Member baru? Bingung? Perlu bantuan? Silakan baca panduan singkat untuk ikut berdiskusi.

Selamat datang, Pengunjung. Silahkan masuk atau mendaftar. Apakah anda lupa aktivasi email?

Mei 28, 2022, 03:58:23 AM

Masuk dengan nama pengguna, kata sandi dan lama sesi

Topik Baru

Artikel Sains

Anggota
Stats
  • Total Tulisan: 139630
  • Total Topik: 10387
  • Online Today: 44
  • Online Ever: 441
  • (Desember 18, 2011, 12:48:51 AM)
Pengguna Online
Users: 0
Guests: 41
Total: 41

Ikuti ForSa

ForSa on FB ForSa on Twitter

Penulis Topik: Laskar Pelangi - Berjuanglah Menggapai Asa!  (Dibaca 11120 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline biobio

  • Staff
  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 2.476
  • IQ: 221
  • Gender: Pria
  • Tjiasmanto, Wewin
Laskar Pelangi - Berjuanglah Menggapai Asa!
« pada: Mei 14, 2009, 11:32:57 AM »
Suatu sore teman saya bertanya, “Buku apa yang paling bagus?”. Pertanyaan yang amat membingungkan, tentunya. Bagus dalam hal apa dulu, bagus untuk apa? Melihatku kebingungan, ia memperjelas, “Buku apa yang akan kamu pilih bila dalam setahun kamu hanya boleh membaca buku itu?”. Wah, ini akan menjadi keputusan yang sulit sekali jika memang dalam setahun ke depan kita harus memilih sebuah buku yang boleh dibaca (terlepas dari keberadaan e-book, internet, dan media bacaan lain, tentunya). Meskipun tidak ada yang memaksa saya untuk hanya menikmati satu buku dalam setahun, pertanyaan in cukup membekas di hati saya. “Buku apa, ya?”, berulang kali kupikirkan.
Banyak buku yang sudah saya nikmati, mulai yang ecek-ecek seperti komik anak-anak, berbagai novel, sejarah dan kebudayaan, sampai jurnal sains yang berbobot, dan banyak diantaranya yang amat menarik bagi saya. Salah satunya adalah buku Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Saya bisa dikatakan “terlambat” dalam menikmati buku ini karena saya memang baru mulai membukanya ketika buku ini sudah terkenal di masyarakat, bahkan sudah mulai ramai terdengar bahwa buku ini akan diangkat ke layar lebar. Terus terang saja, awal mulanya, saya cenderung menganggap remeh buku ini. Pikir saya, apa sih yang bisa dilakukan seorang penulis baru jadi yang membuatku harus meluangkan waktu membacanya? Bukannya mendiskreditkan bangsa sendiri, namun lihatlah, nyatanya banyak karya picisan (yang bahkan dikatakan sebagai sastra pun tidak pantas), justru mendapatkan tempat di hati pembacanya dan dianggap bagus.
Namun, akhirnya saya berhasil memperoleh buku bercover merah ini di perpustakaan. Setelah membolak-balik halaman demi halaman Laskar Pelangi selama dua atau tiga hari, ternyata saya merasakan sesuatu yang beda. Ya! Ini bukan buku ngawur yang asal ketik dan asal cetak, melainkan suatu karya hebat dari seorang yang hebat pula. Gaya bahasanya sangat baik dan menarik, dan ditambah dengan luasnya cakrawala pengetahuan sang penulis, memberikan suatu bumbu tersendiri bagi karya ini.
Ceritanya berawal dari SD Muhamadiyah, sebuah sekolah kampung nun jauh di Belitong sana. Jangankan mengusahakan pendidikan yang layak, untuk “menyambung hidup” saja, sekolah ini sudah setengah mati. Untunglah mereka memiliki Bu Muslimah dan Pak Harfan yang meskipun hanya digaji beras 15 kg sebulan, tidak pernah mengeluh dalam berbagi ilmu dengan anak didiknya. Ironis, memang. Pada tahun sang penulis masuk SD, kepastian nasib SD Muhamadiyah bahkan baru didapat di detik-detik terakhir, dengan bergabungnya Harun, seorang anak cacat mental yang seharusnya disekolahkan di SLB namun terpaksa bersekolah di sekolah reguler karena keterbatasan biaya. Kondisi yang menyedihkan ini seolah semakin diperparah dengan adanya sekolah PN Timah, yakni sekolah top para pegawai pertambangan timah yang amat kontras dengan sekolah kampung itu.
   Intan tetap intan walau dalam mulut anjing. Demikian kata pepatah. Artinya kira-kira, sesuatu yang bermutu tidak akan kehilangan cemerlangnya dalam kondisi apapun. Begitu juga kondisi para anggota Laskar Pelangi. Dalam situasi yang buruk seperti itu, semangat belajar tetap ada pada para anggota Laskar Pelangi. Mereka tidak mau menyerah meskipun keadaan jelas tak pernah berpihak pada mereka. Tengoklah Lintang, sang jenius yang tiap harinya dengan senang hati mengayuh sepeda butut sejauh 80 km untuk memuaskan dahaganya akan ilmu atau sekadar menyanyikan lagu Padamu Negeri di akhir jam sekolah. Anak kuli kopra ini bahkan mampu membuktikan kecerdasannya dengan mengalahkan anak-anak sekolah PN Timah di perlombaan, membuktikan bahwa ternyata sekolah kampung mereka mampu berbuat lebih. Ada lagi Mahar, seorang pesuruh tukang parut kelapa yang memiliki bakat seni yang hebat. Meskipun dianggap aneh dan tidak logis, dia akhirnya berhasil mengangkat derajat sekolah kampung mereka dalam lomba 17 Agustus.
   Para anggota Laskar Pelangi benar-benar memiliki daya tarik yang luar biasa, sehingga hampir mustahil untuk percaya bahwa mereka benar-benar tokoh nyata yang ada di bumi nusantara ini. Kemampuan Andrea Hirata dalam mengeksplorasi tokoh-tokohnya juga terlihat dari para figuran yang memang seolah diarahkannya untuk membangun suatu setting yang amat berbeda dalam cerita ini. A Miauw, seorang pedagang dari etnis Tionghoa totok yang digambarkan sebagai lelaki tua, tidak bersahabat, berbau tidak nyaman adalah ayah dari A Ling, gadis yang menjadi idaman si penulis. Meskipun seringkali setengah hati dalam menjual kapur tulis pada sekolah kampung mereka (barangkali dianggap merepotkan), A Miauw dalam narasi Andrea Hirata digambarkan sebagai seorang Kong Hu Chu yang taat dan amat jujur dalam berniaga – suatu pelajaran bahwa selalu ada yang bisa dipetik dari seseorang, betapa buruknya orang itu.
   Pesan yang tak kalah penting juga didapat dari tokoh Flo, seorang gadis tomboy anak pegawai PN Timah yang “membelot” dari kandangnya dan malah bergabung dengan Laskar Pelangi yang notabene miskin dan kampungan. Bersama Mahar, ia mendirikan Societeit de Limpai, perhimpunan para penggemar hal ghaib yang keanggotaannya meluas (beberapa pegawai negeri dan orang yang mapan secara ekonomi dan intelektual pun ikut bergabung). Bersama Societeit de Limpai kesayangannya itu pula, Flo yang bermasalah dengan nilai rapornya nekat mengunjungi Pulau Lanun, tempat berdiamnya seorang petapa tua, Tuk Bayan Tula yang diharapkan memberikan solusi untuk menyulap nilainya menjadi sembilan dan sepuluh. Jawaban dari Tuk Bayan Tula ternyata sungguh tidak bisa ditebak. Alih-alih memberikan nilai baik sehingga namanya semakin tersohor sebagai dukung yang sakti mendraguna, ia malah menyuruh mereka “buka buku dan belajar”!
   Kekuatan dari buku Laskar Pelangi ini adalah pada pengajaran yang diberikannya, bahwa kita harus berjuang dalam keadaan apapun. Terlebih dalam pendidikan (di Indonesia) yang masih amat jauh dari kata berhasil ini, seharusnya kita terus bertekun, terus mencari ilmu tanpa lelah. Tidak ada yang tidak mungkin selama kita mau berjuang.
"The pen is mightier than the sword"

Offline nash

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 728
  • IQ: 52
  • Gender: Pria
  • i-will-always-love-math-!
Re: Laskar Pelangi - Berjuanglah Menggapai Asa!
« Jawab #1 pada: Mei 14, 2009, 12:25:48 PM »
kalo udah baca Laskar Pelangi, ayo lanjut baca Sang Pemimpi dan Edensor!
Tapi aku ga rekomendasiin bwt baca Maryamah Karpov, terlanjur kcewa soalnya
"Perhaps it is good to have a beautiful mind, but an even greater gift is to discover a beautiful heart"

(John Nash, "A Beautiful Mind")

Offline biobio

  • Staff
  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 2.476
  • IQ: 221
  • Gender: Pria
  • Tjiasmanto, Wewin
Re: Laskar Pelangi - Berjuanglah Menggapai Asa!
« Jawab #2 pada: Mei 14, 2009, 11:20:18 PM »
udah kok sang pemimpi dan edensornya...maryamah yang belum. kenapa mengecewakannya?

Offline skuler

  • Staff
  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 993
  • IQ: 109
  • Gender: Pria
  • Read! write! Revolt!
    • Read! write! Revolt!
Re: Laskar Pelangi - Berjuanglah Menggapai Asa!
« Jawab #3 pada: Mei 15, 2009, 12:15:12 AM »
slama yg jadi sutradara itu si riri riza, mending gw tunggu pelemnya aja aaahh... hehe...
"Who controls the present now controls the past. Who controls the past now controls the future.”-- RATM, 1999.

Offline nash

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 728
  • IQ: 52
  • Gender: Pria
  • i-will-always-love-math-!
Re: Laskar Pelangi - Berjuanglah Menggapai Asa!
« Jawab #4 pada: Mei 15, 2009, 12:31:59 AM »
@biobio

kalo biobio cuma suka ma gaya penceritaan andrea hirata, bolehlah baca maryamah karpov,
tapi kalo biobio penasaran ma ending kisahnya ikal ma a ling, bakal kecewa deh!

selengkapnya liat di 'biografi dan buku'

Offline insan sains

  • Moderator
  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 579
  • IQ: 68
  • Gender: Pria
  • Life is Beatiful
    • Insan Sains
Re: Laskar Pelangi - Berjuanglah Menggapai Asa!
« Jawab #5 pada: Mei 17, 2009, 08:17:38 AM »
slama yg jadi sutradara itu si riri riza, mending gw tunggu pelemnya aja aaahh... hehe...

Jaaah... nunggu mlulu sih. Udah ada tuh om. Beli sana di Gramedia.

Karena udah baca buku punya orang, jadi males belinya. Muahal...  ;D
Tinggal Maryamah Karpov, tapi berhubung ada yang kecewa, jadi tambah males buat bacanya..  :D
Menuju Indonesia sebagai THE COUNTRY MASTER OF TECHNOLOGY, 2030

Offline ryoma

  • Dosen
  • ****
  • Tulisan: 418
  • IQ: 17
  • Gender: Pria
  • i am not lucky, just a hope, calm, and happy..!
    • Jurnal Milzam
Re: Laskar Pelangi - Berjuanglah Menggapai Asa!
« Jawab #6 pada: Mei 21, 2009, 08:42:58 PM »
iya, betul tu. Sangat mengecewakan menurut aku.. Dari pengakuan Andrea sendiri buku Maryamah Karpov yang sudah terjual di publik bener-bener belum sampe hingga tamatnya, malah dia bilang, tidak akan mengeluarkannya. ada di thread ini.. tapi kalo terlanjur penasaran sih, mending baca MK aja..

http://www.forumsains.com/biografi-dan-buku/endingnya-maryamah-karpov/msg19863/#msg19863

chayo Edensor! :)
When there is a will there is a way..
قل حو الله الحد

Offline ZeroFour

  • Mahasiswa
  • **
  • Tulisan: 49
  • IQ: 6
Re: Laskar Pelangi - Berjuanglah Menggapai Asa!
« Jawab #7 pada: Mei 23, 2009, 02:23:20 AM »
kalo udah baca Laskar Pelangi, ayo lanjut baca Sang Pemimpi dan Edensor!
Tapi aku ga rekomendasiin bwt baca Maryamah Karpov, terlanjur kcewa soalnya
masa...?menurutku bgus kok...
Menurutku d MK, tantangan ma gaya penulisan bahasa ny lbh bgs dr Edensor(E) ma Sang Pmimpi(SP).
Menurtku tingkat kebagusan tetralogi LP bgini.... LP, MK, E, SP.
Emang c ending ny ngecewain, g happy ending, tapi conflict ma gaya bahasa ny bgus bgt.
Q dah bc MK sblum taun baru ja, masih suka bc MK mpe sekarang bahkan dikit banyak dah hafal....

Offline nash

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 728
  • IQ: 52
  • Gender: Pria
  • i-will-always-love-math-!
Re: Laskar Pelangi - Berjuanglah Menggapai Asa!
« Jawab #8 pada: Mei 23, 2009, 03:53:11 AM »
@atas

hmm, kalo gw peringkatin gaya bahasa tetralogi tsb:
1. sang pemimpi
2. edensor
3. laskar pelangi
4. maryamah karpov

Offline ryoma

  • Dosen
  • ****
  • Tulisan: 418
  • IQ: 17
  • Gender: Pria
  • i am not lucky, just a hope, calm, and happy..!
    • Jurnal Milzam
Re: Laskar Pelangi - Berjuanglah Menggapai Asa!
« Jawab #9 pada: Mei 23, 2009, 09:10:18 AM »
@atas

hmm, kalo gw peringkatin gaya bahasa tetralogi tsb:
1. sang pemimpi
2. edensor
3. laskar pelangi
4. maryamah karpov

kalo aku sih:
1. edensor
2. laskar pelangi
3. sang pemimpi
4. maryamah karpov

 :)

Offline nash

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 728
  • IQ: 52
  • Gender: Pria
  • i-will-always-love-math-!
Re: Laskar Pelangi - Berjuanglah Menggapai Asa!
« Jawab #10 pada: Mei 23, 2009, 11:11:44 AM »
@ryoma

setidaknya kita sama2 meletakkan Maryamah Karpov pada urutan terakhir, hehehe

Offline ryoma

  • Dosen
  • ****
  • Tulisan: 418
  • IQ: 17
  • Gender: Pria
  • i am not lucky, just a hope, calm, and happy..!
    • Jurnal Milzam
Re: Laskar Pelangi - Berjuanglah Menggapai Asa!
« Jawab #11 pada: Mei 24, 2009, 01:31:13 AM »
@ryoma

setidaknya kita sama2 meletakkan Maryamah Karpov pada urutan terakhir, hehehe

sip ;D

Offline Monox D. I-Fly

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 2.000
  • IQ: 32
  • Gender: Pria
  • 私は理科を大好き
Re:Laskar Pelangi - Berjuanglah Menggapai Asa!
« Jawab #12 pada: Oktober 19, 2015, 12:25:38 PM »
A Miauw, seorang pedagang dari etnis Tionghoa totok yang digambarkan sebagai lelaki tua, tidak bersahabat, berbau tidak nyaman adalah ayah dari A Ling, gadis yang menjadi idaman si penulis. Meskipun seringkali setengah hati dalam menjual kapur tulis pada sekolah kampung mereka (barangkali dianggap merepotkan), A Miauw dalam narasi Andrea Hirata digambarkan sebagai seorang Kong Hu Chu yang taat dan amat jujur dalam berniaga – suatu pelajaran bahwa selalu ada yang bisa dipetik dari seseorang, betapa buruknya orang itu.

Ini nih, salah satu syarat bagi saya untuk menerima sebuah kisah fiksi: Seburuk apapun seseorang pasti ada sisi baiknya, demikian juga sebaik apapun seseorang pasti ada sisi buruknya.
Gambar di avatar saya adalah salah satu contoh dari kartu Mathematicards, Trading Card Game buatan saya waktu skripsi.

 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
10 Jawaban
9337 Dilihat
Tulisan terakhir September 08, 2008, 08:25:06 AM
oleh ksatriabajuhitam
8 Jawaban
7255 Dilihat
Tulisan terakhir April 06, 2012, 11:09:39 PM
oleh Anton_Soepriyanto
1 Jawaban
4276 Dilihat
Tulisan terakhir November 29, 2011, 02:10:54 AM
oleh mozzpunkz
1 Jawaban
4286 Dilihat
Tulisan terakhir November 29, 2011, 02:06:42 AM
oleh mozzpunkz
0 Jawaban
175255 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 31, 2017, 07:24:24 AM
oleh Nadzar6789