apa2 kecuali Tuhannya menjadi agama yang memiliki instrumen keagamaan yang lengkap. jadi, sejak nabi Adam, kita bisa menganggap agama Islam sudah ada namun hanya berupa bibitnya saja, kemudian seiring berjalannya waktu dan berkembangnya kehidupan manusia di bumi, islam mengalami perkembangan pula melalui diutusnya para nabi. hingga akhirnya islam berubah menjadi agama yang lengkap dan sempurna di masa nabi Muhammad. karena islam telah menjadi agama yang lengkap dan sempurna, maka Tuhan perlu untuk memberikan "nama resmi" untuk agama Nya itu yaitu islam dan sekaligus "meresmikannya". (QS al Maidah(5):3). setelah islam resmi menjadi agama, maka mereka yang mengaku beragama yahudi atau mengikuti "agama" nabi2 sebelum nabi Muhammad, maka mereka tidak lagi dianggap sebagai islam, atau dengan kata lain ke"islam"an mereka tidak berlaku lagi.

Fariz Abdullah

Kutip dari: agunkramadhani pada Mei 24, 2013, 10:58:22 PM
secara umum islam dapat diartikan dengan makna "berserah diri", yaitu berserah/menghambakan diri hanya kepada Satu Tuhan (tauhid/monotheistic), lebih tepatnya yaitu berserah diri kepada Allah (atau Yahweh menurut Yahudi). Jadi, agama2 yang dianut para nabi sebelum nabi Muhammad secara umum bisa disebut sebagai agama Islam, tidak peduli syahadatnya menyebut nama nabi siapa, tidak peduli bagaimana cara sembahyangnya, dan tidak peduli dengan zakat, puasa, dan hajinya.

secara khusus, yaitu Islam sebagai lembaga keagamaan yang lengkap dengan rukun islam dan rukun iman nya, bisa dianggap baru muncul setelah diperkenalkan oleh nabi Muhammad. sebelum kedatangan nabi Muhammad dianggap tidak memiliki agama tapi tetap dianggap sebagai Islam (dalam pengertian yang umum yaitu berserah diri kepada Satu Tuhan atau bertauhid). sedangkan agama yahudi bisa dianggap sebagai agama tradisi, meskipun memiliki dasar2 hukum dari wahyu, tapi agama yahudi tidak pernah memperoleh nama resmi (yahudi adalah nama ras), apalagi secara langsung "diresmikan" oleh Tuhannya, itu tidak pernah. begitu juga agama nasrani/kristen, agama ini justru muncul setelah kematian nabinya, jadi, jangankan untuk meresmikan, namanya saja bukan nabinya yang memberi.

sebenarnya, kita bisa menganggap Islam sebagai agama berproses (agama yang mengalami proses/evolusi). yaitu agama yang berproses dari agama yang tidak sempurna menjadi agama yang sempurna, dari agama yang tidak memiliki apa2 kecuali Tuhannya menjadi agama yang memiliki instrumen keagamaan yang lengkap. jadi, sejak nabi Adam, kita bisa menganggap agama Islam sudah ada namun hanya berupa bibitnya saja, kemudian seiring berjalannya waktu dan berkembangnya kehidupan manusia di bumi, islam mengalami perkembangan pula melalui diutusnya para nabi. hingga akhirnya islam berubah menjadi agama yang lengkap dan sempurna di masa nabi Muhammad. karena islam telah menjadi agama yang lengkap dan sempurna, maka Tuhan perlu untuk memberikan "nama resmi" untuk agama Nya itu yaitu islam dan sekaligus "meresmikannya". (QS al Maidah(5):3). setelah islam resmi menjadi agama, maka mereka yang mengaku beragama yahudi atau mengikuti "agama" nabi2 sebelum nabi Muhammad, maka mereka tidak lagi dianggap sebagai islam, atau dengan kata lain ke"islam"an mereka tidak berlaku lagi.

Islam sudah mencapai bentuk yang sempurna..Kalau boleh tahu, mengapa Islam mengajarkan kebencian dan kekerasan? Masih mungkinkah Quran direvisi supaya lebih sempurna dan tidak mengajarkan kekerasan? Maaf OOT, soalnya penasaran banget..
[move]DOUBT EVERYTHING AND FIND YOUR OWN LIGHT[/move]

agunkramadhani

sebenarnya islam tidak mengajarkan kebencian tapi justru mengajarkan kasih sayang sebagai rahmatan lil 'alamin. sedangkan kekerasan (perang) dalam islam lebih bersifat defensif. kalau ada yang mengatakan bahwa islam membenci orang2 yahudi, sejarah justru mencatat tidak pernah ada usaha pengejaran, pembantaian, dan pembersihan etnis yahudi (seperti yang dilakukan hitler dan komunis rusia) selama dibawah kekhalifahan islam. dan kalau ada yang mengatakan orang2 islam membenci orang2 kafir(barat) dan negara2 kafir (AS, inggris, dll), itu lebih bersifat politik-ekonomi dan bukan karena agamanya. 
yang ada adalah islam mengajarkan kemuliaan(izzah) agama dan penganutnya tapi tidak mengajarkan rasisme seperti yahudi.
hanya saja, dengan karakter penganutnya yang berbeda-beda, pemahaman agamanya yang sempit, dan karena ada tujuan tertentu, ajaran kemuliaan(izzah) islam ini ditafsirkan berbeda-beda. karena penafsiran yang salah, sebagian ada yang menjadi ekstrimis, rasis, bahkan menjadi teroris. mereka lupa bahwa islam juga mengajarkan toleransi dan moderat.
memang, salahsatu misi islam selain sebagai rahmatan lil 'alamin, sebenarnya islam(khususnya arab) juga sebagai hukuman bagi yahudi (ulangan 32:21), dan sebagai koreksi terhadap nasrani. hal ini tersirat dalam surat pertama alqur'an (qs. alfatihah(1):7).

mhyworld

Kutip dari: agunkramadhani pada Juni 16, 2013, 12:54:13 PM
sebenarnya islam tidak mengajarkan kebencian tapi justru mengajarkan kasih sayang sebagai rahmatan lil 'alamin. sedangkan kekerasan (perang) dalam islam lebih bersifat defensif. kalau ada yang mengatakan bahwa islam membenci orang2 yahudi, sejarah justru mencatat tidak pernah ada usaha pengejaran, pembantaian, dan pembersihan etnis yahudi (seperti yang dilakukan hitler dan komunis rusia) selama dibawah kekhalifahan islam. dan kalau ada yang mengatakan orang2 islam membenci orang2 kafir(barat) dan negara2 kafir (AS, inggris, dll), itu lebih bersifat politik-ekonomi dan bukan karena agamanya. 
yang ada adalah islam mengajarkan kemuliaan(izzah) agama dan penganutnya tapi tidak mengajarkan rasisme seperti yahudi.
hanya saja, dengan karakter penganutnya yang berbeda-beda, pemahaman agamanya yang sempit, dan karena ada tujuan tertentu, ajaran kemuliaan(izzah) islam ini ditafsirkan berbeda-beda. karena penafsiran yang salah, sebagian ada yang menjadi ekstrimis, rasis, bahkan menjadi teroris. mereka lupa bahwa islam juga mengajarkan toleransi dan moderat.
memang, salahsatu misi islam selain sebagai rahmatan lil 'alamin, sebenarnya islam(khususnya arab) juga sebagai hukuman bagi yahudi (ulangan 32:21), dan sebagai koreksi terhadap nasrani. hal ini tersirat dalam surat pertama alqur'an (qs. alfatihah(1):7).

Teorinya sih begitu, namun faktanya banyak kekerasan yang mengatasnamakan islam, seperti yang dialami oleh pengikut-pengikut non-muslim dalam masalah rumah ibadah, kekerasan terhadap pengikut ahmadiyah, bahkan terhadap pengikut syiah yang sebenarnya masih termasuk muslim juga.
once we have eternity, everything else can wait

Fariz Abdullah

Kutip dari: agunkramadhani pada Juni 16, 2013, 12:54:13 PM
sebenarnya islam tidak mengajarkan kebencian tapi justru mengajarkan kasih sayang sebagai rahmatan lil 'alamin.

Islam mengajarkan kasih sayang tetapi hanya untuk sesama Muslim. Sedangkan kepada orang kafir diajarkan untuk membenci. Coba perhatikan konsep al wala' wal bara' atau konsep mencintai dan membenci dalam Islam.

Kutip dari: agunkramadhani pada Juni 16, 2013, 12:54:13 PM
sedangkan kekerasan (perang) dalam islam lebih bersifat defensif.

Sifat defensif hanya berlaku ketika umat Islam masih dalam keadaan lemah. Misalnya ketika periode 13 tahun Nabi Muhammad di Mekkah, yang tercermin dalam surat-surat Makkiyah.

Sedangkan kekerasan (perang) ofensif diperintahkan ketika umat Islam telah menjadi kuat, misalnya pada saat-saat akhir Nabi Muhammad di Madinah. Surat 9 (At Taubah) adalah pemakluman perang ofensif, yang dibacakan Ali Bin Abi Thalib saat musim haji tahun 9 H.

Kutip dari: agunkramadhani pada Juni 16, 2013, 12:54:13 PM
kalau ada yang mengatakan bahwa islam membenci orang2 yahudi, sejarah justru mencatat tidak pernah ada usaha pengejaran, pembantaian, dan pembersihan etnis yahudi (seperti yang dilakukan hitler dan komunis rusia) selama dibawah kekhalifahan islam.

Sejarah mencatat pembantaian massal etnis Yahudi (suku Quraizah) yang pasar Madinah semasa Nabi Muhammad di Madinah..

Kutip dari: agunkramadhani pada Juni 16, 2013, 12:54:13 PM
 
yang ada adalah islam mengajarkan kemuliaan(izzah) agama dan penganutnya tapi tidak mengajarkan rasisme seperti yahudi.

Di Quran sendiri Yahudi digambarkan pernah dikutuk menjadi kera dan babi.

Dari Abi Hurairah ra. bahwa Nabi SAW bersabda, "Tidak akan terjadi hari kiamat hingga kalian (muslimin) memerangi Yahudi, kemudian batu berkata di belakang Yahudi, "Wahai muslim, inilah Yahudi di belakangku, bunuhlah!" (HR Bukhari dan Muslim dalam Shahih Jami' Ash-Shaghir no. 7414)

Tidak akan terjadi hari kiamat, hingga muslimin memerangi Yahudi. Orang-orang Islam membunuh Yahudi sampai Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon. Namun batu atau pohon berkata, "Wahai muslim, wahai hamba Allah, inilah Yahudi di belakangku, kemarilah dan bunuh saja. Kecuali pohon Gharqad (yang tidak demikian), karena termasuk pohon
Yahudi." (HR Muslim dalam Shahih Jami' Ash-shaghir no. 7427)

Hadits-hadits di atas dari segi kekuatan sanadnya termasuk hadits shahih tanpa perbedaan pendapat.

Kutip dari: agunkramadhani pada Juni 16, 2013, 12:54:13 PM

hanya saja, dengan karakter penganutnya yang berbeda-beda, pemahaman agamanya yang sempit, dan karena ada tujuan tertentu, ajaran kemuliaan(izzah) islam ini ditafsirkan berbeda-beda. karena penafsiran yang salah, sebagian ada yang menjadi ekstrimis, rasis, bahkan menjadi teroris. mereka lupa bahwa islam juga mengajarkan toleransi dan moderat.

Quran sendiri mengatakan bahwa ayat-ayat Quran adalah jelas dan mudah dipahami.


Mohon maaf jika ada kata-kata yang tidak berkenan.


[move]DOUBT EVERYTHING AND FIND YOUR OWN LIGHT[/move]

agunkramadhani

Kutip dari: Fariz Abdullah pada Juni 23, 2013, 02:52:16 PM
Islam mengajarkan kasih sayang tetapi hanya untuk sesama Muslim. Sedangkan kepada orang kafir diajarkan untuk membenci. Coba perhatikan konsep al wala' wal bara' atau konsep mencintai dan membenci dalam Islam.
konsep al wala' wal bara' hanya pada aqidah saja tapi tidak pada muamalah.

Kutip dari: Fariz Abdullah pada Juni 23, 2013, 02:52:16 PM
Sifat defensif hanya berlaku ketika umat Islam masih dalam keadaan lemah. Misalnya ketika periode 13 tahun Nabi Muhammad di Mekkah, yang tercermin dalam surat-surat Makkiyah.

Sedangkan kekerasan (perang) ofensif diperintahkan ketika umat Islam telah menjadi kuat, misalnya pada saat-saat akhir Nabi Muhammad di Madinah. Surat 9 (At Taubah) adalah pemakluman perang ofensif, yang dibacakan Ali Bin Abi Thalib saat musim haji tahun 9 H.
[pranala luar disembunyikan, sila masuk atau daftar.]

Kutip dari: Fariz Abdullah pada Juni 23, 2013, 02:52:16 PM
Sejarah mencatat pembantaian massal etnis Yahudi (suku Quraizah) yang pasar Madinah semasa Nabi Muhammad di Madinah..
hal itu sebagai hukuman bagi mereka (yahudi quraizah) setelah mereka diberi pengampunan 2x (sebagian penduduk qurqizah adalah pelarian suku nadhir dan qainuqa). sebenarnya hal itu adalah sesuatu yang wajar bagi mereka yang kalah perang (yahudi quraizah telah berkhianat dengan bergabung kepada pasukan ahzab yang menjadi pihak yang "kalah"), berbeda dengan holocaust yang dilakukan oleh nazi yang hanya berdasarkan prasangka belaka (meskipun prasangka tersebut mungkin benar). meskipun sama2 terjadi peristiwa pembunuhan massal, sebenarnya ada beberapa perbedaan antara yang dialami suku quraizah dengan yang dialami yahudi dimasa nazi, yaitu:
* sebelum peristiwa penghukuman tersebut, mereka terlebih dahulu dikepung dan diberi kesempatan untuk   melawan (meskipun mereka tidak mungkin menang tapi ini tetap menjadi suatu hal yang adil).
* mereka diberi kesempatan untuk menyerah dan beriman, tapi mereka tolak.
* vonis hukuman terhadap mereka bukan keluar dari mulut Muhammad, tapi itu berasal dari "hakim" yang ditunjuk oleh mereka sendiri, dan hukuman tersebut sesuai dengan hukum yang ada di kitab mereka, taurat.
* beberapa orang sekutu mereka dari suku khazraj membujuk mereka untuk meminta pengampunan dari hukuman tersebut karena mereka tahu Muhammad pasti mengampuninya, tapi dengan keras kepala mereka menolak usul tersebut dan memilih untuk tetap dihukum.
* hukuman tersebut hanya diberlakukan kepada pria dewasa, sedangkan wanita, anak2, dan orang2 tua tidak dihukum (meskipun memang ada wanita yang dihukum tapi itu sebagai hukuman qisas). jadi, jelas ini tidak sama dengan upaya pembersihan etnis (holocaust) yang dilakukan nazi.
* proses hukuman tersebut lebih manusiawi (maaf jika ada yang tidak setuju) jika dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh nazi kepada mereka (orang2 yahudi).

Kutip dari: Fariz Abdullah pada Juni 23, 2013, 02:52:16 PM
Di Quran sendiri Yahudi digambarkan pernah dikutuk menjadi kera dan babi.

Dari Abi Hurairah ra. bahwa Nabi SAW bersabda, "Tidak akan terjadi hari kiamat hingga kalian (muslimin) memerangi Yahudi, kemudian batu berkata di belakang Yahudi, "Wahai muslim, inilah Yahudi di belakangku, bunuhlah!" (HR Bukhari dan Muslim dalam Shahih Jami' Ash-Shaghir no. 7414)

Tidak akan terjadi hari kiamat, hingga muslimin memerangi Yahudi. Orang-orang Islam membunuh Yahudi sampai Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon. Namun batu atau pohon berkata, "Wahai muslim, wahai hamba Allah, inilah Yahudi di belakangku, kemarilah dan bunuh saja. Kecuali pohon Gharqad (yang tidak demikian), karena termasuk pohon
Yahudi." (HR Muslim dalam Shahih Jami' Ash-shaghir no. 7427)

Hadits-hadits di atas dari segi kekuatan sanadnya termasuk hadits shahih tanpa perbedaan pendapat.
jangankan di qur'an, di kitab mereka sendiri (perjanjian lama dan perjanjian baru) juga banyak berisi tentang kutukan nabi2 mereka terhadap mereka sendiri. karena risalah islam merupakan kelanjutan dari risalah nabi2 mereka dan berasal dari Tuhan yang sama, maka tidak aneh jika kutukan2 itu tetap ada. jadi, jangan tanyakan kepada islam mengapa kutukan itu ada, tapi tanyakan kepada mereka sendiri mengapa di kitab2 mereka juga ada kutukan2 untuk mereka. sebenarnya, kalau kita menganggap kutukan2 itu sebagai hukuman (mungkin sebagian ada yang menganggapnya kebencian) Tuhan kepada mereka, seharusnya kita bertanya mengapa hal itu terjadi, dosa apa yang telah mereka lakukan sehingga mereka pantas untuk dikutuk. mungkin akan ada yang mengatakan kalau begitu berarti Tuhan itu pendendam. kita, manusia yang hina saja jika disakiti pasti akan merasa kesal, dan kitapun diberi hak untuk membalas. lalu bagaimana dengan Tuhan yang memiliki sifat Maha Suci dan Maha Mulia.

sedangkan dalam qur'an (QS Al-Baqarah: 65 dan QS Al-A'raf: 166) itu tidak berarti qur'an telah mengutuk mereka. ayat2 tersebut lebih bersifat kalimat berita saja. sama halnya dengan koran yang memberitakan tentang tsunami di aceh setelah peristiwa itu terjadi, apakah kita akan mengatakan bahwa tsunami tersebut diakibatkan oleh berita di koran tersebut? suatu hal yang aneh sekali.
begitu juga dengan hadis2 di atas yang juga bersifat kalimat berita (tepatnya ramalan). dan bukan merupakan ungkapan kutukan. ramalan tersebut (bagi mereka yang tidak mengimaninya) mungkin bermasalah, tapi kita tidak bisa menghukumi sesuatu yang belum benar2 terjadi.

meskipun kutukan2 tersebut memang ada, tapi islam lebih proporsional dalam menyikapi bangsa yahudi. islam tidak membenci mereka secara individual atau rasial, islam membenci mereka bukan karena mereka keturunan dari orangtua yang berdarah yahudi, tapi islam membenci mereka karena sikap mereka yang juga membenci islam, serta usaha2 mereka dalam pergerakan2 zionis yang merugikan umat islam.

Kutip dari: Fariz Abdullah pada Juni 23, 2013, 02:52:16 PM
Quran sendiri mengatakan bahwa ayat-ayat Quran adalah jelas dan mudah dipahami.
ayat-ayat Quran memang jelas dan mudah dipahami, tapi itu tidak menutup kemungkinan terjadinya penyimpangan pada tahap penafsiran yang tidak obyektif. seperti halnya ayat2 di dalam KUHP atau UU antikorupsi di negara ini. meskipun saya yakin UU tersebut dibuat dengan kalimat2 yang jelas dan mudah dipahami, tapi itu tidak menjamin para koruptor yang tertangkap dihukum dengan hukuman yang setimpal.