Selamat datang di ForSa! Forum diskusi seputar sains, teknologi dan pendidikan Indonesia.

Selamat datang, Pengunjung. Silahkan masuk atau mendaftar. Apakah anda lupa aktivasi email?

April 22, 2021, 09:22:23 PM

Masuk dengan nama pengguna, kata sandi dan lama sesi

Topik Baru

Artikel Sains

Anggota
Stats
  • Total Tulisan: 139629
  • Total Topik: 10389
  • Online Today: 228
  • Online Ever: 441
  • (Desember 18, 2011, 12:48:51 AM)
Pengguna Online
Users: 0
Guests: 39
Total: 39

Ikuti ForSa

ForSa on FB ForSa on Twitter

Penulis Topik: TRIBUT UNTUK LEGENDA YANG TERLUPAKAN 2009  (Dibaca 2121 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline peregrin

  • Global Moderator
  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 538
  • IQ: 100
  • Gender: Wanita
  • 'truth' is a lonely thing (J.Gaarder)
TRIBUT UNTUK LEGENDA YANG TERLUPAKAN 2009
« pada: Februari 21, 2009, 10:05:39 AM »
meneruskan undangan:

------------------------------
UNDANGAN

Goodreads Indonesia, Jakarta's Bookworms, Komik Indonesia, Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Gagas Media, VHR Media, ProResensi RRI Pro 2 mengundang Ibu/Bapak/Saudara untuk datang ke acara

TRIBUT UNTUK LEGENDA YANG TERLUPAKAN

Hari, Tanggal: Sabtu, 21 Februari 2009
Jam 10.00-12.00 WIB
Tempat: Galeri Cipta III Taman Ismail Marzuki


RSVP: Dahlia 081381896545, Thata 081382060671



Bila hari ini, saat ini, detik ini juga, diajukan satu pertanyaan kepada generasi muda kita, siapakah Nh. Dini atau RA Kosasih bagi mereka, jawaban yang keluar dari mulut mereka sungguh mengejutkan: "Maaf, siapa tadi?" atau "Mmm.. kayaknya pernah denger deh" atau "Lho, emangnya masih hidup ya?" dan sejumlah jawaban lain yang tak kalah mengundang heran. Hanya kecuali mereka-mereka yang sungguh berminat dan bertekun pada dunia baca saja yang bisa menjawab dengan benar siapa dan apa peran penting Nh. Dini dan RA Kosasih dalam dunia pembaca di Indonesia.

Padahal tanpa kehadiran Nh. Dini dengan keberaniannya mengangkat tema-tema perempuannya di periodisasi 1950-1960-an mungkin pembaca di zaman Reformasi ini tidak akan mengenal Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, Helvy Tiana Rosa dan sederet penulis perempuan lain saat ini yang sarat mengangkat tema-tema partisipasi perempuan. Begitupun tanpa kehadiran RA Kosasih yang didaulat menjadi Bapak Komik Indonesia, mungkin pembaca di zaman Reformasi ini tidak akan mengenal Ahmad Toriq komikus Caroq, Pidi Baiq komikus Drunken Molen, Beni & Mirsyad komikus Benny & Mice, dan sederet komikus lain yang sekarang ini mendominasi ruang-ruang baca di sekitar pembaca. Sebagai garda depan penulisan pada zamannya, nama keduanya seolah berhenti sebagai legenda saja.

Sangat disayangkan, sungguhpun besar jasa dan pengaruh yang mereka torehkan pada kehidupan bangsa ini, bangsa ini larut dalam semangat "melupakan". Melupakan bukan saja diri mereka, tetapi melupakan hampir semua orang-orang yang sudah memberikan sumbangsihnya, di semua lini, bukan saja dunia membaca, tapi merambah ke dunia olahraga, jurnalistik, ilmu pengetahuan, dan lain sebagainya. Sebagai masyarakat, kita memilih menjadi bangsa pelupa yang merasa diri kerdil dan merasa tidak memiliki kelebihan apa-apa dan tunduk dalam kendali raksasa kebudayaan yang konsumtif dan pasif. Pemerintah tidak mengupayakan agar hari tua para penulis yang telah berjasa ini dilindungi oleh asuransi kesehatan, sehingga banyak dari mereka harus berjuang sendiri untuk terus hidup.

Maka digerakkan oleh semangat "mengingat kembali", kelupaan yang akut ini perlu diguncang sedikit. Publik pembaca perlu dimelekkan dengan sebuah kegiatan yang yang diharapkan mampu melawan kelupaan kolektif ini bertajuk 'Tribut untuk Legenda-Legenda yang Terlupakan'.


Gambaran acara:
* Pameran karya lukis dekoratif Cina Nh. Dini
* Pameran komik-komik RA Kosasih
* Temu Penulis Nh. Dini
* Book signing
* Makan siang bersama dan ramah-tamah



Terima kasih atas perhatian dan kehadirannya,


Salam hangat,

Amang Suramang
Moderator Goodreads Indonesia
[email protected]
« Edit Terakhir: Oktober 30, 2016, 07:09:06 PM oleh skuler »
Free software [knowledge] is a matter of liberty, not price. To understand the concept, you should think of 'free' as in 'free speech', not as in 'free beer'. (fsf)

 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
4 Jawaban
2719 Dilihat
Tulisan terakhir September 21, 2008, 08:44:34 AM
oleh rawWARus
2 Jawaban
3276 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 26, 2009, 12:02:57 PM
oleh Nabih
0 Jawaban
4830 Dilihat
Tulisan terakhir April 27, 2009, 01:33:17 AM
oleh skuler
4 Jawaban
6668 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 30, 2009, 12:01:48 PM
oleh skuler
5 Jawaban
9310 Dilihat
Tulisan terakhir Februari 25, 2014, 10:37:22 AM
oleh MuhammadRyan