Member baru? Bingung? Perlu bantuan? Silakan baca panduan singkat untuk ikut berdiskusi.

Selamat datang, Pengunjung. Silahkan masuk atau mendaftar. Apakah anda lupa aktivasi email?

Juni 24, 2021, 10:06:47 AM

Masuk dengan nama pengguna, kata sandi dan lama sesi

Topik Baru

Artikel Sains

Anggota
Stats
  • Total Tulisan: 139653
  • Total Topik: 10396
  • Online Today: 68
  • Online Ever: 441
  • (Desember 18, 2011, 12:48:51 AM)
Pengguna Online
Users: 0
Guests: 40
Total: 40

Ikuti ForSa

ForSa on FB ForSa on Twitter

Penulis Topik: Ini nih kisah awalnya kalender Jawa  (Dibaca 19071 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline tahunlunar

  • Siswa Baru
  • *
  • Tulisan: 3
  • IQ: 3
  • ForSa!
    • Waktu.id
Ini nih kisah awalnya kalender Jawa
« pada: Februari 24, 2019, 11:55:52 AM »
Kalender Jawa atau biasa disebut dengan Penanggalan Jawa merupakan sistem penanggalan yang dipakai oleh Kesultanan Mataram dan beragam kerajaan pecahan nya beserta yang di bawah pengaruhnya. Sistem Penanggalan ini memiliki ciri khas khusus karena memadukan sistem penanggalan Islam, sistem Penanggalan Hindu, dan sedikit penanggalan Julian yang mewujudkan bagian dari budaya Barat.

Sistem kalender Jawa memakai dua siklus hari: siklus mingguan yang terdiri dari tujuh hari, yakni Ahad sampai Sabtu dan siklus pekan pancawara yang terdiri dari lima hari pasaran. Pada tahun 1625 Masehi atau(1547 Saka), Maharaja Agung dari Mataram berusaha keras menanamkan agama Islam di pulau Jawa. Salah satu upaya nya yaitu mengganti penanggalan Saka yang berbasis pada pergeseran matahari dengan sistem kalender kamariah atau lunar yang mengusung pergeseran bulan. Uniknya, angka pada tahun Saka tetap dipakai dan diteruskan, tidak menggunakan perhitungan dari tahun Hijriyah( saat itu1035 H). Hal ini dilakukan demi asas kesinambungan, sehingga tahun saat itu yang adalah tahun 1547 Saka diteruskan menjadi tahun 1547 Jawa.

Ketentuan Sultan Agung berlaku di seluruh & wilayah Kesultanan Mataram: seluruh pulau Jawa dan Madura kecuali Banten, Batavia dan Banyuwangi (= Balambangan). Ketiga daerah terakhir ini tidak terhitung wilayah wewenang Sultan Agung. Tanah Bali dan Palembang yang mendapatkan pengaruh adat istiadat Jawa, juga tidak ikut mengambil alih kalender karya Sultan Agung ini.

Di bawah ini disajikan nama-nama bulan Jawa versi Islam. Sebagian nama bulan diambil dari Kalender Hijriyah, dengan menggunakan nama-nama Arab, namun beberapa di antaranya menggunakan nama dalam bahasa Sanskerta seperti Pasa, Sela dan nampaknya juga Sura. Sedangkan nama Apit dan Besar berasal dari bahasa Jawa dan bahasa Melayu. Nama-nama ini ialah nama bulan kamariah atau candra (lunar). Penamaan bulan sebagian ada kaitannya dengan hari-hari besar yang ada dalam bulan hijriah, seperti bulan Pasa ada hubungannya dengan ibadah puasa Ramadhan, Mulud ada hubungannya dengan Maulid Nabi pada bulan Rabi'ul Awal, dan Ruwah ada hubungannya dengan Nisfu Syaban di mana dianggap sebagai catatan amal selama satu tahun yang telah usai.

Offline sorosoro

  • Mahasiswa
  • **
  • Tulisan: 15
  • IQ: 0
  • Gender: Pria
  • ForSa!
Re:Ini nih kisah awalnya kalender Jawa
« Jawab #1 pada: Juni 13, 2021, 07:15:48 AM »
Kalender Jawa atau biasa disebut dengan Penanggalan Jawa merupakan sistem penanggalan yang dipakai oleh Kesultanan Mataram dan beragam kerajaan pecahan nya beserta yang di bawah pengaruhnya. Sistem Penanggalan ini memiliki ciri khas khusus karena memadukan sistem penanggalan Islam, sistem Penanggalan Hindu, dan sedikit penanggalan Julian yang mewujudkan bagian dari budaya Barat.

Sistem kalender Jawa memakai dua siklus hari: siklus mingguan yang terdiri dari tujuh hari, yakni Ahad sampai Sabtu dan siklus pekan pancawara yang terdiri dari lima hari pasaran. Pada tahun 1625 Masehi atau(1547 Saka), Maharaja Agung dari Mataram berusaha keras menanamkan agama Islam di pulau Jawa. Salah satu upaya nya yaitu mengganti penanggalan Saka yang berbasis pada pergeseran matahari dengan sistem kalender kamariah atau lunar yang mengusung pergeseran bulan. Uniknya, angka pada tahun Saka tetap dipakai dan diteruskan, tidak menggunakan perhitungan dari tahun Hijriyah( saat itu1035 H). Hal ini dilakukan demi asas kesinambungan, sehingga tahun saat itu yang adalah tahun 1547 Saka diteruskan menjadi tahun 1547 Jawa.

Ketentuan Sultan Agung berlaku di seluruh & wilayah Kesultanan Mataram: seluruh pulau Jawa dan Madura kecuali Banten, Batavia dan Banyuwangi (= Balambangan). Ketiga daerah terakhir ini tidak terhitung wilayah wewenang Sultan Agung. Tanah Bali dan Palembang yang mendapatkan pengaruh adat istiadat Jawa, juga tidak ikut mengambil alih kalender karya Sultan Agung ini.

Di bawah ini disajikan nama-nama bulan Jawa versi Islam. Sebagian nama bulan diambil dari Kalender Hijriyah, dengan menggunakan nama-nama Arab, namun beberapa di antaranya menggunakan nama dalam bahasa Sanskerta seperti Pasa, Sela dan nampaknya juga Sura. Sedangkan nama Apit dan Besar berasal dari bahasa Jawa dan bahasa Melayu. Nama-nama ini ialah nama bulan kamariah atau candra (lunar). Penamaan bulan sebagian ada kaitannya dengan hari-hari besar yang ada dalam bulan hijriah, seperti bulan Pasa ada hubungannya dengan ibadah puasa Ramadhan, Mulud ada hubungannya dengan Maulid Nabi pada bulan Rabi'ul Awal, dan Ruwah ada hubungannya dengan Nisfu Syaban di mana dianggap sebagai catatan amal selama satu tahun yang telah usai.

baru tahu gan saya

https://www.topkarir.com/lowongan

 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
5 Jawaban
7560 Dilihat
Tulisan terakhir Februari 18, 2009, 11:53:57 PM
oleh fluke
Harimau Jawa

Dimulai oleh biobio Biologi

9 Jawaban
7691 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 02, 2010, 03:04:51 AM
oleh biobio
0 Jawaban
3269 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 07, 2011, 08:24:37 AM
oleh Im
4 Jawaban
10603 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 28, 2016, 12:03:57 AM
oleh Monox D. I-Fly
0 Jawaban
544 Dilihat
Tulisan terakhir Februari 28, 2019, 11:53:14 AM
oleh tahunlunar