Gunakan MimeTex/LaTex untuk menulis simbol dan persamaan matematika.

Welcome to Forum Sains Indonesia. Please login or sign up.

Februari 24, 2024, 05:22:46 PM

Login with username, password and session length

Topik Baru

Artikel Sains

Anggota
Stats
  • Total Tulisan: 139,653
  • Total Topik: 10,405
  • Online today: 148
  • Online ever: 1,582
  • (Desember 22, 2022, 06:39:12 AM)
Pengguna Online
Users: 0
Guests: 49
Total: 49

Aku Cinta ForSa

ForSa on FB ForSa on Twitter

Awal Alam Semesta dan Awal Kehidupan

Dimulai oleh The Houw Liong, Oktober 08, 2009, 06:35:46 AM

« sebelumnya - berikutnya »

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

The Houw Liong

#15
Jika disimak Einstein mengakui adanya inteligent (God's thought) dalam hukum alam.


Einstein :"My religion consists of a humble admiration of the illimitable superior spirit who reveals himself in the slight details we are able to perceive with our frail and feeble mind."
HouwLiong

Pi-One

Kutip dari: The Houw Liong pada Oktober 09, 2009, 03:36:04 PM
Jika disimak Einstein mengakui adanya inteligent (God's thought) dalam hukum alam.
Anda terus mengklaim hal ini, tapi anda tak bisa menunjukkannya. itu cuma asumsi sendiri, karena Einstein sendiri tak pernah bicara atau membenarkan adanya Intelligent Design atau sejenisnya. Link yang aku kasih sendiri merupakan tanggapannya saat kreasionis mencoba mengaitkan pemikirannya dengan konsep ID.

The Houw Liong

#17
Einstein :"My religion consists of a humble admiration of the illimitable superior spirit who reveals himself in the slight details we are able to perceive with our frail and feeble mind."

"Science without religion is lame. Religion without science is blind."
HouwLiong

The Houw Liong

Einstein's quote :

- "It has become appallingly obvious that our technology has exceeded our humanity"

- "The world holds two classes of men--intelligent men without religion, and religious men without intelligence"

- "I am not an atheist," he began. "The problem involved is too vast for our limited minds. We are in the position of a little child entering a huge library filled with books in many languages. The child knows someone must have written those books. It does not know how. It does not understand the languages in which they are written. The child dimly suspects a mysterious order in the arrangement of the books but doesn't know what it is. That, it seems to me, is the attitude of even the most intelligent human being toward God. We see the universe marvelously arranged and obeying certain laws but only dimly understand these laws"

- "One of the strongest motives that lead men to art and science is escape from everyday life with its painful crudity and hopeless dreariness, from the fetters of one's own ever-shifting desires. A finely tempered nature longs to escape from the personal life into the world of objective perception and thought"
HouwLiong

humaam dz.

semua kesimpulan yang kita dapat dari ilmu pengetahuan sebenarnya semakin mengarah kepada keberadaan Tuhan, yang disebut oleh einstein sebagai Yang mengatur tatanan alam semesta yang mematuhi hukum-hukum tertentu.
dan kalau memang begitu berarti semuanya yang terjadi adalah 'by design' termasuk kegagalan.
[move]akan ada pengorbanan di setiap mimpi yang kita perjuangkan.[/move]

Pi-One

Anda mau quote sebanyak apapun, bagian mana yang menunjukkan Einstein mengakui adalah Tuhan personal yang mengatur semua fenomena di alam? Einstein bukan atheis, dia menegaskan itu. tapi Einstein juga bukan theis, dia gak mengakui Tuhan personal, Tuhan yang mengintervensi.

KutipThe idea of a personal God is quite alien to me and seems even naive. However, I am also not a "Freethinker" in the usual sense of the word because I find that this is in the main an attitude nourished exclusively by an opposition against naive superstition. My feeling is insofar religious as I am imbued with the consciousness of the insuffiency of the human mind to understand deeply the harmony of the Universe which we try to formulate as "laws of nature." It is this consciousness and humility I miss in the Freethinker mentality. Sincerely yours, Albert Einstein.

    —Letter to A. Chapple, Australia, February 23, 1954; Einstein Archive 59-405; also quoted in Nathan and Norden, Einstein on Peace P. 510

Kutip"Science without religion is lame, religion without science is blind." So Einstein once wrote to explain his personal creed: "A religious person is devout in the sense that he has no doubt of the significance of those super-personal objects and goals which neither require nor are capable of rational foundation." Einstein Smoking a Pipe

His was not a life of prayer and worship. Yet he lived by a deep faith — a faith not capabIe of rational foundation — that there are laws of Nature to be discovered. His lifelong pursuit was to discover them.

His realism and his optimism are illuminated by his remark: "Subtle is the Lord, but malicious He is not"("Raffiniert ist der Herrgott aber boshaft ist er nicht."). When asked by a colleague what he meant by that, he replied: "Nature hides her secret because of her essential loftiness, but not by means of ruse." ("Die Natur verbirgt ihr Geheimnis durch die Erhabenheit ihres Wesens, aber nicht durch List.")

Einstein mengakui adanya hukum alam yang mengatur fenomena di alam, tapi dia tak pernah bilang mengakui adalah kecerdasan atau satu sosok yang menciptakan hukum alam itu.

Dan sekali lagi, kita hanya bis amelacak adanya hukum. Kita tak pernah melacak kapan hukum diciptakan, atau siapa yang menciptakan hukumnya.

humaam dz.

einstein mengumpamakan kita seperti seorang bocah kecil yang masuk ke dalam perpustakaan besar yang dimana di dalamnya terdapat banyak buku-buku yang tidak dimengerti bocah tersebut. tapi diyakini ada seseorang yang telah menulis buku-buku tersebut.
sama seperti alam semesta, kita tahu di alam semesta ini terdapat banyak hukum-hukum alam yang memang tidak dapat kita mengerti sepenuhnya dan yang seperti dikatakan hanya bisa melacak adanya hukum tersebut.
jika dikaitkan dengan perumpamaan dari Albert Einstein diatas, maka kita juga meyakini bahwasannya ada yang mengatur dan menciptakan hukum alam tersebut.
[move]akan ada pengorbanan di setiap mimpi yang kita perjuangkan.[/move]

Pi-One

Kutip dari: humaam dz. pada Oktober 10, 2009, 10:12:03 AM
einstein mengumpamakan kita seperti seorang bocah kecil yang masuk ke dalam perpustakaan besar yang dimana di dalamnya terdapat banyak buku-buku yang tidak dimengerti bocah tersebut. tapi diyakini ada seseorang yang telah menulis buku-buku tersebut.
sama seperti alam semesta, kita tahu di alam semesta ini terdapat banyak hukum-hukum alam yang memang tidak dapat kita mengerti sepenuhnya dan yang seperti dikatakan hanya bisa melacak adanya hukum tersebut.
jika dikaitkan dengan perumpamaan dari Albert Einstein diatas, maka kita juga meyakini bahwasannya ada yang mengatur dan menciptakan hukum alam tersebut.
Einstein sendiri tidak mengatakan adanya kecerdasan yang menciptakan hukum-hukum tersebut. Dan kita tak bisa mengatakan kita harus yakin ada yang emniptakan hukum-hukum tersebut.

humaam dz.

lalu bagaimana hukum-hukum tersebut bisa 'ada'?
[move]akan ada pengorbanan di setiap mimpi yang kita perjuangkan.[/move]

Pi-One

Kutip dari: humaam dz. pada Oktober 11, 2009, 01:57:26 PM
lalu bagaimana hukum-hukum tersebut bisa 'ada'?
Jawaban yang paling sederhana, kita tidak tahu. Sebab kita bahkan tak bisa melacak kapan hukum-hukum tersebut tidak ada. Dan tak ada alasan mencari variabel serba bia untuk mengisi gap ketidaktahuan, jawaban sekedar pengisi gap hanya akan kehilangan maknanya.

The Houw Liong

#25
Mengapa komputer bisa ada ?.
Jawabnya karena adanya inteligen designer yang menggunakan hukum alam untuk merancang komputer itu.

Mengapa hukum alam dan organisme hidup bisa ada ?
Jawaban yang logis tentu saja  karena adanya Inteligent Designer.

Religious Feeling in Science
Everyone who is seriously involved in the pursuit of science becomes convinced that a spirit is manifest in the laws of the Universe-a spirit vastly superior to that of man.... In this way the pursuit of science leads to a religious feeling of a special sort, which is indeed quite different from the religiosity of someone more naive.
Letter to a child who asked if scientists pray, January 24, 1936; Einstein Archive 42-601
HouwLiong

humaam dz.

Kutip dari: Pi-One pada Oktober 11, 2009, 05:44:26 PM
Kutip dari: humaam dz. pada Oktober 11, 2009, 01:57:26 PM
lalu bagaimana hukum-hukum tersebut bisa 'ada'?
Jawaban yang paling sederhana, kita tidak tahu. Sebab kita bahkan tak bisa melacak kapan hukum-hukum tersebut tidak ada. Dan tak ada alasan mencari variabel serba bia untuk mengisi gap ketidaktahuan, jawaban sekedar pengisi gap hanya akan kehilangan maknanya.

makna yang seperti apa?
[move]akan ada pengorbanan di setiap mimpi yang kita perjuangkan.[/move]

ASC

Kutip dari: The Houw Liong pada Oktober 11, 2009, 07:16:57 PM
Mengapa komputer bisa ada ?.
Jawabnya karena adanya inteligen designer yang menggunakan hukum alam untuk merancang komputer itu.

Mengapa hukum alam dan organisme hidup bisa ada ?
Jawaban yang logis tentu saja  karena adanya Inteligent Designer.

Perlu diperhatikan disini bahwa pertanyaan pertama seolah terlihat logis padahal tidak, inteligen designer menggunakan hukum alam? ID dalam konteks ini adalah manusia yang juga termasuk dalam hukum alam dan organisme hidup.

Jadi tidak ada alasan adanya jawaban logis untuk jawaban kedua.

humaam dz.

Kutip dari: ASC pada Oktober 11, 2009, 11:09:13 PM
Kutip dari: The Houw Liong pada Oktober 11, 2009, 07:16:57 PM
Mengapa komputer bisa ada ?.
Jawabnya karena adanya inteligen designer yang menggunakan hukum alam untuk merancang komputer itu.

Mengapa hukum alam dan organisme hidup bisa ada ?
Jawaban yang logis tentu saja  karena adanya Inteligent Designer.

Perlu diperhatikan disini bahwa pertanyaan pertama seolah terlihat logis padahal tidak, inteligen designer menggunakan hukum alam? ID dalam konteks ini adalah manusia yang juga termasuk dalam hukum alam dan organisme hidup.

Jadi tidak ada alasan adanya jawaban logis untuk jawaban kedua.

manusia itu cuma menemukan dan menganalisa hukum alam. bukan medesain atau menciptakannya.
saya rasa yang dimaksud ID disini bukanlah manusia.
sekali lagi.
ilmu pengetahuan pada akhirnya akan mendekatkan kita kepada keberadaan Tuhan yang mutlak yang bergerak sebagai ID.
[move]akan ada pengorbanan di setiap mimpi yang kita perjuangkan.[/move]

The Houw Liong

Betul, yang dimaksud ID ialah keberadaan "illimitable superior Spirit"

Einstein's Religion
My religion consists of a humble admiration of the illimitable superior spirit who reveals himself in the slight details we are able to perceive With our frail and feeble minds. That deeply emotional conviction of the presence of a superior reasoning power, which is revealed in the incomprehensible Universe, forms my idea of God.

— Quoted in the New York Times obituary April 19, 1955
HouwLiong