Selamat datang di ForSa! Forum diskusi seputar sains, teknologi dan pendidikan Indonesia.

Selamat datang, Pengunjung. Silahkan masuk atau mendaftar. Apakah anda lupa aktivasi email?

Juli 26, 2021, 12:58:51 PM

Masuk dengan nama pengguna, kata sandi dan lama sesi

Topik Baru

Artikel Sains

Anggota
Stats
  • Total Tulisan: 139657
  • Total Topik: 10399
  • Online Today: 83
  • Online Ever: 441
  • (Desember 18, 2011, 12:48:51 AM)
Pengguna Online
Users: 0
Guests: 50
Total: 50

Ikuti ForSa

ForSa on FB ForSa on Twitter

Penulis Topik: Love in Science  (Dibaca 21863 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Dr. Obscure

  • Pengunjung
Love in Science
« pada: Desember 17, 2006, 12:39:17 PM »
My post on another board:
Attention: This topic contains a lot of nerdy stuffs. Please verify your age before reading it away! There will be no guarantee of being such a romantic guy anymore after you read through this theory!

Kutip
di ngeceng.com ini, pembahasan mengenai cinta pastinya ud bkan hal yg bru lg, smua orang ngmg deh tuh yg namanya cinta, gebetan, pacaran, selingkuhan, dan berbagai hal nyerempet lainny.......
tp gmana sih dgn pengertian cinta yg slama ini rekan2x ngecengerz skalian ketahui? perasaan suka?? kenapa isa suka? pernah ga sih kita ini penasaran dengan prasaan itu, knp isa ad? knp isa seorang co ngejer cw? isa ga sih cw nembak co? bahkan cw memperkosa co prnah dipertanyakan, sbnernya mgkn ga sih? knapa isa bgitu??

bagi yg penasaran isa lanjutkan membaca topik ini, dan bagi yg ga berniat mengetahuiny, u can leave this topic immedietly..... =PpPpPppPPppPpPPpp

yg namany cinta ternyata isa diperjelas dgn menggunakan beberapa teori n pengetahuan sputar ilmu alam (science), n pembagian ny adlh 3 tahap.......
- Tahap pertama
Tingkat pertama adalah perasaan gairah......
Hal ini terjadi berkat adanya kerja dari hormon sexual, testosterone and oestrogen.........

- Tahap kedua
dilanjutkan dgn tahap kedua yg jg isa dinamai Attraction Stage (Tingkatan Ketertarikan)....
Dalam kondisi ini, grup daripada pemcancar yang ada dalam syaraf kita
yang disebut juga sebagai monoamines memainkan peranan yang sangat
penting, misalnya dengan mengaktifkan hormon Dopamine yang juga
diaktifkan dengan nikotin dan kokain. Selain itu juga adanya kerja
dari hormonAdrenalin yang membuat orang berkeringat, jantung terpicu
bekerja lebih cepat, jadi canggung, gugup, dll (hehehe, bagi yg prnah pacaran, mrasakan first kiss, dll prasaan smacam deg2an ini pasti ud ga asing, n mgkn mrk alami pd saat prtama mrk...... lol)

Selain itu juga ada serotonin. Hormon yang paling penting dalam masalah cinta........
Hormon ini yang membuat orang bisa dikatakan 'buta' bila jatuh cinta (Alasan jg mgkn knp ad org yg sampe bunuh diri krn cinta). Sebuah hormon yang bisa membuat orang lebih berpikir kearah perasaan, daripada logika yang ada didepan mata dan nyata......
*buat yg mo jaga jaga, gmana klo sebelom merasakan cinta, suntikan dolo insulin anti-serotonin biar ga gegabah dlm brtindak ........... =PpPpPpPpPpPpppPp

- Tahap akhir
Pada level 3 ini biasa juga disebut proses pelengkap........
Dlm
proses ini, yang merupakan proses akhir dalam perjalanan cinta,
khususny kondisi stlh married, tentu hormon2x yang bekerja gak lain,
adalah hormon:
Oksitosin, yang membuat wanita mampu menghasilkan
susu disaat mereka menjadi seorang ibu, hormon yang 1 ini merupakan
hormon yang dihasilkan oleh hypothalamus (jembatan antara otak besar
dan otak kecil), yang juga merupakan hormon yang diproduksi pada saat
sepasang manusia melakukan hubungan sex dan mencapai puncak xD~~ Tanya
kenapa .. LOL!!! No Bokep Please!!! This is Sience!!!

advisor

  • Pengunjung
Re: Love in Science
« Jawab #1 pada: Desember 17, 2006, 07:17:07 PM »
Hehehe....  ;D ;D keren juga nehh.... tapi ada yang ngeganjel satu : kenapa saya tertarik sama Tamara tapi tidak pada Munaroh  ??? Kalo masalah hormon kan, ga beda dong harusnya yahh...

Dr. Obscure

  • Pengunjung
Re: Love in Science
« Jawab #2 pada: Desember 18, 2006, 12:13:45 AM »
Hehehe....  ;D ;D keren juga nehh.... tapi ada yang ngeganjel satu : kenapa saya tertarik sama Tamara tapi tidak pada Munaroh  ??? Kalo masalah hormon kan, ga beda dong harusnya yahh...
Dalam tahap ini, kita belum membicarakan tahap ketertarikan secara spesifik. Namun pada dasarnya hal pertanyaan anda diatas telah dijawab dengan penjelasan mengenai hormon serotonin dan adrenalin, yang ditambah dengan dasar hormon testosteron pada pria. Ketertarikan dipacu karena "Perasaan" akan sesuatu dari orang yang anda suka itu, dan itu dipacu karena adanya adrenalin, begitu juga dengan serotonin yang membantu menimbulkan perasaan "Bahagia" pada saat itu, enaknya ngejar seorang cw, dll membuat anda menjadi lebih menghargainya pada saat mendapatkannya. Dan itu terbukti secara nyata, sebab walaupun anda suka sama Tamara belum tentu anda mau menikah dengan nya, karena 1 dan banyak faktor. Walaupun begitu, ketertarikan secara spesifik juga bisa dijelaskan secara science, berdasarkan sedikit ilmu biologi yang didukung dengan faktor psikologi.

Banyak dari manusia yang mgkn tidak menyadari, sebenarnya indra mereka juga membantu penentuan orang yang mereka inginkan. Disamping dorongan dari hormon kelamin, yang dimana membantu ketertarikan dengan lawan jenis sesuai dengan physical matter, ternyata bau, bentuk, dan suara juga mempengaruhi orang untuk dapat dikatakan "Suka" sama 1 orang. Tidak jarang manusia ada yang "Jadian" karena bau pacarnya secara lgsg maupun tak lgsg mengingatkan dia akan orang tua nya, atau mgkn hal lainnya. Suara juga bisa membantu mempengaruhi. Namun semua hal ini tetap tidak pasti 100% mempengaruhi seseorang, sebab tak jarang juga anda akan menemui pasangan hidup anda tidak 100% sesuai dengan apa yang anda inginkan. Am i right? Haha. Sebab semua itu pada dasarnya adalah kerja hormon, ketertarikan yang terjadi karena adanya hormon Adrenalin, Testosteron, Oksitosin hingga Serotonin dan berbagai hormon lain yang tidak mampu disebutkan 1 per 1.

advisor

  • Pengunjung
Re: Love in Science
« Jawab #3 pada: Desember 18, 2006, 02:47:22 AM »
Banyak dari manusia yang mgkn tidak menyadari, sebenarnya indra mereka juga membantu penentuan orang yang mereka inginkan. Disamping dorongan dari hormon kelamin, yang dimana membantu ketertarikan dengan lawan jenis sesuai dengan physical matter, ternyata bau, bentuk, dan suara juga mempengaruhi orang untuk dapat dikatakan "Suka" sama 1 orang. Tidak jarang manusia ada yang "Jadian" karena bau pacarnya secara lgsg maupun tak lgsg mengingatkan dia akan orang tua nya, atau mgkn hal lainnya. Suara juga bisa membantu mempengaruhi. Namun semua hal ini tetap tidak pasti 100% mempengaruhi seseorang, sebab tak jarang juga anda akan menemui pasangan hidup anda tidak 100% sesuai dengan apa yang anda inginkan. Am i right? Haha. Sebab semua itu pada dasarnya adalah kerja hormon, ketertarikan yang terjadi karena adanya hormon Adrenalin, Testosteron, Oksitosin hingga Serotonin dan berbagai hormon lain yang tidak mampu disebutkan 1 per 1.

iya, pernah baca tentang bagaimana bau seseorang juga menjadi daya tarik lawan jenis (iklan parfum kalo ga salah ingat  :D)... seperti pheromone pada hewan yahh fungsinya. Karena saya pencinta anjing, saya sering alamin ini. Kalo dah musim kawin kok yang jantan pada berderet di depan rumah, sepertinya mereka mencium bau ini dari anjing piaraan sayan (iya, betina lah  :P).

Nah, kalo pada hewan, sepertinya memang hasrat itu didorong oleh aktifitas hormon. Makanya ada musim kawin, setelah itu hilang, sampai musim kawin berikutnya saat si betina memberikan signal2 lagi. Walau beberapa spesies "memilih" pasangannya, tapi kebanyakan tidak terlalu mementingkan siapa pasangannya.

Nah, kalau pada kita manusia kan, kita memilih. Hmm... faktor "Perasaan" ini yang ngeganjel sebenernya. Okay, ketertarikan spesifik jangan dulu dibahas yahh... pending dulu dehh...

Tapi juga, keadaan psikis mempengaruhi fisiologis dan demikian juga sebaliknya. Contoh fisiologis mempengaruhi psikologis : waktu kita sakit gigi, kita relatif lebih mudah marah (tadinya gak pemarah). Contoh psikologis mempengaruhi fisiologis : waktu marah muka merah, nafas lebih cepat, jantung berdebar-debar. Dalam kasus Love ini, mana lebih dulu hormon yang bekerja lalu jatuh cinta atau karena jatuh cinta aktifitas hormon menjadi seperti itu?

Dr. Obscure

  • Pengunjung
Re: Love in Science
« Jawab #4 pada: Desember 18, 2006, 03:21:51 AM »
iya, pernah baca tentang bagaimana bau seseorang juga menjadi daya tarik lawan jenis (iklan parfum kalo ga salah ingat  :D)... seperti pheromone pada hewan yahh fungsinya. Karena saya pencinta anjing, saya sering alamin ini. Kalo dah musim kawin kok yang jantan pada berderet di depan rumah, sepertinya mereka mencium bau ini dari anjing piaraan sayan (iya, betina lah  :P).

Nah, kalo pada hewan, sepertinya memang hasrat itu didorong oleh aktifitas hormon. Makanya ada musim kawin, setelah itu hilang, sampai musim kawin berikutnya saat si betina memberikan signal2 lagi. Walau beberapa spesies "memilih" pasangannya, tapi kebanyakan tidak terlalu mementingkan siapa pasangannya.

Nah, kalau pada kita manusia kan, kita memilih. Hmm... faktor "Perasaan" ini yang ngeganjel sebenernya. Okay, ketertarikan spesifik jangan dulu dibahas yahh... pending dulu dehh...

Tapi juga, keadaan psikis mempengaruhi fisiologis dan demikian juga sebaliknya. Contoh fisiologis mempengaruhi psikologis : waktu kita sakit gigi, kita relatif lebih mudah marah (tadinya gak pemarah). Contoh psikologis mempengaruhi fisiologis : waktu marah muka merah, nafas lebih cepat, jantung berdebar-debar. Dalam kasus Love ini, mana lebih dulu hormon yang bekerja lalu jatuh cinta atau karena jatuh cinta aktifitas hormon menjadi seperti itu?
So, you do not read my topic yah?? =P
It's hormone which come first, because of seretonin, people will start to think with "feeling" rather than "logic", because of testosteron and oegesteron, we are not a homosexual, because of adrenalin, we will feel heart beating faster and "keringat dingin", we also experience the bond between human when they are doing the intimate, and women starting to produce milk because of oxytoxin.

Jadi pada dasarnya hormone come first, then the process of love is going on.

Regarding to the effect of smells on doing the 'act' of attraction in love, is really happening on human, at least that the research told us about, and it is not really like the animals, especially dogs and snakes, which tried to look after the smells of feromone comes from the girls.
« Edit Terakhir: Desember 18, 2006, 03:23:56 AM oleh Dr. Obscure »

advisor

  • Pengunjung
Re: Love in Science
« Jawab #5 pada: Desember 18, 2006, 03:55:23 AM »
So, you do not read my topic yah?? =P
It's hormone which come first, because of seretonin, people will start to think with "feeling" rather than "logic", because of testosteron and oegesteron, we are not a homosexual, because of adrenalin, we will feel heart beating faster and "keringat dingin", we also experience the bond between human when they are doing the intimate, and women starting to produce milk because of oxytoxin.

Jadi pada dasarnya hormone come first, then the process of love is going on.

Regarding to the effect of smells on doing the 'act' of attraction in love, is really happening on human, at least that the research told us about, and it is not really like the animals, especially dogs and snakes, which tried to look after the smells of feromone comes from the girls.

Justrus karena saya sudah membaca jelas post anda. Tetapi saya belum dapat bilang saya setuju? Darimana anda yakin kalau aktifitas hormon yang lebih dulu muncul baru Love itu? Sementara keadaan fisiologis dan psikologis kedua2nya saling mempengaruhi....  ???

Gimana kalo menurut saya, karena Love  dan Ketertarikan itu yang jadi trigger semua aktifitas hormonnya? Seperti saat saya marah saya mentrigger napas saya jadi lebih cepat, jantung lebih cepat, otot menjadi tegang. Toh waktu kita marah, bukan sebaliknya yang terjadi kan?

pinokio

  • Pengunjung
Re: Love in Science
« Jawab #6 pada: Desember 18, 2006, 04:40:09 AM »
waduh, ngomongin cinta yahh. Pas abis malming pula. Lanjut, gw numpang baca dulu hehe

advisor

  • Pengunjung
Re: Love in Science
« Jawab #7 pada: Desember 20, 2006, 07:56:16 PM »
hehe... kalo liat Love dari kacamata ini, Valentine terasa hampa yahh  ;D

Offline dopamine

  • Mahasiswa
  • **
  • Tulisan: 29
  • IQ: 29
Re: Love in Science
« Jawab #8 pada: April 11, 2008, 05:15:16 PM »
Hehehe....  ;D ;D keren juga nehh.... tapi ada yang ngeganjel satu : kenapa saya tertarik sama Tamara tapi tidak pada Munaroh  ??? Kalo masalah hormon kan, ga beda dong harusnya yahh...

berbahagialah, serotonin Anda tidak bekerja pada Munaroh as well..  :D

Offline dopamine

  • Mahasiswa
  • **
  • Tulisan: 29
  • IQ: 29
Re: Love in Science
« Jawab #9 pada: April 11, 2008, 05:20:44 PM »
Seperti saat saya marah saya mentrigger napas saya jadi lebih cepat, jantung lebih cepat, otot menjadi tegang. Toh waktu kita marah, bukan sebaliknya yang terjadi kan?

Apa yang menyebabkan Anda marah? hormon mentrigger Anda untuk marah. bukan Anda mentrigger hormon. manusia adalah sistem kompleks, bukan individu. ambiguitas disini..

Offline mochimo

  • Mahasiswa
  • **
  • Tulisan: 12
  • IQ: 1
Re: Love in Science
« Jawab #10 pada: Juni 19, 2008, 07:42:11 AM »
Fall In Love bukan semata karena hormon aja bro.  Pernahkah ada terapi hormon buat "nyantet" doi supaya tertarik ma kita?  Ga ada kan yak? 

Klo menurut aq, keluarnya hormon itu adalah efek dari FiL bukan penyebab FiL itu sendiri.  Nah, penyebab FiL sendiri sangat kompleks dan dipengaruhi oleh psikologi yang bersangkutan.  Terutama sistem nilai yang dianut.

Contohnya neh, ce pada awal masa puber, sekarang dominan suka ma co Band atau pemain olahraga tertentu, bukan karena tertarik karena feromon or sejenisnya namun karena sistem nilai yang mereka percaya bilang ini adalah "barang bagus".  Yaaa, tau ajalah gimana tubuh merespon hal itu, barang bagus buat kepentingan keberlangsungan hidup jenisnya gitu lho.. ^^.  Tubuh memicu kita untuk 'mendapatkan' barang bagus tersebut, caranya ya dengan terpicunya hormon tersebut.

Bagaimana menurut anda?

Offline milmi

  • Moderator
  • Dosen
  • *****
  • Tulisan: 268
  • IQ: 27
  • Gender: Pria
  • veritas, probitas, iustitia
    • Quorum Sensing
Re: Love in Science
« Jawab #11 pada: Juni 19, 2008, 10:45:02 PM »
Wah, ketemu topik susah untuk di komentarin neh  :P...
Kalo mo ngomongin yang namanya "perasaan", waah, gak akan habis deh ber buku2x, soalnya para ahli pun masih kebingungan dengan hal yg satu ini. Mungkin benar kata Dr. Obscure, bahwa stimulus2x yang diterima oleh indera kita dan diteruskan ke otak dan menjadi salah satu faktor timbulya perasaan cinta. Namun kita tidak boleh lupa, bahwa hewan juga punya indera dan otak, tapi kok mereka gak main perasaan? Nah, inilah keunggulan dari manusia. Hubungan anatara neuron-neuron di otak kita sedemikan rupa kompleks sehingga muncul fenomena2x yang tidak dimiliki oleh hewan: perasaan, ingatan, kreatifitas, dll.
Kalau masalah hormonnya, saya lebih percaya itu merupakan akibat dari timbulnya perasaan. Seperti kita semua tahu, bahwa seluruh sistem endokrin dikendalikan oleh kelenjar pituari, yg letaknya menempel dengan hipofisis yang merupakan bagian dari otak. Jadi otak yg mengendalikan hormon-hormon tersebut, berdasarkan pada perasaan orang tsb.
Contoh mudah: kalau kita di kejar oleh anjing, indera akan menangkap stimulus dan otak akan memprosesnya sehingga kita merasa takut dan keluar perintah dari otak untuk berlari. Nah, pada proses lari tersebut, otot membutuhkan tenaga dalam jumlah tinggi, jumlah oksigen untuk mengoksidasi energi tidak mencukupi, sehingga dihasilkanlah hormon adrenalin yang akan meningkatkan kecepatan pernapasan dan denyut jantung serta mengakibatkan dilatasi pembuluh darah, sehingga otot bisa mendapatkan oksigen dalam jumlah cukup.
Dalam hal rasa cinta, ini kemungkinan juga terjadi. Indera akan menangkap stimulus2x dari lawan jenis, kemudian otak memproses dan menentukan apakah kita tertarik atau tidak, jatuh cinta atau tidak, etc. Kemudian baru hormon2x dikeluarkan untuk menunjang hasil proses otak tsb.
...setetes air di samudera luas...

Offline ravarafael

  • Mahasiswa
  • **
  • Tulisan: 17
  • IQ: 2
  • Gender: Pria
  • VINI VIDI VICI
Re: Love in Science
« Jawab #12 pada: Juni 20, 2008, 01:04:18 AM »
 :D all of loves are very strange...................bagaimana catatan ilmiah tentang soulmate......?

Offline reborn

  • Founder
  • Profesor
  • *****
  • Tulisan: 2.256
  • IQ: 322
  • Gender: Pria
  • ForSa
Re: Love in Science
« Jawab #13 pada: Juni 21, 2008, 09:09:58 PM »
Namun kita tidak boleh lupa, bahwa hewan juga punya indera dan otak, tapi kok mereka gak main perasaan? Nah, inilah keunggulan dari manusia. Hubungan anatara neuron-neuron di otak kita sedemikan rupa kompleks sehingga muncul fenomena2x yang tidak dimiliki oleh hewan: perasaan, ingatan, kreatifitas, dll.

Belum tentu juga. Anjing misalnya terkenal men's best friend karena setia sama tuannya, gajah terkenal memiliki daya ingat yang kuat, trus katanya simpanse memakai tombak untuk berburu. Walau mungkin jauh berbeda mungkin kualitasnya.

Kalau masalah hormonnya, saya lebih percaya itu merupakan akibat dari timbulnya perasaan. Seperti kita semua tahu, bahwa seluruh sistem endokrin dikendalikan oleh kelenjar pituari, yg letaknya menempel dengan hipofisis yang merupakan bagian dari otak. Jadi otak yg mengendalikan hormon-hormon tersebut, berdasarkan pada perasaan orang tsb.

Dalam hal rasa cinta, ini kemungkinan juga terjadi. Indera akan menangkap stimulus2x dari lawan jenis, kemudian otak memproses dan menentukan apakah kita tertarik atau tidak, jatuh cinta atau tidak, etc. Kemudian baru hormon2x dikeluarkan untuk menunjang hasil proses otak tsb.

Saya setuju bahwa aktifitas hormon muncul setelah adanya perasaan, seperti post-post di atas yang terjadi di sini adalah psikologis (perasaan) mempengaruhi fisiologis (aktifitas hormon).

OOT :
Tapi biar bagaimana pun, cinta memang selalu jadi topik yang menarik untuk dibahas  ;D

Offline milmi

  • Moderator
  • Dosen
  • *****
  • Tulisan: 268
  • IQ: 27
  • Gender: Pria
  • veritas, probitas, iustitia
    • Quorum Sensing
Re: Love in Science
« Jawab #14 pada: Juni 24, 2008, 04:23:20 AM »
Kutip dari: reborn
Belum tentu juga. Anjing misalnya terkenal men's best friend karena setia sama tuannya, gajah terkenal memiliki daya ingat yang kuat, trus katanya simpanse memakai tombak untuk berburu. Walau mungkin jauh berbeda mungkin kualitasnya.

Perasaan yg saya maksud adalah perasaan yang sama dengan yang dimiliki manusia. Daya ingat memang dimiliki hewan, namun yang tidak dimiliki oleh hewan adalah kreativitas hewan dalam menggunakan daya ingat tersebut.

 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
15 Jawaban
9991 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 30, 2014, 08:07:32 AM
oleh MuhammadRyan
4 Jawaban
183307 Dilihat
Tulisan terakhir Februari 12, 2021, 09:37:58 PM
oleh The Houw Liong
116 Jawaban
27636 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 01, 2012, 03:13:37 AM
oleh mhyworld
3 Jawaban
164501 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 27, 2014, 01:17:01 PM
oleh nʇǝʌ∀
0 Jawaban
2152 Dilihat
Tulisan terakhir November 21, 2016, 09:41:43 AM
oleh japanesian