Forum Sains Indonesia

Diskusi Umum => Agama dan Filosofi => Topik dimulai oleh: semut-ireng pada Juni 20, 2010, 07:38:34 PM

Judul: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: semut-ireng pada Juni 20, 2010, 07:38:34 PM
"   Begitu juga di antara orang duniawi,  siswa Sang Buddha Yang Maha Sempurna bersinar menerangi dunia yang gelap ini dengan kebijaksanaannya.  "  (  Puppa Vagga 16,  Dhammapada 59  ).

Sudah ada diskusi tentang sutta di atas di :  www.forumsains.com/agama-dan-filosofi/tiga-nabi-manusia/75/

Silakan kalau ada yang berpendapat lain.
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: Pi-One pada Juni 21, 2010, 02:01:45 AM
Kenapa gak anda tanyakan langsung ke forum-forum Buddhis? Ketimbang jadi 'nabi' dan mengklaim itu pengakuan Buddha sebagai siswa Tuhan? :D
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: semut-ireng pada Juni 21, 2010, 04:54:14 AM
tanya ke forum2 Buddhis ??  ya enggalah,  saya sekedar menyampaikan pendapat,  bukan mengklaim atau apa ............ :D
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: Pi-One pada Juni 21, 2010, 07:38:04 AM
tanya ke forum2 Buddhis ??  ya enggalah,  saya sekedar menyampaikan pendapat,  bukan mengklaim atau apa ............ :D
Ya ya, dan waktu aku suruh googling untuk menguji klaim anda (anda nuduh cuma aku yang bilang Budhisme itu agnostik), anda ngeles dengan alasan malas. Waktu aku bilang Samma Sambuddha (Buddha yang maha sempurna) adalah sebutan untuk Buddha sendiri, anda ngotot bahwa itu sebutan untuk Tuhan.

Itu yang anda bilang 'sekedar menyampaikan pendapat'? :D
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: Pi-One pada Juni 21, 2010, 11:04:36 AM
Puppha Vagga, translasi oleh Ven Narada
Kutip
Yathà saïkàradhànasmi§ Þ
            ujjhitasmi§ mahàpathe
Paduma§ tattha jàyetha Þ
            sucigandha§ manorama§.

Eva§ saïkàrabhåtesu Þ
            andhabhåte puthujjane
Atirocati pa¤¤àya Þ
            sammàsambuddhasàvako

As upon a heap of rubbish thrown on the highway, a sweet-smelling lovely lotus may grow, even so amongst worthless beings, a disciple of the Fully Enlightened One outshines the blind worldlings in wisdom.
Sumber:
http://www.metta.lk/english/Narada/04-Puppha%20Vagga.htm

Translasi dalam bahasa Inggris sebagai perbandingan. Samma Sambuddha di sini diterjemahkan sebagai 'the Fully Enlightened One'. Ada yang mau ngotot itu sebutan untuk Tuhan? :)
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: semut-ireng pada Juni 21, 2010, 12:57:26 PM
Untuk apa ngotot  ?  ngga ada gunanya.   Mau pake perbandingan dari mana saja silakan saja,  berbeda pendapat sah-sah saja.  Yang jelas,  dalam pandangan saya  Buddhisme itu theis,  dan simbol theis itu saya lihat dipakai di salah satu Majelis Agama Buddha yang ada di Indonesia.  Maaf,  mungkin anda belum tahu apa yang saya maksud dengan  "  simbol theis  ",  memang tidak bisa dijelaskan di forum ini.   Simbol theis itu juga tercantum di salah satu sutta,  bukan suatu rangkaian kata-kata.........
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: semut-ireng pada Juni 21, 2010, 02:36:54 PM
Buddhisme di Indonesia adalah theis, silakan dilihat dalam kutipan di bawah ini :


Perwakilan Umat Buddha Indonesia beranggotakan :

1. Dewan Sangha
   1. Bhiksu Sangha Mahayana
   2. Bhikkhu Sangha Theravada
   3. Bhiksu Sangha Tantrayana Kasogatan
   4. Bhiksu Sangha Tantrayana Indonesia
   5. Lama Sangha Tantrayana Vajrayana
   6. Bhiksuni Sangha Mahayana

2. Majelis-Majelis Agama Buddha
   1. Majelis Agama Buddha Mahayana Indonesia (Majabumi)
   2. Majelis Pandita Buddha Maitreya Indonesia (Mapanbumi)
   3. Majelis Rohaniawan Tridharma Seluruh Indonesia (Martrisia)
   4. Majelis Agama Buddha Tantrayana Kasogatan Indonesia (Kasogatan)
   5. Parisadha Buddha Dharma Nichiren Syosyu Indonesia (NSI)
   6. Pandita Sabha Buddha Dharma Indonesia (PSBDI)
   7. Majelis Umat Buddha Theravada Indonesia (Majubuthi)
   8. Majelis Agama Buddha Satya Buddha Indonesia (Madhatantri)
   9. Lembaga Keagamaan Buddha Indonesia :
      1. Satya Adhidharma
      2. Sad Dharma Pundarika
      3. Pendidikan Maitreya
      4. Eka Dharma Abadi
      5. Eka Dharma Manggala
      6. Lainnya.

Dengan dukungan seluruh anggota, Perwakilan umat Buddha telah berada di 24 Propinsi dengan 16 Dewan Pengurus Daerah Tingkat I yang telah terbentuk sebagaimana hasil Pasamuan Daerah Tingkat I dan Puluhan Dewan Pengurus Daerah Tingkat II di seluruh wilayah Republik Indonesia.

DEWAN SANGHA

Dewan Sangha yang berfungsi sebagai Penasehat Dharma Walubi mengadakan Samaya Dewan Sangha yang dilaksanakan pada tanggal 9 April 1999 di Jakarta.

1.Samaya Dewan Sangha memutuskan hal-hal sebagai berikut :
 Dewan Sangha bertujuan untuk meningkatkan dan memantapkan kualitas pemahaman, penghayatan dan pengamalan umat Buddha terhadap ajaran agamanya guna memantapkan kualitas kesadaran bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.


2. Dewan Sangha bertujuan untuk menciptakan kerukunan hidup antar umat Buddha, antar umat Buddha dengan umat beragama lainnya dan antar umat Buddha dengan Pemerintah

3. Meningkatkan Pembinaan Umat Buddha yang bertujuan melenyapkan kebodohan untuk mewujudkan suatu masyarakat Buddhis yang adil dan makmur dengan berlandaskan Buddha Dharma di dalam Perwakilan Umat Buddha Indonesia yang rukun, bersatu, tenteram, harmonis, tertib, damai dan dinamis

http://www.walubi.or.id/about/about_walubi.shtml
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: semut-ireng pada Juni 21, 2010, 09:27:58 PM
-  kata buddha dari bahasa Pali,  bahasa Indonesianya :  yang sadar.

-  tergantung konteks penggunaannya juga,  kadang diartikan  :  yang tercerahkan.

-  yang selalu sadar pastilah bukan manusia,  manusia banyak tidak sadarnya.

-  Yang Selalu Sadar adalah Yang Maha Hidup,  Yang Maha Waspada,  Yang Maha Mengetahui

-  Yang Maha Hidup,  Maha Waspada,  Maha Mengetahui adalah Tuhan Yang Maha Esa.

Buddhisme  =  Faham Ketuhanan / agama Ketuhanan.
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: Pi-One pada Juni 22, 2010, 01:22:08 AM
Wakaka.... Tuh kan, menafsirkan suka-suka.

Sejarah penggunaan istilah Tuhan YME, sudah pernah kita bahas dulu. itu lebih menyangkut aspek politis. Satu-satunya aliran yang menyebut-nyebut sosok Tuhan sebagaimana agama samawi dalam aliran Buddha di Indonesia adalah aliran Buddha Maitreya. Dan Sejatinya aliran Buddha Maitreya bukan aliran agama Buddha. Ikuanisme adalah ajaran yang sama sekali berbeda, di Indonesia meminjam nama Buddhisme agar bisa berkembang.

Dan anda mau sebut Buddha itu bukan manusia? :D

Jadi Buddha Gautama itu bukan manusia, dan dia adalah Tuhan? Nah, lucu kan? Masak yang non Buddhis malah ngotot kalau Buddha itu Tuhan?  ;D

Buddhisme mengajarkan untuk mengendalikan dan menjaga pikiran agar selalu sadar, itu pikiran benar (salah satu dari 8 jalan utama, jalan untuk mencapai nibbana).

Singkat kata, anda sedang berceloteh tentang ajaran antah-berantah, bukan Buddhisme, wahai temanku 'Nabi semut-ireng' :)
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: semut-ireng pada Juni 22, 2010, 04:18:03 AM
Dan anda mau sebut Buddha itu bukan manusia? :D

Jadi Buddha Gautama itu bukan manusia, dan dia adalah Tuhan? Nah, lucu kan? Masak yang non Buddhis malah ngotot kalau Buddha itu Tuhan?  ;D


Dari mana anda mengambil kesimpulan terlalu jauh seperti itu ??  Kalau saya salah menerjemahkan kata buddha tolong anda koreksi dan jelaskan... :D


Dan anda pernah mengaku dari Theravada.   Apa ada Theravada lain di Indonesia selain yang tergabung dalam WALUBI,  sehingga anda juga pernah mengaku di luar WALUBI  ??

Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: Pi-One pada Juni 22, 2010, 10:56:38 PM
Dari mana anda mengambil kesimpulan terlalu jauh seperti itu ??  Kalau saya salah menerjemahkan kata buddha tolong anda koreksi dan jelaskan... :D
Kesimpulan terlalu jauh?

Buddha berarti yang tercerahkan, yang mencapai penerangan sempurna. Ada 3 jenis Buddha, yakni Samma Sambuddha (mereka yang emncapai pencerahan dengan usaha sendiri), Pacceka Buddha (yang mencapai pencerahan dengan usaha sendiri, namun tak bisa membimbing orang lain untuk mencapai pencerahan) dan Savaka Buddha (atau pencapaian murid, atau arahat, sederhananya yang mencapai pencerahan dengan bimbingan dan ajaran Samma sambuddha).

Buddha Gautama adalah Samma Sambuddha. Para siswanya yang mencapai Nibbana di bawah ajarannya adalah para Savaka Buddha.

Dan menjaga pikiran adalah poin penting dari ajaran Buddhisme. Adalah mungkin untuk menjaga pikiran agar selalu sadar, itu yang dilakukan mereka yang telah mencapai Nibbana. Lucu kalau anda yang non Buddhis, yang tidak mempelajari ajaran, mengklaim bahwa Buddha sekalipun tak bisa menjaga pikiran selalu sadar :)

Dan anda pernah mengaku dari Theravada.   Apa ada Theravada lain di Indonesia selain yang tergabung dalam WALUBI,  sehingga anda juga pernah mengaku di luar WALUBI  ??
Sekali lagi, anda tahu sejarah kenapa Buddhisme mencantumkan 'Ketuhanan Yang maha Esa'? Dan anda paham apa itu 'Ketuhanan Yang Maha Esa' dalam Buddhisme? Jika belum paham, jangan berceloteh seakan anda amat paham :)
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: semut-ireng pada Juni 23, 2010, 12:53:53 AM
Jika belum paham, jangan berceloteh seakan anda amat paham :)

Karena saya belum paham itulah maka saya bertanya kepada seorang Buddhis  dari Theravada yang tentunya sudah sangat memahami ajaran agamanya  :

1.  Apakah salah saya menerjemahkan kata buddha =  yang sadar  ?  Terjemahan yang saya sampaikan di atas dan butir2 uraian berikutnya saya maksudkan semacam  "  test  "  cara berlogika,  kalau kurang tepat tolong  dikoreksi juga ..........

2.  Apakah ada Theravada lain di Indonesia,  selain yang bergabung di WALUBI ??

 
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: Pi-One pada Juni 23, 2010, 01:28:11 AM
1.  Apakah salah saya menerjemahkan kata buddha =  yang sadar  ?  Terjemahan yang saya sampaikan di atas dan butir2 uraian berikutnya saya maksudkan semacam  "  test  "  cara berlogika,  kalau kurang tepat tolong  dikoreksi juga ..........
Tidak. Buddha memiliki banyak pengertian, tapi mengartikan Buddha sebagai yang sadar tidak salah. Yang salah adalah saat anda menganggap hanya Tuhan yang sadar atau selalu sadar, dan bahwa yang terdasarkan atau selalu sadar di sini diartikan sebgai Tuhan.

2.  Apakah ada Theravada lain di Indonesia,  selain yang bergabung di WALUBI ??
Sekali lagi, tidak. hanya saja anda salah saat menganggap Ketuhanan YME di sini sebagai sesuatu yang seperti konsep Tuhan agama samawi. Atau bahwa Tuhan YME di sini adalah obyek yang disembah, dimintai permohonan, atau memberi wahyu pada Buddha.
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: semut-ireng pada Juni 23, 2010, 08:13:04 AM
1.   Anda tidak sependapat dengan pernyataan saya :   yang selalu sadar pastilah bukan manusia,  manusia banyak tidak sadarnya  ?   Berarti anda menganggap manusia itu boleh dibilang selalu sadar,  atau mungkin manusia yang telah memiliki pengetahuan sempurna / telah tercerahkan,  itu selalu sadar ??

2.  Anda dari Theravada,  namun apakah anda sependapat dengan keputusan Samaya Dewan Sangha WALUBI dalam kutipan di atas :   memantapkan kualitas kesadaran bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa  ?  Apakah Tuhan Yang Maha Esa yang dimaksud  di sini adalah Nibbana,  "  obyek  " yang tidak dimintai permohonan / perlindungan  ??
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: Pi-One pada Juni 23, 2010, 11:13:57 AM
1.   Anda tidak sependapat dengan pernyataan saya :   yang selalu sadar pastilah bukan manusia,  manusia banyak tidak sadarnya  ?   Berarti anda menganggap manusia itu boleh dibilang selalu sadar,  atau mungkin manusia yang telah memiliki pengetahuan sempurna / telah tercerahkan,  itu selalu sadar ??
Kebanyakan manusia lebih banyak tidak sadarnya. Tapi mereka yang telah selesai melatih diri, pikiran mereka selalu sadar. Dan apa anda menyebut mereka bukan manusia, karena mereka selalu sadar?

2.  Anda dari Theravada,  namun apakah anda sependapat dengan keputusan Samaya Dewan Sangha WALUBI dalam kutipan di atas :   memantapkan kualitas kesadaran bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa  ?  Apakah Tuhan Yang Maha Esa yang dimaksud  di sini adalah Nibbana,  "  obyek  " yang tidak dimintai permohonan / perlindungan  ??
Jika anda tanya pada Buddhis apa itu konsep Ketuhanan, maka mereka akan merujuk pada Udana VIII, dan apa yang diuangkap dalam udana (lagu kemenangan) adalah Nibbana.

Jadi aku tidak menolak konsep ketuhanan, yang aku tolak adalah jika anda mengarahkan konsep ketuhanan tadi ke Tuhan versi theis yang merupakan sosok pencipta, pengatur takdir manusia, sosok yang disembah dan dimintai permohonan.
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: Pi-One pada Juni 23, 2010, 11:14:20 AM
1.   Anda tidak sependapat dengan pernyataan saya :   yang selalu sadar pastilah bukan manusia,  manusia banyak tidak sadarnya  ?   Berarti anda menganggap manusia itu boleh dibilang selalu sadar,  atau mungkin manusia yang telah memiliki pengetahuan sempurna / telah tercerahkan,  itu selalu sadar ??
Kebanyakan manusia lebih banyak tidak sadarnya. Tapi mereka yang telah selesai melatih diri, pikiran mereka selalu sadar. Dan apa anda menyebut mereka bukan manusia, karena mereka selalu sadar?

2.  Anda dari Theravada,  namun apakah anda sependapat dengan keputusan Samaya Dewan Sangha WALUBI dalam kutipan di atas :   memantapkan kualitas kesadaran bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa  ?  Apakah Tuhan Yang Maha Esa yang dimaksud  di sini adalah Nibbana,  "  obyek  " yang tidak dimintai permohonan / perlindungan  ??
Jika anda tanya pada Buddhis apa itu konsep Ketuhanan, maka mereka akan merujuk pada Udana VIII, dan apa yang diuangkap dalam udana (lagu kemenangan) adalah Nibbana.

Jadi aku tidak menolak konsep ketuhanan, yang aku tolak adalah jika anda mengarahkan konsep ketuhanan tadi ke Tuhan versi theis yang merupakan sosok pencipta, pengatur takdir manusia, sosok yang disembah dan dimintai permohonan.
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: semut-ireng pada Juni 23, 2010, 03:35:07 PM
1.  Mereka yang telah selesai melatih diri,  katakanlah sudah mendapat pengetahuan sempurna /  sudah tercerahkan atau sudah mencapai nibbana semasa masih hidup,  tidak bisa dikatakan selalu sadar / yang selalu sadar.  Bagaimanapun juga sebagai manusia mereka masih perlu tidur / istirahat pikirannya.   Hal itu yang saya maksud bahwa yang selalu sadar  -  tidak pernah tidur  -  pastilah bukan manusia.

2.   Anda menolak konsep ketuhanan yang merupakan sosok yang disembah dan dimintai pertolongan.   Bagaimana pendapat anda sendiri terhadap pernyataan Samaya Dewan Sangha  :...bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa ....di atas tadi,  apakah itu bukan konsep ketuhanan sosok yang disembah dan dimintai pertolongan ?
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: Pi-One pada Juni 24, 2010, 02:30:00 AM
1.  Mereka yang telah selesai melatih diri,  katakanlah sudah mendapat pengetahuan sempurna /  sudah tercerahkan atau sudah mencapai nibbana semasa masih hidup,  tidak bisa dikatakan selalu sadar / yang selalu sadar.  Bagaimanapun juga sebagai manusia mereka masih perlu tidur / istirahat pikirannya.   Hal itu yang saya maksud bahwa yang selalu sadar  -  tidak pernah tidur  -  pastilah bukan manusia.
Nah, ini adalah pola pikir anda berdasar kepercayaan anda. Saat kita bicara pikiran selalu sadar, bukan berarti seseorang yang tak pernah tidur. Tapi bahkan saat tidur pun, pikiran mereka yang sudah tecerahkan selalu terjaga, sehingga mereka tidurnya tenang, tidak memimpikan hal-hal buruk. yang dimaksud pikiran selalu sadar adalah pikiran yang selalu terjaga, tidak lari ke mana-mana seperti kita yang umumnya sulit berkonsentrasi. Karena itu pula mereka yang pikirannya selalu sadar tadi tidak akan terpengaruh batinnya meski dihina atau dilukai.

2.   Anda menolak konsep ketuhanan yang merupakan sosok yang disembah dan dimintai pertolongan.   Bagaimana pendapat anda sendiri terhadap pernyataan Samaya Dewan Sangha  :...bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa ....di atas tadi,  apakah itu bukan konsep ketuhanan sosok yang disembah dan dimintai pertolongan ?
Singkat saja; Bukan :)

Tidak percaya? Kenapa tidak anda tanyakan langsung pada mereka, jangan menyimpulkan seenak udel :)
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: semut-ireng pada Juni 24, 2010, 02:57:30 AM
Ngga perlu tanya ke sana langsung,  entar pasti balik ditanya  :  belum tahu arti kata taqwa  ??
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: Pi-One pada Juni 24, 2010, 05:05:54 AM
Ngga perlu tanya ke sana langsung,  entar pasti balik ditanya  :  belum tahu arti kata taqwa  ??
Jika dijawab begitu, kurasa yang jawab bukan Buddhis. Dalam Budhisme, keyakinan didapat dari pemahaman. Bukannya diwajibkan percaya sejak awal. Ehipassiko itu sudah diungkap dalam Kalama Sutta. :)
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: semut-ireng pada Juni 24, 2010, 08:18:14 AM
Ngga perlu tanya ke sana langsung,  entar pasti balik ditanya  :  belum tahu arti kata taqwa  ??
Jika dijawab begitu, kurasa yang jawab bukan Buddhis.

Anda tahu jika dijawab begitu  "   yang jawab bukan Buddhis ",   berarti anda tahu pula bahwa kata taqwa bisa diartikan lain oleh  Buddhis.   Apa arti kata taqwa menurut Buddhis  ? :)
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: Pi-One pada Juni 24, 2010, 11:53:11 PM
Pada dasarnya, taqwa itu kata dalam bahasa arab, dan umum digunakan oleh umat Islam. Jadi kurasa itu bukan kata yang dikenal agama lain. Jadi kurasa tak sulit menyebut yang jawab bukan Buddhis, jika mereka menjawab seperti apa yang kamu bilang tadi :)

Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: semut-ireng pada Juni 25, 2010, 05:28:27 AM
Jadi,  bukan karena tahu kata taqwa bisa diartikan lain oleh Buddhis,  tapi karena tahu kata itu umum digunakan oleh umat Islam. 

Anda bilang :  bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa itu bukan konsep ketuhanan sosok yang disembah dan dimintai pertolongan,  dan dengan pemahaman seperti itu anda setuju dengan keputusan Samaya Dewan Sangha,  berarti anda bernaung di bawah WALUBI juga kan ?
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: Pi-One pada Juni 25, 2010, 08:54:09 AM
Sekali lagi, masalahnya adalah definisi Tuhan itu sendiri. Definisi bertaqwa di sini apakah menjalankan perintah dan menjauhi larangan? Dalam hal ini, Buddhisme tak kenal sosok penguasa, yang memberikan perintah dan larangan, atau memberi hadiah/pahala dan hukuman.

Bentuk Buddhisme adalah latihan diri. Bahkan Buddha sendiri memilih menggunakan bentuk kalimat 'adalah benar untuk melakukan ini', atau 'adalah benar untuk tidak melakukan ini'. Kenapa? Karena Buddha bukan pembuat hukum, dan bukan sosok yang menghukum atau memberi pahala. Buddha hanya mengajarkan, dan menjelaskan kenapa satu perbuatan baik untuk dilakukan dan kenapa perbuatan lain tidak baik untuk dilakukan.

Ini menyangkut tanggang jawab pribadi. Saat seseorang melakukan perbuatan baik atau buruk, ia sendiri yang nantinya akan menerima buah dari perbuatannya. Karena perbuatan baik mendatangkan akibat yang baik, maka baik untuk dilakukan. Karena perbuatan buruk mendatangkan buah yang buruk pula, maka tidak baik untuk dilakukan.
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: semut-ireng pada Juni 25, 2010, 03:14:45 PM
Salah satu contoh perbuatan baik,  misalnya,  melaksanakan keputusan Samaya Dewan Sangha di atas tadi dengan tulus,  bukankah begitu  ?






Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: Pi-One pada Juni 25, 2010, 11:19:00 PM
Salah satu contoh perbuatan baik,  misalnya,  melaksanakan keputusan Samaya Dewan Sangha di atas tadi dengan tulus,  bukankah begitu  ?
Jika tidak paham maksudnya, apa bisa melaksanakan dengan baik? Salah-salah hasilnya adalah pengertian salah, dan pengertian salah tidak menghasilkan akibat yang baik kan?
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: semut-ireng pada Juni 26, 2010, 12:36:45 AM
Jika tidak paham maksudnya,  berarti bukan Buddhis Theravada yang ada di Indonesia.
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: Pi-One pada Juni 26, 2010, 05:40:13 AM
Dalam hal ini, anda sudah paham belum maksud dari Ketuhanan dalam Buddhisme?
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: semut-ireng pada Juni 26, 2010, 06:12:41 AM
Maksud Ketuhanan dalam Buddhisme bisa berbeda-beda di kalangan orang yang mengaku Buddhis.   Orang yang mengaku Buddhis,  mengaku pula agnostis,  dan berpaham naturalis,  konsep Ketuhanannya jelas berbeda dengan umat Buddha di Indonesia umumnya.   Dilihat dari sisi ini,  apa yang dimaksud dengan Ketuhanan dalam Buddhisme  -  dalam kaitan dengan diskusi ini  -  tidak bisa digunakan sebagai patokan untuk membenarkan atau tidak membenarkan pernyataan  "  bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa  "  sebagai konsep Ketuhanan sosok yang disembah dan dimintai pertolongan.

Ada cara lain yang bisa digunakan,  yaitu berdasarkan Asas2 Pemikiran dalam filsafat  -  khususnya Asas Persamaan /  Principium identitatis  -.   Dan bila ada orang yang mengartikan  "  bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa  " itu bukan konsep Ketuhanan sosok yang disembah dan dimintai pertolongan,  berarti orang yang mengatakan itu belum paham asas2 pemikiran.
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: Pi-One pada Juni 27, 2010, 01:56:03 AM
Nah kan? Kamu menggunakan konsep agama samawi, dan mau coba memasukkannya dalam Buddhisme? Bukankah bahkan dari sumber yang sering kamu comot pun, biasa dikatakan bahwa konsep ketuhanan umat Buddha itu tercantum dalam Udana VIII? Dan Udana VIII itu sutta tentang apa? Tentang pembebasan, tentang tujuan terakhir umat Buddha, yakni Nibbana.

Justru jika ada yang ngaku umat Buddha, tapi konsep ketuhanannya adalah satu sosok yang disembah, dimintai permohonan dsb, maka dia bukan Buddhis :)
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: semut-ireng pada Juni 27, 2010, 07:22:13 AM
Saya bilang ada cara lain,  yaitu berdasarkan Asas2 pemikiran dalam filsafat  -  khususnya Asas Persamaan / Pricipium identitatis  -  pernyataan   "  bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa  " itu tidak bisa diartikan lain selain menjalani perintah dan menjauhi larangan Tuhan Yang Maha Esa. 

Di atas itu arti dalam pengertian sempit / praktis.   Pengertian dalam arti luasnya  :   hendaklah kamu mengambil ALLAH /  Tuhan Yang Maha Esa sebagai pemelihara /benteng/pelindung.  :) 
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: Pi-One pada Juni 27, 2010, 10:19:52 PM
Saya bilang ada cara lain,  yaitu berdasarkan Asas2 pemikiran dalam filsafat  -  khususnya Asas Persamaan / Pricipium identitatis  -  pernyataan   "  bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa  " itu tidak bisa diartikan lain selain menjalani perintah dan menjauhi larangan Tuhan Yang Maha Esa. 

Di atas itu arti dalam pengertian sempit / praktis.   Pengertian dalam arti luasnya  :   hendaklah kamu mengambil ALLAH /  Tuhan Yang Maha Esa sebagai pemelihara /benteng/pelindung.  :) 
Tidak usah bermain kata. Dari pada kata-kat puitis yang fleksibel yang bisa dipakai mencocok-cocokkan, lebih baik maknanya saja. Karena seindah apapun satu kata atau kalimat, jika maknanya tak jelas, tak ada artinya.

Buddhisme tidak kenal sosok yang memberi perintah dan larangan. Seperti kataku, Buddhisme adalah satu bentuk latihan diri. Tidak ada sosok yang menghukum atau memberi hadiah atasapa yang dilakukan dan tidak dilakukan, hanya akibat wajar dari perbuatan.
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: Pi-One pada Juni 29, 2010, 10:42:10 AM
Buddhanusati (Perenungan terhadap Buddha)

(http://www.arrowriver.ca/images/itipi2.gif)

Demikianlah Sang Bhagava Yang Maha Suci,
Yang telah mencapai Penerangan sempurna,
sempurna pengetahuan serta tindaktandukNya,
sempurna menempuh Sang Jalan (nibanna),
Pengenal segenap alam,
Pembimbing Manusia Yg tiada taranya,
Guru para dewa dan manusia
Yang Sadar, Yang patut dimuliakan.

*Buddhanusati adalah paritta yang umum dibacakan dalam Puja Bakti di Vihara. Sutta ini adalah perenungan terhadap Sang Buddha, bukan perenungan terhadap Tuhan. Setelah Sutta ini dibacakan Dhammanusati (perenungan terhadap Dhamma) dan Sanghanusti (perenungan terhadap Sangha).
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: semut-ireng pada Juni 30, 2010, 04:51:38 AM
-  Buddhanusati itu apakah dikatakan / disabdakan sendiri oleh Sang Buddha Gotama  ?

-  Dan yang dimaksud para dewa itu siapa  ?  Membayangkan istilah  '  para dewa ' jadinya ingat seperti yang ada di agama Hindu.  Kalau ngga salah di sutta ada juga menyebut  raja dewa kematian,  dewa Yama .................
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: Pi-One pada Juni 30, 2010, 11:56:40 PM
-  Buddhanusati itu apakah dikatakan / disabdakan sendiri oleh Sang Buddha Gotama  ?

-  Dan yang dimaksud para dewa itu siapa  ?  Membayangkan istilah  '  para dewa ' jadinya ingat seperti yang ada di agama Hindu.  Kalau ngga salah di sutta ada juga menyebut  raja dewa kematian,  dewa Yama .................

Melihat isinya, Buddhanusati nampaknya dibuat pengikutnya untuk mengenang beliau. Dan sutta itu menunjukkan bahwa Samma Sambuddha (Buddha Gautama) adalah sosok yang selalu sadar.

Dewa di sini adalah sebutan untuk makhluk penghuni alam surga. Bukan makhluk yang mengatur nasib manusia.
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: semut-ireng pada Juli 01, 2010, 03:29:29 PM
-   Buddhanusati tidak disabdakan sendiri oleh Sang Buddha,  sedangkan Puppa Vagga (16 ) disabdakan sendiri.  Sementara untuk butir ini saya tidak menanyakan lebih lanjut.

-   Tentang dewa sebagai makhluk penghuni alam surga,  apakah ada penjelasan lebih lanjut dalam Buddhisme,  bahwa yang disebut dewa itu juga seperti manusia,  misalnya ada laki2 dan ada perempuan,  mereka juga kawin dan punya keturunan,  dan apakah ada tumimbal lahir di alam dewa itu,  serta bagaimana hubungannya dengan alam dunia / alamnya manusia,  maksud saya apakah alam dewa / alam surga itu ngga beda jauh dengan alam dunia  ?
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: Pi-One pada Juli 02, 2010, 01:46:02 AM
-   Buddhanusati tidak disabdakan sendiri oleh Sang Buddha,  sedangkan Puppa Vagga (16 ) disabdakan sendiri.  Sementara untuk butir ini saya tidak menanyakan lebih lanjut.
Anda masih gak nangkap pointnya? Yang utama di sini adalah Samma Sambuddha adalah sebutan untuk Sang Buddha, bukan untuk Tuhan. Dan di banyak sutta lain pun jelas ada perbedaan antara Samma Sambuddha (Buddha Gautama) dengan Savaka/Savako (siswa beliau).

-   Tentang dewa sebagai makhluk penghuni alam surga,  apakah ada penjelasan lebih lanjut dalam Buddhisme,  bahwa yang disebut dewa itu juga seperti manusia,  misalnya ada laki2 dan ada perempuan,  mereka juga kawin dan punya keturunan,  dan apakah ada tumimbal lahir di alam dewa itu,  serta bagaimana hubungannya dengan alam dunia / alamnya manusia,  maksud saya apakah alam dewa / alam surga itu ngga beda jauh dengan alam dunia  ?
Ya, tentang dewa memang ada dibahas. Tergantung tingkatnya, ada alam surga dimana masih ada perbedaan kelamin dan ada juga yang tidak. Dan selain alam dewa juga ada alam brahma (karena dalam Buddhisme dikenal 31 alam). Tumimbal lahir berlangsung di ketigapuluh satu alam ini, jadi kelahiran sebagai dewa bukanlah tujuan akhir, karena dewa sekalipun memiliki akhir masa hidup sebagai dewa. Dan umumnya kelahiran di alam surga bersifat spontan.

Tapi aku tidak terlalu banyak membaca soal alam dewa ini, karena toh ada alam dewa atau tidak, ketiga puluh satu alam ini ada atau tidak, itu tidak membantu aku mencapai tujuan akhir.
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: semut-ireng pada Juli 02, 2010, 08:10:52 AM
Di Buddhanusati dinyatakan dengan jelas,  bahwa beliau adalah guru para dewa dan manusia.  Berarti para dewa itu juga berlindung kepada Sang Tiratana -  Tiga Perlindungan Utama -.   Dan tidak mungkin beliau dapat menjalankan kewajibannya sebagai guru para dewa,  tanpa dibantu oleh para murid2  -  dewa,  muridnya Sang Buddha  -  berarti ada juga  dewa Bikkhu,  dewa Arahat,  dan dewa dalam status masih belum selesai menjalankan latihan,  juga tentunya ada banyak dewa non-Buddhis yang dihimbau agar masuk menjadi Buddhis.   Tentunya pula,  di alam dewa itu ada banyak tempat2 peribadatan Buddhis,  ada kitap suci Tipitaka,  ada kitap suci Dhammapada pula  ........

Hanya saja,  di alam dewa itu mungkin tidak ada Buddhanusati,  karena Buddhanusati digubah / ditulis oleh muridnya Sang Buddha di alam dunia ........

Bagaimana menurut pendapat anda  ?
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: cignus pada Juli 03, 2010, 02:48:44 AM
Saya sudah terlalu sering melihat unsur penyembahan dalam agama budha tetapi pi one selalu ngotot klo Hal semacam itu bukan Budhis

Klo anda bilang tuhan dalam agama budha berbeda dengan agama samawi, sekarang saya Tanya apakah anda mengerti tentang konsep tuhan dalam agama samawi kok klo saya baca Dari diskusi ini kesannya anda menyamakan tuhan agama samawi dengan dewa Zeus ato dewa2 lain hasil imajinasi manusia yg menghukum seenaknya Dan memiliki sifat kemanusiaan
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: Pi-One pada Juli 03, 2010, 07:38:35 AM
Di Buddhanusati dinyatakan dengan jelas,  bahwa beliau adalah guru para dewa dan manusia.  Berarti para dewa itu juga berlindung kepada Sang Tiratana -  Tiga Perlindungan Utama -.   Dan tidak mungkin beliau dapat menjalankan kewajibannya sebagai guru para dewa,  tanpa dibantu oleh para murid2  -  dewa,  muridnya Sang Buddha  -  berarti ada juga  dewa Bikkhu,  dewa Arahat,  dan dewa dalam status masih belum selesai menjalankan latihan,  juga tentunya ada banyak dewa non-Buddhis yang dihimbau agar masuk menjadi Buddhis.   Tentunya pula,  di alam dewa itu ada banyak tempat2 peribadatan Buddhis,  ada kitap suci Tipitaka,  ada kitap suci Dhammapada pula  ........

Hanya saja,  di alam dewa itu mungkin tidak ada Buddhanusati,  karena Buddhanusati digubah / ditulis oleh muridnya Sang Buddha di alam dunia ........

Bagaimana menurut pendapat anda  ?
Mereka yang mengikuti dan mempraktekkan Dhamma, mereka adalah para siswa Sang Buddha. Atau anda kira siswa Sang Buddha hanya dimaksudkan untuk mereka yang memjadi bhikkhu? Yang melakukan ritual-ritual seperti baca paritta atau melakukan kebhaktian? yang menghabiskan waktu membaca kitab suci?

Di beberapa sutta dikisahkan para dewa yang hadir saat beliau membabarkan ajarannya. Atau yang hadir dan bertanya pada beliau (misal sutta tentang berkah utama). Juga dikisahkan saat beliau pergi ke surga Tusita untuk membabarkan Dhamma pada para dewa, para dewa dari surga lain sebagian juga hadir untukmendengarkan pembabaran Dhamma tersebut.

Saya sudah terlalu sering melihat unsur penyembahan dalam agama budha tetapi pi one selalu ngotot klo Hal semacam itu bukan Budhis

Klo anda bilang tuhan dalam agama budha berbeda dengan agama samawi, sekarang saya Tanya apakah anda mengerti tentang konsep tuhan dalam agama samawi kok klo saya baca Dari diskusi ini kesannya anda menyamakan tuhan agama samawi dengan dewa Zeus ato dewa2 lain hasil imajinasi manusia yg menghukum seenaknya Dan memiliki sifat kemanusiaan
Tuhan agama Samawi umumnya adalah sosok pencipta, pengatur takdir manusia, sosok yang memberi hukuman dan pahala, sosok yang disembah dan dimintai permohonan (termasuk pengampunan dosa). Buddhisme tidak kenal sosok macam itu. Bahkan penderitaan pun bukan disebabkan oleh Tuhan atau iblis, melainkan oleh diri sendiri, dan kareanya hanya diri sendiri yang bisa mengatasinya.

*Dan jangan salahkan aku jika kadang aku gak segera menjawab. Karena seringkali ada kuasa besar yang menghalangi aku untuk mereply, dan kuasa itu bernama PLN (Pemadaman Listrik Negara)
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: semut-ireng pada Juli 03, 2010, 11:40:08 PM
makanya anda perlu dukung PLTN,  bangun dulu pilot proyeknya ngga jauh2 amat di  Medan sana ..........hehehe

- Anda belum jelaskan apa para dewa itu juga diajari agar berlindung kepada Tiratana ............... ?

-  Dan hubungan antara alam manusia dengan alam dewa.  Tentang asal-usul alam semesta dan manusia mungkin ada penjelasannya di Buddhisme,  lalu asal-usul dewa apa juga ada penjelasannya  ?
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: Pi-One pada Juli 04, 2010, 12:17:28 AM
- Anda belum jelaskan apa para dewa itu juga diajari agar berlindung kepada Tiratana ............... ?
Makanya, tempo hari aku sudah kasih tahu apa itu berlindung pada Tiratana. Mempraktekkan Dhamma saja saja berlindung pada Tiratana.

-  Dan hubungan antara alam manusia dengan alam dewa.  Tentang asal-usul alam semesta dan manusia mungkin ada penjelasannya di Buddhisme,  lalu asal-usul dewa apa juga ada penjelasannya  ?
Buddhisme tidak membahas hal-hal seperti awal alam semesta, asal manusia, dan sejenisnya. Karena itu tidak berguna bagi pembebasan manusia, tidak menimbulkan rasa keinginann untuk lepas dari penderitaan. Sebagaimana orang yang tertusuk panah beracun, yang utama adalah mengobati racun dan luka.

Namun satu yang dijelaskan adalah alam semesta ini akan muncul dan lenyap, dengan kata lain siklus keberadaan. Bukan awal lalu diikuti akhir mutlak yang kalian kenal sebagai kiamat (yang diikuti pengadilan akhir)
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: cignus pada Juli 05, 2010, 05:21:18 AM
Tuhkan anda taunya cuma ngeliat di tv ato baca2 buku yg bertema tentang agama samawi ato perbandingan budha dgn agama samawi yg jelas bersumber dr pemuka agama anda. Dan ini menurut saya gak bisa dijadikan patokan. Terserah andalah

sakarang saya mau minta tripitaka situsnya mana yg bhs Indonesia. Saya mau pelajarin dulu, susahsih nyarinya bahkan di book center Budhis gratis ditempat saya gak ada, di Internet adanya bhs inggris saya Susah ngartiinnya apalagi lewat komputer. 
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: Pi-One pada Juli 05, 2010, 11:57:33 AM
Tuhkan anda taunya cuma ngeliat di tv ato baca2 buku yg bertema tentang agama samawi ato perbandingan budha dgn agama samawi yg jelas bersumber dr pemuka agama anda. Dan ini menurut saya gak bisa dijadikan patokan. Terserah andalah
Tambahkan, diskusi dengan rekan-rekan penganut agama samawi.

Dan jangan salah, pemuka agamaku jarang membanding-bandingkan agamaku dengan agama lain :)

*Memang gambaran Tuhan dari buku agama samawi itu salah?

sakarang saya mau minta tripitaka situsnya mana yg bhs Indonesia. Saya mau pelajarin dulu, susahsih nyarinya bahkan di book center Budhis gratis ditempat saya gak ada, di Internet adanya bhs inggris saya Susah ngartiinnya apalagi lewat komputer.  
Situs Tipitaka? Sori, aku sendiri gak tahu soal itu. Lagipula Tipitaka sendiri jauh lebih tebal dari alkitab sekalipun. Dan belum semua ditranslasikan ke bahasa lain, termasuk bahasa Indonesia. Tidak masalah, karena yang penting bukan menghapal kitab suci, tapi praktek ajaran dalam hidup.

Menghapal ajaran tapi tak mempraktekkannya ibarat gembala yang hitung ternak orang lain (bukan ternak yang ia urus), ia takkan mendapat manfaat. Begitu pula yang menghapal tapi tak mempraktekkan ajaran, ia juga tak dapat manfaat.

Salah satu buku Tipitaka yang cukup mudah didapat di Indonesia adalah Dhammapada.
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: semut-ireng pada Juli 07, 2010, 10:49:57 AM
Buddhisme tidak membahas hal-hal seperti awal alam semesta, asal manusia, dan sejenisnya. Karena itu tidak berguna bagi pembebasan manusia, tidak menimbulkan rasa keinginann untuk lepas dari penderitaan. Sebagaimana orang yang tertusuk panah beracun, yang utama adalah mengobati racun dan luka.

Namun satu yang dijelaskan adalah alam semesta ini akan muncul dan lenyap, dengan kata lain siklus keberadaan. Bukan awal lalu diikuti akhir mutlak yang kalian kenal sebagai kiamat (yang diikuti pengadilan akhir)

Buddhisme menjelaskan juga asal-usul bumi dan manusia,  juga terjadinya alam semesta. Di bawah ini saya kutipkan penjelasannya :

Asal Usul Bumi Dan Manusia Menurut Agama Buddha

 Vasettha, terdapat suatu saat, cepat atau lambat, setelah suatu masa yang lama sekali, ketika dunia ini hancur. Dan ketika hal ini terjadi, umumnya mahluk-mahluk terlahir kembali di Abhassara (alam cahaya); di sana mereka hidup dari ciptaan batin (mano maya), diliputi kegiuran, memiliki tubuh yang bercahaya, melayang-layang di angkasa, hidup dalam kemegahan. Mereka hidup demikian dalam masa yang lama sekali.
 Pada waktu itu (bumi kita ini) semuanya terdiri dari air, gelap gulita. Tidak ada matahari atau bulan yang nampak, tidak ada bintang-bintang maupun konstelasi-konstelasi yang kelihatan; siang maupun malam belum ada, ..... laki-laki maupun wanita belum ada. Mahluk-mahluk hanya dikenal sebagai mahluk-mahluk saja.

 Vasettha, cepat atau lambat setelah suatu masa yang lama sekali bagi mahluk-mahluk tersebut, tanah dengan sarinya muncul keluar dari dalam air. Sama seperti bentuk-bentuk buih (busa) di permukaan nasi susu masak yang mendingin, demikianlah munculnya tanah itu. Tanah itu memiliki warna, bau dan rasa. Sama seperti dadi susu atau mentega murni, demikianlah warna tanah itu; sama seperti madu tawon murni, demikianlah manis tanah itu. Kemudian Vasettha, di antara mahluk-mahluk yang memiliki sifat serakah (lolajatiko) berkata : 'O apakah ini? Dan mencicipi sari tanah itu dengan jarinya. Dengan mencicipinya, maka ia diliputi oleh sari itu, dan nafsu keinginan masuk dalam dirinya. Mahluk-mahluk lainnya mengikuti contoh perbuatannya, mencicipi sari tanah itu dengan jari-jari ..... mahluk-mahluk itu mulai makan sari tanah, memecahkan gumpalan-gumpalan sari tanah tersebut dengan tangan mereka. Dan dengan melakukan hal ini, cahaya tubuh mahluk-mahluk itu lenyap. Dengan lenyapnya cahaya tubuh mereka, maka matahari, bulan, bintang-bintang dan konstelasi-konstelasi nampak ..... siang dan malam ..... terjadi.

Bisa dibaca lebih lanjut di www.wihara.com

Sebagai seorang Buddhis yang taat kepada ajarannya,  mana yang lebih anda percaya,  konsep terjadinya bumi,  manusia,  dan alam semesta sesuai tersebut di atas itu,  atau teori big-bang  ? :D :D

Di link itu ada tulisan berjudul  :  Siapa yang sedang merusak agama Buddha ?  kayaknya menarik juga untuk dibaca ..................
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: Pi-One pada Juli 08, 2010, 12:01:55 AM
Kutip
Vasettha, terdapat suatu saat, cepat atau lambat, setelah suatu masa yang lama sekali, ketika dunia ini hancur
Dari kalimat ini saja, apa ini memang membicarakan bumi?

Sutta di atas membahas mengenai kemerosotan karena nafsu, dan juga mengenai asalpembedaan kasta-kasta, serta alasan mengapa tidak bisa diterimanya sistem kasta.

Dan lagi, itu tidak bicara soal manusia tercipta secara gaib, karena dari alam abbhasara ke alam manusia tentunya melalui proses tumimbal lahir, bukan sistem sim salabim.
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: semut-ireng pada Juli 08, 2010, 12:12:06 AM
Kutip
Vasettha, terdapat suatu saat, cepat atau lambat, setelah suatu masa yang lama sekali, ketika dunia ini hancur
Dari kalimat ini saja, apa ini memang membicarakan bumi?

Sutta di atas membahas mengenai kemerosotan karena nafsu, dan juga mengenai asalpembedaan kasta-kasta, serta alasan mengapa tidak bisa diterimanya sistem kasta.

Dan lagi, itu tidak bicara soal manusia tercipta secara gaib, karena dari alam abbhasara ke alam manusia tentunya melalui proses tumimbal lahir, bukan sistem sim salabim.

Baca judul dan isinya apa ngga sih ?  itu asli dari wihara.com.   Singkat kata,  anda ngga percaya asal-usul bumi dan manusia menurut agama Buddha,  walaupun itu menurut saya baru merupakan suatu konsep .........belum bisa dibilang hipotesa atau teori  ? :D

Dan ajaran itu justru anda bilang sistem sim salabim  ?  :D :D
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: Pi-One pada Juli 08, 2010, 12:14:40 AM
Baca judul dan isinya apa ngga sih ?  itu asli dari wihara.com.   Singkat kata,  anda ngga percaya asal-usul bumi dan manusia menurut agama Buddha,  walaupun itu menurut saya baru merupakan suatu konsep .........belum bisa dibilang hipotesa atau teori  ? :D

Dan ajaran itu justru anda bilang sistem sim salabim  ?  :D :D
Budhisme mengenal metode ehipassiko, karena itu percaya begitu saja karena itu ada di situs Buddhis bukanlah metode Buddhisme. Termasuk memahami apa makna dari sutta tersebut, bukan sekedar main percaya. Jika dari makhluk cahaya tahu-tahu jadi manusia, jelas itu bertentangan dengan Kammaphala dan Punnabhava, yang merupakan bagian dari hukum kesunyataan.

Apalagi jika yang membawa dan membahasnya adalah anda, yang punya reputasi mengklaim Buddha sebagai siswa Tuhan :)
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: Mat Dillom pada Juli 08, 2010, 12:21:23 AM
Matahari jadi karena mahluk mencicipi sesuatu. Hahahahahaha itu dipercay. Hahahahahaha

Sekarang Anda juga gak percaya teori bigbang. Hahahaha lalu apa gunanya Anda mendebat soal bigbang. Hahahahahaha. Bener-bener mendingan Karno. Hahahahaha.
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: Pi-One pada Juli 08, 2010, 12:23:14 AM
Matahari jadi karena mahluk mencicipi sesuatu. Hahahahahaha itu dipercay. Hahahahahaha

Ini malah tambah menjadi-jadi. Kapan juga bicara soal pembentukan matahari?
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: Mat Dillom pada Juli 08, 2010, 12:27:06 AM
Kutip
mahluk-mahluk itu mulai makan sari tanah, memecahkan gumpalan-gumpalan sari tanah tersebut dengan tangan mereka. Dan dengan melakukan hal ini, cahaya tubuh mahluk-mahluk itu lenyap. Dengan lenyapnya cahaya tubuh mereka, maka matahari, bulan, bintang-bintang dan konstelasi-konstelasi nampak ..... siang dan malam ..... terjadi.

Itu mahluk demit apa yg bakal jadi manusia?. Ini yang Anda jagokan itu sampe Anda menafikkan teori Big Bang?.

HahahahaBa. Bahkan Budha gak tau definisi cahaya itu apa. Hahahahaha.

Anda bahkan percaya dongeng dari pada riset hasil riset ilmiah. Hahahaha.

Pantaslah Anda gak percaya ilmuwan Indonesia. Anda gak ngerti kaidah-kaidah ilmu dan kaidah-kaidah dongeng. Hahahahaha
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: semut-ireng pada Juli 08, 2010, 12:31:38 AM
Saya cuma bawa ' ayat-ayat ' asal-usul bumi dan manusia menurut agama Buddha,  ngga bahas sama sekali.   Itu cuma konsep,  dan konsep itu ternyata sim salabim menurut anda yang mengaku Buddhis,  dan mengaku pula sangat memahami Buddhisme.  Apa ngga bahaya tuh bila pendapat anda dijadikan referensi oleh @cignus misalnya,   jangan-jangan ada ajaran lainnya di Buddhisme yang sim salabim juga ........ :D :D
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: Pi-One pada Juli 08, 2010, 12:33:07 AM
Itu mahluk demit apa yg bakal jadi manusia?. Ini yang Anda jagokan itu sampe Anda menafikkan teori Big Bang?.

HahahahaBa. Bahkan Budha gak tau definisi cahaya itu apa. Hahahahaha.

Anda bahkan percaya dongeng dari pada riset hasil riset ilmiah. Hahahaha.

Pantaslah Anda gak percaya ilmuwan Indonesia. Anda gak ngerti kaidah-kaidah ilmu dan kaidah-kaidah dongeng. Hahahahaha
Nampak bagi mereka, bukan berarti baru terbentuk saat itu. Dan makhluk cahaya dsb itu bagian dari konsep tumimbal lahir. Anda gak tahu apa-apa, tapi sudah main cerocos, khas anda.

*Lagian, kapan aku menolak teori big bang? -_-
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: Pi-One pada Juli 08, 2010, 12:35:21 AM
Saya cuma bawa ' ayat-ayat ' asal-usul bumi dan manusia menurut agama Buddha,  ngga bahas sama sekali.   Itu cuma konsep,  dan konsep itu ternyata sim salabim menurut anda yang mengaku Buddhis,  dan mengaku pula sangat memahami Buddhisme.  Apa ngga bahaya tuh bila pendapat anda dijadikan referensi oleh @cignus misalnya,   jangan-jangan ada ajaran lainnya di Buddhisme yang sim salabim juga ........ :D :D
Dan aku sudah bilang, sutta itu mungkin tidak bicara tentang bumi sekarang, karena di sana tidak dikatakan bumi ini, melainkan satu kondisi cepat ataulambat. Dan proses di sana pun bukan kejadian sim salabim, melainkan melibatkan proses seperti tumimbal lahir.

Tapi percuma ya menjelaskannya,anda pasti bakal ngotot, mumpung dapat 'bahan bakar' buat nyerang :)

*Memang anda sudah baca suttanya secara keseluruhan dan menangkap makna di balik sutta tersebut?
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: Mat Dillom pada Juli 08, 2010, 12:38:13 AM
Kutip

Sebagai seorang Buddhis yang taat kepada ajarannya,  mana yang lebih anda percaya,  konsep terjadinya bumi,  manusia,  dan alam semesta sesuai tersebut di atas itu,  atau teori big-bang  ?

Anda buddhis khan? percaya yang di atas donk dari pada teori big-bang?. Apa saya salah?
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: Pi-One pada Juli 08, 2010, 12:45:20 AM
Anda buddhis khan? percaya yang di atas donk dari pada teori big-bang?. Apa saya salah?
Sutta di atas gak bertentangan dengan Big Bang. Dan jika anda pengen curhat atau caper, cari orang lain aja.

Aggana Sutta adalah sutta yang diucapkan ang Buddha pada 2 brahmana, Bharadvaja dan Vasettha, yang dihina kasta mereka sendiri karena memilih menjadi pengikut Sang Buddha. Sutta ini menjelaskan bahwa kasta dan kelahiran tidak bisa dibandingkan dengan ajaran moral dan praktek Dhamma.
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: Mat Dillom pada Juli 08, 2010, 12:47:12 AM
Anda buddhis khan? percaya yang di atas donk dari pada teori big-bang?. Apa saya salah?
Sutta di atas gak bertentangan dengan Big Bang. Dan jika anda pengen curhat atau caper, cari orang lain aja.

Aggana Sutta adalah sutta yang diucapkan ang Buddha pada 2 brahmana, Bharadvaja dan Vasettha, yang dihina kasta mereka sendiri karena memilih menjadi pengikut Sang Buddha. Sutta ini menjelaskan bahwa kasta dan kelahiran tidak bisa dibandingkan dengan ajaran moral dan praktek Dhamma.

Halagh curhat ma ente? hahahaha. Phi-phi.:D
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: Pi-One pada Juli 08, 2010, 04:34:47 AM
Halagh curhat ma ente? hahahaha. Phi-phi.:D
Mod, apa forum ini gak punya fasilitas buat ignore orang idiot? -_-

(http://i30.photobucket.com/albums/c322/jadefox_1982/facepalm.jpg)
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: Mat Dillom pada Juli 08, 2010, 06:14:03 AM
Bayangan gue yah, Phi-one itu keturunan tanah leluhur, tapi dari bagian utara, kalo bangsa Indo kebanyakan khan dari selatan. Terus hobby dirumah alias gak gaul. Bukannya karena rajin belajar sih. Cuma gak ada temen aja :D. Makanya waktunya diisi dengan membaca.

Kecerdasan cukup baik banget (diatas Karno dikit) :D. Hoby banget yg namanya es krim. Tapi dia suka diomelin bapaknya, deket ma ibunya dan sodaranya.

Bener gak Phi? :D.
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: Pi-One pada Juli 08, 2010, 10:22:10 AM
This message is hidden because Mat Dillom is too idiot.
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: semut-ireng pada Juli 13, 2010, 11:36:56 AM
Lanjutan kutipan tentang asal-usul bumi dan manusia menurut agama Buddha :


Demikianlah, Vasettha, sejauh itu bumi terbentuk kembali.

Vasettha, selanjutnya mahluk-mahluk itu menikmati sari tanah, memakannya, hidup dengannya, dan berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali. Berdasarkan atas takaran yang mereka makan itu, maka tubuh mereka menjadi padat, dan terwujudlah berbagai macam bentuk tubuh. Sebagian mahluk memiliki bentuk tubuh yang indah dan sebagian mahluk memiliki tubuh yang buruk. Dan karena keadaan ini, mereka yang memiliki bentuk tubuh yang indah memandang rendah mereka yang memiliki bentuk tubuh yang buruk ..... maka sari tanah itupun lenyap ..... ketika sari tanah lenyap ..... muncullah tumbuhan dari tanah (bhumipappatiko). Cara tumbuhnya seperti cendawan ..... Mereka menikmati, mendapatkan makanan, hidup dengan tumbuhan yang muncul dari tanah tersebut, dan hal ini berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali ..... (seperti di atas). Sementara mereka bangga akan keindahan diri mereka, mereka menjadi sombong dan congkak, maka tumbuhan yang muncul dari tanah itu pun lenyap. Selanjutnya tumbuhan menjalar (badalata) muncul ..... warnanya seperti dadi susu atau mentega murni, manisnya seperti madu tawon murni .....

Mereka menikmati, mendapatkan makanan dan hidup dengan tumbuhan menjalar itu ..... maka tubuh mereka menjadi lebih padat; dan perbedaan bentuk tubuh mereka nampak lebih jelas; sebagian nampak indah dan sebagian nampak buruk. Dan karena keadaan ini, maka mereka yang memiliki bentuk tubuh indah memandang rendah mereka yang memiliki bentuk tubuh buruk ..... Sementara mereka bangga akan keindahan tubuh mereka sehingga menjadi sombong dan congkak, maka tumbuhan menjalar itu pun lenyap.

Kemudian, Vasettha, ketika tumbuhan menjalar lenyap ..... muncullah tumbuhan padi (sali) yang masak di alam terbuka, tanpa dedak dan sekam, harum, dengan bulir-bulir yang bersih. Pada sore hari mereka mengumpulkan dan membawanya untuk makan malam, pada keesokkan paginya padi itu telah tumbuh dan masak kembali. Bila pada pagi hari mereka mengumpulkan dan membawanya untuk makan siang, maka pada sore hari padi tersebut telah tumbuh dan masak kembali, demikian terus menerus padi itu muncul.

Vasettha, selanjutnya mahluk-mahluk itu menikmati padi (masak) dari alam terbuka, mendapatkan makanan dan hidup dengan tumbuhan padi tersebut, dan hal ini berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali. Berdasarkan atas takaran yang mereka nikmati dan makan itu, maka tubuh mereka tumbuh lebih padat, dan perbedaan bentuk mereka nampak lebih jelas. Bagi wanita nampak jelas kewanitaannya (itthilinga) dan bagi laki-laki nampak jelas kelaki-lakiannya (purisalinga). Kemudian wanita sangat memperhatikan tentang keadaan laki-laki, dan laki-laki pun sangat memperhatikan keadaan wanita. Karena mereka saling memperhatikan keadaan diri satu sama lain terlalu banyak, maka timbullah nafsu indriya yang membakar tubuh mereka. Dan sebagai akibat adanya nafsu indriya tersebut, mereka melakukan hubungan kelamin.


Bagaimana nih Bung @Pi-One,  bisa jelasin ngga apakah sutta2 itu disabdakan sendiri oleh Buddha ?
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: Pi-One pada Juli 14, 2010, 02:16:56 PM
Apakah pertanyaan itu masih harus dijawab?

Dan apakah aku prlu membahasnya dengan orang yang tidak berniatmembahs, tapi bermaksud menafsirkan suka-suka, seperti menafsirkan Buddha sebagai murid Tuhan tempo hari? Sori saja, aku gak punya niat untuk itu.

Aku sudah kasih penjelasan awal pun anda mengabaikan, untuk apa dilanjutkan?
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: semut-ireng pada Juli 14, 2010, 02:30:16 PM
Loh,  masa ngga mau jelasin ?  Kalau itu disabdakan sendiri oleh Buddha,  tentu saya percaya itu benar  ...........soal yang diajarkan itu kok sepertinya sulit diterima oleh akal sehat  .......yah saya berpikir positip aja,  mungkin akal yang belum sampai ke situ ...........
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: Pi-One pada Juli 14, 2010, 11:24:49 PM
Ya, aku gak bisa jelaskan pada orang yang memaksakan pandangan agama samawi pada konsep ajaran non samawi. Dan Buddha mengajarkan untuk tidak langsung percaya, bahkan jika itu diucapkan sendiri oleh beliau. bagaimanapun harus dipahami dulu, sebelum diputuskan menerima atau menolak. Lha, anda tidak paham sama sekali, dan mau percaya semata karena diucapkan oleh beliau?

makanya kubilang, pointless kalau terus membahasnya. Buddhisme bukan soal kepercayaan.
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: semut-ireng pada Juli 15, 2010, 09:15:07 AM
Ya, aku gak bisa jelaskan pada orang yang memaksakan pandangan agama samawi pada konsep ajaran non samawi. Dan Buddha mengajarkan untuk tidak langsung percaya, bahkan jika itu diucapkan sendiri oleh beliau. bagaimanapun harus dipahami dulu, sebelum diputuskan menerima atau menolak. Lha, anda tidak paham sama sekali, dan mau percaya semata karena diucapkan oleh beliau?

makanya kubilang, pointless kalau terus membahasnya. Buddhisme bukan soal kepercayaan.

Kalo Buddhisme bukan soal kepercayaan,  mengapa anda percaya agama Buddha bukan agama samawi  ?   Apa alasannya percaya pada penggolongan agama samawi dan agama bukan samawi ?  Apa alasannya percaya pada pengetahuan tentang diri yang diajarkan di agama Buddha,  bahwa segala sesuatu itu ditentukan oleh diri sendiri ? :)
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: Pi-One pada Juli 15, 2010, 11:50:49 AM
Kalo Buddhisme bukan soal kepercayaan,  mengapa anda percaya agama Buddha bukan agama samawi  ?   Apa alasannya percaya pada penggolongan agama samawi dan agama bukan samawi ?  Apa alasannya percaya pada pengetahuan tentang diri yang diajarkan di agama Buddha,  bahwa segala sesuatu itu ditentukan oleh diri sendiri ? :)
Karena hal-hal di atas bukan sesuatu yang merupakan masalah percaya tidak pecaya, tapi paham tidak paham. Dan nampaknya sampai sekarang anda masih tidak paham beda agama amawi dan non samawi (itu salah satu alasan aku malas membahasnya dengan anda).
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: semut-ireng pada Juli 18, 2010, 01:52:58 AM
Kesimpulan sementara :

Buddhisme bukan soal kepercayaan.

Buddha,  Dhamma,  dan Sangha,  serta lain2nya itu nibbana,  hukum kammapala,  pengetahuan tentang diri,   dsbnya itu bukan soal kepercayaan........... :o
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: semut-ireng pada Juli 21, 2010, 02:03:41 AM
                                                  K E S I M P U L A N



1.   Siddhata Gotama adalah Nabi / Utusan Allah dengan membawa risalah Tipitaka.

2.   Beliau menyatakan dirinya sebagai Siswa Tuhan Yang Maha Sempurna.

3.   Dhamma yang diajarkan berasal dari satu sumber mata air yang sama dengan kebenaran yang diajarkan di agama2  Hindu,  Kristen,  dan Islam.

4.   Penggolongan agama samawi dan bukan agama samawi hanya buatan manusia,  dan sama sekali tidak ada dalilnya di kitab2 suci Veda,  Tipitaka,  Alkitab,  maupun Al-Quran.

5.  Tujuan semua agama yang disebutkan di atas adalah sama  :  memperkuat keyakinan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,  namun cara pengajaran dan syariatnya yang berbeda.   Dan masing2 Utusan / pembawa risalah itu memiliki ciri khas sendiri2,  contohnya Yesus lebih menekankan cinta kasih kepada Tuhan,  kepada sesama manusia, dan kepada semua makhluknya.   Muhammad SAW lebih menekankan kehalusan perasaan dan kesucian hati.   Buddha lebih menekankan kemantapan hati /  percaya kepada diri sendiri,  dan di ajaran Hindu lebih ditekankan  keluhuran budi pekerti ...............

6.   Buddhisme sama sekali bukan ajaran non-theis,  dan sama sekali tidak cenderung agnostik.   Istilah Buddhisme identik dengan Faham Ketuhanan .................
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: Pi-One pada Juli 21, 2010, 02:27:29 AM
si 'Nabi' Semut asbun lagi bikin aliran Buddhisme perjuangan?

(http://freeuploadimages.org/images/aj70bzatth0m2l2keq4r.jpg)
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: rizqi_fs pada Juli 21, 2010, 02:34:40 AM
Wah mas semut ireng ini niatnya apa sih,
mau berdiskusi atau apa sih mas. Saya yang baru baca jadi terheran2
Tanya2 sendiri, nyimpul2in sendiri
maksudnya apa y
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: Pi-One pada Juli 21, 2010, 02:39:48 AM
Wah mas semut ireng ini niatnya apa sih,
mau berdiskusi atau apa sih mas. Saya yang baru baca jadi terheran2
Tanya2 sendiri, nyimpul2in sendiri
maksudnya apa y
Dia mau bikin aliran Buddhisme sendiri, karna dia tidak puas dengan Buddhsime yang ada saat ini. Makanya dia pakai jurus ala Lia eden untuk menafsirkan sutta-sutta Buddhis sesukanya :)
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: semut-ireng pada Juli 23, 2010, 01:02:17 PM
........ada orang yang gagal menemukan Allah lewat pengamatan,  lantas menyimpulkan bahwa Allah itu tidak ada dan bahwa dunia yang penuh keajaiban-keajaiban ini menciptakan dirinya sendiri atau ada dari keabadian.   Mereka bagaikan seseorang yang melihat suatu huruf yang tertulis dengan indah kemudian menduga bahwa tulisan itu tertulis dengan sendirinya tanpa ada penulisnya,  atau memang sudah selalu ada.   Orang-orang dengan cara berpikir semacam ini sudah terlalu jauh tersesat,  sehingga berdebat dengan mereka akan sedikit sekali manfaatnya  .......( Imam Al-Ghazali  )
Judul: Konsep Ketuhanan dalam Buddhisme
Ditulis oleh: Pi-One pada Juli 23, 2010, 02:10:39 PM
Nama Sanghyang Adhi Buddha sering digunakan sebagai pengganti nama Tuhan Yang Maha Esa dalam Agama Buddha di Indonesia. Istilah Sanghyang Adhi Buddha sebenarnya tidak pernah ada di Tipitaka, bahkan Sang Buddha sendiripun tidak pernah menyebutkannya. Lalu dari mana kita (umat Buddha di Indonesia) bisa mendapatkan istilah tersebut?

Sebenarnya pencetus dari nama Sanghyang Adhi Buddha adalah sukong alias Ashin Jinarakkhita yang pada masanya sedang mencoba membangkitkan buddhisme di Indonesia. Perlu diingat bahwa dasar dari negara kita adalah Pancasila, dan ayat pertama dari Pancasila berbunyi "Ketuhanan yang Maha Esa"; sedangkan Agama Buddha sama sekali tidak pernah menyebutkan ketuhanan sama sekali. Hal inilah yang membuat Ashin mencetuskan sebuah nama yang dapat digunakan sebagai istilah KETUHANAN (bukan TUHAN) di dalam Agama Buddha. Istilah yang digunakan adalah Sanghyang Adhi Buddha, dan Sanghyang Adhi Buddha ini sebenarnya merujuk kepada benih kebuddhaan yang ada di dalam diri kita sendiri, atau makna sederhananya yaitu kebajikan-kebajikan dari dalam diri kita.

Sayangnya oleh beberapa oknum yang melakukan penyalahgunaan makna ketuhanan, istilah Sanghyang Adhi Buddha ini disamakan dengan Tuhan/Allah/Yahweh dengan Agama Lain. Mengesankan seolah Sanghyang Adhi Buddha adalah TUHAN dalam Agama Buddha. Padahal awalnya istilah Sanghyang Adhi Buddha diciptakan sebagai KETUHANAN dalam Agama Buddha. Hal inilah yang coba dijelaskan oleh seorang cendekiawan buddhis, Corneles Wowor dalam karya tulisnya yang berjudul "Ketuhanan dalam Agama Buddha". Singkatnya beliau menjelaskan bahwa hidup kita tidak ditentukan oleh TUHAN atau SANGHYANG ADHI BUDDHA atau MAKHLUK apapun; Agama Buddha tidak mengakui adanya TUHAN tapi mengakui KETUHANAN yang dapat diartikan sebagai kebajikan dan juga nibbana.
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: semut-ireng pada Juli 23, 2010, 07:46:38 PM
sudah berikrar tidak mau menanggapi,  namun ternyata masih ngotot menanggapi,  berarti melanggar ikrarnya sendiri.   

melanggar ikrarnya sendiri berarti menyerang /  memusuhi dirinya sendiri,  dengan kata lain memperlakukan diri sendiri seperti musuh .............................

memperlakukan diri sendiri seperti musuh  adalah perbuatan jahat ..................


"   Orang bodoh yang dangkal pengetahuannya memperlakukan diri sendiri seperti musuh.   Ia melakukan perbuatan jahat yang akan menghasilkan buah yang pahit  "  (  Dhammapada  66  ).
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: rizqi_fs pada Juli 23, 2010, 08:15:02 PM
Nama Sanghyang Adhi Buddha sering digunakan sebagai pengganti nama Tuhan Yang Maha Esa dalam Agama Buddha di Indonesia. Istilah Sanghyang Adhi Buddha sebenarnya tidak pernah ada di Tipitaka, bahkan Sang Buddha sendiripun tidak pernah menyebutkannya. Lalu dari mana kita (umat Buddha di Indonesia) bisa mendapatkan istilah tersebut?

Sebenarnya pencetus dari nama Sanghyang Adhi Buddha adalah sukong alias Ashin Jinarakkhita yang pada masanya sedang mencoba membangkitkan buddhisme di Indonesia. Perlu diingat bahwa dasar dari negara kita adalah Pancasila, dan ayat pertama dari Pancasila berbunyi "Ketuhanan yang Maha Esa"; sedangkan Agama Buddha sama sekali tidak pernah menyebutkan ketuhanan sama sekali. Hal inilah yang membuat Ashin mencetuskan sebuah nama yang dapat digunakan sebagai istilah KETUHANAN (bukan TUHAN) di dalam Agama Buddha. Istilah yang digunakan adalah Sanghyang Adhi Buddha, dan Sanghyang Adhi Buddha ini sebenarnya merujuk kepada benih kebuddhaan yang ada di dalam diri kita sendiri, atau makna sederhananya yaitu kebajikan-kebajikan dari dalam diri kita.

Sayangnya oleh beberapa oknum yang melakukan penyalahgunaan makna ketuhanan, istilah Sanghyang Adhi Buddha ini disamakan dengan Tuhan/Allah/Yahweh dengan Agama Lain. Mengesankan seolah Sanghyang Adhi Buddha adalah TUHAN dalam Agama Buddha. Padahal awalnya istilah Sanghyang Adhi Buddha diciptakan sebagai KETUHANAN dalam Agama Buddha. Hal inilah yang coba dijelaskan oleh seorang cendekiawan buddhis, Corneles Wowor dalam karya tulisnya yang berjudul "Ketuhanan dalam Agama Buddha". Singkatnya beliau menjelaskan bahwa hidup kita tidak ditentukan oleh TUHAN atau SANGHYANG ADHI BUDDHA atau MAKHLUK apapun; Agama Buddha tidak mengakui adanya TUHAN tapi mengakui KETUHANAN yang dapat diartikan sebagai kebajikan dan juga nibbana.
he :kribo:
baru tau aq :o
"bahwa hidup kita tidak ditentukan oleh TUHAN atau SANGHYANG ADHI BUDDHA atau MAKHLUK apapun"
Terus siap yang menentukan?
Terus TUHAN berfungsi sebagai apa?

"Agama Buddha tidak mengakui adanya TUHAN"
Atheis donk?

KETUHANAN = kebajikan dan juga nibbana?????

Terus Yang Maha Esa nya disebelah mana dalam Agama Budha????

Kok bisa Agama pakai disesuaikan dengan Pancasila?

"Hal inilah yang membuat Ashin mencetuskan sebuah nama yang dapat digunakan sebagai istilah KETUHANAN (bukan TUHAN) di dalam Agama Buddha."

Siapa Ashin? Kok bisa memodifikasi ajaran Agama disesuakan ama kondisi?
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: semut-ireng pada Juli 24, 2010, 01:20:33 AM
ternyata disebutkan disitu,  ada  beberapa oknum yang melakukan penyalahgunaan makna ketuhanan  ...............

kayaknya yang dimaksud dengan oknum di situ mirip2 dengan oknum yang suka melanggar woro-woronya sendiri  ................. :D
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: Pi-One pada Juli 24, 2010, 02:24:17 AM
Kurasa member lain sudah pada paham, kenapa aku menjuluki si semut-asbun sebagai 'nabi' :)
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: semut-ireng pada Juli 24, 2010, 12:13:35 PM
saya itung sudah lebih dari tiga kali nih melanggar woro-woronya,  apa diskusi mau dilanjutkan atau terima saja kesimpulan di atas itu .................... :)
Judul: Re: Puppa Vagga ( 16 )
Ditulis oleh: Pi-One pada Juli 24, 2010, 11:59:10 PM
Mod, bisa tolong tutup saja thread ini? namkpaknya semut-asbun tak berniat berdiskusi atau berdebat, niatnya bikin aliran Buddhisme perjuangan. Atau ganti judul thread ini jadi: Sabda 'nabi' semut-asbun