Member baru? Bingung? Perlu bantuan? Silakan baca panduan singkat untuk ikut berdiskusi.

Selamat datang, Pengunjung. Silahkan masuk atau mendaftar. Apakah anda lupa aktivasi email?

Oktober 29, 2020, 08:57:48 AM

Masuk dengan nama pengguna, kata sandi dan lama sesi

Topik Baru

Artikel Sains

Anggota
Stats
  • Total Tulisan: 139606
  • Total Topik: 10375
  • Online Today: 48
  • Online Ever: 441
  • (Desember 18, 2011, 12:48:51 AM)
Pengguna Online
Users: 0
Guests: 37
Total: 37

Ikuti ForSa

ForSa on FB ForSa on Twitter

Majelis Ulama Indonesia baru-baru ini mengeluarkan fatwa penting mengenai haramnya merokok. Fatwa ini menimbulkan kontroversi banyak pihak, satu sisi mendukung tentang haramnya rokok dari sisi medis, sedangkan yang di seberang menolak karena memandangnya bahwa fatwa tersebut belum urgent dan bisa mengancam industri rokok yag ada di daerah dan tentu berpotensi menambah pengangguran terbuka yang ada di Indonesia.

Lain hal, LBM NU Jateng dan PCNU Jepara pada 1 September 2007. Mubahatsah atau pembahasan yang diikuti sekitar 100 kiai dari wilayah Jateng memutuskan bahwa PLTN Muria hukumnya haram, mengingat dampak negatifnya lebih besar daripada dampak positifnya.

Lalu apa hubungan antara rokok dengan PLTN diatas? Keduanya difatwakan haram oleh ulama, meskipun masih mengundang kontroversi. Terlepas dari fatwa para ulama tersebut, sekarang kita akan membandingkan tingkat bahaya antara rokok dengan PLTN dilihat dari radioaktifitasnya.

Jika kita merujuk data dari US Departmen of Health, Division of Radiation Protection yang dikeluarkan tahun 2002, sinar kosmis menghasilkan dosis 26 mrem/tahun. Radioisotop di permukaan bumi mengandung 29 mrem/tahun. Gas Radon di Atmosfer mengambil kontribusi sebesar 200mrem/tahun. Dalam tubuh manusia pun memancarkan radiasi (dari Karbon - 14 dan Kalium - 40 ) sebesar 40 mrem/tahun. Sinar X untuk diagnosa kesehatan memberikan andil 39 mrem/tahun. Sedangkan aktivitas kedokteran nuklir lainnya memberikan 14mrem/tahun. Instrumen elektronik seperti TV, komputer memberikan 11 mrem/tahun. Dan sisa ledakan nuklir (fall out), reaktor nuklir, pesawat terbang memberikan 1 mrem/tahun. Sehingga total dosis yang diterima tiap manusia di AS secara rata-rata adalah 361 person mrem/tahun atau 0,3 person rem/tahun (1 rem = 1.000 mrem). Hal ini dipenuhi dengan syarat yang bersangkutan tidak merokok.

Sebagai catatan, PLTN dengan daya 1.000 MWatt menghasilkan dosis radiasi mencapai 4,8 person rem/tahun. Namun pemerintah AS membatasi agar pekerja PLTN dan sektor nuklir lainnya hanya menerima dosis maksimum sebesar 100 person mrem/tahun saja. Sementara dalam PLTU dengan daya 1.000 MWatt dengan tingkat radiasi 100 kali lebih besar (yakni 490 person rem/tahun), belum ditemui ada kebijakan yang sama.

Sedangkan untuk rokok ternyata diketahui mengandung Radioisotop Polonium-210. Ini akan menambahkan dosis ekivalen sebesar 29,1 person rem/tahun untuk manusia perokok. Dan akan didapatkan dalam jaringan epitel paru-parunya dosis sebesar 6,6 - 40 person rem/tahun. Sementara pada bronchiolus-nya sebesar 1,5 person rem/tahun.

Rokok ternyata tidak hanya mengandung polonium (210Po) namun juga timbal (210Pb), yang keduanya termasuk dalam kelompok radionuklida dengan toksik sangat tinggi. Po-210 adalah pemancar radiasi- α, sedangkan Pb-210 adalah pemancar radiasi-ß. Kedua jenis radiasi tersebut, terutama radiasi- α berpotensi untuk menimbulkan kerusakan sel tubuh apabila terhisap atau tertelan. Kejadian kanker paru pada perokok pun belakangan ditengarai lebih disebabkan oleh radiasi-α & bukan diakibatkan karena tar dalam tembakau.

Lalu, bagaimana bisa 210Po & 210Pb bisa sampai di rokok? Ternyata tanah, sebagai tempat tumbuh tanaman tembakau- bahan utama rokok, mengandung radium (226Ra). Radium ini adalah atom induk yang nantinya dapat meluruh dan dua di antara sekian banyak unsur luruhannya adalah 210Po & 210Pb. Melalui akar, 210Po & 210Pb pun terserap oleh tanaman tembakau. Hal ini bisa diperparah dengan penggunaan pupuk fosfat yang mengandung kedua unsur tersebut. Tentu saja ini menambah konsentrasi 210Po & 210Pb dalam tembakau.

Mekanisme lain dan yang utama, adalah lewat daun. Po-210 & Pb-210 terendapkan pada permukaan daun tembakau sebagai hasil luruh dari gas radon (222Rn) yang berasal dari kerak bumi & lolos ke atmosfer. Daun tembakau memiliki kemampuan tinggi untuk menahan & kemudian mengakumulasi 210Po & 210Pb karena adanya bulu-bulu tipis ~yang disebut trichomes~ di ujung-ujungnya.

Meski aktivitasnya cukup rendah (3 - 5 mili Becquerel/batang) - dibandingkan dengan ambang batas dosis mematikan Polonium-210 untuk manusia berbobot 80 kg yakni sebesar 148 juta Becquerel (4 mili Curie). Namun aktivitas merokok membuat Polonium-210 terhirup dan terdepositkan ke dalam paru-paru tanpa bisa diekskresikan secara langsung oleh tubuh mengingat sifatnya sebagai logam berat dan memiliki sifat kimiawi mirip Oksigen sehingga tidak bisa diikat oleh CO2 maupun ion HCO3- (kecuali ada perlakuan khusus dengan meminum pil EDTA misalnya, itupun diragukan apa bisa melakukan Polonium removal di paru-paru).

Jika diasumsikan perokok yang bersangkutan mengkonsumsi rata-rata 2 bungkus rokok/hari selama lima tahun tanpa terputus, akumulasi Polonium-210 nya sudah cukup mampu menghasilkan perubahan abnormal pada alvoeli. Dan jika konsumsi terus berlanjut tanpa terputus, maka dalam masa 10 - 15 tahun sejak awal menjadi perokok, perokok yang bersangkutan sudah sangat berpotensi menderita kanker paru-paru, seperti nampak pada penelitian di Brazil (berdasarkan tembakau setempat). Jika konsumsi dikurangi menjadi 1 bungkus rokok/hari tanpa terputus, maka baru dalam 25 - 30 tahun kemudian potensi menderita kanker paru-paru mulai muncul.

Jadi jika pekerja sektor nuklir mendapatkan radiasi 100 person mrem/tahun. Mereka yang bekerja di PLTU dan mereka yang merokok menerima paparan radiasi berkali-kali lipat lebih besar. Jadi wajar saja jika banyak mereka yang mati karena radiasi akibat rokok atau PLTU dibanding para pekerja dalam sektor nuklir.

Dan jika kita ingin lebih ekstrim lagi, sebenarnya para warga Semenanjung Muria (Kudus -Pati - Jepara), dimana disana banyak terdapat industri rokok dan juga beberapa PLTU, sebenarnya sudah menkonsumsi radiasi jauh-jauh hari bahkan sebelum PLTN dibangun.

Dari Berbagai Sumber

Tedy Tri Saputro
Mahasiswa Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir - BATAN
Share on Facebook!Share on Twitter!Reddit

Articles dalam « Fisika »

Tanggapan: * 17

  1) Re: PLTN Vs. Rokok
Comment by paradoks pada Juli 31, 2010, 02:44:04 AM

Nice post ..... memang masyarakat Indonesia alergi Nuklir akut
Padahal informasi mereka dapat dari TV (yang tidak berimbang penyiaranya)
  2) Re: PLTN Vs. Rokok
Comment by peregrin pada Juli 31, 2010, 07:49:12 AM

Bagus sekali informasinya. Bahaya polonium dan timbal dalam rokok sebenarnya sudah diketahui sejak th 60-an. Begitu juga dg radiasi PLTU. Banyak sekali artikel ttg hal ini di jurnal terkenal spt Science. Bbrp dr referensi tsb saya tambahkan utk artikel ini:

= Kelley TF (1965). "Polonium 210 content of mainstream cigarette smoke". Science 149: 537.
= Holtzman RB, Ilcewicz FH (1966). "Lead-210 and Polonium-210 in Tissues of Cigarette Smokers". Science 153: 1259
= Tso TC, et al (1966). "Source of Lead-210 and Polonium-210 in Tobacco". Science 153: 880
= Muggli ME, et al (2008). "Waking a Sleeping Giant: The Tobacco Industry’s Response to the Polonium-210 Issue". American Journal of Public Health 98 (9): 1643.
= McBride JP, et al (1978). "Radiological Impact of Airborne Effluents of Coal and Nuclear Plants". Science 202: 104

Sayangnya hasil2 studi tsb sering sengaja diabaikan oleh banyak orang...
  3) Re: PLTN Vs. Rokok
Comment by jn500091 pada Juli 31, 2010, 03:07:37 PM

hal itu mungkin sekarang pola masyarakat sudah berubah, abaian masyarakat terhadap hal itu, mungkin karena hal itu sepele, dan mnrut saya sebanyak apapun itu pnelitian dan pembuatan jurnal, tanpa adanya SDM yang masih rendah mungkn proses pemahaman terhadap msyarakat akan hal itu, kurang efektif dan efisien, dan dapat dianggap pnelitian itu terlalu bertele-tele, karena masyarakat skrag lebih pada proses bgaimana menyelesaikan masalah, dan buktinya memang nyata.bukan sekedar teori belaka yang masih butuh penalaran penuh dan mendalam bagi masyarakat.
  4) Re: PLTN Vs. Rokok
Comment by Satu-Satui pada Agustus 10, 2010, 12:33:30 AM

Serba salah saja....
  5) Re: PLTN Vs. Rokok
Comment by ledlauzis pada Agustus 20, 2010, 07:57:04 AM

Nice post. Memang masyarakat Indonesia alergi Nuklir akut
  6) Re: PLTN Vs. Rokok
Comment by ryandaenggar pada September 16, 2010, 01:53:35 PM

Wah Trimakasih banyak mas Informasinya....

Info ini sekaligus bisa merubah paradigma masyarakat ttg bahaya merokok dan ttg pnyebab utama kanker paru2 :)

Skali lagi Terimakasih Mas :D
  7) Re: PLTN Vs. Rokok
Comment by deathspeel omega pada September 23, 2010, 04:27:30 PM

serem haha
aku perokok mungkin bisa menghabiskan 2 bungkus perhari jd ingin mengurangi ich XD
  8) Re: PLTN Vs. Rokok
Comment by tresno pada Oktober 31, 2010, 05:16:11 AM

Jika Polonium -210 sudah mulai ditengarai sebagai penyebab kanker paru2 daripada tar dalam rokok, lantas bgmana dengan kandungan Polonium yang terserap berbagai macam sayuran yang kita konsumsi?

wah ngeri juga kalo ngerti tentang radioaktip
9) Re: PLTN Vs. Rokok
Comment by  pada November 29, 2010, 06:09:11 AM

Wah, info yang menarik.. saya nggak bisa komentar banyak, karena saya ga begitu paham tentang nuklir dan raidioaktivitas..
  10) Re: PLTN Vs. Rokok
Comment by nate river pada November 29, 2010, 10:12:47 AM

Artikel yang sangat bagus! Saya salut sekali! Artikel ini setidaknya bisa mengubah pandangan masyarakat tentang PLTN. Saya sih setuju2 saja dengan PLTN, asalkan para pekerjanya super disiplin, profesional, terlatih dan tidak teledor, terus segi financial mencukupi (so alat2nya bisa dapat perawatan yg layak).
Kalau tahu gitu,harusnya PLTU juga haram donk…hehehe
Ngeri juga baca artikel tadi…..kalau tanah mengandung Po-210 dan Pb-210, lantas gimana dengan sayuran dan buah yang kita santap sehari-hari????
Terus,,,belum lagi soal gas radon yg dilepas kerak bumi ke udara. Lantas gimana nasib udara yg kita hirup???? Apakah Gas Radon bisa berikatan dengan O2??? Apakah Po-210&Pb-210 bisa terhirup oleh manusia lewat O2????Berbahayakah??? 
Awww! dunia dipenuhi radiasiiii!!! >,<
  11) Re: PLTN Vs. Rokok
Comment by Arifin I pada Desember 01, 2010, 01:28:08 AM

BETUL... :)
  12) Re: PLTN Vs. Rokok
Comment by Ananta-san pada Desember 09, 2010, 10:41:15 AM

Info bagus mas..
buat nambah-nambah pengetahuan..
hhe..
  13) Re: PLTN Vs. Rokok
Comment by Ido Setiadi pada Desember 21, 2010, 01:56:30 AM

PLTN Indonesia harus tetap dibangun, tidak di Semenanjung Muria (Kudus -Pati - Jepara).
di BABEL harus jadi.
Nuclear untuk kemaslahatan umat.
Indonesia BISA lebih maju dengan punya PLTN
Generasi Tek. Elektro Indonesia mari kita buka mata para makhluk Allah yang belum menyadari bahwa
Nuclear bisa merubah Indonesia ini agar tidak lagi menjadi penghalang bagi berdirinya PLTN Indonesia
Go Nuclear
  14) Re: PLTN Vs. Rokok
Comment by Ben Sharon pada Desember 23, 2010, 11:53:40 PM

Wow... Mantap banget ya para perokok. Lebih ekstrem dari pada pekerja pengawas radiasi di reaktor nuklir. =) Nuklir untuk kemaslahatan dunia!!! =)
  15) Re: PLTN Vs. Rokok
Comment by altair pada Januari 02, 2011, 08:12:30 AM

kalo untuk pltn ya engga haram juga kali, namanya juga ikhtiar manusia untuk mensejahterakan kehidupannya. tujuannya kan baik. Kalo misalnya mampu kenapa engga? tapi saya setuju Indonesia jangan dulu bikin PLTN, soalnya belum mampu secara teknis dan nonteknis (para "tikus" masih berkeliaran). nanti aja mending nunggu reaktor fusi berhasil disempurnakan!
  16) Re: PLTN Vs. Rokok
Comment by bert erick pada Januari 13, 2011, 02:13:29 AM


PLTN mengatasi krisis listrik....
Rokok menguragi pengangguran...
  17) Re: PLTN Vs. Rokok
Comment by khairus saman pada Januari 15, 2011, 08:08:51 PM

segala keputusan yang dikeluarkan pasti ada penyebabnya, kebijakan yang dikeluarkan oleh MUI tidak bisa kita salahkankan dan tidak bisa kita juga benarkan karena kebenaran hanya milik tuhan. dampak yang ditimbulkan oleh rokok dan nuklir seperti yang kita ketahui sama-sama memiliki mudarat, tapi ada juga manfaatnya. mudah-mudahan kebijakan yang telah dikeluarkan oleh MUI tersebut dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah dan sesuai dengan konsep agama. setahu saya rokok dari zaman nabi muhammad gak pernah di haramkan. kok bisa di zaman sekarang rokok bisa jadi haram. begitupun dengan nuklir, apabila di pergunakan dengan semestinya kenapa harus dilarang. toh juga untuk kepentingan rakyat. tentunya setiap manusia di muka bumi ini sepakat menentang penggunaan nuklir untuk kepentingan militer karena tujuannya jelas untuk menghancurkan. intinya, kadang apa yang kita pikirkan tidak selamanya sesuai dengan realitas yang terjadi di masyarakat.
Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan tanggapan.