Selamat datang di ForSa! Forum diskusi seputar sains, teknologi dan pendidikan Indonesia.

Selamat datang, Pengunjung. Silahkan masuk atau mendaftar. Apakah anda lupa aktivasi email?

Juni 24, 2021, 01:29:33 AM

Masuk dengan nama pengguna, kata sandi dan lama sesi

Topik Baru

Artikel Sains

Anggota
Stats
  • Total Tulisan: 139653
  • Total Topik: 10396
  • Online Today: 65
  • Online Ever: 441
  • (Desember 18, 2011, 12:48:51 AM)
Pengguna Online
Users: 0
Guests: 71
Total: 71

Ikuti ForSa

ForSa on FB ForSa on Twitter

Penulis Topik: God &/vs love, religion boundary of interpersonal relationship  (Dibaca 27193 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline rafek

  • Dosen
  • ****
  • Tulisan: 379
  • IQ: 10
  • Gender: Pria
  • favor the freethinkers !
Re:God &/vs love, religion boundary of interpersonal relationship
« Jawab #105 pada: Desember 23, 2011, 05:44:08 PM »
Saya kira semua orang memiliki dasar moral dalam dirinya. Namun karena berbagai hal, dasar moral tsb tidak selalu diikutinya. Jika kita menelusuri latar belakang seseorang melakukan suatu tindakan kriminal, sebut saja, maka mungkin akan menjumpai bahwa orang itu melakukan kesalahan karena tertekan atau terpaksa. Keterbatasan ekonomi seringkali menjadi sebabnya. Dalam kasus demikian, saya berpendapat bahwa compassion value perlu dipertimbangkan dalam menjatuhkan hukuman. Misalnya pada kasus seorang nenek yg mencuri buah coklat beberapa waktu lalu. Dalam kasus2 seperti itu, saya tidak setuju dilakukan hukum mata bayar mata atau hukum potong tangan dsb secara mutlak. Lagi pula, Indonesia memiliki hukum tersendiri, dan hukum agama memiliki banyak kesulitan dan mungkin malah akan menimbulkan banyak masalah dalam penerapannya.

Bayangkan jika hukum dari ayat yg anda sebut benar2 diterapkan di masa kini, apakah hukum tsb menjamin tercipta situasi yg aman dan kondusif? Atau malah menimbulkan kekerasan di ruang publik? Saya kira, kitab suci menggambarkan situasi dan kondisi masyarakat sosial pada zaman turunnya kitab tersebut, dan juga berkaitan dengan kebudayaan, adat, kondisi geografis, dsb yg tidak melulu cocok dan relevan di berbagai belahan dunia plus jangka waktu yg demikian jauh.

Saya yakin Tuhan pun maha bijaksana dan maha mengerti.
There is impossible to escape the reality, except weaving together all of your imagination to make an alternate reality, and expand your own horizon. But people may call you a madman.

Offline Farabi

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 3.282
  • IQ: 171
  • Gender: Pria
  • Nabi Allah
Re:God &/vs love, religion boundary of interpersonal relationship
« Jawab #106 pada: Desember 24, 2011, 01:46:41 AM »
Tuhan tidak bodoh, anda lihat sendiri sebelum hukuman diberlakukan harus ada pengadilan dulu atau musyawarah, bukankah di semua negara maju seperti itu, bahkan dinegara maju pembunuh dihukum mati.
Raffaaaaael, raffaaaaael, fiiii dunya la tadzikro. Rafaael. Fi dunya latadzikro bil hikmah, wa bil qiyad

Maa lahi bi robbi. Taaqi ilaa robbi. La taaqwa, in anfusakum minallaaahi.

Offline mhyworld

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 1.503
  • IQ: 50
  • Gender: Pria
  • .start with the end in mind.
Re:God &/vs love, religion boundary of interpersonal relationship
« Jawab #107 pada: Desember 30, 2011, 12:56:46 PM »
Tuhan tidak bodoh, anda lihat sendiri sebelum hukuman diberlakukan harus ada pengadilan dulu atau musyawarah, bukankah di semua negara maju seperti itu, bahkan dinegara maju pembunuh dihukum mati.
USA, Jepang, Perancis, Jerman, Swedia, bisa dibilang negara-negara maju. Kita tahu bahwa mereka mempercayai (atau tidak mempercayai) tuhan yang berbeda-beda.
Tidak semua pembunuh dihukum mati, bahkan di negara yang masih menerapkan hukuman tersebut, apalagi kalau tidak dianggap sebagai pembunuhan terencana.
once we have eternity, everything else can wait

Offline Farabi

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 3.282
  • IQ: 171
  • Gender: Pria
  • Nabi Allah
Re:God &/vs love, religion boundary of interpersonal relationship
« Jawab #108 pada: Desember 31, 2011, 03:05:32 AM »
Terserah, kalau anda yakin bahwa usulan dan opini anda adalah benar, maka silahkan lakukan berdasarkan ketentuan anda. Kedewasaan tidak pernah bisa diharapkan, dibutuhkan sanksi fisik minimal membuat jera dan malu pelaku.

Offline mhyworld

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 1.503
  • IQ: 50
  • Gender: Pria
  • .start with the end in mind.
Re:God &/vs love, religion boundary of interpersonal relationship
« Jawab #109 pada: Desember 31, 2011, 06:59:45 AM »
Saya tidak pernah bilang bahwa sanksi harus dihilangkan. Yang saya tekankan di sini adalah dasar atau acuan yang seharusnya diikuti dalam membuat produk hukum, yaitu untuk meningkatkan peluang terwujudnya tujuan bersama dari masyarakat yang bernaung di bawah hukum tersebut. Dalam topik ini saya berusaha membahas tujuan hidup seperti apa yang bisa dianggap normal, dengan standar yang bersifat universal.

Seperti yang anda bilang, sanksi diperlukan untuk mencegah kejahatan serupa terulang kembali, yaitu dengan membuat jera pelakunya, serta memberi pelajaran bagi yang lain untuk tidak menirunya, di samping untuk memberi rasa aman kepada warga masyarakat. Saya tidak punya alasan untuk menolak hukuman mati pada psikopat, misalnya. Kalau dibebaskan akan membahayakan yang lain. Kalau dipenjara akan menghabiskan sumber daya yang seharusnya bisa dipakai oleh yang lain (yang bukan psikopat).

Tanpa adanya sanksi, penjahat akan merajalela. Hasilnya, orang-orang yang produktif menghasilkan bahan pangan, barang, dan jasa menjadi terdesak, tidak betah, dan akhirnya meninggalkan masyarakat tersebut. Seiring berkurangnya sumber daya untuk memenuhi kebutuhannya, masyarakat itu akan runtuh dengan sendirinya. Ini yang harus dicegah oleh pembuat produk hukum.


Offline mhyworld

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 1.503
  • IQ: 50
  • Gender: Pria
  • .start with the end in mind.
Re:God &/vs love, religion boundary of interpersonal relationship
« Jawab #110 pada: Desember 31, 2011, 07:11:54 AM »
Seperti yang telah saya tulis sebelumnya, pemberian sanksi secara terorganisir hanyalah salah satu cara/metode untuk mencegah dan mengurangi kejahatan. Pencegahan kejahatan juga harus dilakukan dengan upaya lain, yaitu meningkatkan kesadaran masyarakat supaya tidak melakukan tindakan kriminal, di antaranya melalui pendidikan.

Pencegahan kejahatan adalah salah satu cara untuk meningkatkan peluang tercapainya tujuan bersama dari masyarakat tersebut. Bayangkan saja jika suatu masyarakat semuanya taat hukum, tidak ada yang melakukan tindak kriminal, namun semuanya tidak memiliki kemampuan untuk mengelola sumber daya untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Tentunya peluang tercapainya tujuan hidup mereka akan tetap rendah, kecuali mereka mau berubah untuk meningkatkan kemampuan mereka, misalnya melalui pendidikan dan penelitian, serta kerja keras.

Offline rizqi_fs

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 1.746
  • IQ: 16
Re:God &/vs love, religion boundary of interpersonal relationship
« Jawab #111 pada: Desember 31, 2011, 10:11:34 AM »
Perlu diketahui juga, manusia tidak hidup sendiri, ternyata manusia memiliki musuh yang membisikkan dan mengajak kepada keburukan, dia bernama syaitan, syaitan mengeksplorasi celah-celah yang bisa meninggikan energy hawa nafsu jelek manusia.

Jadi pendidikan tidak cukup sebagai upaya pencegahan kejahatan
buktinya para ilmuwan yang memiliki ilmu sangat tinggi, para agamawan yang memiliki ilmu agama yang sangat dalam tidak sedikit dari mereka yang tidak berhasil menangkis gangguan2 yang datang dari dirinya sendiri berupa hawa nafsu dan ditambah gangguan dari luar yang bernama syaitan.

Syaitan itu sebenarnya lemah, cuman menangnya dia itu, dia bisa melihat kita, sedangkan kita tidak bisa melihatnya.
Seperti kita yang ga ahli tinju melwan juara tinju kelas dunia tapi ditutup matanya, asal kan kita cerdik kita pasti bisa memenangkan pertandingan, he he
Jadi seberapapun kuatnya kita, seberapapun tinggi pemahaman kita tetap aja suatu saat syaitan bisa mengalahkan kita klo tidak ada bantuan dari system tempat kita berada, system itu salah satunya berupa hukuman

hukuman yang adil dan tepat adalah upaya pencegahan kejahatan yang sangat ampuh agar tidak terduplikasi lebih banyak kejahatan serupa

masyarakat yang peduli dengan sesama yang saling menasehati antar sesama agar selalu melakukan yang benar dan menasehati agar senantiasa dalam kesabaran adalah juga menjadi komponen system itu yang bisa mencegah kejahatan terjadi

Al Quran, surat Al 'Asr
Demi Masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya menta’ati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya menta’ati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.


Offline Fariz Abdullah

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 740
  • IQ: 32
Re:God &/vs love, religion boundary of interpersonal relationship
« Jawab #112 pada: Desember 31, 2011, 10:31:13 AM »
@Rizki
Berarti beramal sholeh, tapi tidak beriman, ya tetap merugi dong..Mengapa Tuhan mati-matian ingin dipercaya, diimani dan disembah? tidak cukupkah kita berbuat baik, saling mengasihi dan penuh cinta kepada sesama mahluk hidup?

Mengapa Tuhan begitu Narcist dan pencemburu?
DOUBT EVERYTHING AND FIND YOUR OWN LIGHT

Offline mhyworld

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 1.503
  • IQ: 50
  • Gender: Pria
  • .start with the end in mind.
Re:God &/vs love, religion boundary of interpersonal relationship
« Jawab #113 pada: Desember 31, 2011, 05:09:05 PM »
Perlu diketahui juga, manusia tidak hidup sendiri, ternyata manusia memiliki musuh yang membisikkan dan mengajak kepada keburukan, dia bernama syaitan, syaitan mengeksplorasi celah-celah yang bisa meninggikan energy hawa nafsu jelek manusia.
Dari mana anda tahu bahwa syaitan itu nyata, dan memusuhi manusia? Bagaimana kita tahu bahwa itu bukan cuma khayalan kita? atau metode yang dipakai oleh para orang tua untuk membuat anak-anak mereka patuh? Apa bedanya dengan sinterklas?

Menggunakan kata-kata ilmiah seperti energy tidak serta-merta membuat tulisan anda menjadi ilmiah, jika tidak mengikuti kaidah dan metodologi ilmiah, paling banter akan disebut pseudo-science. Ada baiknya anda belajar neuroscience dan neuropsychology, supaya mengetahui bagaimana cara kerja otak sebenarnya, paling tidak dalam batas-batas pengetahuan yang telah terbukti kebenarannya secara ilmiah saat ini. Salah satu referensi yang saya sarankan adalah koleksi film dokumenter berjudul Brain Story karya Prof. Susan Greenfield. Referensi lain juga banyak yang bisa anda peroleh dari internet.

Offline rizqi_fs

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 1.746
  • IQ: 16
Re:God &/vs love, religion boundary of interpersonal relationship
« Jawab #114 pada: Desember 31, 2011, 11:58:09 PM »
@Rizki
Berarti beramal sholeh, tapi tidak beriman, ya tetap merugi dong..Mengapa Tuhan mati-matian ingin dipercaya, diimani dan disembah?
Iy, begitu lah informasinya:). Kita hanya sementara hidup didunia ini, paling paling cuman 60an tahun jarang ada yang lebih, kecuali nanti deket2 kiamat, umur manusia itu rata2 akan semakin panjang (ini juga diinformasikan oleh Tuhan juga).

tidak cukupkah kita berbuat baik, saling mengasihi dan penuh cinta kepada sesama mahluk hidup?
Mengapa Tuhan begitu Narcist dan pencemburu?
Bagai mana anda bisa mengatakan "Tuhan mati-matian ingin dipercaya, diimani dan disembah? "
nyatanya banyak orang yang ga percaya, ga mengimani dan ga disembah mereka masih ada, artinya mereka diberi kebebasan untuk memilih oleh Tuhan
Dan setiap manusia menanggung segala resiko di dunia dan nanti setelah mati akan apa yang telah dia pilih

Offline rizqi_fs

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 1.746
  • IQ: 16
Re:God &/vs love, religion boundary of interpersonal relationship
« Jawab #115 pada: Januari 01, 2012, 12:05:07 AM »
Dari mana anda tahu bahwa syaitan itu nyata, dan memusuhi manusia? Bagaimana kita tahu bahwa itu bukan cuma khayalan kita? atau metode yang dipakai oleh para orang tua untuk membuat anak-anak mereka patuh? Apa bedanya dengan sinterklas?

Menggunakan kata-kata ilmiah seperti energy tidak serta-merta membuat tulisan anda menjadi ilmiah, jika tidak mengikuti kaidah dan metodologi ilmiah, paling banter akan disebut pseudo-science. Ada baiknya anda belajar neuroscience dan neuropsychology, supaya mengetahui bagaimana cara kerja otak sebenarnya, paling tidak dalam batas-batas pengetahuan yang telah terbukti kebenarannya secara ilmiah saat ini. Salah satu referensi yang saya sarankan adalah koleksi film dokumenter berjudul Brain Story karya Prof. Susan Greenfield. Referensi lain juga banyak yang bisa anda peroleh dari internet.
saya hanya melihat bukti bahwa ternyata orang yang berpendidikan tinggi yang sangat paham dengan agama yang paham akan nilai-nilai kebaikan ternyata masih bisa juga melakukan tindakan yang melanggar kesusilaan yang sebenarnya dia tahu dan paham itu salah dan buruk jika dilakukan.

Secara teori itu ga mungkin terjadi, kecuali ada komponen lain diluar dia yang membuat dia melakukan itu, klo anda ga percaya syaitan ya saya bisa menyebutnya sebagai komponen diluar dia he he

Sebaiknya kita focus dalam pembicaraan, itu lebih baik dari pada mengomentari secara personal seperti yang anda lakukan itu

Offline mhyworld

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 1.503
  • IQ: 50
  • Gender: Pria
  • .start with the end in mind.
Re:God &/vs love, religion boundary of interpersonal relationship
« Jawab #116 pada: Januari 01, 2012, 03:13:37 AM »
saya hanya melihat bukti bahwa ternyata orang yang berpendidikan tinggi yang sangat paham dengan agama yang paham akan nilai-nilai kebaikan ternyata masih bisa juga melakukan tindakan yang melanggar kesusilaan yang sebenarnya dia tahu dan paham itu salah dan buruk jika dilakukan.

Secara teori itu ga mungkin terjadi, kecuali ada komponen lain diluar dia yang membuat dia melakukan itu, klo anda ga percaya syaitan ya saya bisa menyebutnya sebagai komponen diluar dia he he

Sebaiknya kita focus dalam pembicaraan, itu lebih baik dari pada mengomentari secara personal seperti yang anda lakukan itu

Berpendidikan tinggi belum tentu paham agama, lagipula, agama yang mana yang dimaksud? beberapa agama memiliki standar yang berbeda dalam menentukan baik dan buruk.

Pelanggaran atau kesalahan yang mereka lakukan hanya menunjukkan bahwa mereka belum memikirkan akibat dari tindakan tersebut dalam jangka panjang, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain, termasuk reaksi masyarakat dan aparat penegak hukum. Pendeknya pemikiran ini berkaitan dengan kerja otak, bisa karena pengaruh hormon, alkohol, atau obat-obatan, di samping terbatasnya pengetahuan yang ia miliki mengenai sebab dan akibat dari tindakannya.

Saya tidak keberatan anda menamai pengaruh luar itu sebagai syaitan atau iblis atau evil atau lainnya. Namun memberikan karakteristik personal (personifikasi) pada pengaruh tersebut seperti bisa melihat, berpikir, berbicara/berbisik, memiliki tujuan, dll bukan merupakan hal yang bisa dibenarkan secara ilmiah.

Bagian mana dari tulisan saya yang merupakan komentar personal? Mengapa anda menyebutnya personal?

 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
0 Jawaban
4609 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 16, 2007, 03:41:36 AM
oleh nano
13 Jawaban
11250 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 14, 2011, 02:19:26 AM
oleh nate river
4 Jawaban
5662 Dilihat
Tulisan terakhir September 20, 2010, 05:39:31 AM
oleh faiqhr
36 Jawaban
15520 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 20, 2011, 04:45:49 PM
oleh familycode
171 Jawaban
50517 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 24, 2014, 03:55:20 PM
oleh mhyworld