Gunakan MimeTex/LaTex untuk menulis simbol dan persamaan matematika.

Welcome to Forum Sains Indonesia. Please login or sign up.

Desember 05, 2022, 12:30:08 PM

Login with username, password and session length

Topik Baru

Artikel Sains

Anggota
Stats
  • Total Tulisan: 139,639
  • Total Topik: 10,395
  • Online today: 52
  • Online ever: 441
  • (Desember 17, 2011, 09:48:51 AM)
Pengguna Online
Users: 0
Guests: 19
Total: 19

Aku Cinta ForSa

ForSa on FB ForSa on Twitter

Fungsi Population Genetics menjelaskan peran Seleksi Alam dalam Evolusi Neo-Darwinism

<div style="text-align: justify;">Seiring dengan pesatnya kemajuan teknologi di bidang biologi molekuler, aspek-aspek ilmu genetika juga mengalami perkembangan yang sangat pesat. Aspek yang dimaksud masuk ke dalam ranah ilmu genetika yaitu <span style="font-style: italic;">classical genetics</span>, <span style="font-style: italic;">molecular genetics</span> dan <span style="font-style: italic;">population genetics</span>. <span style="font-style: italic;">Quantitative genetics</span> yang membahas secara mendalam berbagai macam sifat kuantitatif seperti tinggi badan, berat badan, IQ, kepekaan terhadap penyakit, dan sebagainya masuk ke dalam ilmu <span style="font-style: italic;">population genetics</span>. Ilmu <span style="font-style: italic;">population genetics</span> pula yang mendukung teori evolusi yang dikemukakan oleh Charles Darwin 150 tahun lalu. Ilmu ini menggunakan berbagai macam pendekatan statistik untuk membuktikan, menjelaskan atau mendeteksi adanya perubahan organisme dalam lingkungan oleh sebab adanya dorongan evolusi (<span style="font-style: italic;">evolutionary force</span>). Dari sinilah lahir istilah <span style="font-weight: bold;">Neo-Darwinism</span>.<br /> <br /> Dalam <span style="font-style: italic;">Neo-Darwinism</span>, evolusi dideskripsikan sebagai perubahan frekuensi alel yang ada dalam populasi di tempat dan waktu tertentu oleh sebab adanya <span style="font-style: italic;">evolutionary force</span>. <span style="font-style: italic;">Evolutionary force</span> yang dimaksud di sini terdiri dari (1) <span style="font-style: italic;">Mutation</span>, sebagai the <span style="font-style: italic;">building block of evolution</span>, ia cenderung meningkatkan variasi genetis atau frekuensi alel yang menjadi subyek seleksi alam; (2) <span style="font-style: italic;">Natural Selection</span>, terdiri dari <span style="font-style: italic;">directional selection</span>, <span style="font-style: italic;">stabilizing selection</span> dan <span style="font-style: italic;">disruptive selection</span>; (3) <span style="font-style: italic;">random genetic drift</span>, yang cenderung menekan variasi genetis; (4) <span style="font-style: italic;">Non-random mating</span> yang meningkatkan homozigositas fenotip tanpa mempengaruhi frekuensi alel; (5) <span style="font-style: italic;">migration</span>, yang mendorong kesamaan frekensi alel antar populasi yang berbeda.<br /> <br /> Sebelum melangkah lebih jauh, alangkah baiknya jika kita mengenal bagaimana cara menghitung frekuensi alel dalam suatu populasi. Misalkan dalam suatu populasi, terdapat 2 alel dalam satu lokus, yaitu A<sub>1</sub> dan A<sub>2</sub>, maka dalam populasi tersebut hanya ada variasi genotip individu sebagai berikut&nbsp; A<sub>1</sub>A<sub>1</sub>, A<sub>1</sub>A<sub>2</sub>, dan A<sub>2</sub>A<sub>2</sub>.&nbsp; Jika dalam populasi tersebut diketahui berjumlah 500 orang dan individu dengan genotip A<sub>1</sub>A<sub>1</sub> = 245, A<sub>1</sub>A<sub>2</sub> = 150 dan A<sub>2</sub>A<sub>2</sub> = 105, maka frekuensi masing-masing alel dalam <span style="font-style: italic;">gene pool</span>, yaitu A<sub>1</sub> dan A<sub>2</sub> bisa dihitung sebagai berikut :<br /> <br /> Frekuensi A<sub>1</sub>= [(2 x 245) + (1 x 150)] / 1000 = 0,64<br /> <br /> Frekuensi A<sub>2</sub>= [(2 x 105) + (1 x 150)] / 1000 = 0,36<br /> <br /> Di sini 1000 artinya dalam <span style="font-style: italic;">gene pool</span> yang terdiri dari 500 individu terdapat 1000 alel sebab masing-masing individu memiliki 2 alel atau diploid. Pada individu A<sub>1</sub>A<sub>1</sub> terdapat dua alel A<sub>1</sub>, sedangkan dalam individu A<sub>1</sub>A<sub>2</sub> terdapat satu alel A<sub>1</sub>.<br /> <br /> Langkah selanjutnya adalah mengetahui apakah individu dengn alel tertentu memiliki kemampuan adaptasi lebih unggul dibandingkan alel lain yang dinyatakan dengan fitness, kita harus menghitung dulu nilai <span style="font-style: italic;">fecundity</span> dan <span style="font-style: italic;">survival</span> dari keturunan yang dihasilkan oleh individu dengan genotipe tertentu. Fecundity adalah kemampuan organisme untuk mengasilkan keturunan atau dengan kata lain rata-rata keturunan yang dilahirkan oleh organisme dengan genotpe tertentu dalam populasi bersangkutan. Survival adalah kemampuan keturunan tersebut untuk tetap hidup sampai masa reproduksi. Produk antara <span style="font-style: italic;">fecundity</span> dan <span style="font-style: italic;">survival</span> adalah <span style="font-style: italic;">fitness</span>. Kita ambil contoh pada wolf spider betina yang menghasilkan keturunan seperti pada tabel dibawah ini.<br /> <br /> &nbsp;<br /> <br /> <span style="font-weight: bold;">Genotipe</span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <span style="font-weight: bold;">fecundity</span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <span style="font-weight: bold;">Survival</span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <span style="font-weight: bold;">fitness</span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <span style="font-weight: bold;">relative fitness</span><br /> <br /> A<sub>1</sub>A<sub>1</sub>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; 230&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; 0,0200&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; 4,6&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; 1.00<br /> <br /> A<sub>1</sub>A<sub>2</sub>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; 280&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; 0,0150&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; 4,2&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; 0,91<br /> <br /> A<sub>2</sub>A<sub>2</sub>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; 190&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; 0,0100&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; 1,9&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; 0,41&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <br /> <br /> &nbsp;<br /> <br /> Pada tabel di atas tampak bahwa individu homozygote A<sub>1</sub> memiliki fitnes paling besar walaupun fecundity nya sedikit lebih rendah daripada heterozygote tapi memiliki survival yang lebih tinggi. Konsep <span style="font-style: italic;">relative fitness</span> lebih sering dipakai dalam <span style="font-style: italic;">population genetics</span> dibandingkan dengan <span style="font-style: italic;">absolute fitness</span>. Dalam <span style="font-style: italic;">relative fitness</span>, individu dengan genotipe tertentu yang memiliki fitness tertinggi dianggap memiliki fitness sebesar 1, sedangkan yang lainnya kurang dari 1 seperti tampak pada kolom terakhir tabel di atas. Dengan kata lain individu dengan kemampuan adaptasi paling tinggi memiliki fitness sebesar 1,00.<br /> <br /> Dari penjelasan di atas tampak adanya proses seleksi terhadap individu dengan genotipe tertentu, yang dalam hal ini yaitu seleksi terhadap alel A<sub>2</sub>. Besarnya seleksi yang dialami oleh individu dengan genotip tertentu dinyatakan dengan bilangan <span style="font-style: italic;">coefficient of selection</span>. Hubungan antara fitness dengan coefficient of selection (s) dapat dinyatakan sebagai berikut :<br /> <br /> &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <span style="font-style: italic;">coefficient of selecion (s) = 1 &ndash; fitness (F)</span><br /> <br /> Dari contoh dalam tabel di atas, dapat dihitung coefficient of selection (s) nya, yaitu sebesar 0,59.<br /> <br /> Dalam lingkungan yang sesungguhnya, alel tertentu bisa mempengaruhi kemampuan beradaptasi (fitness) individu tidak selalu secara langsung, artinya, fenotip yang dihasilkan oleh genetotip tertentu tidak secara langsung menentukan kemampuan hidupnya, tapi lebih menentukan kemampuan hidup individu tersebut melalui melalui interaksinya dengan lingkungan. Misalkan kemampuannya berkamuflase suatu organisme sangat bergantung pada genotipe yang mengkode warna pigmen dan kondisi lingkungan di mana organisme itu hidup. Semakin baik kemampuan berkamulflase maka semakin tinggi pula ia terhindarkan dari predator, akibatnya, alel yang mengkode sifat terkait lebih banyak diturunkan pada generasi berikut daripada alel lain. Contoh mekanisme seleks seperti ini tampak pada salah satu jenis kupu Beston betularia di Inggris (lihat gambar). Sebelum era industrialisasi di Inggris, banyak pohon masih berwarna terang, sehingga kupu berwarna terang lebih terkamuflase dan terhindarkan dari predator daripada kupu berwarna gelap. Di sini alel pengkode pigmen gelap dominan terhadap alel pengkode pigmen terang. Namun, saat era industrialisasi, dimana banyak sekali polusi udara yang membuat warna kulit pohon menjadi lebih gelap, kupu dengan warna gelap lebih adapted dibandingkan dengan kupu berwarna terang, akibatnya frekuensi alel untuk mengkode pigmen warna gelap lebih banyak atau meningkat.<br /> <br /> <h3>Efek Seleksi Alam pada Frekuensi Alel di Generasi Berikut</h3> <br /> Seperti yang telah disebutkan di atas, seleksi alam dapat meningkatkan frekuensi alel yang menghasilkan fenotipe dengan fitness tertinggi. Perhitungan mengenai efek seleksi alam ini kita ambil contoh yang sama pada pada tabel di atas, namun kali ini individu heterozygote memiliki <span style="font-style: italic;">relative fitness</span> sama dengan individu homozygote yaitu 1,00 sebagai berikut:<br /> <br /> &nbsp;<br /> <br /> <span style="font-weight: bold;">Genotipe</span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <span style="font-weight: bold;">frekuensi genotipe P</span>&nbsp;&nbsp; <span style="font-weight: bold;">relative fitness</span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <span style="font-weight: bold;">kontribusi</span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <span style="font-weight: bold;">frekuensi genotipe P&rsquo;</span><br /> <br /> A<sub>1</sub>A<sub>1&nbsp;</sub>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; (0,64)2= 0,41&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; 1.00&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; 0,41&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; 0,41/0,92 = 0,44<br /> <br /> A<sub>1</sub>A<sub>2</sub>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; 2 (0,36)(0,64)=0,46&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; 1,00&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp; &nbsp;&nbsp; 0,46&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; 0,46/0,92 = 0,50<br /> <br /> A<sub>2</sub>A<sub>2</sub>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; (0,36)2 = 0,13&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; 0,41&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; 0,05&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; 0,05/0,92 = 0,06<br /> <br /> &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp;&nbsp; total = 1&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; total = 0,92&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; total = 1<br /> <br /> &nbsp;<br /> <br /> Perhitungan frekuensi P di atas berdasarkan hukum Hardy-Weinberg. Dari perhitungan di atas tampak bahwa total frekuensi alel pada generasi berikut (P&rsquo;) mengceil sebab adanya seleksi pada alel tertentu, dalam hal ini alel A<sub>2</sub> dalam genotip homozygote A<sub>2</sub>. Dalam generasi berikutnya, frekuensi genotipe&nbsp; A<sub>1</sub>A<sub>1</sub> menjadi 0,44, genotipe A<sub>1</sub>A<sub>2</sub> menjadi 0,50, dan genotipe A<sub>2</sub>A<sub>2</sub> menjadi 0,06. Frekuensi genotipe A<sub>2</sub>A<sub>2</sub> turun dari 0,13 menjadi 0,06, yaitu tinggal separuhnya! Dari perhitungan ini dapat diketahui bahwa frekuensi alel A<sub>2</sub> pada generasi berikut menjadi :<br /> <br /> (0,06) + (0,5 x 0,50) = 0,31<br /> <br /> Yakni mengalami pernurunan sebesar 0,36-0,31 = 0,05 atau sekitar 5%. Jika frekuensi A<sub>1</sub> dinyatakan sebagai p dan frekuensi A<sub>2</sub> dinyatakan sebagai q, maka perbedaan frekuensi A<sub>2 </sub>antara generasi parental dan f1 dinyatakan dalam &Delta;q = -0,05. Sedangkan frekuensi alel A1, dengan cara perhitungan yang sama dengan alel A<sub>2</sub> mengalami peningkatan sebesar 0,05 atau 5%.<br /> <br /> Contoh di atas menggambarkan jika dominasi (<span style="font-style: italic;">dominance</span>) A<sub>1</sub> adalah <span style="font-style: italic;">complete dominance</span>, artinya, fenotipe dari heterozygote memiliki sifat yang sama persis dengan homozygote A<sub>1</sub> sehingga seleksi alam tidak bisa &ldquo;mendeteksi&rdquo; adanya alel A<sub>2</sub> dalam keadaan <span style="font-style: italic;">heterozygote</span>. Hal ini tidak selalu benar pada dunia nyata. Sebab kadangkala, ada alel yang tidak menunjukkan sifat demikian dalam hal dominasi, tapi memiliki derajat dominasi sampai nilai tertentu yang dinayatakan dalam <span style="font-style: italic;">level of dominance</span> (h). Alel dengan sifat demikian dikatakan memiliki efek additif (<span style="font-style: italic;">additive effects</span>). Lihat contoh pada tabel berikut ini :<br /> <br /> <span style="font-weight: bold;">Genotipe</span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <span style="font-weight: bold;">frekuensi genotipe P</span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <span style="font-weight: bold;">relative fitness</span>&nbsp;&nbsp;&nbsp; <span style="font-weight: bold;">kontribusi</span>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <span style="font-weight: bold;">frekuensi genotipe P&rsquo;</span><br /> <br /> A<sub>1</sub>A<sub>1</sub>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; (0,64)2= 0,41&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp; &nbsp;&nbsp; 1.00&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; 0,41&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; 0,41/0,83 = 0,49<br /> <br /> A<sub>1</sub>A<sub>2</sub>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; 2 (0,36)(0,64)=0,46&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; 0,80&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; 0,37&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; 0,37/0,83 = 0,44<br /> <br /> A<sub>2</sub>A<sub>2</sub>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; (0,36)2 = 0,13&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; 0,41&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; 0,05&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; 0,05/0,83 = 0,06<br /> <br /> &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; total = 1&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; total = 0,83&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; total = 1<br /> <br /> <br /> Dengan data di atas, alel A<sub>2</sub> mengalami penurunan sebesar 8%, lebih besar daripada tabel di atas. Dari sini tampak bahwa jika <span style="font-style: italic;">level of dominance</span> menurun, maka alel A<sub>2</sub> dalam keadaan <span style="font-style: italic;">heterozygote</span> akan &ldquo;terdeteksi&rdquo; oleh seleksi alam.<br /> <br /> Penejelasan ini hanyalah sepotong dari sekian banyak perhitungan dalam <span style="font-style: italic;">population genetics</span> yang tentu saja tidak bisa diceritakan panjang lebar dalam&nbsp; kesempatan ini. Penjelasan ini belum mencakup penjelasan peran <span style="font-style: italic;">population genetics</span> dalam menjelaskan seleksi alam yang terjadi pada <span style="font-style: italic;">quantitative traits</span> sebagai dasar evolusi organisme yang jauh lebih kompleks.<br /> <br /> &nbsp;<br /> <br /> <h3>Referensi :</h3> <br /> Hyde, D. 2009. <span style="font-style: italic;">Population Genetics</span>. In: Hyde, D. (Ed), <span style="font-style: italic;">Introduction to Genetics Principles</span>, 1<sup>st</sup> Edition, (p. 790-811). New York: McGraw-Hill.<br /> </div>

Share on Facebook!Share on Twitter!Reddit

Comments: 3 *

1) Re: Fungsi Population Genetics menjelaskan peran Seleksi Alam dalam Evolusi Neo-Darwinism
Comment by antonius dolu pada Januari 19, 2011, 11:39:49 PM

saya belajar genetika tapi cuma kulit luarnya, tapi kalau di pelajari pasti itu sangat mengasikkan, thanks infonya.
2) Re: Fungsi Population Genetics menjelaskan peran Seleksi Alam dalam Evolusi Neo-Darwinism
Comment by viiana v_w pada Januari 27, 2011, 09:59:56 PM

bruu sekilas ne sya bca hereditas,,,
ga slgkap ini,,,,  biasanya ngmbil referensi dr mn?
3) Re: Fungsi Population Genetics menjelaskan peran Seleksi Alam dalam Evolusi Neo-Darwinism
Comment by afreeda pada November 29, 2011, 07:18:44 PM

tengkyu,,bro,,
You don't have permission to comment, or comments have been turned off for this article.

Articles dalam « Biologi »