Selamat datang di ForSa! Forum diskusi seputar sains, teknologi dan pendidikan Indonesia.

Welcome to Forum Sains Indonesia. Please login or sign up.

Juli 03, 2022, 09:32:51 AM

Login with username, password and session length

Topik Baru

Artikel Sains

Anggota
  • Total Anggota: 26,754
  • Latest: sainsftw
Stats
  • Total Tulisan: 139,633
  • Total Topik: 10,390
  • Online today: 60
  • Online ever: 441
  • (Desember 17, 2011, 09:48:51 AM)
Pengguna Online
Users: 0
Guests: 46
Total: 46

Aku Cinta ForSa

ForSa on FB ForSa on Twitter

bagaimana DNA mengatur sifat?

Dimulai oleh faiqhr, September 10, 2009, 02:46:27 PM

« sebelumnya - berikutnya »

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

nandaz

#15
Kutip dari: biobio pada September 25, 2009, 02:44:16 AM
@nandaz= Ini seperti mencoba menghidupkan kembali teori "inheritance of acquired characteristics" nya Jean Baptise Lammarck.
..terus biobio, mohon jelaskan yang bercetak tebel tersebut...? apa yang contohnya tikus dengan ekor diputus2 ...ini percobaan lamarck atau weismann?
starting by doing what is necessary, then what is possible and suddenly you are doing the impossible...
\dia\cal{ANONYMOUS}\cl

biobio

@nandaz= yang main potong buntut mencit itu August Weismann, dan hal itu membatalkan teori lamarck mengenai "use disuse" dan "inheritance of acquired characteristic". Sekarang disepakati, apa yang kita latih / pelajari tidak akan diwariskan ke anak kita. Contoh: anaknya Ade Rai ga lahir langsung berotot gede.
"The pen is mightier than the sword"

Hendy wijaya, MD

Itu karena evolusi biologis tidak berjalan linear seperti yang banyak disalah artikan oleh banyak orang yang kurang memahami konsep evolusi..sebuah konsep evolusi darwin yang terpadu dengan population genetics = Neo-darwnism. Evolusi selalui dimediasi oleh lahirnya variasi spesies dalam satu generasi dibawah tekanan seleksi alam. Spesies dengan sifatnya yang paling adapted lah yang mampu bertahan hidup dan mewariskan sifatnya ke individu keturunannya, selanjutnya keturunannya melahirkan berbagai macam variasi individu untuk di"tes" lagi kemampuannya beradaptasi di lingkungan. Demikian seterusnya, lambat laun terjadilah evolusi morfologi dan perilaku. Jadi, apapun sifat yang dapat menguntungkan suatu spesies sehubungan dengan kemampuannya untuk survive dalam suatu ekosistem, akan selalu diwariskan. Sebaliknya sifat yang tidak menguntungkan akan tersingkirkan. Lantas apa yang terjadi jika sifat yang dihasilkan lewat variasi bersifat netral?seperti berumur panjang?berotot besar?dll
Tantum valet auctoritas, quantum valet argumentatio

biobio

@hendy= sepertinya ga ada hubungannya deh dengan miskonsepsi teori evolusi tentang evolusi yang sering dianggap berjalan linear? Saya kan bicara tentang kesalahan teori Lamarck, "bahwa sifat yang didapat selama hidup dapat diwariskan"?


Variasi yang tadi itu netral? Ga juga sih. Umur panjang jika diikuti periode reproduktif panjang tentunya meningkatkan fekunditas. Begitu pula otot besar akan memberikan nilai lebih bila bisa membantu dalam menangkap mangsa, menghindari predator, atau bahkan dalam interaksi agonistik
"The pen is mightier than the sword"

Hendy wijaya, MD

Tapi itu tidak nampak pada spesies homo sapiens dengan sistem kulturalnya yang kompleks..buktinya, manusia yang lebih berotak lebih survive dibanding berotot..hehe..Umur panjang tidak memberi keuntungan apa-apa secara evolusi, sebab masa reproduksi sudah lewat, apa perlunya lagi suatu organisme mempertahankan keadaan "like new" pada tingkat organisasi molekuler sel..saya pernah menulis mengenai hal ini dengan tema "Immortality within our body"..Prinsip dasar mengenai hal ini ada pada evolutionary biology of aging dan konsep stokastik yang diungkapkan pertama kali oleh Medawar...Kebetulan saya sedang menempuh S2 Anti Aging medicine, Aging adalah konsep yang saya perdalami..
Tantum valet auctoritas, quantum valet argumentatio

biobio

Anda ga bilang sih kalo otot itu pada H. sapiens... Masalah umur panjang, kan udah gue kasih syarat, bermanfaat secara evolusioner asalkan diikuti penambahan usia reproduktif (meskipun nyatanya sulit banget, namun sebagai pengandaian lah)
"The pen is mightier than the sword"

Hendy wijaya, MD

iya ya..hehehe...saya setuju dengan pendapat anda itu. Namun sepertinya berumur panjang + masa reproduksi panjang =  "evolutionary too expensive"..
Tantum valet auctoritas, quantum valet argumentatio

biobio

Hmm, benar juga ya... Sepertinya memang terlalu sulit untuk terwujud...
"The pen is mightier than the sword"

Hendy wijaya, MD

Lagipula, opsi seleksi alam untuk lebih mendukung masa reproduksi di umur yang lebih muda erat hubungannya dengan faktor lingkungan di mana organisme berada. Misalkan organisme yang dimaksud adalah tikus, tikus memiliki life hazard yang tinggi dibandingkan mamalia yang lain, ia cenderung menjadi mangsa predator, oleh sebab itu, seleksi alam lebih mendukung variasi tikus yang memiliki masa reproduksi lebih cepat atau dengan kata lain lebih muda ketimbang tikus dengan masa reproduksi yang lebih terlambat, sebab belum tikus ini sempat bereproduksi untuk mewariskan sifatnya, ia sudah keburu mati. Mekanisme yang memberikan masa reproduksi lebih awal ini "meminta biaya murah" bagi fungsi biologis makhluk hidup untuk tetap mempertahankan kondisinya yang optimal hanya sampai masa reproduksi selesai, ketimbang harus mempertahankan fungsi biologis yang prima sepanjang masa atau dalam waktu yang lama. Jadi sifat apapun yang memberikan keuntungan di masa reproduksi lebih awal, akan memberikan keuntungan secara evolusi sehubungan dengan faktor resiko di lingkungan. umur panjang beserta segala sifat yang tidak memberikan keuntungan maupun kerugian secara evolusi akan bersifat netral.
Tantum valet auctoritas, quantum valet argumentatio

Hendy wijaya, MD

Sebaliknya, jika makhluk hidup yang mampu berusia panjang lebih diuntungkan secara evolusi, maka terjadi pemanjangan fungsi biologis untuk mempertahankan kondisi optimal guna menunjang fungsi reproduksi organisme bersangkutan. Pernyataan mengenai hal ini telah teruji dengan eksprimen pada D.melanogaster. Ia dibiakkan di lab, di mana lalat yang berumur panjang dan masa reproduksi lebih panjang, keturunannya dibiarkan hidup, sedangkan lalat yang berumur pendek, telur2nya dimusnahkan, setelah beberapa generasi, umur mereka bisa memanjang hingga 2 kali lipat!

Tapi apakah hasil eksperimen ini bisa diekstrapolasikan pada manusia, mengingat life hazard/lingkungan kita yang berbeda dengan lalat. Lebih lagi, mungkin juga sistem biologis tubuh kita sebagai manusia hanya mampu bekerja sampai umur 120 tahun, lebih dari itu, kita bukan lagi homo sapiens (plasticity concepts).
Tantum valet auctoritas, quantum valet argumentatio

milmi

Ehm, mengingatkan saja, thread ini bicara mengenai pengaturan sifat oleh DNA, bukan masalah evolusi. Silahkan kembali ke pembahasan yang benar.

Hendy wijaya, MD

Yang ingin saya perjelas disini, sifat apa yang dimaksud oleh bung faiqhr? sifat metabolisme?sifat sel?atau sifat organisme seutuhnya?atau perilaku makhluk hidup?banyak orang mengalami miskonsepsi ttg pengaturan sifat oleh DNA.
Tantum valet auctoritas, quantum valet argumentatio

milmi

Miskonsepsi tersebut seberanya terjadi karena salahnya kurikulum sekolah dalam memberikan konsep-konsep genetika, gen, dan sifat. Genetika yang diajarkan di sekolah masih berkutat pada genetika Mendel yang menganggap satu gen akan mempengaruhi satu sifat. Jadi saya rasa akan sulit bagi siswa-siswa tersebut memahami apa itu konsep one gene one polypeptide. Mungkin ada yang mau menulisnya di forum ini? Monggo...

Hendy wijaya, MD

Pengertian terbaru tentang apa itu gen ternyata bukan saja berhenti pada one gen one polipeptide.. Menurut acuan definisi gen yang berarti bahwa gen merupakan suatu segmen DNA yang mengkode suatu produk dengan fungsi tertentu. Produk di sini tidak hanya sebatas berupa polipeptida, tapi bisa juga berupa non coding RNA yang memiliki fungsi tertentu dalam sel seperti rRNA, tRNA, snRNA, snoRNA, scaRNA, 7s RNA milik SRP, hTR milik enzim telomerase, gRNA dan yang termasuk golongan RNAi yaitu miRNA dan siRNA, kesemuanya ini merupakan RNA hasil transkripsi DNA yang tidak ditranslasi, tapi memiliki fungsi tertentu dalam sel.
Tetapi dalam batasan suatu produk yang ditranslasi, memang benar bahwa satu gen hanya mengkode satu polipeptida (one gene one polipeptide). saya rasa cukup segitu aja mas yang seharusnya diketahui siswa SMU. Kalo rumit-rumit ntar malah pada demo lagi..udah Unas susah, pelajaran susah, hidup susah..:D
Tantum valet auctoritas, quantum valet argumentatio

milmi

Karena itu sebenarnya topik ini tidak akan berjalan ke arah yang benar, karena partisipannya tidak semua mengetahui hal-hal seperti itu. Tapi ada baiknya mas hendy menulis tentang apa itu one gene one polypeptide di artikel di halaman depan, supaya menjadi pencerahan bagi kita semua.