Gunakan MimeTex/LaTex untuk menulis simbol dan persamaan matematika.

Welcome to Forum Sains Indonesia. Please login or sign up.

Juni 27, 2022, 11:00:52 PM

Login with username, password and session length

Topik Baru

Artikel Sains

Anggota
  • Total Anggota: 26,754
  • Latest: sainsftw
Stats
  • Total Tulisan: 139,633
  • Total Topik: 10,390
  • Online today: 85
  • Online ever: 441
  • (Desember 17, 2011, 09:48:51 AM)
Pengguna Online
Users: 0
Guests: 62
Total: 62

Aku Cinta ForSa

ForSa on FB ForSa on Twitter

makhluk hidup abadi

Dimulai oleh nandaz, Februari 22, 2009, 02:25:42 PM

« sebelumnya - berikutnya »

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Hendy wijaya, MD

Sayangnya kehidupan suatu sel tidak tergantung hanya pada suplai nutrisi dari luar yang terus menerus,tapi juga harus diimbangi dengan peningkatan kapasitas sistem internal dalam sel itu sendiri seperti mendegradasi molekul protein yang tidak terfolding dengan benar, mencegah akumulasi mutasi, meningkatkan efisiensi metabolisme energi dan lain-lain yang kesemuanya itu tidak mungkin dicapai setidaknya dengan berbagai teknologi yang ada sampai saat ini. Misalkan, untuk mencegah mutasi diperlukan berbagai macam protein yang juga dikode oleh gen, sebesar2nya kapasitasnya dalam mencegah mutasi, toh mutasi spontan tetap terjadi walaupun dengan frekuensi yang jauh lebih kecil. Bagaimana jika gen repair system itu sendiri juga akhirnya mengalami mutasi yang tak terhindarkan tersebut?Ada dua kemungkinan, bisa mati, bisa menjadi kanker. Misalkan cara untuk mengatasi agar selalu ada gen yang berfungsi adalah dengan menduplikasikan gen tersebut, namun semakin babnyak gen, semakin besar ukuran genom, efisiensi replikasi menurun dan mutation rate juga meningkat. Repair system yang ada pada manusia saat ini hanya berfungsi untuk mempertahankan konten gen dalam genom intak hanya sampai masa reproduksi berakhir, setelah itu akumulasi mutasi yang terjadi sudah sedemikian hebat dan tidak mungkin diperbaiki. Lagipula untuk apa repair system dipertahankan sampai lebih dari masa reproduksi, toh "tugas" makhluk hidup (yang berkembang biak secara seksual tentunya) dalam mlestarikan jenisnya sudah selesai terlepas apakah dia benar2 menghasilkan keturunan atau tidak.
Tantum valet auctoritas, quantum valet argumentatio

arydhamayanti

hmm... topik yang sangat menarik... apa mungkin suatu hari, DNA-nya bisa dicontoh dan disisipkan ke DNA makhluk lain? dengan tujuan kemanusiaan tentunya.
[move]jadi begitu yaa... hmm...[/move]

Hendy wijaya, MD

Bukan suatu hari lagi, itu sudah terjadi sekarang, dan teknologinya disebut teknologi DNA recombinant, dan makhluk hasil rekayasa genetika disebut organisme transgenik atau GMO (Genetically Modified Organism). Tujuan dilakukannya rekayasa genetik ini banyak, di antaranya untuk kepentingan pengembangan ilmu, dan yang terutama untuk meningkatkan kesejahteraan manusia sendiri, misalkan menghasilkan insulin, rt-PA (recombinant tissue Plasminogen Activator) untuk mencegah Coronary Heart Disease, memproduksi antibodi, dan masih banyak lagi yag lain, misalkan menghasilkan enzim atau protein struktural lain yang sangat dibutuhkan untuk orang2 yang sedang sakit.
Tantum valet auctoritas, quantum valet argumentatio

Astrawinata G

hehehe.......kok bisa ya yang paling cocok dengan manusia itu adalah gen dari porcine?
Best Regards,


Astrawinata G

Hendy wijaya, MD

#49
Karena sepertinya hubungan kekerabatan antara manusia secara filogenetika dengan pocine lebih dekat daripada dengan si miki, sehingga rantai asam amino nya hampir sama dan memiliki parameter farmakokinetik yang hampir sama serta kecil kemungkinan menimbulkan reaksi imunologis. Tetapi dengan adanya recombinant DNA technology, sekarang manusia tidak perlu lagi menggunakan insulin babi untuk mengobati DM, tapi dengan Human recombinant insulin..mau dimodif dengan cara apapun bisa, makanya skrg banyak sekali produk insulin dengan parameter farmakokinetik yang berbeda2 (misal rapid acting, short acting, atau long acting insulin) hanya dengan mengubah sedikit sekali urutan asam amino dalam rantai peptida nya berdasarkan metode site specific mutagenesis dalam recombinant DNA tech..

Dan ironisnya, insulin rekombinan yang sedemikian pentingnya untuk terapi pasien DM yang seabrek di indonesia masih kita impor. Belum satu orang pun di Indo yang berhasil "membajaknya". Hal yang sama terjadi juga pada rt-pa (recombinant tissue palsminogen activator) untuk mencegah emboli berulang pada pasien yang telah menjalani CABG (Coronary Artery Bypass Grafting), atau terapi pada AMI, bahkan saya pernah mendapat keluhan dari seorang teman sejawat yang mengeluhakan bahwa susah sekali mendapatkan tuh obat di indo di samping harganya yang mahal sebab obat impor, untuk mengobati ayahnya yang menderita AMI sampai akhirnya meninggal..di sini pentingnya peran ahli genetika medis dan molekuler..
Tantum valet auctoritas, quantum valet argumentatio

Lunaris

Urusan ubur-ubur yang awet muda, ini masalahnya ada ada pada cara ubur-ubur bereproduksi.

Sebenarnya manusia juga abadi, kalo kita hitung dari umur mitokondria dalam diri seseorang yang masih hidup.

Hendy wijaya, MD

Jangan hanya mtDNA, tapi juga keseluruhan  DNA secara utuh..kita kan hanya wahana mirip robot yang didesain untuk bisa survive sehingga bisa menurunkan atau melestarikan molekul egois bernama gen.
Tantum valet auctoritas, quantum valet argumentatio

fazero

[img][pranala luar disembunyikan, sila masuk atau daftar.][img]
inikah ?
binatang ini bisa menggati selnya yg telah rusak dengan sel baru ...

wibi

untuk hidup abadi (tidak hancur karna sel/zat diri sendiri)itu minimal kita harus menemukan cara agar kita:
-bisa menghancurkan patogen(sel/zat yang membuat kita mati)100%
-zat/mikroorganisme yang bisa membuat kita bisa terus melakukan pembelahan yang teratur
-zat yang bisa membuat kita sehat 100%
-dan semua syarat di atas tidak boleh menimbulkan efek samping yang buruk ke badan kita

sisca, chemistry

[move]
~ You are what you eat ~
[/move]

Hendy wijaya, MD

#55
Kutip dari: wibi pada Maret 29, 2010, 02:48:57 PM
untuk hidup abadi (tidak hancur karna sel/zat diri sendiri)itu minimal kita harus menemukan cara agar kita:
-bisa menghancurkan patogen(sel/zat yang membuat kita mati)100%
-zat/mikroorganisme yang bisa membuat kita bisa terus melakukan pembelahan yang teratur
-zat yang bisa membuat kita sehat 100%
-dan semua syarat di atas tidak boleh menimbulkan efek samping yang buruk ke badan kita
Tapi ironisnya, semakin panjang umur sel, semakin besar kemungkinan ia mendapatkan mutasi spontan yang merugikan. Ingat fenomena penyakit degenratif yang sekarang banyak muncul seperti halnya kanker. Dulu jarang sekali anda dapati penyakit kanker, salah satunya karena dulu orang banyak yang sudah meninggal karena infeksi seperti tetanus, small pox, typhus, TBC pada umur relatif lebih muda sebelum penyakit malignansi muncul.

Untuk mengatasi hal itu, diperlukan DNA repair system yang jauh lebih teliti dibandingkan yang dipunya makhluk hidup saat ini.
Tantum valet auctoritas, quantum valet argumentatio