Selamat datang di ForSa! Forum diskusi seputar sains, teknologi dan pendidikan Indonesia.

Welcome to Forum Sains Indonesia. Please login or sign up.

April 17, 2024, 09:02:36 AM

Login with username, password and session length

Topik Baru

Artikel Sains

Anggota
Stats
  • Total Tulisan: 139,653
  • Total Topik: 10,405
  • Online today: 44
  • Online ever: 1,582
  • (Desember 22, 2022, 06:39:12 AM)
Pengguna Online
Users: 0
Guests: 33
Total: 33

Aku Cinta ForSa

ForSa on FB ForSa on Twitter

Nonton film bareng tuna netra - Goethe Inst. 12-13 Juni 2007

Dimulai oleh peregrin, September 10, 2007, 07:15:00 PM

« sebelumnya - berikutnya »

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

peregrin

baru dengar cara nonton film seperti ini  :) ... salut  :)

-----------------

berita dari VHRmedia:

KutipAcara bertajuk "Menyimak Cerita, Memihak Kemanusiaan" ini merupakan acara bersama Kedutaan Swiss, Yayasan Mitra Netra, Voice of Human Rights News Center, Perkumpulan Seni Indonesia, dan Goethe Institut. Acara ini merupakan terobosan dan pemaknaan baru media kesenian dalam hal kepedulian pada kelompok masyarakat yang dianggap "cacat" dan kerap tersingkirkan di hampir semua tatanan kehidupan.

Sejumlah acara menarik selama dua hari digelar di Goethe Institut. Ada peluncuran dan pembacaan story telling cerpen pemenang lomba cerpen HAM, ada penampilan band difabel Diferensia, ada pementasan grup teater tunanetra Meldict, ada lokakarya penulisan Braille, peluncuran ulang situs Voice of Human Rights News Center, dan yang paling "gila" adalah acara nonton film bareng tunanetra!

Banyak orang akan mengira acara ini mengada-ada, tidak masuk akal, atau bahkan gila! Tunanetra kok nonton film? Apa yang mau ditonton kalau mata mereka tidak bisa melihat? Pertama-tama acara ini memang bertujuan memperjuangkan persamaan hak bagi kaum tunanetra sebagai bagian dari masyarakat Indonesia dalam menikmati seni. Bukankah tiap orang juga mempunyai hak sama untuk bisa menikmati dan mengapresiasi berbagai bentuk kesenian?

Mereka yang tunanetra pasti memiliki kerinduan menonton film yang sempat mereka tonton sebelum kebutaan menyergap mata. Dan bagi yang mengalami kebutaan sejak lahir pasti juga membutuhkan seni dan hiburan untuk mengasah dan mempertajam kehalusan budi pekerti. Tapi bagaimana mereka bisa "menonton" film? Mendengarkan musik jelas bisa dinikmati tunanetra.

Ide ini mungkin "gila", tapi bukan berarti tidak mungkin. Konsep sederhana yang akan dilakukan adalah mengisi adegan-adegan tanpa dialog dengan narasi yang ditulis oleh script writer dan membiarkan adegan-adegan lain muncul apa adanya. Unsur-unsur lain dalam sebuah film, terutama musik dan sound atmosphere lainnya akan menjadi modal utama bagi para tunanetra untuk "menonton" film. Dua film yang terpilih untuk ditonton adalah Ketika karya Dedy Mizwar dan Rindu Kami Padamu karya Garin Nugroho.

Irwan Dwi Kustanto, Wakil Direktur Yayasan Mitra Netra, mengatakan bisa menikmati film 80 persen lebih banyak setelah film dimodifikasi dibandingkan film aslinya sebelum dimodifikasi. Irwan yang menjadi tunanetra sejak usia sekitar sembilan tahun menganggap terobosan ini sungguh bermanfaat bagi orang-orang tunanetra. Jadi, seperti kata pepatah, sebenarnya tidak ada yang tidak mungkin dalam hidup ini selama kita mau berusaha secara sungguh-sungguh. Semuanya kemudian terpulang pada diri kita masing-masing. Kalau kita memang peduli dan mau berbuat sesuatu untuk kemanusiaan, maka hanya dengan menyimak cerita-cerita kehidupan di sekeliling kita saja pun, kita sudah melakukan satu langkah untuk memihak kemanusiaan. (*)
Free software [knowledge] is a matter of liberty, not price. To understand the concept, you should think of 'free' as in 'free speech', not as in 'free beer'. (fsf)

reborn

Haha... keren juga. Bisa diputar di TV juga ga tuh?
Mayan kan bisa lebih banyak yang "nonton"

Acaranya di mana ini?

nanang santoso

Wah keren idenya..
Imajinasi per-person akan visualisasi sebuah film akan sangat bervariatif...
pengen deh 'nonton' filmnya ;D

skuler

acaranya uda liwat kan..!?...kaga diklos aja topiknya bang?  :-*
"Who controls the present now controls the past. Who controls the past now controls the future."-- RATM, 1999.

peregrin

Kutip dari: widy.rotib pada Maret 18, 2008, 06:35:54 PM
acaranya uda liwat kan..!?...kaga diklos aja topiknya bang?  :-*


bener juga ya. sekalian aku pindah ke forum Agenda aja dan di-close ya.
Free software [knowledge] is a matter of liberty, not price. To understand the concept, you should think of 'free' as in 'free speech', not as in 'free beer'. (fsf)