Gunakan MimeTex/LaTex untuk menulis simbol dan persamaan matematika.

Selamat datang, Pengunjung. Silahkan masuk atau mendaftar. Apakah anda lupa aktivasi email?

Desember 02, 2021, 06:50:06 AM

Masuk dengan nama pengguna, kata sandi dan lama sesi

Topik Baru

Artikel Sains

Anggota
Stats
  • Total Tulisan: 139668
  • Total Topik: 10408
  • Online Today: 26
  • Online Ever: 441
  • (Desember 18, 2011, 12:48:51 AM)
Pengguna Online
Users: 0
Guests: 25
Total: 25

Ikuti ForSa

ForSa on FB ForSa on Twitter

Penulis Topik: GLOBAL WARMING  (Dibaca 20137 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline h4ry

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 541
  • IQ: 22
  • Gender: Pria
  • Sweet
GLOBAL WARMING
« pada: Juli 29, 2009, 01:07:47 AM »
Sorry mungkin repost nih ,but gw tiap hari liat berita di kompas tentang global warming ,pa kalian ga pada takut ?

es di kutub selatan udah 75% hilang dan di kutub utara 45% ,harus gmna yah ?apakah ada cara untuk mengembalkan es yang udah hilang tersebut ,mohon bantuannya  ;D ;D

_Don't Be Affraid_

Offline nandaz

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 1.849
  • IQ: 75
  • Gender: Pria
  • ...Mad about Sci_mistery
Re: GLOBAL WARMING
« Jawab #1 pada: Juli 29, 2009, 03:52:17 AM »
..ikut nanggapin ah...
untuk mengembalikan es yang mencair saya rasa sudah tidak bisa, global warming tidak bisa distop begitu saja, tetapi justru manisia sendiri nantinya yang harus memutuskan sepanas apa suhu bumi sendiri...kita semua cuman bisa menyadari dan mengurangi, baik itu sampah polusi yang berupa emisi atau pun hasil respirasi...termasuk masyarakat indonesia yang dulu dijuluki paru2 bumi, hmm..apa sekarang masih kelihatan paru2 bumikah?
starting by doing what is necessary, then what is possible and suddenly you are doing the impossible...
\dia\cal{ANONYMOUS}\cl

Offline wuriant

  • Dosen
  • ****
  • Tulisan: 249
  • IQ: 32
  • Gender: Pria
Re: GLOBAL WARMING
« Jawab #2 pada: Juli 29, 2009, 04:13:32 AM »
TAHUN 2000 - 2040 PULAU TENGGELAM

Mungkin Anda menduga, udara yang akhir-akhir ini makin panas, bukanlah suatu masalah yang perlu kita risaukan.

"Mana mungkin sih tindakan satu-dua makhluk hidup di jagat semesta bisa mengganggu kondisi planet bumi yang mahabesar ini?" barangkali begitulah Anda berpikir.

  Baru-baru ini, Inter-governmental Panel on Cimate Change (IPCC) mempublikasikan hasil pengamatan ilmuwan dari berbagai negara. Isinya sangat mengejutkan. Selama tahun 1990-2005, ternyata telah terjadi peningkatan suhu merata di seluruh bagian bumi, antara 0,15 – 0,3o C. Jika peningkatan suhu itu terus berlanjut, diperkirakan pada tahun 2040 (33 tahun dari sekarang) lapisan es di kutub-kutub bumi akan habis meleleh. Dan jika bumi masih terus memanas, pada tahun 2050 akan terjadi kekurangan air tawar, sehingga kelaparan pun akan meluas di seantero jagat. Udara akan sangat panas, jutaan orang berebut air dan makanan. Napas tersengal oleh asap dan debu. Rumah-rumah di pesisir terendam air laut. Luapan air laut makin lama makin luas, sehingga akhirnya menelan seluruh pulau. Harta benda akan lenyap, begitu pula nyawa manusia.

  Di Indonesia, gejala serupa sudah terjadi. Sepanjang tahun 1980-2002, suhu minimum kota Polonia (Sumatera Utara) meningkat 0,17o C per tahun. Sementara, Denpasar mengalami peningkatan suhu maksimum hingga 0,87 o C per tahun. Tanda yang kasat mata adalah menghilangnya salju yang dulu menyelimuti satu-satunya tempat bersalju di Indonesia , yaitu Gunung Jayawijaya di Papua.

  Hasil studi yang dilakukan ilmuwan di Pusat Pengembangan Kawasan Pesisir dan Laut, Institut Teknologi Bandung (2007), pun tak kalah mengerikan.

  Ternyata, permukaan air laut Teluk Jakarta meningkat setinggi 0,8 cm. Jika suhu bumi terus meningkat, maka diperkirakan, pada tahun 2050 daerah-daerah di Jakarta (seperti : Kosambi, Penjaringan, dan Cilincing) dan Bekasi

(seperti : Muaragembong, Babelan, dan Tarumajaya) akan terendam semuanya.

Dengan adanya gejala ini, sebagai warga negara kepulauan, sudah seharusnya kita khawatir. Pasalnya, pemanasan global mengancam kedaulatan negara. Es yang meleleh di kutub-kutub mengalir ke laut lepas dan menyebabkan permukaan laut bumi – termasuk laut di seputar Indonesia – terus meningkat. Pulau-pulau kecil terluar kita bisa lenyap dari peta bumi, sehingga garis kedaulatan negara bisa menyusut. Dan diperkirakan dalam 30 tahun mendatang sekitar 2000 pulau di Indonesia akan tenggelam. Bukan hanya itu, jutaan orang yang tinggal di pesisir pulau kecil pun akan kehilangan tempat tinggal. Begitu pula asset-asset usaha wisata pantai.

Peneliti senior dari Center for Int erna tional Forestry Research (CIFOR), menjelaskan, pemanasan global adalah kejadian terperangkapnya radiasi gelombang panjang matahari (disebut juga gelombang panas / inframerah) yang dipancarkan bumi oleh gas-gas rumah kaca (efek rumah kaca adalah istilah untuk panas yang terperangkap di dalam atmosfer bumi dan tidak bisa menyebar). Gas-gas ini secara alami terdapat di udara (atmosfer). Penipisan lapisan ozon juga memperpanas suhu bumi. Karena, makin tipis lapisan-lapisan teratas atmosfer, makin leluasa radiasi gelombang pendek matahari (termasuk ultraviolet) memasuki bumi. Pada gilirannya, radiasi gelombang pendek ini juga berubah menjadi gelombang panas, sehingga kian meningkatkan konsentrasi gas rumah kaca tadi.

  Karbondioksida (CO2) adalah gas terbanyak (75%) penyumbang emisi gas rumah kaca. Setiap kali kita menggunakan bahan bakar fosil (minyak, bensin, gas alam, batubara) untuk keperluan rumah tangga, mobil, pabrik, ataupun membakar hutan, otomatis kita melepaskan CO2 ke udara. Gas lain yang juga masuk peringkat atas adalah metan (CH4,18%), ozone (O3,12%), dan clorofluorocarbon (CFC,14%). Gas metan banyak dihasilkan dari proses pembusukan materi organic seperti yang banyak terjadi di pet erna kan sapi. Gas metan juga dihasilkan dari penggunaan BBM untuk kendaraan. Sementara itu, emisi gas CFC banyak timbul dari sistem kerja kulkas dan AC model lama. Bersama gas-gas lain, uap air ikut meningkatkan suhu rumah kaca.

  Gejala sangat kentara dari pemanasan global adalah berubahnya iklim. Contohnya, hujan deras masih sering datang, meski kini kita sudah memasuki bulan yang seharusnya sudah terhitung musim kemarau. Menurut perkiraan, dalam 30 tahun terakhir, pergantian musim kemarau ke musim hujan terus bergeser, dan kini jaraknya berselisih nyaris sebulan dari normal. Banyak orang menganggap, banjir besar bulan Februari lalu yang merendam lebih dari separuh DKI Jakarta adalah akibat dari pemanasan global saja. Padahal 35% rusaknya hutan kota dan hutan di Puncak adalah penyebab makin panasnya udara Jakarta . Itu sebabnya, kerusakan hutan di Indonesia bukan hanya menjadi masalah warga Indonesia , melainkan juga warga dunia. Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), mengatakan, Indonesia pantas malu karena telah menjadi Negara terbesar ke-3 di dunia sebagai penyumbang gas rumah kaca dari kebakaran hutan dan pembakaran lahan gambut (yang diubah menjadi permukiman atau hutan industri). Jika kita tidak bisa menyelamatkan mulai dari sekarang, 5 tahun lagi hutan di Sumatera akan habis, 10 tahun lagi hutan Kalimantan yang habis, 15 tahun lagi hutan di seluruh Indonesia tak tersisa. Di saat itu, anak-anak kita tak lagi bisa menghirup udara bersih.

  Jika kita tidak secepatnya berhenti boros energi, bumi akan sepanas planet Mars. Tak akan ada satupun makhluk hidup yang bisa bertahan, termasuk anak-anak kita nanti.

  Cara-cara praktis dan sederhana 'mendinginkan' bumi :

1.        Matikan listrik. (jika tidak digunakan, jangan tinggalkan alat elektronik dalam keadaan standby. Cabut charger telp. genggam dari stop kontak. Meski                     listrik tak mengeluarkan emisi karbon, pembangkit listrik PLN menggunakan bahan baker fosil penyumbang besar emisi).

2.        Ganti bohlam lampu ke jenis CFL, sesuai daya listrik. Meski harganya agak mahal, lampu ini lebih hemat listrik dan awet. Hindari penggunaan lampu berwarna kuning karena lebih panas. Yang berwarna putih lebih baik.)

3.        Bersihkan lampu (debu bisa mengurangi tingkat penerangan hingga 5%).

4.        Jika terpaksa memakai AC....,Tutup pintu dan jendela selama AC menyala. Atur suhu sejuk secukupnya, sekitar 21-24o C).

5.        Gunakan timer (untuk AC, microwave, oven, magic jar, dll).

6.       Ali hkan panas limbah mesin AC untuk mengoperasikan water-heater.

7.        Tanam pohon di lingkungan sekitar Anda.

8.        Jemur pakaian di luar. Angin dan panas matahari lebih baik ketimbang memakai mesin (dryer) yang banyak mengeluarkan emisi karbon.

9.        Gunakan kendaraan umum (untuk mengurangi polusi udara).

10.    Hemat penggunaan kertas (bahan bakunya berasal dari kayu).

11.    Say no to plastic. Hampir semua sampah plastic menghasilkan gas berbahaya ketika dibakar. Atau Anda juga dapat membantu mengumpulkannya untuk didaur ulang kembali.

12.    Sebarkan berita ini kepada orang-orang di sekitar Anda, agar mereka turut berperan serta dalam menyelamatkan bumi.

13 . Gunakan selalu barang-barang yang dapat didaur ulang (hindari penggunaan sumpit bambu).

Jika kita tetap tidak peduli kita hanya tinggal menunggu waktu saja …………………..

  Save Our Earth.....Please Act Yourself.... ..NOW..... NOW….. NOW ….. !!!!

Offline nandaz

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 1.849
  • IQ: 75
  • Gender: Pria
  • ...Mad about Sci_mistery
Re: GLOBAL WARMING
« Jawab #3 pada: Juli 29, 2009, 04:18:46 AM »
..takutnya orang yang bilang begitu naif, kejadian seperti ini banyak terjadi, semua tergantung pribadi masing-masing...mulailah dari diri sendiri

Offline sisca, chemistry

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 6.977
  • IQ: 222
  • Gender: Wanita
  • I'm a medical student now!! :D
    • Click and Find
Re: GLOBAL WARMING
« Jawab #4 pada: Juli 30, 2009, 01:20:03 PM »
mngkin setelah bumi yg ini b'akhir, akan muncul bumi yg baru lagi...
mngkin aja bumi yg baru bayi2nya sudah bisa plajaran SD, yg SD bisa plajaran SMP, dan strusnya...
keren jg tuch.... hha...
~ You are what you eat ~

Offline harusame

  • Mahasiswa
  • **
  • Tulisan: 40
  • IQ: 1
Re: GLOBAL WARMING
« Jawab #5 pada: Juli 31, 2009, 04:58:42 AM »
14.  Pikirkanlah sebelum anda berniat punya anak, 1 anak cukup, 2 paling banyak
makin banyak manusia, makin banyak beban terhadap Sumber Daya Alam

we do not inherit the earth from our ancestors we borrow it from our children

Offline sisca, chemistry

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 6.977
  • IQ: 222
  • Gender: Wanita
  • I'm a medical student now!! :D
    • Click and Find
Re: GLOBAL WARMING
« Jawab #6 pada: Juli 31, 2009, 06:07:10 AM »
makanya klo ada byk t'jadi pemboman maka jmlh manusia b'kurang...
hha,.,
habis para ibu2 pada gak mau ber-KB sich....
g'mana dunkzzz,.,

Offline h4ry

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 541
  • IQ: 22
  • Gender: Pria
  • Sweet
Re: GLOBAL WARMING
« Jawab #7 pada: Juli 31, 2009, 07:46:54 AM »
Ya nih ,kayaknya emang tahun 2012 bakal ada bencana yang gawat banget deh ,huuh . . . .susah juga ya, aku udah praktekin matiin lampu selama 1 jam ,pi tetep ja jika dilakukan satu orang mna bisa ?
Oh ya tentang biologinya ,ap ga da tuh mikroorganisme yang bisa mengolah limbah ??dan membuat pohon jadi bnyak ( dalam arti dimna dia berada maka tanah sekitarnya jadi subur dan tiap biji pohon yang jatuh akan tumbuh , ,kan baik jga ) ? ;D ;D ;D

Offline ahmad fauzan

  • Dosen
  • ****
  • Tulisan: 193
  • IQ: 9
  • Gender: Pria
  • jangan menghinaku lagi yak??
Re: GLOBAL WARMING
« Jawab #8 pada: Juli 31, 2009, 09:17:25 AM »
mudah-mudahan mars bisa menjadi bumi kedua??
hehehe... :P
semua itu bisa asalkan kita terbiasa

Offline sisca, chemistry

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 6.977
  • IQ: 222
  • Gender: Wanita
  • I'm a medical student now!! :D
    • Click and Find
Re: GLOBAL WARMING
« Jawab #9 pada: Juli 31, 2009, 10:02:13 AM »
kyknya ada larutan yg bisa menyuburkan tanaman dgn cepat,,,
kyk yg aq tonton di berita,,,,
lapangan yg tdinya mau digunakan pertandingan MU di indonesia, rusak karena kampanye slh satu capres,,,,
jd, stlah dibersihkan lapangannya, dari atas lapangan dgn menggunakan helikopter, disemprotkan cairan,,,
truz dgn segra tmbh dech rumputnya,,,, seger2,,,,

tpi aq gag tau itu larutan apa,,,

Offline raisuien

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 6.359
  • IQ: 334
  • Gender: Pria
Re: GLOBAL WARMING
« Jawab #10 pada: Juli 31, 2009, 09:41:29 PM »
Burkholderia dan Enterobacter katanya dapat membantu efek pertumbuhan tanaman sangat cepat

Offline KEWED

  • Siswa Baru
  • *
  • Tulisan: 1
  • IQ: 0
Re: GLOBAL WARMING
« Jawab #11 pada: Juli 31, 2009, 10:29:37 PM »
Sorry mungkin repost nih ,but gw tiap hari liat berita di kompas tentang global warming ,pa kalian ga pada takut ?

es di kutub selatan udah 75% hilang dan di kutub utara 45% ,harus gmna yah ?apakah ada cara untuk mengembalkan es yang udah hilang tersebut ,mohon bantuannya  ;D ;D



Offline sisca, chemistry

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 6.977
  • IQ: 222
  • Gender: Wanita
  • I'm a medical student now!! :D
    • Click and Find
Re: GLOBAL WARMING
« Jawab #12 pada: Agustus 01, 2009, 10:18:37 AM »
bulkholderia itu apa...?

Offline raisuien

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 6.359
  • IQ: 334
  • Gender: Pria
Re: GLOBAL WARMING
« Jawab #13 pada: Agustus 01, 2009, 12:05:02 PM »
Burkholderia is a genus of proteobacteria probably best-known for its pathogenic members: Burkholderia mallei, responsible for glanders, a disease that occurs mostly in horses and related animals; Burkholderia pseudomallei, causative agent of melioidosis; and Burkholderia cepacia, an important pathogen of pulmonary infections in people with cystic fibrosis (CF). The Burkholderia (previously part of Pseudomonas) genus name refers to a group of virtually ubiquitous gram-negative, motile, obligately aerobic rod-shaped bacteria including both animal/human (see above) and plant pathogens as well as some environmentally-important species. In particular, B. xenovorans (previously named Pseudomonas cepacia then B. cepacia and B. fungorum) is renowned for their ability to degrade chlororganic pesticides and polychlorinated biphenyls (PCBs). The use of Burkholderia species for agricultural purposes (such as biodegradation, biocontrol and as plant-growth-promoting rhizobacteria) is subject to discussions because of possible pathogenic effects in immuno-compromised people (especially CF-sufferers), e.g., hospital acquired infections. Due to their antibiotic resistance and the high mortality rate from their associated diseases Burkholderia mallei and Burkholderia pseudomallei are considered to be potential biological warfare agents, targeting livestock and humans.

The genus was named after Walter H. Burkholder, plant pathologist at Cornell University.

Offline sisca, chemistry

  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 6.977
  • IQ: 222
  • Gender: Wanita
  • I'm a medical student now!! :D
    • Click and Find
Re: GLOBAL WARMING
« Jawab #14 pada: Agustus 01, 2009, 12:08:21 PM »
weuw,,,,
b.ing lgi,,,
tar aq bca dech,,, biar copy paste dlu,,,
thx ya 4 ur help.... ;D

 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
26 Jawaban
24660 Dilihat
Tulisan terakhir April 12, 2016, 09:23:18 AM
oleh Monox D. I-Fly
0 Jawaban
2166 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 26, 2009, 04:24:24 PM
oleh saintzack
2 Jawaban
3255 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 25, 2010, 10:38:15 PM
oleh Mat Dillom
6 Jawaban
9227 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 20, 2011, 04:59:30 PM
oleh khenstein
0 Jawaban
2702 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 08, 2012, 03:29:02 PM
oleh randall