Selamat datang di ForSa! Forum diskusi seputar sains, teknologi dan pendidikan Indonesia.

Welcome to Forum Sains Indonesia. Please login or sign up.

Februari 23, 2024, 05:26:38 PM

Login with username, password and session length

Topik Baru

Artikel Sains

Anggota
Stats
  • Total Tulisan: 139,653
  • Total Topik: 10,405
  • Online today: 136
  • Online ever: 1,582
  • (Desember 22, 2022, 06:39:12 AM)
Pengguna Online
Users: 0
Guests: 32
Total: 32

Aku Cinta ForSa

ForSa on FB ForSa on Twitter

Tantangan Perguruan Tinggi

<div style="text-align: justify;">Di era globalisasi ini, tawuran antar mahasiswa sering terjadi. Padahal, akar masalah hanyalah sepele. Namun akibat yang ditimbulkannya luar biasa parah. Korban pun berjatuhan, baik dari pihak mahasiswa sendiri maupun pihak lain yang akan melerai. Banyak yang menuduh ini ulah provokator. Tawuran menjadi <span style="font-style: italic;">tip of iceberg</span> dari krisis yang dihadapi mahasiswa dan bahkan perguruan tinggi--disebut PT&mdash;pada umumnya. Krisis-krisis yang dihadapi perguruan tinggi&mdash;mahasiswa salah satunya&mdash;jelas bukan menyangkut kinerja PT dalam hal kualitas akademik lulusannya, tetapi juga dalam hal mentalitas, moral, dan karakter. Dalam krisis mentalitas dam moral mahasiswa, terdapat beberapa masalah pokok yang turut menjadi akar krisis mentalitas dan moral di lingkungan PT (cf Djohar, 1999; Navis, 1999).<br /> <br /> <ul> <li>Pertama, arah pendidikan telah kehilangan obyektivitasnya. PT tidak lagi merupakan tempat peserta didik melatih diri untuk berbuat sesuatu berdasarkan nilai-nilai moral dan akhlak, di mana mereka mendapat koreksi tentang tinadakan-tindakannya; salah atau benar; baik atau buruk.</li> </ul> <ul> <li>Kedua, proses pendewasaan diri tidak berlangsung baik di lingkungan PT. Lembaga pendidikan ini cenderung lupa pada fungsinya untuk turut mendewasakan mahasiswa; mempersiapkan mereka untuk meningkatkan kemampuan meresponi dan memecahkan masalah-masalah dirinya sendiri maupun orang lain.</li> </ul> <ul> <li>Ketiga, proses di PT sangat membelenggu mahasiswa dan bahkan dosen. Hal ini karena formalisme PT dan beban kurikulum yang sangat berat (overloaded). Akibatnya, hampir tidak tersisa lagi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan imajinasi dan kreativitas intelektualnya. Lebih parah lagi, interaksi akademis yang berlangsung hampir kehilangan human dan personal touch-nya.</li> </ul> <ul> <li>Keempat, kalaupun ada materi yang menumbuhkan rasa afeksi&mdash;seperti matakulia agama&mdash;itu umumnya disampaikan dalam bentuk verbalisme yang juga disertai dengan rote-memorizing. Matakuliah agama cenderung hanya untuk sekadar diketahui dan dihafalkan agar lulus ujian, tetapi tidak untuk diinternalisasikan dan dipraktikkan. Krisis mentalitas dan moral mahasiswa, bagaimanapun juga merupakan cermin dari krisis mentaliats dan moral dalam masyarakat lebih luas. Oleh karena itu, upaya mengatasi krisis tidak memadai jika dilakukan hanya di lingkungan PT, tetapi juga dalam keluarga dan lingkungan lainnya.</li> </ul> <br /> Dalam deklarasi &ldquo;World Conference on Higher Education &ldquo; (UNESCO, Paris, 5-9 Oktober 1998) menyangkut misi dan fungsi utuk membantu melindungi dan memperkuat nilai-nilai yang membentuk dasar kewarganegaraan demokratis, dan dengan memberikan perspektif kritis dan membantu dalam pembahasan tentang pilihan-pilihan strategis serta pengamatan perspektif humanistik. Menurut deklarasi, lembaga-lembaga pendidikan tinggi, personal PT dan para mahasiswa, haruslah menjaga dan mengembangkan fungsi-fungsi krusial mereka dengan pelaksanaan etika; budaya, dan sosial secara independen sepenuhnya dan sadar betul tentang tanggung jawab mereka.<br /> <br /> Pendidikan setidaknya mampu mengembangkan lima bentuk kecerdasan, yaitu kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan praktikal, kecerdasan sosial, dan kecerdasan spiritual dan moral. Kelima bentuk kecerdasan ini harus dikembangkan secara simultan. Jika berhasil dilakukakn dengan baik, akan menghasilkan mahasiswa dan lulusan yang bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga cerdas dalam hal lain. Di sinilah terletak penekanan utama proses pendidikan, seperti yang dikemukakan Deklarasi UNESCO dan paradigma baru pendidikan nasional, bahwa pendidikan harus berpusat pada peserta didik.<br /> <br /> Penulis :<br /> Yurna Sekti Hendrasari<br /> Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia<br /> Fakultas Bahasa dan Seni<br /> UNY</div>

Share on Facebook!Share on Twitter!Reddit

Comments: 5 *

1) Re: Tantangan Perguruan Tinggi
Comment by fsadewo pada Agustus 14, 2008, 06:07:39 AM

Persoalannye sederhana sekali. Kurikulum kita mulai dari TK hingga PT tidak mendidik anak mengembangkan diri sesuai kemampuan dan bakatnya? Sekolah menjadi tidak menyenangkan. Coba bayangkan anak SD harus berjalan bongkok karena membawa buku adubilah beratnya.....
Jam pelajaran dan metode pengajaran tidak fun..... Mau ngembangkan sendiri kebentur namanye Ujian Nasional....
Anak-anak di negeri Eropa, Jepang dan AS sangat happy dech kalo sekolah...... anak-anak kita sangat happy kalo libur.... Mahasiswa happy kalo dosennya tidak masuk..... Akibatnya kalo ada gesekan langsung dech panasan.... Panase srengenge akeh sing nyonggo, panase ati sopo sing kuat (panas matahari semua menanggung, panas hati siapa yang kuat)...................... Tuh menteri diknasnya kapan2 suruh ngerjain soal unas, paling2 mati ko dech.... suruh ngajar di SD, SMP en SMA....
2) Re: Tantangan Perguruan Tinggi
Comment by heriwidanarko_kamandaka pada September 01, 2008, 09:33:28 PM

wach..rubriknya boleh juga nich...sdikit pngalaman saya dilapangan ktika terjadi tawuran mahasiswa atau masa yg selalu beralasan dngan pokok2 masalah yg sedang terjadi....sbnarnya penudingan plaku adalah provokator itu hal yg gampang untuk mnunjuknya tapi provokatornya yg mana :) nach ini sdikit ksimpulan kecil...ktika pemimpin dalam sbuah wilayah yg berjanji untuk memakmurkan wilayahnya dia nantinya entah 2 atau 5 tahun kedpan bilamana peryataan tersebut dalam wktu 1 hingga bertahap mnuju 5 tahun tidak terbukti janjinya maka dengan adanya kjadian2 tawuran tersebut maka akan membawa nama baik pemimpin wilayah untuk jatuh lengser dari kursinya ..trik krusuhan seperti ini sebenarnya tergolong sebuah trik klasik...biasanya provokator kjadian itu adalah orang yg merasa kecewa dan berkuasa pnuh untuk mnaikan memilih atau mnurunkan orang yg ktika dipercaya dngan memberikan kekuasaan kdudukan yg diberikan yg ternyata gagal...contoh terjadi demo oleh para karyawan dari pt. A dirutnya adalah x2 dirut X2 bisa mnjadi dirut dipilih oleh dewan comisaris X1 ..ktika X1 mrasa kcewa dngan X2 maka X1 akan kasih printah ke X3 sbagai bawahan X2 untuk berikan printah kpada karyawan lapangan1( karyawan yg tidak terkenal akrab diumum & skitarnya  ) sbagai plaksana pncari masa.maka karyawan 2 disetel dan diperintah oleh karyawan lapangan1 untuk mnyebarkan isu buruk.X1 juga mnyiapkan orang yg nanti nya akan mnangkap karyawan 2 .karyawan 2 hnya tahu dia diperintah oleh karyawan lapangan 1.tapi karna karyawan 2 tidak tahu siapa karyawan lapangan 1 maka bilamana tertangkap kasusnya akan tetap buntu bgitu saja....yg sebenarnya otak dari smua adalah X1  ......hal sperti itulah yg slalu terjadi dinegara kita...bgitu juga dilingkungan mahasiswa....
3) Re: Tantangan Perguruan Tinggi
Comment by mars_acad pada September 07, 2008, 09:28:31 AM

WADUHHHH

JANGAN AMPE DONG
KITA MAHASISWA HARUS BERGERAK N MAJU
KITA masyarakat yang intelek tual dan kita harus bisa memecahkan masalah ini dengan cara intelektual.

Hidup mahasiswa
4) Re: Tantangan Perguruan Tinggi
Comment by ewhynk pada Januari 17, 2009, 12:44:47 AM

tantangan terbaru dunia pendidikan adalah produk kapitalis yang di kenal dengan BHP..
real komersialisasi pendidikan, masyarakat miskin tidak lagi alkan mampu mengeyam pendidikan tinggi. jadi hanya ada satu sikap : TOLAK BHP
5) Re: Tantangan Perguruan Tinggi
Comment by BejoKampungan pada Januari 13, 2011, 07:57:32 AM

Terlalu susah memang mengendalikan "emosi masal" macam tawuran yak? yang punya emosi tinggi gampang tersulut dan menyulutkannya pada yang lain...
budaya maen otot ketimbang maen otak terlalu mengakar, dikit-dikit emosi...walaupun itu dikalangan intelek macam mahasiswa (walau tidak semua begitu). apa perlu kurikulum agama (pendidikan sosial, mental, akhlaq etc) ditingkatkan lagi? saya kira sudah cukup. tinggal bagaimana meramu "penyampaiannya" agar lebih mengena ke sasaran, agar tidak membosankan seperti kata mas fsadewo.

Hidup Pendidikan Indonesia
You don't have permission to comment, or comments have been turned off for this article.

Articles dalam « SosPol »