Selamat datang di ForSa! Forum diskusi seputar sains, teknologi dan pendidikan Indonesia.

Welcome to Forum Sains Indonesia. Please login or sign up.

Juni 26, 2022, 07:14:42 PM

Login with username, password and session length

Topik Baru

Artikel Sains

Anggota
  • Total Anggota: 26,754
  • Latest: sainsftw
Stats
  • Total Tulisan: 139,633
  • Total Topik: 10,390
  • Online today: 62
  • Online ever: 441
  • (Desember 17, 2011, 09:48:51 AM)
Pengguna Online
Users: 0
Guests: 45
Total: 45

Aku Cinta ForSa

ForSa on FB ForSa on Twitter

Asumsi Dasar Ilmu Fisika

Dimulai oleh sloth, April 18, 2017, 08:22:19 PM

« sebelumnya - berikutnya »

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

sloth

Salah satu asumsi yg jadi landasan fisika tapi jarang disebutkan: bahwa alam semesta ini mengikuti kaidah kaidah matematika. Semua teori fisika berangkat dari anggapan ada model matematika untuk setiap peristiwa di alam.

Apakah ada kemungkinan kalau beberapa masalah fisika yg belum terpecahkan hingga sekarang, berasal dari kekeliruan asumsi dasar itu? Bagaimana kalau ternyata ada kalanya alam semesta "tidak patuh" pada aturan aturan matematika?

zoldik

sebenarnya dasar dari sains adalah phylosphy, di fisika bahkan ada asumsi dasar kalau pergerakan partikel hanya dapat diprediksi melalui probabilitas.

coba nonto ini
https://www.youtube.com/watch?v=jremlZvNDuk

dan

https://www.youtube.com/watch?v=JiH7lMGW60A

pertanyaan dasar eisntein mengapa math dapat menjelaskan gejala alam, yg menarik dari video tersebut cukup mengejutkan bahwa pola pola alam mengikuti tatanan math seperti pola bunga, dan bahkan kejadian gak sengaja seperti lekukan sungai dibagi jaraknya membentuk formula phi.

Pi-One

Fisika kuantum mengikuti kaidah yang berbeda dengan dunia makro.
Sebagian dari fenomenanya bahkan terkesan melanggar akal sehat.
Misal, bagaimana partikel bisa mengintervensi diri sendiri dalam percobaan celah ganda.

Haryanto

saya tidak bisa membayangkan alam semesta ini tidak dapat dijelaskan dengan matematika.. maka tidak ada aturan? karena kalau ada aturan, pasti aturan tsb bisa dibahasakan, dan bahasa itu ya matematika.. kalau tidak salah Galileo yg pertama mencetuskan bahwa semua proses d alam ini dapat dipahami scr matematika..
We must know — we will know!
-David Hilbert -

Ghifari Fajri

Kemungkinan besar iya, saya percaya akan adanya multiverse.
Pertanyaanya ialah, apa yang terjadi jika kita berhadapan dengan Black Hole, dimana saat peristiwa tersebut terjadi, bahkan cahaya pun tidak dapat lari dari tarikan gravitasinya. sedangkan pemahaman kita sejauh ini ialah tidak ada informasi ataupun objek yang memiliki massa yang dapat bergerak melebihi dari kecepatan cahaya.

Oleh sebab itu maka hukum hukum fisika kita sejauh ini sudah tidak dapat digunakan lagi.

sloth

Kutip dari: Pi-One pada April 19, 2017, 10:35:23 AM
Fisika kuantum mengikuti kaidah yang berbeda dengan dunia makro.
Sebagian dari fenomenanya bahkan terkesan melanggar akal sehat.
Misal, bagaimana partikel bisa mengintervensi diri sendiri dalam percobaan celah ganda.
dasar fisika kuantum itu probabilitas. dan probabilitas itu masih bisa dianalisis pakai matematika

sloth

Kutip dari: Haryanto pada Juni 03, 2017, 09:16:53 PM
saya tidak bisa membayangkan alam semesta ini tidak dapat dijelaskan dengan matematika.. maka tidak ada aturan? karena kalau ada aturan, pasti aturan tsb bisa dibahasakan, dan bahasa itu ya matematika.. kalau tidak salah Galileo yg pertama mencetuskan bahwa semua proses d alam ini dapat dipahami scr matematika..

yah ini sih cuma berandai andai saja. bagaimana jika ada suatu fenomena fisika yang tidak ada aturan apapun, bahkan kekacauannya tidak bisa dimodelkan dengan teori chaos atau bahkan teori peluang dan statistik? tidak ada pola sama sekali. istilah jawanya 'sakarepe dhewe'? dan kekacauan itu memberi pengaruh pada kebuntuan masalah masalah fisika saat ini.
cuma berandai andai loh. saya ngga bilang ada peristiwa seperti itu. tapi bagaimana kalau ternyata itulah yang terjadi? apakah ada kemungkinan?

The Houw Liong

Fisika dibangun berdasarkan metoda ilmiah (logico-empiricism). Hukum Alam ditemukan dengan proses sbb.:
Dari data experimen/Observasi dibangun hipotesis. Segala akibat dari Hipotesis  dideduksi untuk memperoleh data/fakta.
Data /Fakta diverifiksi dengan pengamatan.
HouwLiong

Haryanto

Saya percaya ada rule yg dapat dinyatakan secara matematis untuk setiap proses di alam, terutama proses fundamental.. Orang sekaliber Dirac dan Feynman sangat mengapresiasi matematik, sbg bahasa yg digunakan untuk memahami alam.. perihal persamaan matematis tidak bisa dipecahkan krn terlalu rumit, itu masalah yg lain.. kalau kita saat ini belum punya ultimate theory, itu kan lbh krn constraint untuk meng-guide intuisi dalam memodelkan alam ini kan lacking, keterbatasan energi dalam eksperimen.. Kalau misalnya proses fundamental alam tidak dapat dijelaskan scr matematis, and then how can we understand her ?
We must know — we will know!
-David Hilbert -

Jim Heart

Saya pikir kalaupun itu terjadi, matematika akan menyesuaikan diri.. Mau sekacau apapun itu suatu sistem, kita di fisika dan matematika tetap akan mencoba mengamati dan mencoba membuat pemodelan matematika yang memenuhi itu..
Bahkan kalaupun itu tidak memungkinkan (misal dibutuhkan waktu tak hingga sampai bisa dapat pola dari suatu peristiwa), kita bisa saja kan buat pengecualian di satu atau dua tempat, nggak ada masalah juga rasanya.. Singularitas dan "the collapse of the wave function" adalah dua contoh dimana matematika 'gagal' atau lebih tepatnya fisikanya kita abaikan kan ?

Haryanto

kalau pengecualian diijinkan, berarti ga general donk.. where the beauty in it? trus yg mendikte "pengecualian" itu hukumnya apa ? spt yg saya tulis sblmny, dan kutip Feynman.. pengetahuan kita tentang alam ini spt mengupas bawang, layer by layer.. semakin dalam layernya, smakin tinggi jg energi yg diperlukan utk membuka.. misalkan supersimetri, solusi elegan untuk persoalan hirarki massa, dan memenuhi kriteria Dirac sbg sbh teori yg "cantik".. very likely to be true.. tp energi sbesar yg di LHC skrg pun blom bisa reveal.. sama sperti tidak bisanya mereveal Higgs partikle hanya dengan menggunakan akselerator berenergi rendah.. tapi akselerator berenergi rendah mungkin bisa men-track anti partikel.. jadi intinya keterbatasan eksperimen.. semua proses fundamental di alam ini pasti dapat dibahasakan dan dipahami secara matematis, i.e. persamaan. terkait dgn singularitas, konsep ini seharusny hanya ada di matematik.. yg paling saya tahu kemungkinan singularitas ada di alam misalnya pembentukan lubang hitam, yg sering dikatakan finite mass finally collapses into a zero volume, covered by event horizon.. sy sendiri agak terganggu dgn hal ini, tp eksperimen kan belum pernah amati langsung ttg ini.. terkait collapse wave function, dimana kegagalan matematikanya ? itukan akibat pengamatan yg perturbasi sistem.. ya klo sistem diganggu, wajar aja informasi terganggu/rusak, tapi bukan krn matematikanya gagal.
We must know — we will know!
-David Hilbert -

Jim Heart

Saya bukan expert di Relativitas Umum dan Quantum Mechanics sih, jadi terima kasih pendapat saya diperbaiki..
Benar juga ya kalau singularitas mungkin cuma menunjukkan keterbatasan Relativitas Umum (yang tentunya masih bisa akan diperbaiki dengan Quantum Gravity atau semacamnya) ...
Mengenai wave function collapse kayaknya saya memang salah besar tadi setelah dipikir lagi.. (batu berguling di tengah padang pasir akan tetap mengeluarkan suara) :p

Saya tadi cuma cari2 contoh keterbatasan matematika kita -setidaknya "sekarang"- dimana.. Tapi ya saya setuju kalau dibilang matematika pun tetap akan berkembang kalaupun sekarang ada keterbatasan..
Tapi tetap saya masih nggak bisa mengabaikan kemungkinan yang ditawarkan TS, makanya saya juga nggak bisa sembarangan 'beriman' juga ke matematika..
Mungkin @Haryanto bisa lebih convince saya lagi untuk 'menguatkan iman' saya ke matematika ... :p

sloth

Saya sendiri juga sebenernya ngga nyaman sama pemikiran ini. Tapi beneran, apa sih yg bikin kita yakin kalau semua fenomena itu pasti punya pola (dalam hal ini dideskripsikan dg matematika)?
Bukannya itu datangnya dari sisi psikologis manusia yg ingin semua peristiwa punya penjelasan?
Jangan salah, saya tidak anti sains. Saya juga belajar fisika dan matematika. Saya kagum dg cara2 kreatif para ilmuwan dlm mencari tahu tentang beragam peristiwa di alam. Saya mengikuti perkembangannya.
Tapi sekali lagi, kenapa kita begitu yakin pasti ada pola di balik itu semua?
Beberapa kali Pak Haryanto menyinggung2 bahwa alam semesta yg kacau itu "tidak indah". Mohon maaf pak, tapi itu sepertinya bukan argumen yg cukup bagus.
Sama seperti Pak Jim, saya juga ingin "dikuatkan imannya" di matematika ini. Mohon pencerahannya pak.