Selamat datang di ForSa! Forum diskusi seputar sains, teknologi dan pendidikan Indonesia.

Selamat datang, Pengunjung. Silahkan masuk atau mendaftar. Apakah anda lupa aktivasi email?

Oktober 28, 2020, 01:55:33 AM

Masuk dengan nama pengguna, kata sandi dan lama sesi

Topik Baru

Artikel Sains

Anggota
Stats
  • Total Tulisan: 139606
  • Total Topik: 10375
  • Online Today: 43
  • Online Ever: 441
  • (Desember 18, 2011, 12:48:51 AM)
Pengguna Online
Users: 0
Guests: 34
Total: 34

Ikuti ForSa

ForSa on FB ForSa on Twitter

Imajinasi lebih utama daripada pengetahuan. Pengetahuan bersifat terbatas. Imajinasi melingkupi dunia. -Albert Einstein.
Berbicara tentang fisika dapat menimbulkan tanggapan yang beragam. Bukan gosip lagi kalau fisika merupakan salah satu "hantu" yang ditakuti oleh banyak pelajar, baik itu di tingkat menengah, umum, dan bahkan di perguruan tinggi. Sebagian orang menghafalkan rumus-rumus fisika layaknya buku sejarah tanpa menyadari maknanya. Ada juga yang pasrah karena menganggap fisika hanyalah milik orang-orang yang serius, cerdas, gila matematika, dan pada umumnya "kurang gaul". Bahkan, tidak sedikit yang beranggapan bahwa menjadikan fisika sebagai karir hidup adalah pilihan yang salah karena "masuknya" mudah tapi "keluarnya" susah. Dengan kata lain, menjadi mahasiswa fisika tidaklah sulit tapi lulusnya setengah mati dan kerjanya paling-paling menjadi guru atau kalau beruntung bisa menjadi dosen.
Beberapa pelajar mengagumi fisika karena membaca berita mengenai keberhasilan tim olimpiade fisika atau membaca buku tentang kehidupan para ilmuwan besar. Sayang, banyak juga yang hanya sebatas mengagumi tidak sampai menghayati atau mendalami fisika. Seringkali orang yang menguasai fisika dianggap sebagai orang "keren" sekaligus "aneh" karena mau belajar sesuatu yang sulit, padahal kalau jadi pengusaha bisa kaya-raya. Persepsi-persepsi demikian mengakibatkan masyarakat umum cenderung menggemari ilmu lain seperti metafisika. Disaat negara-negara lain berusaha untuk menyadarkan masyarakatnya agar tidak "gatek" alias gagap iptek negara kita melalui beberapa media massa tampaknya bekerja keras meyakinkan masyarakat agar tidak "gagib" atau gagap gaib. Padahal, penyampaian informasi ini menggunakan aplikasi fisika dan elektronika. Singkatnya, menemukan orang yang menyukai fisika bagaikan mencari jarum pentul didalam tumpukan jerami.
Banyak sekali pelajar atau mahasiswa yang sabar menunggu penayangan rumus-rumus fisika di papan tulis, kemudian mengerjakan soal-soal fisika. Dari pengalaman, soal-soal tersebut diselesaikan dengan cara "gotong-royong" karena hanya sedikit orang yang bisa atau mau mengerjakannya. Keberhasilan pengajaran tidak jarang didasarkan atas kemampuan mengerjakan soal-soal ujian akhir, bukan pada penguasaan makna fisis dari rumus tersebut.
Sebagai contoh, hampir semua orang di kelas tahu hukum kedua Newton, F = m.a, tetapi mungkin tak pernah terbayangkan bahwa rumus tersebut dapat menceritakan mengapa orang-orang gendut lebih suka main tarik tambang daripada lari 100 meter. Kemudian, siapa yang tak mengenal persamaan terkenal Einstein E = mc2 ? Sayang, sedikit sekali orang yang mengetahui bahwa massa sebuah buku fisika dasar mengandung energi yang dapat membawa suatu wahana antariksa ke bulan!
Salah satu penyebab persepsi negatif tentang fisika adalah bahwa ilmu tersebut seringkali diajarkan tanpa penghayatan sehingga terasa menyebalkan. Padahal, melalui fisika kita dapat mengetahui banyak hal. Seorang pelajar yang mulai mempelajari ilmu ini tidak perlu jauh-jauh mengunjungi laboratorium untuk melihat fenomena fisika. Kapanpun dan dimanapun ia dapat berimajinasi (menghayal) tentang lingkungan sekitarnya. Keindahan warna bunga yang tampak oleh mata, musik yang terdengar nyaman di telinga, air terjun yang memikat, aliran angin yang sejuk, adalah sedikit contoh dari fenomena fisika sehari-hari. Penjelasan bahwa setiap warna memiliki panjang gelombang yang berbeda-beda dan bahwa benda-benda menyerap serta meradiasikan panjang gelombang tertentu sehingga sampai ke mata kita, dapat dibaca dalam buku fisika. Akan tetapi seringkali orang tidak peduli dengan penjelasan itu karena tidak berimajinasi sehingga ia lupa akan keindahan alam dan tidak memiliki rasa ingin tahu.
Imajinasi lahir dari lingkungan yang mendukung seseorang agar memikirkan berbagai fenomena disekitarnya. Jika masyarakat sekitar atau keluarga di rumah tidak menghargai kebebasan berpikir maka daya imajinasi sulit untuk berkembang. Hampir semua fisikawan terkenal adalah orang-orang yang suka berimajinasi dan seringkali dikatakan sebagai pemikir "radikal" karena dianggap aneh oleh lingkungan yang seringkali bersifat dogmatis. Einstein adalah contoh populer dari orang yang suka berimajinasi dan mengembangkannya. Ia membayangkan bagaimana seandainya ia dapat bergerak dengan kecepatan cahaya. Pemikiran aneh ini menghasilkan teori relativitas khusus yang sampai kini masih digunakan. Hal yang sama dilakukan oleh Newton. Kalau saja ia tidak suka melamun dibawah pohon apel mungkin hukum gravitasi universalnya tidak ditemukan sampai berpuluh-puluh tahun kemudian.
Melalui imajinasi, kesadaran untuk mengamati fenomena alam dan membaca buku-buku fisika akan muncul dengan sendirinya. Sebagai contoh, molekul air (H2O) terdiri atas dua buah atom hidrogen dan sebuah atom oksigen. Kita tentu tidak mungkin melihat molekul air dengan mata telanjang. Akan tetapi, kita bisa berimajinasi bahwa molekul-molekul tersebut berukuran kecil sekali sehingga tak tampak. Oleh karenanya, jumlah molekul yang menyusun suatu benda haruslah sangat banyak. Melalui imajinasi kita tergerak untuk mempelajari bahwa satu mol molekul air (yang beratnya sekitar 18 gram) mengandung sekitar 6 x 1023 molekul. Jadi, satu sendok air ternyata terdiri atas sekitar 1022 molekul. Jumlah itu sangatlah besar. Jika seluruh penduduk indonesia diberi tugas untuk menghitung satu per satu molekul berbeda tiap 5 detik maka itu membutuhkan waktu bermiliar-miliar tahun!
Fisikawan tidak membuat rumus-rumus untuk dihafalkan atau ditulis pada telapak tangan. Rumus-rumus dibuat untuk memahami fenomena-fenomena alam dalam bentuk yang ringkas, indah, universal, dan berguna untuk menyelesaikan masalah yang menyangkut fenomena tersebut. Memang, fisika tidak mungkin terlepas dari matematika. Tanpa definisi matematis, fisika sangat sulit dikembangkan dan dimanfanfaatkan sebagai teknologi. Meskipun demikian, untuk mempelajari dasar-dasar fisika seseorang tidak perlu menjadi "gila" matematika ataupun menjadi serius dan takut tak dapat pacar karena "kurang gaul". Belajar fisika memang tidak mudah, tapi dengan melepaskan diri dari pemikiran yang dogmatis dan keinginan untuk berpikir bebas, imajinasi akan muncul dan bisa menjadi petualangan yang menyenangkan bagi siapapun.
Sungai Gorge di Afrika Selatan menyimpan keindahan tiada tara. Banyak sekali fenomena fisika yang membuat pemandangan diatas begitu mempesona: Hukum pemantulan dan pembiasan menghasilkan gambaran 'gunung terbalik' yang terlihat diatas permukaan sungai. Polarisasi cahaya matahari oleh molekul diudara memberikan pemandangan biru yang sangat serasi dengan warna hijau dan coklat muda. Tiupan angin akibat adanya perbedaan tekanan udara menggerakan dedaunan pohon secara terirama. Tampak seekor hewan mengkonsumsi makanan dan minuman untuk mempertahankan kehidupan, suatu proses mengurangi entropi (ketidakteraturan) dengan cara menambah energi dalam hewan. Bukankah fisika itu indah? (diambil dari Microsoft Reference Library 2003. Encarta)
Share on Facebook!Share on Twitter!Reddit

Articles dalam « Fisika »

Tanggapan: * 19

  1) Re: Menyukai Fisika Lewat Imajinasi
Comment by palestine pada Desember 05, 2008, 05:29:11 AM

Hmm.....fisika??!!!saya setuju seratus persen tentang pandangan anda tentag fisika,Awalnya sebelumnya sama sekali tidak terpikirkan sedikitpun tentang ilmu yang sering mendatangkan paranoid tersebut, saya memang suka mengamati alam, terkadang juga merenungkan, tentang beberapa fenomena yang kerap terjadi, bahkan beberpa fenomena fisika yang banyak disebutkan dalam Al-qur'an, dalam benak saya , betapa saya ingin membuktikan fenomena tersebut, yang seringkali diragukan kebenarnnya. jadilah ketika selepas SMA sethun yang lalu, Tafsir Hadist menjadi jurusan favorit saya, juga Astronomi, karna saya juga senang mengamati benda langit, kedua jurusan tersebut memang erat sekali kaitannnya tentang fisika, tapi jujur saja untuk lebih mendalami ilimu fisika, sama sekali tidak pernah terpikirkan, hingga tibalah pertengahan kelas 3 SMA waktu itu, guru saya menawari sederet berkas masuk perguruan tinggi, "dari IPB" jelas beliau. sayapun kemudian bengong dan juga bingung, antara mencoba mendaftar, dengan catatan saya akan kehilangan jurusan favorit saya, tapi ini juga merupakan sebuah kesempatan yang tidak akan datang untuk yang kedua kalinya. Setelah memikirkan beberapa hari juga disertai dengan sholat istikharah, pendapat dan dukungan dari orang tua beserta orang-orang terdekat. akhirnya saya mantap mendaftarkan diri ke IPB dengan jurusan matematika dan ilmu komputer. tapi nasehat guru saya menghalangi"mengapa tidak ngambil fisika saja nduk?bukankah mtk dan ilkom sudah banyak dipilih orang"saran guru saya. Dan nasehat itupun ampuh mempengaruhi saya, dan kini mengantarkan saya di jurusanmfisika,pikir saya kenapa tidak?! meskipun awalnya saya masih butuh beradatasi dengan jurusan tersebut, tapi sekarang saya berusaha mengikhlasannya, saya juga mulai menikmatinya, karna seperti yang anda ungkapkan, memahami konsep fisika adalah yang paling mudah, kita tidak perlu pergi ke lab, cukup mengamati alam sekitar kita, karena alam telah berkembang dengan sendiri, menyediakan banyak sekali pengetahuan yang bisa dijelaskan dengan konsep fisika.
  2) Re: Menyukai Fisika Lewat Imajinasi
Comment by ajhoaphoe pada Desember 05, 2008, 02:35:03 PM

Phisichphobia, mungkin istilah yang tepat dengan fenomena terhadap ilmu fisika, dalam pandangan masyarakat kita saat ini. sama dengan ilmu kimia, juga terjadi gejala chemphobia, suatu ketakutan yang tidak realistik terhadap  kimia

saya juga mengalami masa phisichphobia selama hampir 10 tahun..
gila memang, sepuluh tahun bukan masa yang singkat...

apa pasalnya sampai saya mengalami sindrome tersebut?
pengalaman fisika tidak seindah pelangi yang berwarna warni. saya mengenal ilmu fisika ketika saya SMP. pada saat itu sebenarnya saya tertarik dengan ilmu fisika, seperti warna pelangi, beningnya embun, aerodinamika dan banyak hal lagi.

suatu hari saat belajar ilmu fisika, guru yang mengajar meninggalkan catatan, kemudian ngeloyor kekantor. masa SMP, seperti yang kita semua alami, merupakan masa awal remaja, yang penuh dengan sifat kekanak-kanakan. saat itu guru tidak ada, tugas hanya catatan, otomatis kelas tidak terkontrol, ribut bukan main, sampai terdengar kekantor yang memang bersebelahan.

saat ribut tersebut, sang guru masuk dengan wajah garang (mungkin kena tegur oleh kepsek kali...) nah saat itulah semua murid kena hukum, termasuk dengan saya yang tidak tahu pokok permasalahannya. pokoknya semua kena marah, parahnya saya dan beberapa teman disuruh berdiri karena tidak bisa menyelesaikan soal yang dikasih (wajar aja catatan aja belum selesai...) plus dapat cubitan dirusuk kiri (aduh... sakitnya)

saat itulah, saya antipati dengan guru fisika, apalagi semua guru yang saya temui di smp memiliki tabiat yang sama. sampai SMA.

masa SMA, lain lagi permasalahan yang saya temui. saat itu baru kelas satu, ada pertanyaan yang dilontarkan oleh guru fisika, saat itu saya mengacungkan tangan dan menjawab pertanyaan, eh.. taunya gak direspon oleh sang guru, saya kesal sebab setelah saya ada teman yang menjawab dengan pertanyaan yang sama dengan jawaban yang hampir sama, direspon..
duhhh... kesalnya...

mulai saat itu semua pelajaran fisika saya ikuti dengan asal-asalan..

kuliah... saya mengambil jurusan kimia universitas negeri padang (UNP), alasan saya mengambil ilmu kimia karena saya beranggapan gak kan bertemu dengan fisika. ternyata...
saya tetap bersua dengan ilmu fisika hampir tiga tahun saya masih belajar fisika,
tahun pertama fisika dasar 1 dan 2
tahu kedua dan ketiga kimia fisika 1, 2, dan 3 serta ikatan kimia

dan tidak itu saja, secara mikroskopik ilmu kimia membahas materi dari segi fisika,
alamak... mati aku

akan tetapi tiba jualah pencerahan itu, atau hidayah tepatnya, saat ini saya sedang mempelajari ilmu fisika dengan pendekatan kimia. terkait mempelajari atom. bagaimana suatu keteraturan dalam atom. ikatan yang terbentuk dalam suatu senyawa. dan banyak hal yang saya sadari semuanya terhubung dalam ilmu fisika

hal yang menjadi catatan saya selama ini adalah gejala phobia terhadap fisika (phisichphobia) dan kimia (chemphobia) disebabkan oleh pendekatan pembelajaran selama ini yang tidak sesuai. banyak guru yang hanya mengajarkan teori tampa mengaitkan dengan alam sekitar.

ilmu fisika dan kimia merupakan ilmu yang ghaib dan ajaib.
ghaib, karena membahas materi sampai dengan hal yang paling kecil yang tidak bisa dilihat manusia, misalnya atom, elektron, proton neutron, meson, lepton quark dan entah apalagi yang akan ditemukan manusia. tidak ada satupun alat buatan manusia yang bisa melihat bagaimana bentuk suatu atom, yang ada hanya memodelkan berdasarkan gejala-gejala fisika yang menjadi kharakteristik atom tersebut. dan ilmu fisika lah yang berperan dalam hal ini.
ajaib... ilmu fisika dan kimia merupakan ilmu yang ajaib. bayangkan aja pelangi, kaca, kristal, langir biru (apakah memang biru) laut biru, gunung yang biru. ajaib karena berbagai spesies hewan bisa berubah warna sesuai dengan tempat dia berada (bunglon). ajaib seperti kerlap-kerlip kunang-kunang. dan banyak hal lain
what wonderfull

keterkaitan matematika, fisika, kimia dan biologi sebagai bagian dari ilmu pengetahuan alam merupakan ilmu yang tidak terbatas (unlimited science) sebab dia akan berkembang seiring dengan keinginan manusia untuk mengetahui apa yang ada dibumi.

mari kita ubah fenomena chemphobia dan phisichphobia
bersama kita bisa
:-)
  3) Re: Menyukai Fisika Lewat Imajinasi
Comment by heru.htl pada Desember 15, 2008, 03:20:01 PM


Saya setuju dengan pendapat - pendapat diatas tentang pandangan terhadap Fisika yang beragam sebagai "hantu" (untuk mereka yang tidak menyukai kerumitan) dan sebagai "ghaib atau ajaib" (untuk mereka yang suka dengan hal baru yang bermanfaat dan berefektivitas lebih).

Saya mempelajari Fisika sejak usia 10 tahun, saya memahami bahwa banyak orang melihatnya secara imajinatif; bisa negatif dengan membayangkan kerumitannya, tetapi dulu saya memandang Fisika memang sebagai bentuk "ghaib" yang menimbulkan rasa penasaran terutama diwaktu saya berusia belasan tahun.

Diusia saat ini diatas 30 tahun saya lebih menganggap Fisika adalah "salah satu titah Tuhan yang logis" dengan tetap mengakui adanya kebenaran agama, dimana segalanya dapat diperhitungkan meskipun hasilnya adalah relatif (ingat meskipun eksak tetapi kita tidak akan pernah mencapai digit terpanjang dari suatu hasil perhitungan rumus - rumus Fisika).

Sebenarnya, dengan ilmu Fisika, manusia bisa lebih jauh menemukan kebenaran Tuhan yang hak, sebagaimana kita ketahui Fisika adalah logis (meski relatif) dan bukan "spekulatif" meski terdapat "hipotesis" bahkan pada penemuan - penemuan bidang fisika.
Sebagai contoh, dalam penerapan Fisika Elektronik: "penerapan pelewat bawah pada pengubahan sinyal dari analog - digit atau sebalikanya -- ini sama dengan filosofi hidup -- mengapa menggunakan pelewat bawah ? bukan pelewat atas ? -- dalam filosofi hidup dapat disamakan ini adalah cara manusia memahami apa yang datang dari pandangan/pendengaran secara analog menuju alam pikiran manusia :: untuk dapat memproses pandangan analogika dari panca indra kita dengan benar didalam logika atau pemikiran kita, kita harus berpikir dengan kesabaran dan kerendahan hati." Ini adalah salah satu contoh teori Fisika yang sebenarnya juga dapat kita terapkan bukan hanya pada peralatan mesin, tetapi dapat kita coba dalam kehidupan manusiawi.
Banyak lagi teori - teori Fisika dimana sebenarnya itu sangat berdekatan dengan "teori kehidupan manusia yang benar", hanya saja banyak orang yang tidak menyukai hal yang logis dan lebih menyukai hal yang spekulatif; padahal, praktek - praktek spekulatif tentu lebih beresiko dari pada praktek - praktek dengan perhitungan eksak dan logis.

Kita lihat, apa hasil dari praktek - praktek spekulatif, salah satunya adalah krisis multi-dimensional yang sulit diselesaikan meskipun tentunya ada satu solusi pada akhirnya.
Lihatlah, dinegara - negara berteknologi tinggi seperti Amerika, ilmu Fisika mendapatkan salah satu tempat terbaik dalam kehidupan masyarakat dinegara tersebut.

Saya setuju dengan ajakan diatas: "mari kita ubah fenomena chemphobia dan phisichphobia"

Sudah saatnya manusia memahami kehidupan dengan secara logis, salah satunya dengan ilmu Fisika.
4) Re: Menyukai Fisika Lewat Imajinasi
Comment by Asrie pada Februari 04, 2009, 05:18:45 AM

Saya setuju sekali denganpendapat- pendapat yang telah diuaraikan dari beberapa sahabat yang telah lebih dahulu mengomentari tulisan tersebut...
Saat ini justru saya belum bisa merasakan betapa nikmatnya untuk mempelajari fisika...karena kebetulan saya saat ini sedang menempuh kuliah dijurusan fisika...yang mungkin saat itu saya pikir hanya sekedar untuk melanjutkan studi, namun itu yang terjadi waktu dulu...kini saya ingin mencoba untuk menjadikan fisika lebih dekat dihati...karena memang fisika akan mengajak para penggemarnya untuk mencari kebenaran hakiki...
Semoga aku berhasil....
  5) Re: Menyukai Fisika Lewat Imajinasi
Comment by ritzul pada Februari 10, 2009, 06:46:07 AM

menjadi guru itu bukan "paling-paling", kalimat itu sangat merendahkan profesi guru. tolong diperbaiki
  6) Re: Menyukai Fisika Lewat Imajinasi
Comment by xugi pada Februari 10, 2009, 12:36:35 PM

Physics is my life pokok e.....
Physics is the most enormous thing that always fulfill my necessary to think!
Physics needs to love!!!
I LOVE PHYSICS!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
  7) Re: Menyukai Fisika Lewat Imajinasi
Comment by xugi pada Februari 10, 2009, 12:38:41 PM

I'm physicholic!!!!
Would you mind inviting me to your discussion.....
Thanks for ur attention...
8) Re: Menyukai Fisika Lewat Imajinasi
Comment by dharma_suta pada Februari 20, 2009, 02:12:19 PM

ini dia yang saya tunggu-tunggu... menyukai fisika lewat imajinasi...

kebetulan saya juga kuliah di jurusan pendidikan fisika di Universitas Negeri Yogyakrta (UNY)... sebenarnya saya mengambil fisika (maaf y tmn2, sy jadi curhat) hehe... (^_^) v! karena antara terpaksa atau memang sudah takdir saya berjalan di jalan ini...

dulu sebelum memilih fisika saya telah mencoba untuk mengambil kuliah di Pertanian (IPB) dan psikologi (UGM)... tapi ternyata tidak masuk dua2nya... pusing alih pusing nyari jurusan akhirnya saya nyoba utk ngambil pend.fisika di UNY,,, g nyangka juga akhirnya ke terima...

kemudian saya melanjutkan hari-hari dengan fisika beserta rumus-rumusnya yang g banyak.. tapi sangat banyak...

ternyata setelah berjalan bebrapa semester... IPK saya paling low end sendiri di kelas... ampe di omeli Penasehat Akademik saya... waduhhh... pie iki pikir saya...

dengan membaca tulisan anda di atas semoga saya mendapat inspirasi baru dalam belajar fisika...

fisika telah menjadi bagian dari hidup saya, hari ini, esok, dan seterusnya...

i will survive! thx buat para penghayal fisika... tetaplah berhayal...
  9) Re: Menyukai Fisika Lewat Imajinasi
Comment by Haryanto pada Februari 24, 2009, 06:49:12 AM

Pertama, trims bwt anda yang telah memasukkan artikel ini.. saya setuju dengan sebagian besar pendapat anda di dalamnya.. namun, kasus saya sedikit berbeda.. saya memang punya ingin yahu yang besar, dan suka menerangkan sesuatu yang orang lain tidak tahu, atau sebaliknya, mendengarkan orang lain yang lebih tahu.. Cinta saya pada fisika dimulai dengan 'terbacanya' buku-buku dari Pak Sandi Setiawan (ternitan Andi Offset).. Lalu tamat SMU, saya masuk fisika itb, s1 dan lalu s2.. awalnya, saya 'hanya' ingin coba apakah saya bisa mengerti apa yang para jagoan kaya' Einstein, Hawking, Heisenberg, dan Feynman (dsb) kerjain.. yah, akhirnya sedikit banyak saya ngerti, namun akhirnya saya rasakan motivasi awal itu tidak cukup kuat utk membuat saya tetap konsisten.. belakangan cinta fisika muncul beneran, terelebih setelah punya pengalaman bekerja dalam frontier (yang juga lagi panas dikerjain orang lain, mis spin-3/2 atau black hole).. tidak banyak sukses memang, namun I feel like a real physicist.. ini sangat luar biasa.. lalu, saya telah bulatkan tekad untuk jadi fisikawan.. :)
10) Re: Menyukai Fisika Lewat Imajinasi
Comment by shendy pada Maret 26, 2009, 12:44:51 PM

^^ great post!
I LOVE IMAGINATION..
hehe...
Keep going on..
11) Re: Menyukai Fisika Lewat Imajinasi
Comment by ard_isain pada April 29, 2009, 03:35:39 AM

menyukai Fisika lewat Imajinasi..
yah aku setuju banget..
aku sendiri merasakan sering kali berimajinasi tanpa arah dan aku sendiri juga sangat cinta terhadap fisika.Bagiku Fisika itu merupakan sebuah ilmu yang tak dapat terpisahkan dalam kehidupan nyata.
Sejak kecil aku selalu belajar bagaimana sebuah benda bisa melakukan ini itu,mulai beranjak dewasa aku tau itu namanya fisika,tiap benda ada sebuah hukum untuk itu semua..
i love phisicist..for along time..
  12) Re: Menyukai Fisika Lewat Imajinasi
Comment by gravity_science pada Mei 31, 2009, 04:54:25 PM

  13) Re: Menyukai Fisika Lewat Imajinasi
Comment by Rohedi pada Juni 01, 2009, 11:07:25 PM

Tapi Fisikawan Domestik bisa menjelaskan fenomena yang terjadi karena kata gurunya dan atau dosennya, ya khan. Jangan jauh-jauh lah, contoh kecil cara mereka membuktikan kecepatan sesaat benda yang sedang istirahat di tempat  adalah nol itu benar selalu sama dari generasi ke generasi. Atau visitor forumsains ini ada yang bisa buktikan dy/dt=0  untuk y=c= konstan tanpa harus tahu bahwa y(t+h)=c.  Kalau ini ditanyakan pada Matematikiawan bakal dijawab "Wah Rohedi itu sudah definisi yang diwasiatkan olek pak Liebniz bung", hihihi. 
  14) Re: Menyukai Fisika Lewat Imajinasi
Comment by Rohedi pada Juni 09, 2009, 08:10:13 AM

Yang Rohedi sedih sih koq ndak ada fisikawan Indonesia yang bisa nentuin jari-jari bumi dari volum tanpa pakei kalkulator, hehehe, kalo ada yang tersinggung berarti dia bisa keluarin yang 16 digit pakei tangan tanpa tebakan awal. Bagaimana?
15) Re: Menyukai Fisika Lewat Imajinasi
Comment by aswani pada Maret 17, 2010, 08:56:20 AM

saya senang dengan fisika:)
  16) Re: Menyukai Fisika Lewat Imajinasi
Comment by Christyo pada Maret 18, 2010, 04:18:19 AM

pokoknya nikmatin aja lah...
sebenarnya fisika itu kan sulitnya kalo ketemu matematika...
jadi keliatan ruwet...
ya anak fisika kan bilang 999.999.999 bisa dianggap 1 milyar gak usah sepesifik matematika yang harus sembilan ratus sembilan puluh sembilan juta sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan..
hahahaha..
  17) Re: Menyukai Fisika Lewat Imajinasi
Comment by Logan pada Mei 19, 2010, 01:12:51 AM

Saya adalah seorang maniak fisika :D meskipun sekarang saya sedang kuliah di fakultas kedokteran (calon dokter,Bro!)
Menurut saya fisika menarik karena dapat menjelaskan semua gejala alam dengan baik dan ilmiah dan merupakan inti dari science itu sendiri...
HIDUP ILMUWAN FISIKA!!!
  18) Re: Menyukai Fisika Lewat Imajinasi
Comment by jaro pada Juli 20, 2010, 11:45:16 PM

as : ikutan berkomentar juga yah,,,
fisika :::: kebetulan saya calon guru fisika,,,,
orang yang pandai di fisika tidak harus modal pintar, penting tekun dan ulet, serta pantang menyerah:
sebab ilmu itu bagai pedang,,, kalau terus diasah pastilah dia tajam,,,

kira2 begitu :::
  19) Re: Menyukai Fisika Lewat Imajinasi
Comment by Ajie Aria M., S.Si. pada Agustus 23, 2010, 12:32:30 AM

yang penting dalam fisika adalah bagaimana cara kita menyampaikannya.. banyak sekali guru yang belum sampai pada tahap pemahaman yang sebenarnya tentang fisika, sehingga ia baru bisa mengajarkan sebatas itu pada siswa, seperti halnya sejarah, akuntansi, ekonomi, bahkan bahasa indonesia. Pemaknaan pengajaran dalam pendidikan Indonesia adalah hal yang sangat penting yang belum berkembang dalam sistem pendidikan kita. terbukti dengan masih langkanya penugasan proyek studi yang berhubungan dengan kehidupan..

inilah pentingnya pemaknaan bagi para guru..
Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan tanggapan.