Selamat datang di ForSa! Forum diskusi seputar sains, teknologi dan pendidikan Indonesia.

Selamat datang, Pengunjung. Silahkan masuk atau mendaftar. Apakah anda lupa aktivasi email?

Agustus 05, 2021, 05:52:31 PM

Masuk dengan nama pengguna, kata sandi dan lama sesi

Topik Baru

Artikel Sains

Anggota
  • Total Anggota: 26721
  • Latest: joseqgq
Stats
  • Total Tulisan: 139661
  • Total Topik: 10401
  • Online Today: 299
  • Online Ever: 441
  • (Desember 18, 2011, 12:48:51 AM)
Pengguna Online
Users: 0
Guests: 47
Total: 47

Ikuti ForSa

ForSa on FB ForSa on Twitter

Penulis Topik: Fenomena Evolusi Klasik Dalam Tabung Reaksi  (Dibaca 5997 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline raisuien

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 6.359
  • IQ: 334
  • Gender: Pria
Fenomena Evolusi Klasik Dalam Tabung Reaksi
« pada: September 06, 2009, 11:25:03 AM »
Sekelompok peneliti dari The Scripps Research Institute telah merancang permodelan mikroskopik yang menyerupai Kepulauan Galapagos. Tabung-tabung reaksi mereka menampung ekosistem buatan  di mana molekul-molekul berevolusi menjadi berbagai macam relung; mirip dengan burung-burung Finch yang diceritakan Charles Darwin 150 tahun silam dalam bukunya yang terkenal, The Origin of Species.

Ekosistem mikroskopik tersebut mengalami beragam fenomena evolusi, di antaranya teori survival of the fittest yang menunjukkan bahwa dalam memperebutkan sumber daya alam yang terbatas, hanya individu paling kuatlah yang akan bertahan. Di sisi lain, jika terdapat berbagai sumber daya alam, individu-individu tersebut akan berdiferensiasi dan terspesialisasi menjadi relung-relung dengan ciri khas ekosistem yang berbeda.

Eksperimen yang dipimpin oleh Sarah Voytek, Ph.D. ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih baik terhadap teori evolusi Darwin. Beliau menggunakan molekul untuk mendapatkan hasil yang lebih cepat dibandingkan dengan menggunakan hewan. Perubahan struktur molekul dan evolusi yang terjadi di dalam masing-masing ekosistem buatan dapat dilihat hasilnya hanya dalam hitungan hari.

Dalam perjalanannya menaiki HMS Beagle, Darwin mengumpulkan dan mempelajari berbagai spesies burung Finch dari beberapa pulau di Kepulauan Galapagos. Burung-burung tersebut memiliki bentuk paruh yang beraneka rupa; sebagian tebal dan kuat, sedangkan yang lain tipis dan lembut. Darwin menemukan bahwa perbedaan itu ternyata dipicu oleh adaptasi mereka terhadap berbagai bentuk biji-bijian yang mereka konsumsi sehari-hari. Semakin besar biji yang harus mereka pecah, semakin besar dan kuat pula bentuk paruhnya. Darwin menduga burung-burung tersebut berasal dari nenek moyang yang sama, namun seiring dengan berjalannya waktu, mereka terpisah menjadi spesies-spesies yang berbeda. Hal inilah yang melandasi teori klasiknya berjudul Niche Partitioning atau pembagian relung, yaitu dua spesies yang hidup dengan sumber daya alam yang sama akan berdiferensiasi menjadi dua spesies berbeda sehingga mereka dapat menggunakan sumber daya yang berbeda pula.

Selama beberapa tahun, Gerald Joyce, M.D., Ph.D. selaku pembimbing riset Voytek, telah bereksperimen dengan sejenis molekul RNA enzimatik yang dapat berevolusi secara kontinu di dalam tabung reaksi. Basis dari evolusi ini adalah kemungkinan terjadinya mutasi setiap kali molekul tersebut bereplikasi. Bahkan, kemungkinannya terhitung minimal satu kali per siklus replikasi sehingga karakteristik populasinya semakin lama akan semakin beragam.

Dua tahun silam, Voytek berhasil menemukan molekul RNA enzimatik lainnya dengan kemampuan evolusi yang sama. Dengan demikian, ia dapat menggabungkan RNA temuan Joyce dengan RNA temuannya sendiri untuk berkompetisi dalam ajang evolusi selayaknya dua spesies di Kepulauan Galapagos. Limit yang diberikan untuk memicu peristiwa tersebut adalah sumber ‘makanan’ berupa molekul esensial yang dibutuhkan masing-masing RNA untuk bereplikasi. RNA yang berhasil melekat dengan molekul tersebut akan bereplikasi, dan dalam siklus tersebut mereka akan bermutasi menjadi strain-strain RNA dengan sifat-sifat yang lebih kuat.

Dalam riset mereka, Voytek dan Joyce melakukan dua set eksperimen. Pertama, mereka mengadu kedua molekul RNA untuk memperebutkan satu sumber makanan. Hasilnya, hanya salah satu molekul RNA yang bisa bertahan hidup sementara yang lainnya perlahan ‘punah’. Percobaan kedua menempatkan kedua molekul RNA dalam lingkungan berisi 5 macam sumber makanan yang asing bagi mereka. Pada awalnya, tiap RNA mampu menguraikan kelimanya, namun belum secara sempurna. Setelah ratusan generasi selanjutnya, masing-masing RNA berubah menjadi dua jenis molekul independen dengan kebutuhan makanan yang berbeda satu sama lain. Mereka hanya menggunakan sumber makanan pilihan mereka, dan menghindari sama sekali sumber makanan lainnya.

Dalam proses kedua tersebut, masing-masing molekul mengalami diferensiasi yang khas. Satu molekul RNA mengurai makanan seratus kali lebih cepat, sementara molekul RNA lainnya menghasilkan replika tiga kali lebih banyak. Keseluruhan hasil eksperimen tersebut merupakan contoh nyata teori evolusi klasik dalam mempertahkan hidup.

Offline sisca, chemistry

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 6.977
  • IQ: 222
  • Gender: Wanita
  • I'm a medical student now!! :D
    • Click and Find
Re: Fenomena Evolusi Klasik Dalam Tabung Reaksi
« Jawab #1 pada: September 06, 2009, 11:36:11 AM »
Dalam proses kedua tersebut, masing-masing molekul mengalami diferensiasi yang khas. Satu molekul RNA mengurai makanan seratus kali lebih cepat, sementara molekul RNA lainnya menghasilkan replika tiga kali lebih banyak.

mksudnya RNA b'diferensiasi,,, jadi bbrpa macam RNA yg  laen btk n laen fungzi...?
kirain cuma jaringan ajah yg bisa b'diferensiasi,,,
hhe,,
~ You are what you eat ~

Offline raisuien

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 6.359
  • IQ: 334
  • Gender: Pria
Re: Fenomena Evolusi Klasik Dalam Tabung Reaksi
« Jawab #2 pada: September 06, 2009, 11:44:13 AM »
yup...
klo dr yg aku dapat begitu...
kayaknya RNA jg beradaptasi supaya tetap bisa bertahan...
dan mengalami diferensiasi...

Offline sisca, chemistry

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 6.977
  • IQ: 222
  • Gender: Wanita
  • I'm a medical student now!! :D
    • Click and Find
Re: Fenomena Evolusi Klasik Dalam Tabung Reaksi
« Jawab #3 pada: September 06, 2009, 11:55:21 AM »
ouwh,,,
oce,,,
thx,,,,

bru tau,,,
hhe,,
'^^

Offline Hendy wijaya, MD

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 699
  • IQ: 25
  • Gender: Pria
Re: Fenomena Evolusi Klasik Dalam Tabung Reaksi
« Jawab #4 pada: September 13, 2009, 05:53:12 AM »
Bukan bentuk primernya (primary structure) yang berubah, RNA tetap terdiri dari ribosa, fosfat dan basa nitrogen, tapi sekuens basa nitrogen didalamnya yang berubah. Sekuens ini nantinya menentukan struktur sekunder (secondary structure) yang memiliki fungsi, seperti struktur hairpin, multijunctional (tRNA), adanya D loop, bulge, internal loop dan sebagainya...proses terbentuknya struktur sekunder ini akibat kemampuannya mengadakan base pairing dengan utasnya sendiri, seperti layaknya seuntai besi yang menekuk membentuk jepit rambut. Struktur benda sangat menentukan fungsinya dalam suatu sistem.
Tantum valet auctoritas, quantum valet argumentatio

 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
8 Jawaban
10200 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 03, 2013, 02:31:33 AM
oleh Monox D. I-Fly
9 Jawaban
5370 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 21, 2010, 09:12:45 AM
oleh syx
4 Jawaban
5808 Dilihat
Tulisan terakhir November 08, 2010, 09:32:44 PM
oleh topazo
2 Jawaban
3513 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 02, 2014, 01:24:51 AM
oleh mhyworld
3 Jawaban
160483 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 21, 2016, 12:41:15 PM
oleh JINNAN