Gunakan MimeTex/LaTex untuk menulis simbol dan persamaan matematika.

Welcome to Forum Sains Indonesia. Please login or sign up.

Juni 28, 2022, 04:21:38 PM

Login with username, password and session length

Topik Baru

Artikel Sains

Anggota
  • Total Anggota: 26,754
  • Latest: sainsftw
Stats
  • Total Tulisan: 139,633
  • Total Topik: 10,390
  • Online today: 75
  • Online ever: 441
  • (Desember 17, 2011, 09:48:51 AM)
Pengguna Online
Users: 0
Guests: 63
Total: 63

Aku Cinta ForSa

ForSa on FB ForSa on Twitter

Relasi Etika Filosofis dan Etika Teologis

Dimulai oleh familycode, Februari 07, 2011, 06:22:13 AM

« sebelumnya - berikutnya »

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

familycode

Relasi Etika Filosofis dan Etika Teologis

Di Forum agama dan filosofi saya mengajak lebih dalam untuk membahas tentang relasi etika filosofis dan etika teologis, diketahui bahwa terdapat perdebatan mengenai posisi etika filosofis dan etika teologis di dalam ranah etika, sepanjang sejarah pertemuan antara kedua etika ini, ada tiga jawaban menonjol yang dikemukakan mengenai pertanyaan di atas, yaitu:

- Revisionisme
Tanggapan ini berasal dari Augustinus (354-430) yang menyatakan bahwa etika teologis bertugas untuk merevisi, yaitu mengoreksi dan memperbaiki etika filosofis.

- Sintesis
Jawaban ini dikemukakan oleh Thomas Aquinas (1225-1274) yang menyintesiskan etika filosofis dan etika teologis sedemikian rupa, hingga kedua jenis etika ini, dengan mempertahankan identitas masing-masing, menjadi suatu entitas baru. Hasilnya adalah etika filosofis menjadi lapisan bawah yang bersifat umum, sedangkan etika teologis menjadi lapisan atas yang bersifat khusus.

- Diaparalelisme
Jawaban ini diberikan oleh F.E.D. Schleiermacher (1768-1834) yang menganggap etika teologis dan etika filosofis sebagai gejala-gejala yang sejajar. Hal tersebut dapat diumpamakan seperti sepasang rel kereta api yang sejajar.

Mengenai pandangan-pandangan di atas, ada beberapa keberatan. Mengenai pandangan Augustinus, dapat dilihat dengan jelas bahwa etika filosofis tidak dihormati setingkat dengan etika teologis. Terhadap pandangan Thomas Aquino, kritik yang dilancarkan juga sama yaitu belum dihormatinya etika filosofis yang setara dengan etika teologis, walaupun kedudukan etika filosofis telah diperkuat. Terakhir, terhadap pandangan Schleiermacher, diberikan kritik bahwa meskipun keduanya telah dianggap setingkat namun belum ada pertemuan di antara mereka.

Ada pendapat lain yang menyatakan perlunya suatu hubungan yang dialogis antara keduanya. Dengan hubungan dialogis ini maka relasi keduanya dapat terjalin dan bukan hanya saling menatap dari dua horizon yang paralel saja. Selanjutnya diharapkan dari hubungan yang dialogis ini dapat dicapai suatu tujuan bersama yang mulia, yaitu membantu manusia dalam bagaimana ia seharusnya hidup.

Saya pribadi melihat hal di atas Revisionisme, Sintesis dan Diaparalelisme adalah perkembangan dari bentuk dialektika, hubungan yang dialogis penting disini, karena itu kita perlu menggunakan rasional komunikatif.

Apa artinya di atas, kerangka berpikir ilmiah yang bersifat universal dan taat aturan tidak dapat dibawa ke rasionalitas komunikatif, jika dibawa ke rasional komunikatif dapat berpotensi membawa ke arah monokultur dan fundamentalis, ini adalah hal yang cukup berbahaya untuk komunitas sains.

Jika teman-teman melihat kritik yang dilontarkan oleh para pemikir postmodern, akan terlihat anti tesis yang begitu kuat menyerang apa yang ditawarkan oleh pemikir modern, karena itu kita perlu dialektika, kita perlu melihat para pemikir postmodern dengan substansi tersendiri dengan penuh reflektifitas.

Balik ke topik Relasi Etika Filosofis dan Etika Teologis, jika ada yang punya opini tentang ini lebih jauh dapat di sampaikan diharapkan nanti pembahasan lebih jauh dapat dijadikan bentuk reflektif bersama.