Member baru? Bingung? Perlu bantuan? Silakan baca panduan singkat untuk ikut berdiskusi.

Selamat datang, Pengunjung. Silahkan masuk atau mendaftar. Apakah anda lupa aktivasi email?

Oktober 20, 2020, 02:19:55 PM

Masuk dengan nama pengguna, kata sandi dan lama sesi

Topik Baru

Artikel Sains

Anggota
Stats
  • Total Tulisan: 139604
  • Total Topik: 10375
  • Online Today: 52
  • Online Ever: 441
  • (Desember 18, 2011, 12:48:51 AM)
Pengguna Online
Users: 0
Guests: 32
Total: 32

Ikuti ForSa

ForSa on FB ForSa on Twitter

Kadang-kadang hal di depan mata bisa terlewatkan begitu saja. Bagi sebagian orang, perbedaan kecenderungan antara laki-laki dan perempuan merupakan sesuatu yang tak dapat diterima. Meski perbedaan itu adalah gejala universal, mereka tetap teguh mengganggap hal tersebut sebagai akibat konstruksi sosial yang dibangun dengan sewenang-wenang.

Bagi para ilmuwan, klaim tentang adanya konstruksi sosial gender adalah hal yang aneh. Laki-laki dan perempuan jelas berbeda. Bukan karena konstruksi sosial, melainkan karena secara biologis memang berbeda sehingga kecenderungan psikologis antar keduanya otomatis juga berlainan. Fenomena itu terwujud nyata di berbagai kebudayaan, kelas, etnis, agama, baik di masa kini maupun di masa lampau.

Penjelasan ilmiah semacam itu sayangnya sering dinilai tidak relevan. Para penentang justru gencar mengkritik institusi sains yang dianggap sama tak beresnya dengan institusi lain yang meminggirkan perempuan, khususnya sejak dekade 1990-an.

Helena Cronin, filsuf ilmu alam dan salah seorang direktur di Centre for Philosophy of the Natural and Social Science, menganggap pengabaian tersebut adalah tindakan keliru. Dalam esai Darwinian Insights into Sex and Gender, dia mengatakan bahwa pemahaman ilmiah justru sangat berguna dalam membantu kita bagaimana seharusnya memandang persoalan kesenjangan gender.

Buah Seleksi Alam

Semuanya bermula pada satu miliar tahun silam, ketika organisme yang bereproduksi secara seksual bermunculan. Strategi reproduksi model baru itu memerlukan dua hal, yakni berkompetisi untuk memperoleh pasangan serta mengasuh keturunan. Dua tugas tersebut awalnya dilakukan sama rata oleh kedua jenis kelamin. Namun, karena tidak stabil, sejumlah organisme mulai mengembangkan spesialisasi, khususnya dalam memproduksi sel kelamin.

Sebagian menghasilkan sel sperma yang aktif tapi miskin nutrisi dalam jumlah besar, sebagian lain menghasilkan sel telur yang pasif tapi kaya nutrisi dalam jumlah sedikit. Pemisahan itu makin melebar dari generasi ke generasi karena terbukti memberi keuntungan dalam menghadapi seleksi alam. Setelah melewati waktu evolusi yang panjang, perbedaan antarkeduanya pun begitu mencolok: yang satu cenderung berkompetisi meraih pasangan, sementara yang satu cenderung memfokuskan diri dalam mengasuh keturunan.

Pada manusia, pembagian tugas berlangsung dengan cara yang lebih halus. Kendati pada mulanya hanya persoalan strategi reproduksi, namun hal itu telah merembes hingga jauh ke dalam psikologis, yang tentu saja mempengaruhi perbedaan prioritas, emosi, harapan, dan hasrat kita.

Kecenderungan psikologis tersebut telah dibuktikan dalam berbagai penelitian yang berskala luas. Salah satu contohnya adalah tentang kecemburuan seksual. Teori Darwin memprediksi bahwa kecemburuan laki-laki akan terpusat pada ketaksetiaan seksual karena berkaitan erat dengan rasa unggul dalam persaingan, sementara kecemburuan perempuan lebih terfokus pada hal yang berkaitan dengan sisi emosional karena membutuhkan rasa aman dan nyaman guna mengasuh keturunan.

Persis demikianlah yang didapat. Dalam sebuah penelitian, 85 persen perempuan menyebutkan bahwa ketaksetiaan emosional sangat mengganggu mereka, sedangkan dari pihak laki-laki hanya 40 persen yang merasakan hal itu. Penelitian semacam ini telah diulang berkali-kali dalam beragam kebudayaan serta menggunakan berbagai parameter psikologis.

Ada sebuah contoh lain yang lebih menarik. Pada 1960, di Amerika Serikat, sebuah tindakan sirkumsisi yang ceroboh membuat seorang anak laki-laki mengalami kerusakan penis parah sehingga dokter memutuskan melakukan amputasi. Selanjutnya mereka mencoba mengubah si anak menjadi perempuan melalui kastrasi (kebiri), pembedahan, dan terapi hormon. Nama John diubah menjadi Joan, didandani sebagai perempuan, dan diberi boneka. Dia pun tumbuh menjadi seorang gadis.

Pada 1973, John Money, seorang psikolog beraliran Freud, mengeluarkan pernyataan fantastis bahwa Joan adalah remaja yang sukses direkayasa dengan baik dan kasusnya dianggap menyudahi semua spekulasi terdahulu: peran gender dapat dibangun lewat pendekatan sosial.

Kenyataan sesungguhnya baru terungkap pada 1997 ketika keberadaan Joan dilacak kembali. Kontras dengan pernyataan Money, Joan menuturkan bahwa di masa kanak-kanak dia sangat tidak bahagia. Dia selalu ingin memakai celana panjang, bercampur dengan anak laki-laki, dan buang air kecil sambil berdiri. Saat berumur 14 tahun, dia mengetahui kejadian yang sesungguhnya dan itu justru membuatnya lega. Dia pun menghentikan terapi hormon, mengubah kembali namanya menjadi John, kembali menjalani hidup sebagai laki-laki, menjalani operasi pengangkatan payudara, dan pada usia 25 tahun menikahi seorang janda serta mengadopsi anak.

John kini menjadi bukti telak yang berbalik 180 derajat dari penyataan Money sebelumnya: yang berperan dalam penentuan gender adalah faktor bawaan, bukan rekayasa sosial. Bukti makin diperkuat dengan sejumlah penelitian di bidang neurologi dan genetika yang senantiasa mengarah pada kesimpulan serupa.

Sains dan Keadilan Gender

Jika gejala tersebut demikian universal―melitasi bermacam kebudayaan, kelas, etnis, agama, sejarah, dan jenjang usia―mengapa perbedaan gender masih saja dikatakan sebagai hasil konstruksi sosial? Padahal, sains telah menunjukkan dan menjelaskan mengapa semua perbedaan itu bisa terjadi. Perbedaan gender adalah karakter yang tak terpisahkan dari spesies manusia. Karakter itu telah mengantarkan kita melewati bermacam bentuk seleksi alam yang senantiasa ada dan berubah.

Yang keliru bukan perbedaan gender, melainkan ketidakadilan. Ketidakadilan itulah yang harus diperangi, bukan sains. Pemahaman ilmiah sudah seharusnya diterima. Sains memang tak bisa mendikte norma dan tujuan yang harus kita sasar, tapi sains dapat membantu kita mencapai tujuan itu. Pemahaman keilmuan soal bagaimana psikologis laki-laki dan perempuan bisa demikian berbeda bisa menolong kita untuk memikirkan kebijakan yang adil untuk kedua belah pihak.
Share on Facebook!Share on Twitter!Reddit

Articles dalam « Biologi »

Tanggapan: * 16

  1) Re: Memahami Sains, Memahami Gender
Comment by great_sage pada November 13, 2008, 07:52:58 PM

trus gimana dengan kaum waria dunk ? apa yang membuat mereka berlaku selayaknya wanita ? kalau benar keadaan biologis sangat berpengaruh pada psikologis maka gak ada alasan waria yang dilahirkan sebagai laki -laki utuh dalam perjalannya mengambil keputusan mengganti kelaminnya. kayaknya butuh penelitian lebih dalam dech 
  2) Re: Memahami Sains, Memahami Gender
Comment by rizkayunita pada November 20, 2008, 09:31:23 AM

teruz kalo banci gimana tuh???
  3) Re: Memahami Sains, Memahami Gender
Comment by Lunaris pada November 30, 2008, 01:04:57 PM

Karena kebenaran sains itu belum bisa diterima oleh semua orang. Coba bayangkan teori sains yang bisa menjelaskan tetang mengapa kaum homoseksual bisa muncul. Kaum agamawan bisa menerima?
4) Re: Memahami Sains, Memahami Gender
Comment by AmramRede pada Januari 23, 2009, 11:46:45 PM

Bung Inal saya baru bergabung di Forum ini. And saya sulit memahami tulisan anda. Boleh tidak aku dikirimkan teks aslinya (bukan terjemahan).
Tapi sedikit masukan, (kalau tidak keliru or salah alamat) bahwa, manusia diciptakan komplit dengan akalnya yang digunakan untuk menata kehidupan agar tetap eksis diplanet ini. Untuk tetap eksis dibutuhkan aturan-aturan, termasuk didalamnya posisi-posis gender (pantas dan tidak pantas) dalam berinteraksi dengan alam. Jadi sangat perlu membangun konstruksi sosial, dan bukan konstruksi hukum rimba
5) Re: Memahami Sains, Memahami Gender
Comment by INAL pada Februari 02, 2009, 09:01:29 PM

Akal dan aturan untuk tetap eksis, itu betul. Tapi tidak semua perilaku kita ditentukan oleh itu. Manusia punya naluri, punya kecenderungan. Kita lahir bukan seperti tabula rasa, dan bukan pula langsung tahu segalanya. Ada sekitar, taruhnya 50 persen, cetak biru pengetahuan yang kita bawa sejak lahir. Cetak biru itu ada dalam genom. Dan kecenderungan naluri kita ada di dalamnya. Nah, dalam konteks tulisan saya, kecenderungan gender adalah kecenderungan bawaan alias berasal dari naluri, bukan dari konstruksi sosial (yah, walaupun mungkin ada beberapa kasus khusus). Dan karena komposisi genom laki-laki dan perempuan berbeda (maksudnya yang di sel kelamin), maka naluri yang dimiliki keduanya otomatis berbeda.
6) Re: Memahami Sains, Memahami Gender
Comment by AmramRede pada Februari 16, 2009, 02:31:38 PM

Memahami Sains, Memahami Gender oleh AmramRede pada Hari ini at 06:28:14
Ya benar bung Inal, bahwa naluri manusia ditentukan 50 dari genom. Salahsatu naluri (instink) adalah perilaku seks. Nah, kalau perilaku ini tidak dikonstruksi di masyarakat, apa jadinya budaya kita? And kata naluri saya, masih pengen nambah istri   he... he... he... he...  Tapi diluar sana ada konstruksi sosial
7) Re: Memahami Sains, Memahami Gender
Comment by INAL pada Februari 17, 2009, 04:00:31 PM

Sepakat. Tapi kayaknya yang AmramRede maksud bukan konstruksi sosial, tapi norma sosial. Hehehe.
8) Re: Memahami Sains, Memahami Gender
Comment by AmramRede pada Februari 19, 2009, 12:47:14 AM

Ya benar Bung Inal. Saya mungkin salah menterjemahkan. Tapi kalau tidak repot bisa ngak definisi operasional ke 2 istilah itu?
9) Re: Memahami Sains, Memahami Gender
Comment by INAL pada Februari 20, 2009, 12:09:25 PM

Maksudnya?
  10) Re: Memahami Sains, Memahami Gender
Comment by iid weasley pada Maret 06, 2009, 07:31:05 AM

Hai semua,salam kenal.Ini pertama kalinya saya ikut di forum ini karena diberitahu oleh seorang dosen di forum ini yaitu nandaz. Saya sangat tertarik dengan topik ini. Sebagai seorang saintis, saya sangat mengerti dan sabgat setuju dengan topik di atas. Dalam biokogi, antara laki-laki dan perempuan itu jelas berbeda baik dari segi anatomi maupun fisiologinya. Sebagaimana pun para perempuan menghendaki persamaan gender terhadap laki-laki, hal itu secara ilmiah tidaklah mungkin. Namun yang di perjuangkan oleh ibu kartini adalah ketidakadilan, dimana perempuan menjadi seorang yang semestinya dan tidak dapat disamakan dengan laki-laki.
Salam kenal semua...
11) Re: Memahami Sains, Memahami Gender
Comment by AmramRede pada Maret 27, 2009, 03:07:35 AM

Bung iid. Salam kenal juga. Untuk itu mari kita aktifkan forum ini melalui posting yang continew. Bung iid! semua orang tau batasan laki n perempuan (postulat). And sebagian kecil yang tau, kalau semua kelompok humanity selalu berjuang untuk eksis, sukses n tampil beda, ya seperti Kartini.
Yang menarik didiskusikan adalah substansi artikel diatas, tentang gender (konstruksi alamiah#biologi ves konstruksi sosial).
12) Re: Memahami Sains, Memahami Gender
Comment by cignus pada April 25, 2009, 04:49:31 AM

yap setuju sekali, adil itu bukan sama rata tapi menempatkan sesuatu pada tempatnya, klo ikan qta taro didarat ya mati laah, menghormati anak kecil tidak seperti menghormati orang dewasa, dan menghormati nabi tidak seperti menghormati tuhan. kebanyakan orang salah kaprah tentang keadilan, malah menggunakan sains untuk mendukung pendapatnya. kya masalah homo dulu dianggap penyakit spikologi tapi sekarang udah nggak (mungkin udah banyak persatuan homo yg menolak trus kebenaran menjadi apa yg dianggap orang banyak benar), mereka bilang klo homo dibawa oleh gen XQ 28 (masi dalam penelitian) oleh karena itu homo/banci/kecintaan sesama jenis udah bawaan alamiah yg gak perlu diobati
Tapi klo menurutku sesuatu yg melanggar keseimbangan adalah sebuah kesalahan yg harus diperbaiki, klo semua orang lahir sempurna ya jadi nabi semua, ketidak sempurnaan ada bertujuan agar qta belajar (bahkan nabipun belajar), karena takdir qta adalah belajar. jadi kesimpulannya untuk meyikapi ilmu/sains qta butuh kearifan seperti kata einstein ILMU ITU BUTA.
13) Re: Memahami Sains, Memahami Gender
Comment by ojan pada April 26, 2009, 10:21:17 AM

kalau sains menjelaskan bahwa secara psikologis laki-laki cenderung berkompetisi dan perempuan cenderung fokus memelihara keturunan, bisakah sains menjelaskan kenapa perempuan sekarang secara psikologis sangat berambisi (galak) untuk melawan laki-laki?
  14) Re: Memahami Sains, Memahami Gender
Comment by Ainun pada Mei 04, 2009, 11:53:09 PM

dalam kodrat wanita tidak bisa disamakan dengan laki- laki, karena dilihat dari segi biologis sudah sangat jelas apa lagi psikologisnya. skrg kita lihat pekerjaan seorang wanita dan laki -laki sehari semalam, apa yang dilakukan wanita? al; bangun pagi menanak nasi sambil menggendong anak dan seterusnya, sedang laki2 pagi hanya santai,baca koran kemudian berangkat kerja. klau kita lihat pekaerjaan perempuan lebih banyak dari pada pekerjaan laki2. maka dari itu seorang wanita harus bangga dan mampu menyelesaikan pekerjaan rumah tangga dl satu waktu n kebahagian anak berada di seorang wanita(IBU)
  15) Re: Memahami Sains, Memahami Gender
Comment by arydhamayanti pada Februari 13, 2010, 02:42:18 AM

menurut anda sekalian, apakah perilaku homoseksual itu ada hubungannya dengan mutasi? homoseksual kan dulu (berjuta2 tahun yang lalu maksudnya) mungkin tidak ada, lalu kemudian ada dan jumlahnya semakin banyak. apa ini ada hubungannya dengan perubahan alam? misalnya polusi, perubahan iklim, dll yang mempengaruhi gen dan menyebabkan perubahan perilaku?
  16) Re: Memahami Sains, Memahami Gender
Comment by wiyono pada Mei 18, 2010, 11:02:42 PM

Bersyukurlah pada Tuhan yang telah menciptakan laki-laki dan perempuan. Betapa jika didunia ini hanya laki-laki saja atau perempuan saja, tentu dunia tak akan bertahan lama. Bagaikan kelengkapan peralatan ada yang kurang. Perbedaan ini bukan dikotomi, tetapi kelengkapan fungsi. Secara umum dan alami laki dan perempuan menjalankan fungsi yang berbeda agar roda kehidupan di bumi ini harmonis dan seimbang. Jika ada job yang disalah gunakan akan mengalami kerusakan di muka bumi. Banyak manusia yang merasa membangun bumi dengan "menyebrang" gender, padahal mereka membuat kerusakan di muka bumi. Semoga dengan penemuan ilmiah dan wawasan yang benar bisa menyadarkan manusia yang menyebarang/ menyimpang jalan.
Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan tanggapan.