Selamat datang di ForSa! Forum diskusi seputar sains, teknologi dan pendidikan Indonesia.

Welcome to Forum Sains Indonesia. Please login or sign up.

Oktober 01, 2022, 06:26:19 PM

Login with username, password and session length

Topik Baru

Artikel Sains

Anggota
Stats
  • Total Tulisan: 139,638
  • Total Topik: 10,395
  • Online today: 50
  • Online ever: 441
  • (Desember 17, 2011, 09:48:51 AM)
Pengguna Online
Users: 0
Guests: 11
Total: 11

Aku Cinta ForSa

ForSa on FB ForSa on Twitter

The C-Value Paradox: Besarnya Genom Tidak Mencerminkan Komplektisitas Genetika Organisme

<div style="text-align: justify;">Ketika anda memeriksa genom dari berbagai macam spesies, anda pasti mengira bahwa organisme yang sederhana memiliki genom yang yang lebih kecil daripada organisme yang lebih kompleks. Sebab, anda mengasumsikan bahwa organisme yang lebih sederhana memerlukan sedikit gen daripada organisme yang lebih kompleks. Asumsi ini memang benar, tapi perkiraan bahwa organisme yang lebih sederhana memiliki genom yang lebih kecil tidaklah sesuai faktanya.<br /> <br /> Ambillah contoh perbandingan antara manusia dan amoeba. Manusia sudah tentu memiliki lebih banyak gen daripada amoeba, sebab manusia adalah organisme multiselular yang jauh lebih kompleks daripada amoeba. Hal ini benar adanya, tapi apakah manusia juga memiliki genom yang lebih besar daripada amoeba? Tidak. Faktanya, manusia memiliki 3,3 milyar pasang basa dalam genomnya, sedangkan amoeba memiliki 200 milyar genom dalam genomnya, yaitu hampir 70 kali lebih banyak daripada manusia! Lantas mengapa genom organisme yang jauh lebih sederhana memiliki genom yang demikian besarnya?<br /> <br /> Demikian juga contoh lain, yaitu <span style="font-style: italic;">bony fish</span> dan <span style="font-style: italic;">japanese puffer fish</span>, kedua jenis ikan ini merupakan spesies yang masih memiliki kekerabatan dekat.&nbsp; <span style="font-style: italic;">Japanese puffer fish</span> memiliki 0,5 milyar pasang basa dalam genomnya sedangkan <span style="font-style: italic;">bony fish</span> memiliki 300 milyar pasang basa dalam genomnya, 600 kali lebih banyak daripada <span style="font-style: italic;">japanese puffer fish</span>! Kenapa hal ini bisa terjadi? Apa gunanya kelebihan DNA dalam genom organisme-organisme tersebut?<br /> <br /> Fenomena ini disebut sebagai <span style="font-style: italic;">C-Value Paradox</span>, dengan C mengacu pada kuantitas DNA dalam genom organisme. Kelebihan DNA tersebut tidak mencerminkan komplektisitas komponen genetiknya, tapi hanya berupa DNA yang tidak memiliki fungsi ataupun mengkode suatu produk fungsional dalam organisme bersangkutan. Sebagian besar dari DNA tersebut merupakan suatu segmen repetitif yang terdiri dari <span style="font-style: italic;">transposons</span> dan <span style="font-style: italic;">retrotransposons</span>. <span style="font-style: italic;">Transposons</span> atau disebut juga <span style="font-style: italic;">transposable elements</span> merupakan segmen DNA yang bisa menginsersikan dirinya di mana pun dalam genom baik dengan cara mengkopi dirinya sendiri melalui <span style="font-style: italic;">replicative transposition</span> atau mengkatalisis pemindahan segmen dirinya sendiri melalui mekanisme <span style="font-style: italic;">conservative transposition</span>. Kedua mekanisme ini dilakukan oleh transposon menggunakan enzim transposase yang dikodenya dan tanpa melalui fase RNA. Sedangkan retrotransposon atau <span style="font-style: italic;">retrotransposable elements</span> melakukan perpindahan atau insersi melalui fase RNA. Jadi transkrip dirinya selain mengkode <span style="font-style: italic;">reverse trankriptase</span>, ia juga berfungsi sebagai <span style="font-style: italic;">template</span> untuk membentuk cDNA untuk kemudian diinsersikan di tempat-tempat tertentu dalam genom.<br /> <br /> Dalam tubuh manusia, terdapat dua jenis retrotransposon, yaitu SINEs (<span style="font-style: italic;">Short Interspersed Nuclear Elements</span>) dan LINEs (<span style="font-style: italic;">Long Interspersed Nuclear Elements</span>). LINEs memiliki panjang antara 1-6 Kbp sedangkan SINEs memiliki panjang 100 bp-1 kbp. LINEs, SINEs serta transposon lainnya menyusun 45% total genom kita! Dua puluh persen total genom merupakan LINEs dan 13% total genom adalah SINEs. Salah satu jenis LINEs yang disebut dngan segmen L1 terdapat dalam intron 79% gen manusia. Segmen-segmen DNA ini sering disebut juga sebagai <span style="font-style: italic;">junk</span> DNA. Sebab ia tidak memiliki fungsi apa-apa selain &ldquo;berkehendak&rdquo; untuk mengkopi dirinya sebanyak mungkin agar tetap sintas.<br /> <br /> Jadi, perbedaan besar genom tiap organisme tidak mencerminkan perbedaan komplektisitas genetiknya, namun lebih kepada perbedaan kemampuan tiap organisme untuk membuang atau menekan tranposisi dari berbagaimacam <span style="font-style: italic;">junk</span> DNA di atas dan segmen DNA repetitif lainnya. Atau mungkin saja bahwa segmen DNA repetitif ini sebenarnya memiliki fungsi tertentu dalam genom yang belum bisa kita deteksi saat ini.<br /> &nbsp;<br /> <br /> <span style="font-weight: bold;">Referensi</span><br /> Hyde, D. 2009. <span style="font-style: italic;">DNA Structure and Chromosome Organization</span>. In: Hyde, D. (Ed), <span style="font-style: italic;">Introduction to Genetics Principles</span>, 1<sup>st</sup> Edition, (p. 166-181). New York: McGraw-Hill.<br /> Pollard, T.D.; Earnshaw, W.C. &amp; Lippincot-Schwartz, J. 2008. <span style="font-style: italic;">Chromosome Organization</span>. In: Pollard, T.D. ; Earnshaw, W.C. &amp; Lippincot-Schwartz,&nbsp; J. (Eds), <span style="font-style: italic;">Cell Biology</span>, 2<sup>nd</sup> Edition, (p. 193-208). Philadelphia: Saunders-Elsevier.<br /> Young, I.D. 2005. <span style="font-style: italic;">Gene Structure and Function</span>. In:&nbsp; I.D. Young (Ed), <span style="font-style: italic;">Medical Genetics</span>, 1<sup>st</sup> Edition, (p. 1-23). New York: Oxford University Press, Inc.<br /> </div>

Share on Facebook!Share on Twitter!Reddit

Comments: 3 *

1) Re: The C-Value Paradox: Besarnya Genom Tidak Mencerminkan Komplektisitas Genetika Organisme
Comment by cignus pada Juli 29, 2010, 09:10:10 AM

mas HW saya punya beberapa pertanyaan:
1. satuan kbp atau bp itu apa? kepanjangannya apa? dan bagaimana cara mengukurnya?
2. apa perbedaan antara gen, genom, dan DNA?
3. jadi walau suatu individu yg lebih kompleks dapat memiliki kuantitas DNA lebih banyak tetapi belum tentu memiliki genom yg lebih banyak pula? maksudnya begitukah???? lalu bagaimana membedakan satu DNA dengan DNA yg lain dan satu gen dengan gen yg lain?
heheheheh tolong dijawab
2) Re: The C-Value Paradox: Besarnya Genom Tidak Mencerminkan Komplektisitas Genetika Organisme
Comment by peregrin pada Juli 29, 2010, 07:57:05 PM

Artikel yg sangat bagus pak Hendy. Juga tema yg menarik. Saya sangat suka bagian pembukaannya (paragraf 1-2). Tapi mungkin perlu pengetahuan dasar genetika yg agak kuat utk bisa mengerti keseluruhan artikel ya. Saya masih suka bingung, apa yg dimaksud dg transposisi, sintas, intron, dsb.

Jadi kepikiran bikin thread kompilasi istilah teknis: http://www.forumsains.com/biologi/kamus-istilah-biologi/  Barangkali pak Hendy bisa membantu? :)
3) Re: The C-Value Paradox: Besarnya Genom Tidak Mencerminkan Komplektisitas Genetika Organisme
Comment by hunaepi pada Juli 31, 2010, 06:18:36 AM

BAGUSSS BAGET
You don't have permission to comment, or comments have been turned off for this article.

Articles dalam « Biologi »